Kamus Penyakit

Dispepsia

November 12, 2020 | Arianti Khairina | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Beberapa orang mungkin seringkali merasakan mual tanpa sebab. Hal tersebut juga seringkali disepelekan tanpa berusaha untuk mengobatinya. Padahal bisa jadi ini karena penyakit dispepsia.

Agar lebih pasti, lebih baik kamu segera cek ke dokter, ya. Yuk coba kenali lebih jauh lagi tentang penyakit dispepsia dalam ulasan berikut ini.

Apa itu penyakit dispepsia?

Dispepsia adalah istilah untuk tanda dan gejala yang mengganggu pencernaan secara berulang dan tidak memiliki penyebab yang jelas. Penyakit ini juga populer disebut sebagai maag. Jadi, pada dasarnya dispepsia dan maag merujuk pada kondisi yang sama. 

Dispepsia sering terjadi dan bisa berlangsung sangat lama. Kondisi ini dapat menyebabkan tanda dan gejala yang menyerupai ulkus, seperti nyeri atau ketidaknyamanan di perut bagian atas. Selain itu kamu juga akan sering merasakan kembung, bersendawa, dan mual tanpa sebab.

Penyakit ini bisa timbul disebabkan oleh peradangan pada lambung akibat asam lambung yang berlebihan. Banyak faktor yang menyebabkan kamu bisa terserang penyakit ini. Biasanya disebabkan karena asam lambung naik, infeksi lambung, pankreatitis hingga luka di usus atau lambung.

Apa penyebab penyakit dispepsia dan maag?

Dispepsia dan maag biasanya disebabkan oleh gaya hidup seseorang dan makanan yang mereka makan. Ini juga dapat dikaitkan dengan infeksi atau kondisi pencernaan lainnya.

Gejala-gejalanya biasanya dipicu oleh asam lambung yang bersentuhan dengan mukosa. Asam lambung memecah mukosa, menyebabkan iritasi dan peradangan. Hal ini tentu saja memicu gejala gangguan pencernaan yang tidak nyaman.

Dilansir Medical News Today, penyebab umum dispepsia meliputi:

  • Makan terlalu banyak atau terlalu cepat
  • Makan makanan berlemak, berminyak, atau pedas
  • Minum terlalu banyak kafein atau alkohol
  • Terlalu banyak mengonsumsi cokelat atau soda
  • Trauma emosional
  • Batu empedu
  • Gastritis atau radang lambung
  • Hiatus hernia
  • Infeksi terutama dengan bakteri Helicobacter pylori (H. pylori)
  • Kecemasan

Tak hanya itu saja, faktor kegemukan, pankreatitis, hingga radang pankreas juga bisa menjadi salah satu penyebab timbulnya penyakit dispepsia.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena dispepsia dan maag? 

Sebagian orang lebih berisiko terkena dispepsia dan maag. Berikut adalah kelompok orang yang berisiko lebih tinggi terkena penyakit ini:

  • Berjenis kelamin perempuan
  • Usia yang lebih tua
  • Menggunakan obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti aspirin dan ibuprofen yang dapat menyebabkan masalah perut
  • Punya kebiasaan merokok
  • Memiliki kecemasan atau depresi
  • Sejarah kekerasan fisik atau seksual masa kanak-kanak

Apa gejala dan ciri-ciri penyakit dispepsia?

Penyakit dispepsia akan menimbulkan beberapa gejala khususnya pada perut, seperti:

  • Rasa panas seperti terbakar di bagian perut atau perut bagian atas
  • Sakit perut
  • Kembung
  • Bersendawa dan mengeluarkan gas
  • Mual dan muntah
  • Rasa asam pada mulut

Bila kamu sedang mengalami stres sebaiknya lebih berhati-hati karena beberapa gejala di atas akan terasa lebih sakit dari biasanya.

Orang-orang sering mengalami mulas (sensasi terbakar jauh di dalam dada) bersamaan dengan gangguan pencernaan.

Tetapi perlu kamu ketahui bahwa ternyata mulas itu sendiri adalah gejala yang berbeda untuk mengindikasikan masalah lain pada tubuh.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat dispepsia?

Meski jarang terjadi, kondisi dispepsia dan maag dapat menimbulkan komplikasi. Beberapa penyakit yang lebih parah di saluran pencernaan mungkin terjadi, seperti:

  • Striktur esofagus. Striktur esofagus adalah penyempitan saluran esofagus yang mengakibatkan penderitanya sulit menelan dan nyeri dada. Kondisi ini disebabkan akibat paparan asam lambung.
  • Stenosis pilorus. Stenosis pilorus adalah penyempitan pada pilorus, bagian antara lambung dan usus kecil. Kondisi ini membuat tubuh tidak dapat mencerna makanan dengan baik sehingga harus diatasi dengan pembedahan atau operasi.
  • Peritonitis. Peritonitis adalah infeksi yang terjadi di saat lapisan sistem pencernaan rusak. Untuk mengatasinya, diperlukan tindakan operasi.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati dispepsia?

Untuk mengatasi dispepsia, tentu dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu. Setelah itu dokter akan memutuskan jenis perawatan berdasarkan gejala dispepsia dan maag yang muncul pada tubuhmu.  

Perawatan penyakit dispepsia dan maag di dokter 

  • Pemberian obat-obatan. Dokter akan memberikan obat-obatan sesuai dengan gejala pada penderita dispepsia. Obat yang digunakan pun beragam jenisnya. Mulai dari obat antibiotik, obat pencernaan hingga antidepresan. 
  • Terapi psikologis. Terapi psikologis mungkin disarankan untuk meringankan tanda dan gejala yang tidak terbantu oleh pengobatan. Terapi psikologis dapat membantu mengelola aspek-aspek kognitif dari gangguan pencernaan.

Cara mengatasi dispepsia dan maag secara alami di rumah

Selain pengobatan dari dokter, kamu juga bisa mengatasi dispepsia secara alami di rumah dengan menerapkan beberapa kebiasaan, seperti:

  • Makan dengan porsi lebih kecil, tapi lebih sering
  • Hindari melewatkan jam makan
  • Hindari makanan pemicu dispepsia
  • Kunyah makanan pelan-pelan 
  • Makanlah dengan santai

Apa saja obat dispepsia yang biasa digunakan?

Obat dispepsia di apotik

Beberapa jenis obat dispepsia yang umumnya diresepkan oleh dokter yakni:

1. Antasida

Obat ini akan melawan efek saat asam lambung. Ini adalah obat bebas yang tidak perlu diresepkan. Dokter biasanya akan merekomendasikan obat antasida sebagai salah satu perawatan pertama untuk kamu yang menderita dispepsia dan maag.

2. Antagonis reseptor H-2

Obat ini berfungsi untuk mengurangi kadar asam lambung dan bertahan lebih lama dari antasida. Beberapa di antaranya adalah obat bebas yang bisa dibeli tanpa resep, sementara yang lain hanya tersedia dengan resep dokter.

Setelah mengonsumsi obat tersebut mungkin kamu akan mengalami mual, muntah, diare, dan sakit kepala. Efek samping lain mungkin akan timbul memar atau pendarahan.

3. Inhibitor pompa proton (PPI)

Obat PPI sangat efektif untuk orang yang juga menderita penyakit refluks gastroesofagus (GERD). Mereka mengurangi asam lambung dan lebih kuat dari antagonis reseptor H-2. Terkait dengan efek samping yang akan terjadi setelah mengonsumsi obat ini, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

4. Prokinetik

Salah satu contoh obat prokinetik adalah reglan. Efek samping setelah mengonsumsi obat ini mungkin kamu akan cepat merasakan kelelahan, depresi, kantuk, kecemasan, dan kejang otot.

5. Antibiotik

Jika bakteri H. pylori menyebabkan tukak lambung yang mengakibatkan gangguan pencernaan, antibiotik akan diresepkan. Efek samping yang akan dirasakan seperti sakit perut, diare, dan infeksi jamur. Obat ini hanya berdasarkan resep dokter, ya.

Obat dispepsia alami

Selain obat dari dokter, ada beberapa bahan alami yang bisa mengobati dispepsia, yaitu:

1. Jahe

Bahan alami seperti jahe tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Jahe memang sering digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit, salah satunya adalah dispepsia.

Kamu bisa mengurangi rasa mual, muntah, dan diare dengan mengonsumsi jahe. Selain itu bahan ini juga dapat memperlancar kontraksi lambung sehingga mempercepat pencernaan.

Cara mengolahnya pun cukup mudah, kamu bisa tambahkan sedikit jahe ke dalam makanan atau minuman untuk menenangkan lambung.

2. Mint

Mint biasanya menjadi salah satu bahan yang sering digunakan untuk pasta gigi. Tujuannya membuat napas kamu lebih segar. 

Tapi belum banyak yang tahu bahwa bahan tersebut dapat mengurangi rasa nyeri, kram pada otot usus hingga ampuh mencegah muntah.

Cara mengonsumsinya kamu bisa tambahkan daun mint mentah ke dalam teh panas agar tetap bisa dinikmati dengan baik.

3. Kayu manis

Bahan alami yang mengandung antioksidan terbukti ampuh mengurangi rasa kembung dan kram perut. Salah satunya seperti kayu manis.

Tak harus dikonsumsi secara mentah-mentah, kamu bisa mengolahnya dengan cara tambahkan satu sendok teh kayu manis ke dalam makanan atau minuman.

4. Cengkeh

Kamu yang ingin mengonsumsi cengkeh sebagai obat untuk dispepsia sebaiknya olah dengan mencampurkan 1-2 sendok teh cengkeh ke dalam air. Jika menginginkan hasil yang maksimal pastikan kamu meminumnya sebanyak 1-2 kali sehari.

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita dispepsia?

Bagi penderita dispepsia, memiliki pola makan yang teratur adalah kunci agar tetap sehat. Di samping itu, penderita dispepsia juga disarankan untuk makan makanan yang tidak akan mengganggu pencernaannya, seperti:

  • Nasi
  • Apel
  • Kurma
  • Roti
  • Madu
  • Yoghurt
  • Biji jinten
  • Kacang kenari
  • Buah quince

Sementara itu, makanan dan minuman yang menjadi pantangan adalah:

  • Acar
  • Sosis
  • Cuka
  • Cabai merah
  • Pizza
  • Pasta
  • Makanan asin
  • Biji-bijian
  • Minuman soda

Secara umum, penderita dispepsia harus menghindari makanan kandungan sitrat tinggi seperti pada jeruk, tomat, dan produk yang terbuat dari tomat, makanan berminyak, dan makanan berlemak atau pedas. Untuk minuman, hindari minuman berkarbonasi, berkafein, dan minuman beralkohol.

Bagaimana cara mencegah penyakit dispepsia? 

Penyakit dispepsia dapat dicegah dengan beberapa cara, meliputi:

  • Berhenti merokok
  • Hindari makanan dan minuman pemicu 
  • Kurangi stres
  • Terapkan pola makan serta gaya hidup sehat
  • Perhatikan konsumsi obat pereda nyeri 

Perbedaan dispepsia dan gastritis

Penyakit dispepsia dan gastritis
Kondisi lambung penderita gastritis. (Ilustrasi: Shutterstock)

Kamu mungkin sering mendengar penyakit pencernaan lainnya, seperti gastritis. Lalu apa perbedaan dispepsia dan gastritis?

Pada dasarnya, dispepsia adalah perasaan tidak nyaman dari pencernaan. Sementara gastritis adalah kondisi iritasi atau peradangan pada lapisan lambung yang kemudian menimbulkan dispepsia. Jadi, dapat dikatakan gastritis adalah bagian dari dispepsia atau sakit maag. 

Sakit maag juga tidak jarang disebut sebagai gastritis karena kondisi maag memang dapat disebabkan oleh gastritis. Sehingga orang-orang seringkali sulit menemukan perbedaan dispepsia dan gastritis.

Namun pada kondisi gastritis yang parah, gejalanya tidak hanya perasaan tidak nyaman di perut. Gejalanya bisa disertai dengan tinja yang berwarna hitam atau muntah darah. 

Dispepsia dan GERD

penyakit dispepsia dan GERD
Kondisi lambung penderita penyakit GERD. (Ilustrasi: Shutterstock)

Dispepsia dan GERD juga menjadi penyakit pencernaan yang dialami oleh banyak orang. Sekilas, gejalanya sangat mirip tapi dispepsia dan GERD berbeda. 

Seperti yang sudah disebutkan, dispepsia adalah kondisi ketidaknyamanan di perut bagian atas. Sementara GERD adalah kondisi naiknya asam lambung ke esofagus atau kerongkongan sehingga timbul rasa terbakar.

Orang dengan dispepsia sangat mungkin mengalami GERD bila tidak mendapat perawatan yang tepat.

Dispepsia pada anak

Dispepsia dan maag adalah gangguan yang secara umum bisa dialami siapa saja termasuk anak-anak. Dispepsia pada anak ditandai dengan nyeri yang terus-menerus atau berulang dan rasa tidak nyaman di daerah perut bagian tengah atas.

Ketidaknyamanan dapat terjadi saat makan, setelah makan, atau pada malam hari. Dispepsia pada anak juga seringkali membuat anak kehilangan nafsu makan, menolak makan, merasa kenyang dengan cepat, sendawa, mual, hingga muntah.

Dispepsia fungsional

Dispepsia fungsional juga salah satu penyakit pencernaan yang umum terjadi. Dispepsia fungsional merupakan gangguan pencernaan yang berulang yang tidak memiliki penyebab yang jelas.

Penyakit ini sering terjadi dan bisa berlangsung lama. Kondisi dispepsia fungsional dapat menyebabkan tanda dan gejala yang menyerupai maag. Pengobatannya pun mirip dengan dispepsia biasa. Meliputi obat-obatan dan perubahan gaya hidup.

Apakah dispepsia bisa sembuh?

Dispepsia dapat diatasi dengan obat-obatan dan perubahan gaya hidup. Namun penyakit ini tidak akan sembuh secara total kemudian tidak akan kembali.

Dispepsia adalah kondisi yang dapat dikelola dan dicegah oleh penderitanya. Ketika sudah dikendalikan dengan baik, dispepsia dan maag dapat berkurang frekuensi kambuhnya.

Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Webmd.com (2020) diakses 4 Juni 2020. Indigestion
  2. Mayoclinic.org (2020) diakses 4 Juni 2020. Functional dyspepsia
  3. Medicalnewstoday.com (2017) diakses 4 Juni 2020. What to know about indigestion or dyspepsia
  4. News-medical.net. (2019). Diakses pada 12 November 2020. Lifestyle Changes for Indigestion (Dyspepsia)
  5. Aafp. (2010). Diakses pada 12 November 2020. Dyspepsia: What It Is and What to Do About It
  6. Ada. (2018). Diakses pada 12 November 2020.Symptoms of functional dyspepsia | Ada Clevelandclinic. org. (2020). Diakses pada 12 November 2020.Gastritis: Indigestion, Symptoms, Causes, Treatment, Diagnosis 
    register-docotr