Kamus Penyakit

Mengancam Jiwa Jika Tak Ditangani Serius, Kenali Penyakit Anemia Aplastik dan Perawatannya

June 25, 2020 | Husni Efendi | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Kelainan yang dikenal sebagai penyakit anemia aplastik ini umumnya akan membuat sumsum tulang kamu berhenti membuat sel darah baru. Seberapa bahayakah penyakit ini?

Kondisi anemia aplastik ini kadang ada yang berkembang perlahan, ada juga yang muncul tiba-tiba. Yang pasti jika jumlah darah kamu cukup rendah, dan tidak segera ditangani, kondisi ini juga bisa mengancam jiwa.

Baca Juga: Suka Olahraga? Artinya Kamu Perlu Tahu Manfaat Minuman Isotonik Berikut Ini

Apa itu penyakit anemia aplastik?

Penyakit anemia aplastik. Sumber foto: www.dkms.org

Anemia umumnya dikenal sebagai kondisi di mana jumlah sel darah merah kurang dari normal. Sehingga mengakibatkan lebih sedikit oksigen yang dibawa ke sel-sel tubuh.

Pada anemia aplastik, biasanya produksi normal hampir semua sel darah, yakni sel darah merah, sel darah putih dan trombosit, menjadi melambat atau berhenti. Produksi sel darah menurun ini dikarenakan stem cell atau sel induk sumsum tulang rusak.

Padahal, sel induk sumsum tulang tersebut bertanggung jawab untuk memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit, yang vital bagi kesehatan manusia.

Kondisi ini bisa menyebabkan penderitanya merasa sakit, meningkatkan risiko terkena infeksi, atau komplikasi kesehatan lainnya. Kondisi ini juga kerap disebut-sebut sebagai kegagalan sumsum tulang.

Penyakit anemia aplastik ini memiliki beberapa tingkat keparahan, mulai dari yang ringan, hingga yang mengancam jiwa. Paling umum terjadi pada anak-anak yang lebih tua, remaja, dan dewasa muda.

Penyebab penyakit anemia aplastik

Penyebab kerusakan atas sumsum tulang ini tidak pasti diketahui, sebab banyak hal bisa jadi faktor yang merusak sumsum tulang. Namun ada beberapa faktor dikaitkan dengan penyakit ini.

Anemia aplastik kerap dikaitkan dengan kondisi autoimun. Pada penyakit autoimun, tubuh malah menyerang sel-selnya sendiri, jadi seperti infeksi.

Kemungkinan penyebab lain di antaranya:

  • Reaksi terhadap beberapa obat yang digunakan untuk mengobati radang sendi, epilepsi, atau infeksi
  • Bahan kimia beracun yang digunakan pada banyak industri, seperti benzena, pelarut, atau uap lem
  • Paparan radiasi atau kemoterapi dalam perawatan kanker
  • Anorexia nervosa, gangguan makan parah yang dikaitkan dengan anemia aplastik
  • Beberapa virus seperti Epstein-Barr, HIV, atau virus herpes lainnya

Meskipun jarang, ada kemungkinan anemia aplastik juga merupakan penyakit keturunan.

Siapakah yang menderita penyakit anemia aplastik?

Sebetulnya siapa saja bisa mengalami anemia aplastik, namun biasanya ini lebih mungkin terjadi pada orang-orang di akhir usia remaja dan awal 20-an, dan juga orang yang lebih tua. Pria dan wanita memiliki peluang yang sama untuk mengalaminya.

Anemia aplastik lebih umum dialami di negara-negara berkembang, dan terdiri dari dua jenis:

  • Anemia aplastik keturunan
  • Anemia aplastik yang didapat karena kondisi tertentu

Dokter akan memeriksa kondisi kamu untuk menentukan tingkat kamu alami. Biasanya anemia aplastik keturunan disebabkan oleh cacat gen, dan paling sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda.

Jika kamu memiliki tipe anemia aplastik keturunan, ada kemungkinan kamu akan lebih tinggi terkena leukemia atau kanker lainnya, jadi segeralah temui dokter spesialis secara teratur.

Sedangkan anemia aplastik yang didapat karena kondisi tertentu itu biasanya lebih sering terjadi pada orang dewasa. Pemicu masalahnya umumnya adalah masalah pada sistem kekebalan tubuh.

Gejala penyakit anemia aplastik

Setiap jenis sel darah memiliki peran berbeda. Jika sel darah merah membawa oksigen ke seluruh tubuh, maka sel darah putih melawan infeksi, dan trombosit mencegah perdarahan.

Gejala yang muncul biasanya tergantung pada jenis sel darah mana yang cenderung rendah. Namun pada anemia aplastik biasanya kamu mengalami penurunan atau rendahnya pada ketiga sel darah tersebut.

Berikut ini adalah gejala umum untuk masing-masing:

Jumlah sel darah merah rendah:

  • Kelelahan
  • Sesak napas
  • Pusing
  • Kulit pucat
  • Sakit kepala
  • Nyeri dada
  • Detak jantung tidak teratur

Jumlah sel darah putih rendah:

  • Infeksi
  • Demam

Jumlah trombosit rendah:

  • Memar dan perdarahan mudah
  • Mimisan

Jika kamu memiliki gejala-gejala di atas, dokter biasanya akan melakukan tes darah lengkap. Dokter juga mungkin mengambil biopsi sumsum tulang kamu untuk memeriksa gangguan ini.

Diagnosis penyakit anemia aplastik

Tes-tes berikut dapat membantu mendiagnosis anemia aplastik:

  • Tes darah: pada anemia aplastik, biasanya ketiga level sel darah berada di level rendah, dan perlu dilakukan tes darah lengkap untuk diagnosisnya
  • Biopsi sumsum tulang: dokter biasanya menggunakan jarum untuk mengambil sampel kecil sumsum tulang dari tulang besar di tubuh kamu, seperti tulang pinggul

Setelah menerima diagnosis anemia aplastik, kamu mungkin juga perlu melakukan sejumlah tes lain untuk menentukan penyebabnya.

Baca Juga: Perkembangan Anak 3 Tahun, Fase yang Perlu Moms Ketahui

Pengobatan penyakit anemia aplastik

Pengobatan anemia aplastik akan tergantung pada tingkat keparahan kondisi dan usia kamu. Jika kondisi kamu beranjak parah, di mana jumlah sel darah kamu sangat rendah, ini bisa mengancam jiwa dan membutuhkan rawat inap segera.

Transfusi darah

Meski bukan obat untuk anemia aplastik, transfusi darah dapat mengendalikan perdarahan dan meredakan gejala. Caranya adalah dengan menyediakan sel darah yang tidak diproduksi oleh sumsum tulang kamu.

Kamu bisa menerima transfusi sel darah merah, untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membantu meringankan anemia dan kelelahan. Atau trombosit, yang mana membantu mencegah perdarahan yang berlebihan.

Meski umumnya tidak ada batasan untuk jumlah transfusi darah, komplikasi kadang dapat timbul pada transfusi.

Sel darah merah yang ditransfusikan kadang mengandung zat besi yang dapat menumpuk di tubuh kamu, dan dapat merusak organ-organ vital jika kelebihan zat besi ini tidak ditangani. Namun sejumlah obat-obatan bisa membantu menghilangkan kelebihan zat besi di tubuh kamu.

Seiring waktu, tubuh kamu juga bisa mengembangkan antibodi terhadap sel darah yang ditransfusikan, dan membuat langkah transfusi darah ini jadi kurang efektif untuk meredakan gejala.

Namun penggunaan obat imunosupresan bisa membuat komplikasi ini jadi lebih kecil kemungkinannya.

Transplantasi sel induk

Transplantasi sel induk bisa membangun kembali sumsum tulang dengan sel-sel induk dari donor. Ini mungkin jadi pilihan pengobatan bagi kamu yang memiliki anemia aplastik parah.

Transplantasi sel induk, juga disebut transplantasi sumsum tulang, umumnya merupakan pengobatan pilihan untuk yang lebih muda dan memiliki donor yang cocok, biasanya saudara kandung.

Jika donor ditemukan, sumsum tulang kamu yang sakit pertama-tama akan diperiksa radiasi atau kemoterapi. Sel-sel induk yang sehat dari donor, kemudian disaring dari darah.

Sel-sel induk yang sehat disuntikkan secara intravena ke dalam aliran darah kamu. Kemudian akan bermigrasi ke rongga sumsum tulang, dan akan mulai membuat sel-sel darah baru.

Prosedur ini membutuhkan waktu cukup lama untuk dirawat di rumah sakit. Setelah transplantasi, kamu biasanya juga akan menerima obat untuk membantu mencegah penolakan sel induk dalam tubuh.

Transplantasi sel induk juga bisa membawa risiko. Kadang ada kemungkinan tubuh kamu menolak transplantasi, sehingga ini bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa.

Selain itu, tidak semua orang tepat menjadi kandidat untuk transplantasi, atau dapat menemukan donor yang cocok.

Imunosupresan

Untuk kamu yang tidak dapat menjalani transplantasi sumsum tulang atau bagi kamu yang anemia aplastiknya disebabkan oleh gangguan autoimun, pengobatan dapat melibatkan obat-obatan yang bisa mengubah atau menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan).

Obat-obatan seperti cyclosporine (Gengraf, Neoral, Sandimmune) dan anti-thymocyte globulin, dipercaya bisa menekan aktivitas sel-sel kekebalan yang merusak sumsum tulang kamu. Ini membantu sumsum tulang kamu pulih dan menghasilkan sel darah baru.

Cyclosporine dan anti-thymocyte globulin sering digunakan bersama. Kortikosteroid, seperti methylprednisolone (Medrol, Solu-Medrol), sering digunakan dengan obat-obatan ini.

Meskipun efektif, obat ini juga berisiko melemahkan sistem kekebalan tubuh kamu. Ada juga kemungkinan anemia kembali setelah kamu menghentikan obat ini.

Stimulan sumsum tulang

Obat-obatan tertentu, di antaranya colony-stimulating factors, seperti sargramostim (Leukine), filgrastim (Neupogen) dan pegfilgrastim (Neulasta), epoetin alfa (Epogen / Procrit), dan eltrombopag (Promacta), bisa membantu merangsang sumsum tulang untuk hasilkan sel darah baru.

Antibiotik atau obat antivirus

Memiliki anemia aplastik dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh kamu, yang membuat kamu lebih rentan terhadap infeksi.

Jika kamu memiliki anemia aplastik, segera temui dokter kamu kala mengalami tanda pertama infeksi, seperti demam. Kamu tentu tidak ingin infeksinya menjadi lebih buruk, karena bisa mengancam jiwa.

Jika kamu memiliki anemia aplastik parah, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik atau obat antivirus untuk membantu mencegah infeksi.

Perawatan lainnya

Anemia aplastik yang disebabkan oleh radiasi dan perawatan kemoterapi untuk kanker, biasanya membaik setelah perawatan tersebut berhenti. Hal yang sama juga berlaku pada efek sebagian besar obat lain yang menyebabkan anemia aplastik.

Wanita hamil dengan anemia aplastik biasanya juga dirawat dengan transfusi darah. Anemia aplastik terkait kehamilan ini dipercaya juga bisa membaik begitu kehamilan berakhir.

Gaya hidup dan perawatan di rumah

Jika kamu menderita anemia aplastik, rawat diri kamu dengan:

  • Beristirahat kala perlu. Anemia aplastik dapat menyebabkan kelelahan dan sesak napas bahkan dengan aktivitas ringan, maka dari itu beristirahatlah saat kamu membutuhkannya
  • Menghindari olahraga dengan kontak dekat. Sebab ada risiko perdarahan yang terkait dengan jumlah trombosit rendah, maka perlu menghindari kegiatan yang dapat menyebabkan luka atau jatuh
  • Melindungi diri dari kuman. Cuci tangan kamu sesering mungkin dan hindari orang sakit, dan jika kamu mengalami demam atau indikator infeksi lainnya, kunjungi dokter untuk perawatan

Berikut beberapa kiat lainnya untuk membantu mengatasi anemia aplastik:

  • Teliti penyakit kamu. Semakin banyak tahu, semakin siap kamu untuk membuat keputusan pengobatan
  • Mengajukan pertanyaan. Pastikan untuk bertanya kepada dokter tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakit atau perawatan yang tidak kamu mengerti, jangan lupa juga untuk mencatat atau menuliskan apa yang dikatakan dokter
  • Jadilah vokal. Jangan takut ungkapkan kekhawatiran kamu kepada dokter atau profesional perawatan kesehatan yang merawat kamu
  • Mencari dukungan. Bicaralah dengan orang lain, atau juga mintalah keluarga dan teman untuk memberikan dukungan emosional. Misalnya, minta mereka untuk mempertimbangkan untuk menjadi donor darah atau donor sumsum tulang
  • Jaga kualitas kesehatan diri. Dengan makanan bernutrisi dan tidur cukup, ini penting untuk mengoptimalkan produksi darah.

Hidup dengan anemia aplastik

Jika kamu memiliki kelainan anemia aplastik, coba lakukan hal ini:

  • Hindari olahraga dengan kontak dekat untuk menghindari cedera dan perdarahan
  • Cuci tangan sesering mungkin
  • Dapatkan suntik flu tahunan
  • Hindari keramaian sebanyak yang kamu bisa
  • Periksa dengan dokter sebelum melakukan penerbangan atau pergi ke tempat tertentu, untuk mengecek kemungkinan perlu transfusi darah terlebih dahulu.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference
  • Healtline, Idiopathic Aplastic Anemia, https://www.healthline.com/health/idiopathic-aplastic-anemia, diakses 22 Juni 2020
  • Mayo Clinic, Aplastic anemia https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/aplastic-anemia/diagnosis-treatment/drc-20355020, diakses 22 Juni 2020
  • Medical News Today, Aplastic anemia: Everything you need to know, https://www.medicalnewstoday.com/articles/326781, diakses 22 Juni 2020
  • NIDDK, Aplastic Anemia & Myelodysplastic Syndromes, https://www.niddk.nih.gov/health-information/blood-diseases/aplastic-anemia-myelodysplastic-syndromes, diakses 22 Juni 2020
  • WebMD, What Is Aplastic Anemia? https://www.webmd.com/a-to-z-guides/aplastic-anemia#1, diakses 22 Juni
    Berita Terkait
    register-docotr