Kamus Penyakit

Meningitis

May 8, 2020 | Putri Prima Soraya | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Tahukah kamu, meningitis memiliki gejala yang hampir sama dengan flu, yakni demam dan sakit kepala. Umumnya, penyakit ini lebih banyak diidap anak-anak yang sistem pertahanan tubuhnya belum sebaik orang dewasa. Tapi tetap saja, orang dewasa juga berisiko.

Menurut WHO pada 2010, bakteri penyebab meningitis menyerang kurang lebih 400 juta orang di dunia, dengan tingkat kematian 25 persen. Penyakit ini dapat menular karena virusnya dapat berpindah melalui udara.

Baca Juga: Serupa Tapi Tak Sama! Ini Perbedaan Meningitis dan Ensefalitis

Apa itu penyakit meningitis?

Meningitis adalah suatu gejala peradangan yang menyerang lapisan selaput pelindung jaringan otak dan sumsung tulang belakang. Penyakit ini juga populer dengan sebutan radang selaput otak.

Bagi orang yang menderita radang selaput otak, efek yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini adalah kerusakan pikiran hingga gangguan untuk mengendalikan gerakan. 

Beberapa juga berisiko mengalami penurunan kualitas hidup karena gejala yang terus muncul kembali. Tidak jarang, meningitis berakhir dengan kematian. Namun dengan pengobatan yang tepat, penyakit ini bisa disembuhkan. 

Apa penyebab meningitis?

Ada banyak penyebab dari penyakit radang selaput otak ini. Mulai dari bakteri, jamur, virus, dan organisme lainnya. Berikut penjelasannya.

1. Meningitis bakteri

Penyakit meningitis yang disebabkan oleh bakteri tertentu dapat mengancam jiwa dan berisiko menular kepada orang lain. Jenis bakteri paling umum yang dapat menyebabkan meningitis adalah:

A. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus)

Bakteri ini adalah penyebab paling umum meningitis bakteri pada bayi, anak kecil dan orang dewasa. Bakteri ini lebih sering menyebabkan infeksi pneumonia atau telinga atau sinus. Pemberian vaksin dapat membantu mencegah infeksi akibat bakteri ini.

B. Neisseria meningitidis (meningococcus)

Bakteri ini merupakan penyebab utama meningitis bakteri. Bakteri ini umumnya menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas. Bakteri ini menyebabkan infeksi yang sangat menular yang menyerang remaja dan dewasa muda.

C. Haemophilus influenzae (haemophilus)

Bakteri Haemophilus influenzae tipe b (Hib) pernah menjadi penyebab utama meningitis pada anak. Tetapi vaksin Hib baru telah mampu mengurangi jumlah kasus meningitis akibat virus ini.

D. Listeria monocytogenes (listeria)

Wanita hamil, bayi baru lahir, orang tua, dan orang-orang dengan sistem kekebalan yang lemah merupakan individu yang paling rentan terpapar bakteri ini.

Bakteri ini dapat melewati penghalang plasenta sehingga dapat menularkan bayi yang dikandung oleh ibu hamil.

Bakteri penyebab radang selaput otak dapat menyerang tubuh kita, dimulai ketika bakteri masuk ke aliran darah melalui hidung, telinga, atau tenggorokan. Lalu bergerak melalui aliran darah menuju ke otak.

Karena itulah, meningitis yang disebabkan oleh bakteri ini dapat menyebar ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin. 

Jika kamu berada di sekitar orang yang batuk, sebaiknya segera menjauh dan menutup hidung. Karena kita tidak tahu kemungkinan bakteri yang ditularkan dari batuk atau bersin seseorang.

bakteri-meningitis
Bakteri. Sumber gambar unsplash

2. Meningitis virus

Meningitis virus cenderung tidak terlalu parah, kebanyakan dapat sembuh sepenuhnya tanpa pengobatan. Sejumlah virus dapat memicu penyakit lainnya, termasuk beberapa yang dapat menyebabkan diare.

3. Meningitis jamur

Meningitis jamur adalah bentuk penyakit yang langka. Kondisi ini biasanya terjadi hanya pada orang yang sistem kekebalan atau pertahanan tubuhnya terhadap kuman telah melemah. Misalnya adalah pada orang-orang yang menderita HIV, lebih mungkin untuk terinfeksi meningitis bentuk ini.

4. Meningitis kronis

Meningitis jenis ini disebabkan oleh organisme tertentu seperti parasit, yang menyerang membran dan cairan di sekitar otak. Penyakit ini dapat berkembang selama dua minggu atau lebih. Tanda-tanda dan gejala yang umum dialami adalah sakit kepala, demam, dan muntah.

5. Penyebab lainnya

Selain bakteri, virus, jamur dan organisme lainnya, meningitis juga dapat disebabkan oleh penyebab non infeksi. Seperti reaksi kimia, alergi obat, beberapa jenis kanker dan penyakit radang seperti sarkoidosis.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena meningitis?

Beberapa orang memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit meningitis. Bila kamu termasuk ke dalam kelompok berikut, kamu perlu lebih waspada ya.

1. Anak-anak

Banyak kasus meningitis terjadi pada usia dibawah lima tahun. Hal ini disebabkan karena kondisi sistem imun pada anak dibawah lima tahun masih belum terbentuk sempurna.

2. Kondisi lingkungan sosial

Lingkungan sosial menjadi salah satu faktor penyebaran radang selaput otak. Meningitis merupakan salah satu penyakit yang dapat menular, kita perlu waspada untuk tidak kontak secara langsung dengan pasien penyakit ini.

3. Wanita hamil

Saat sedang hamil, terjadi peningkatan kemungkinan terkena infeksi yang disebabkan oleh bakteri listeria. Bakteri ini salah satu bakteri yang juga dapat menyebabkan radang selaput otak.

Meningitis yang diderita ibu hamil sangat berbahaya, karena ada kemungkinan janin dalam kandungan juga memiliki risiko yang sama.

4. Memiliki sistem imun yang lemah

Seseorang yang terkena diabetes, sirosis/penyakit hati, Human Immunodeficiency Virus atau HIV, dan sedang menjalani terapi obat imunosupresif dapat meningkatkan resiko terkena penyakit meningitis.

Hal tersebut disebabkan kondisi-kondisi tersebut dapat membuat sistem imun seseorang menjadi lemah dan rentan terserang penyakit radang selaput otak.

5. Jenis kelamin

Beberapa penelitian mengatakan bahwa laki-laki lebih cenderung memiliki risiko terkena penyakit meningitis lebih tinggi dibanding perempuan.

6. Terkena paparan serangga dan hewan pengerat

Beberapa binatang seperti serangga dan hewan pengerat dapat membawa kuman yang menyebabkan penyakit meningitis. Pastikan lingkungan kamu bersih, agar hewan pengerat tidak betah tinggal di rumahmu dan tidak menyebarkan kuman.

7. Tidak mendapatkan vaksin meningitis

Vaksin meningitis atau imunisasi umumnya diberikan untuk mencegah kita dari risiko terkena penyakit ini. 

Apa gejala dan ciri-ciri meningitis?

Penyakit meningitis dapat menjadi sangat berbahaya bagi nyawa seseorang. Untuk itu penting bagi kita untuk mengetahui gejala-gejalanya sejak dini.

Berikut adalah gejala yang ditimbulkan saat terserang penyakit radang selaput otak. Perlu diketahui juga, gejala antara orang dewasa dan anak-anak berbeda.

Gejala meningitis pada orang dewasa

Pada orang dewasa, gejala yang mungkin ditunjukkan pada seseorang yang terkena penyakit ini adalah:

  • Suhu tubuh meningkat yang disertai dengan kejang dan kaku
  • Kehilangan kesadaran
  • Kaku pada tengkuk leher
  • Kebingungan atau kesulitan berkonsentrasi
  • Kejang
  • Rasa kantuk atau sulit bangun
  • Sensitivitas terhadap cahaya
  • Tidak ada nafsu makan atau haus
  • Ruam kulit.

Gejala meningitis pada anak

Anak-anak umumnya tidak dapat menyampaikan keluhannya, untuk itu perlu diwaspadai ya Moms, jika hal-hal berikut terjadi pada anak karena bisa jadi tanda meningitis pada anak:

  • Demam (sekitar 39º C)
  • Lesu, lemah dan rewel
  • Sakit kepala dan mata sensitif terhadap cahaya
  • Kaku kuduk, kadang-kadang ruam kulit dan kulitnya berwarna kuning serta kejang.
  • Tidak nafsu makan
  • Kedinginan
  • Menangis menjerit-jerit seperti kesakitan.
  • Ubun-ubun bayi yang masih terbuka mungkin tampak menonjol dan keras
  • Pada bayi yang masih kecil, gejala-gejala klasik bisa terlihat malas menyusu, serta tampak lesu dan lemah sekali.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat meningitis?

Penyakit ini juga dapat menimbulkan komplikasi. Namun komplikasi lebih sering terjadi pada pasien yang mengalami meningitis bakterial. Pada meningitis virus, komplikasi jarang terjadi.

Semakin parah infeksi bakteri, semakin besar kemungkinan komplikasi. Berikut adalah komplikasi yang mungkin terjadi:

  • Gangguan pendengaran (sebagian atau total)
  • Gangguan konsentrasi
  • Sulit tidur
  • Epilepsi 
  • Cerebral palsy
  • Kesulitan berbicara
  • Kehilangan penglihatan (sebagian atau total)
  • Kehilangan keseimbangan 
  • Masalah tulang dan sendi, seperti artritis
  • Gangguan ginjal 
  • Amputasi, untuk menghentikan penyebaran infeksi ke seluruh tubuh

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati meningitis?

Perawatan meningitis di dokter

Sebelum diobati, penderita meningitis harus melewati beberapa tes. Tes ini berfungsi untuk mengetahui penyebab penyakit. Berikut adalah tes yang umum dilakukan:

  • Pemeriksaan fisik dan gejala
  • Tes darah untuk memeriksa bakteri atau virus
  • Pungsi lumbal untuk memeriksa bakteri atau virus
  • CT scan untuk memeriksa pembengkakan di otak.

Umumnya, bila disebabkan oleh bakteri, penderita penyakit ini harus dirawat di rumah sakit. Namun pada penderita penyakit yang disebabkan oleh virus juga bisa dirawat di rumah sakit bila kondisinya parah.

Perawatan penyakit ini dapat berupa:

  • Pemberian antibiotik melalui pembuluh darah
  • Pemberian cairan melalui pembuluh darah untuk menghindari dehidrasi
  • Pemberian oksigen melalui masker bila mengalami kesulitan bernapas
  • Pemberian obat steroid untuk membantu mengurangi pembengkakan di otak.

Perawatan mungkin memakan waktu beberapa minggu. Terutama pada pasien yang juga mengalami komplikasi.

Cara mengatasi meningitis secara alami di rumah

Bila disebabkan oleh virus, biasanya dokter akan menyarankan untuk dirawat di rumah saja. Penyakit ini dapat membaik dengan sendirinya tanpa menyebabkan masalah serius. Perawatan yang dapat dilakukan di rumah meliputi:

  • Banyak beristirahat
  • Gunakan bantal untuk menyangga leher agar tidak mengalami sakit leher
  • Banyak minum, hindari dehidrasi
  • Makan makanan bernutrisi
  • Meminum obat pereda nyeri untuk menghilangkan sakit kepala atau nyeri secara keseluruhan
  • Bila ada muntah, minumlah obat muntah.

Apa saja obat menignitis yang biasa digunakan?

Untuk mengobati meningitis, beberapa obat mungkin diresepkan oleh dokter sesuai dengan penyebab dan gejala yang timbul. Berikut adalah beberapa obat yang sering digunakan untuk mengatasi penyakit ini.

Obat meningitis di apotik

1. Antibiotik

Golongan antibiotik yang mungkin diresepkan oleh dokter diantaranya seftriakson dan sefotaksim. Jika penggunaan kedua golongan antibiotik tersebut tidak memberikan hasil yang baik, dokter dapat mengganti dengan golongan kloramfenikol dan ampisilin.

Lama penggunaan antibiotik biasanya diresepkan selama 10 hari. Perlu kita tekankan saat sedang menjalani terapi pengobatan menggunakan antibiotik adalah antibiotik harus dihabiskan, sesuai dengan jumlah yang diresepkan oleh dokter.

2. Steroid

Obat golongan steroid yang umumnya diberikan diantaranya adalah prednisone. Prednisone biasanya diberikan selama 2–4 minggu, dilanjutkan pengurangan dosis secara perlahan untuk memberhentikan penggunaan prednisone.

3. Diuretik

Bila ada penumpukan cairan di otak, dokter mungkin akan meresepkan obat diuretik.

4. Obat antiviral

Bila disebabkan oleh virus yang tergolong parah, dokter akan meresepkan obat golongan antiviral, yakni acyclovir.

Obat meningitis alami

Beberapa bahan alami dapat mendukung pengobatan penyakit ini. Namun penggunaannya tidak bisa menggantikan obat yang diresepkan oleh dokter. Penggunaan obat alami juga harus ada di bawah pengawasan dokter. Berikut adalah obat alami yang biasa digunakan:

1. Tanaman cakar kucing

Cakar kucing dapat diambil ekstraknya untuk mengatasi peradangan dan menstimulasi kekebalan tubuh. Namun penderita leukimia atau autoimun perlu berkonsultasi lebih lanjut bila ingin mengonsumsinya.

2. Jamur reishi

Sama seperti cakar kucing, jamur reisHi (Ganoderma lucidum) juga dapat mengatasi peradangan dan menstimulasi kekebalan tubuh. Dalam dosis tinggi, jamur reishi dapat menurunkan tekanan darah.

3. Daun zaitun

Ekstrak dari daun zaitun (Olea europaea) bersifat antibakteri, antijamur serta dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

4. Bawang putih

Esktrak dari bawang putih bersifat antibakteri atau antijamur sehingga baik untuk membantu mengatasi penyakit ini. Selain itu, bawang putih juga bisa meingkatkan imun. Namun bawang putih bisa berinteraksi dengan beberapa obat.

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita meningitis?

Untuk membantu proses pengobatan, penderita meningitis harus menjaga asupan makanannya. Di bawah ini adalah makanan yang perlu dikonsumsi dan perlu dihindari.  

Makanan baik dikonsumsi:

  •     Makanan kaya vitamin
  •     Buah-buahan dan sayur-sayuran
  •     Jus dari buah jeruk (lemon, jeruk)
  •     Daging dan ikan tanpa lemak
  •     Kacang kacangan.

Makanan yang harus dihindari:

  •     Produk susu
  •     Daging
  •     Makanan manis
  •     Makanan bertepung
  •     Alkohol
  •     Teh dan kopi
  •     Ikan
  •     Makanan yang diproses.

Baca Juga: Penting, Ini Segala Sesuatu tentang Meningitis pada Bayi yang Wajib Moms Pahami

Bagaimana cara mencegah meningitis?

Bakteri atau virus umum yang dapat menyebabkan meningitis dapat menyebar melalui batuk, bersin,atau berbagi peralatan makan, sikat gigi, atau rokok. Untuk mencegah meningitis, kamu bisa melakukan langkah-langkah berikut:

  • Biasakan mencuci tangan dengan bersih
  • Jangan berbagi minuman, makanan, sedotan, peralatan makan dan barang pribadi lainnya
  • Jaga imunitas tubuh 
  • Tutup mulut saat bersin atau batuk
  • Bila sedang hamil, perhatikan asupan makanan.

Pemberian vaksin meningitis

Beberapa vaksin dapat diberikan untuk mencegah meningitis pada anak maupun orang dewasa. Ada beberapa jenis vaksin meningitis yang bisa dilakukan, begini penjelasannya.

A. Vaksin haemophilus influenzae tipe b (Hib)

Untuk mencegah meningitis pada anak, vaksin meningitis ini direkomendasikan, dimulai pada usia sekitar 2 bulan. Vaksin ini juga direkomendasikan untuk beberapa orang dewasa, termasuk mereka yang memiliki penyakit AIDS.

B. Vaksin konjugat pneumokokus (PCV 13)

Vaksin ini juga merupakan bagian dari jadwal imunisasi reguler untuk anak di bawah 2 tahun.

Dosis tambahan direkomendasikan untuk anak-anak antara usia 2 dan 5 tahun yang berisiko tinggi terkena penyakit pneumokokus, termasuk anak-anak yang memiliki penyakit jantung atau paru kronis atau kanker.

C. Vaksin polisakarida pneumokokus (PPSV23)

Anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa yang membutuhkan perlindungan dari bakteri pneumokokus dapat diberikan vaksin dengan jenis yang satu ini.

D. Vaksin konjugat meningokokus

Vaksin meningitis ini juga dapat diberikan kepada anak-anak antara usia 2 bulan dan 10 tahun yang berisiko tinggi terkena meningitis bakteri atau yang telah terpapar oleh seseorang dengan penyakit ini.

Pemberian vaksin menigitis harus melalui konsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan jenis vaksin yang cocok dan sesuai dengan kondisi tubuh.

Itu dia informasi seputar penyakit meningitis atau radang selaput otak yang perlu kamu ketahui. Yuk turunkan risiko terkena penyakit ini dengan melakukan vaksin.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
    register-docotr