Kamus Penyakit

Memahami Penyakit Trypophobia, Penyebab dan Cara Mengatasi Ketakutan pada Lubang

March 4, 2021 | Anisya Fitrianti | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Penyakit trypophobia merupakan kondisi ketakutan pada lubang. Umumnya orang yang memiliki trypophobia merasakan ketidaknyamanan ketika melihat permukaan yang memiliki lubang kecil berkumpul berdekatan atau pola lubang tertentu. 

Baca Juga: Mengenal Penyakit Vaginismus: Penyebab, Gejala, serta Pengobatannya

Mengenal penyakit trypophobia

Istilah trypophobia ini berasal dari bahasa Yunani yakni “trypta,” yang berarti lubang, dan “phobos,” yang berarti ketakutan. Penyakit trypophobia dilaporkan pertama kali dalam sebuah forum web pada 2005.

Meski begitu jenis fobia yang satu ini masih belum diakui secara resmi karena penelitian mengenai trypophobia sangat terbatas.  

Orang yang mengalami penyakit trypophobia memiliki reaksi fisik atau emosional yang kuat setiap kali mereka melihat pola yang terdiri dari lubang atau bintik. Semakin banyak kelompok lubang yang mereka lihat, semakin tidak nyaman juga kondisi yang mereka rasakan.  

Baca juga: Serba-serbi Penyakit Aterosklerosis: Ketahui Gejala, Penyebab, dan Penanganannya

Gejala penyakit trypophobia

Ketika melihat sekelompok lubang, orang dengan penyakit trypophobia bisa mengalami reaksi seperti berikut:

  • Merinding
  • Merasa jijik
  • Ketidaknyamanan visual seperti kelelahan mata, distorsi, atau ilusi
  • Serangan panik
  • Berkeringat
  • Mual dan muntah
  • Tubuh bergetar
  • Sesak napas
  • Detak jantung yang cepat
  • Berkeringat
  • Gatal atau kulit seperti digerayangi

Orang dengan penyakit trypophobia mungkin mengalami gejala ini beberapa kali dalam seminggu atau setiap hari. Terkadang, ketakutan akan lubang yang mereka rasakan tidak pernah hilang.

Tak hanya itu, orang dengan penyakit  trypophobia juga akan sering mengalami perubahan perilaku untuk menghindari objek pemicu.

Misalnya, orang dengan trypophobia mungkin menghindari makan stroberi karena merasa jijik atau menghindari pergi ke tempat-tempat dengan dinding yang berhiaskan pola titik-titik. 

Objek pemicu

Tidak banyak yang diketahui tentang penyakit trypophobia. Namun, beberapa pemicu umum trypophobia adalah sebagai berikut:

  • Karang
  • Biji buah
  • Lubang-lubang pada daging yang tidak segar atau membusuk
  • Lubang atau tonjolan pada daging
  • Sarang lebah
  • Mata serangga
  • Gelembung
  • Kepala bunga lotus
  • Buah delima
  • Spons laut
  • Stroberi
  • Plastik gelembung
  • Busa logam
  • Masalah kulit seperti luka, bekas luka, dan bintik-bintik
  • Foto yang diedit, berisi lubang yang ditempelkan di lengan, bahu atau wajah.

Hewan seperti serangga, amfibi, mamalia, dan makhluk lain yang memiliki pola kulit tertentu juga dapat memicu gejala penyakit trypophobia.

Seberapa umum penyakit trypophobia? 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa trypophobia adalah kondisi yang mungkin sangat umum terjadi. Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science menemukan 16 persen peserta mengalami perasaan jijik atau tidak nyaman ketika melihat gambar kepala bunga lotus. 

Penyebab penyakit trypophobia

Perdebatan mengenai penyakit trypophobia juga masih berlangsung beberapa peneliti mengatakan bahwa ini hanyalah ketakutan irasional terhadap lubang yang mungkin bukan fobia.

Penelitian tentang trypophobia pun masih sangat terbatas.  Tetapi untuk menjawab penyebab dari ketakutan ini, ada beberapa teori yang membahas penyakit trypophobia. Berikut penjelasannya. 

Penyebab evolusi 

Menurut salah satu teori paling populer, penyakit trypophobia adalah respons evolusioner terhadap hal-hal yang berhubungan dengan penyakit atau bahaya. Kulit yang luka, terkena parasit, dan kondisi infeksi lainnya, misalnya, dapat ditandai dengan lubang atau benjolan. 

Teori ini menunjukkan bahwa fobia ini memiliki dasar evolusi. Mereka yang memilki penyakit trypophobia cenderung merasa jijik daripada rasa takut ketika mereka melihat objek pemicu.

Kaitan dengan hewan berbahaya

Lubang-lubang yang padat memiliki penampilan yang mirip dengan pola kulit dan bulu pada beberapa hewan berbisa. Orang mungkin takut akan pola tersebut karena secara tidak sadar mengaitkannya dengan hewan yang berbahaya. Penelitian terkait hal tersebut pun pernah dilakukan. 

Pada 2013, sebuah penelitian melihat bagaimana orang dengan penyakit trypophobia menanggapi rangsangan tertentu dibandingkan dengan orang-orang tanpa trypophobia.

Hasilnya, ketika melihat sarang madu orang yang tidak memiliki penyakit trypophobia segera memikirkan hal-hal seperti madu atau lebah.

Sementara itu, peneliti percaya bahwa mereka yang memiliki penyakit  trypophobia secara tidak sadar menghubungkan penampakan sarang lebah dengan organisme berbahaya yang memiliki karakteristik visual dasar yang sama, misalnya ular berbisa. 

Meskipun mereka tidak secara sadar menyadari hubungan ini, mungkin itulah yang menyebabkan mereka merasakan perasaan jijik atau takut.

Kaitan dengan patogen infeksi

Sebuah penelitian pada 2017, menemukan bahwa peserta cenderung mengaitkan pola lubang dengan patogen yang ditularkan kulit. Para peserta penelitian melaporkan perasaan gatal-gatal dan kulit seperti digerayangi ketika melihat pola-pola tersebut. 

Jijik atau takut akan ancaman yang ada di depan mata adalah respons adaptif. Dalam banyak kasus, perasaan jijik dan takut dapat membantu menjaga seseorang aman dari bahaya.

Sedangkan dalam kasus trypophobia para peneliti percaya bahwa takut dan jijik mungkin merupakan bentuk yang berlebihan dari respons yang biasanya adaptif. 

Kaitan dengan gangguan lain 

Para peneliti juga menemukan bahwa orang-orang dengan trypophobia lebih mungkin mengalami gejala-gejala kecemasan dan depresi. Gejala-gejala penyakit trypophobia juga kerap mengarah pada gangguan fungsional dalam kehidupan sehari-hari. 

Baca juga :Mengenal Emfisema, Penyakit Mematikan yang Menyerang Paru-Paru

Diagnosis penyakit trypophobia

Untuk mendiagnosis fobia, dokter akan menanyakan serangkaian pertanyaan tentang gejala yang pernah kamu alami. Dokter juga akan memeriksa riwayat medis, psikiatris, dan sosial yang kamu miliki. 

Namun, penting dicatat bahwa penyakit trypophobia adalah kondisi yang tidak dapat didiagnosis dokter karena fobia yang satu ini tak diakui secara resmi oleh asosiasi medis dan kesehatan mental.

Faktor risiko penyakit trypophobia

Tidak banyak yang diketahui tentang faktor-faktor risiko terkait penyakit trypophobia. Namun ada satu studi yang menemukan kemungkinan hubungan antara trypophobia dan gangguan depresi mayor dan gangguan kecemasan umum. 

Menurut para peneliti, orang-orang dengan penyakit rypophobia lebih mungkin untuk mengalami gangguan depresi mayor.

Beberapa orang yang takut dengan pola lubang juga mengalami gangguan jiwa lain, seperti kecemasan sosial, gangguan panik, gangguan obsesif kompulsif atau OCD, dan gangguan bipolar.

Pengobatan penyakit trypophobia 

Tidak ada pengobatan khusus yang terbukti efektif dalam mengobati kondisi ini. Namun beberapa perawatan yang digunakan untuk mengatasi fobia spesifik dapat membantu mengurangi gejala.

Terapi paparan 

Terapi ini dilakukan dengan cara mengekspos orang dengan objek ketakutannya. Terapi ini bertujuan untuk mengubah respons seseorang terhadap objek atau situasi yang membuatnya merasa ketakutan.

Dengan melakukan terapi ini, diharapkan penderita fobia dapat mengurangi rasa takut seiring dengan berjalannya waktu. 

Proses ini biasanya dilakukan secara bertahap. Seseorang dapat mulai dengan membayangkan apa yang mereka takuti, kemudian melihat gambar-gambar objek ketakutan, dan akhirnya mendekati atau bahkan menyentuh objek atau sumber ketakutan mereka.

Dalam kasus ini , seseorang yang mengalami gejala penyakit trypophobia dapat memulai terapi paparan dengan membayangkan sesuatu seperti sarang lebah atau biji sambil menutup mata. Biasanya terapi ini akan terus dilakukan sampai gejalanya mulai surut.

Ketika orang tersebut dapat membayangkan objek tanpa respons, ia akan masuk ke tahap terapi selanjutnya. Tahap ini biasanya melibatkan banyak aktivitas untuk melihat gambar objek yang biasanya memicu gejala.

Proses terapi pemaparan akan berlanjut terus sampai pasien dapat melihat objek ketakutannya tanpa merasa jijik, takut, atau gelisah yang berlebihan.

Teknik relaksasi

Teknik relaksasi yang tepat juga dapat berguna untuk mengurangi perasaan jijik, takut, atau gelisah akibat objek ketakutan. Biasanya teknik ini akan melibatkan beberapa hal seperti visualisasi, latihan pernapasan dalam, serta relaksasi otot. 

Terapi perilaku kognitif (CBT)

Terapi perilaku kognitif melibatkan kerja sama dengan terapis untuk mengubah pemikiran dan perilaku dari seseorang yang mendasari ketakutannya. 

Terapis akan melakukan beberapa hal untuk merubah perilaku penderita fobia dengan beberapa tahap. Mulai dari mendiskusikan pemikiran yang tidak realistis, lalu berusaha menggantikannya dengan pemikiran yang lebih realistis, kemudian membuat perubahan perilaku.

Salah satu alasan orang mengalami gejala fobia adalah karena mereka sering percaya bahwa objek ketakutannya memiliki sesuatu yang membuatnya merasa terancam atau ada dalam bahaya. Hal ini otomatis memberikan persepsi negatif ketika mereka melihat objek ketakutannya. 

Melalui terapi CBT, orang-orang akan diminta untuk menggantikan keyakinan irasional dan pikiran negatif mereka yang seringkali tidak rasional dengan pemikiran yang lebih positif dan realistis.

Obat-obatan

Obat antidepresan atau anti kecemasan mungkin menjadi pilihan untuk mengatasi fobia bila orang tersebut juga mengalami depresi atau kecemasan. Misalnya kelompok obat inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI), benzodiazepin, atau beta-blocker.

Penggunaan obat-obatan ini juga mungkin dibarengi dengan pendekatan pengobatan lain seperti CBT, terapi paparan, atau jenis psikoterapi lainnya. Namun obat-obatan ini tentunya fokus mengatasi depresi atau kecemasan, bukan spesifik bekerja pada trypophobia. 

Selain pengobatan dan terapi, beberapa hal di bawah ini mungkin juga bermanfaat untuk mengatasi gejala penyakit trypophobia  yang mengganggu:

  • Istirahat yang cukup
  • Makan makanan yang sehat dan seimbang
  • Melakukan aktivitas fisik dan olahraga untuk mengelola kecemasan
  • Minta bantuan atau dukungan dari orang terdekat
  • Menghindari kafein dan zat lain yang dapat membuat kecemasan semakin buruk
  • Belajar menghadapi objek ketakutan secara langsung
  • Mempelajari teknik mindful breathing atau mindful observation untuk membantu mengatasi stres.

Baca juga: Efektif Atasi Masalah Depresi dan Kecanduan Alkohol, Apa itu Hipnoterapi?

Cara mengatasi reaksi pada kumpulan lubang

Jika kamu mengalami gejala penyakit trypophobia akut, lakukanlah teknik pernapasan dalam. Langkah ini dapat mempersingkat durasi gejala yang muncul, menenangkan kecemasan dan ketakutan.

Di samping itu pernapasan dalam juga akan membantu memperlambat detak jantung dan mendorong respons relaksasi pada tubuh. Salah satu teknik pernapasan dalam yang sederhana disebut dengan pernapasan kotak. Begini cara melakukannya

  • Buang napas perlahan melalui hidung selama empat hitungan
  • Tarik napas perlahan melalui hidung Anda selama empat hitungan
  • Buang napas perlahan melalui hidung selama empat hitungan
  • Lanjutkan bernapas dengan cara ini selama satu hingga lima menit.

Itulah beberapa informasi seputar penyakit trypophobia yang perlu kamu ketahui. Meski jenis fobia ini tidak diakui, beberapa peneliti sepakat bahwa orang dengan penyakit trypophobia memiliki gejala nyata yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Bila kamu atau kerabat dekatmu memiliki gejala penyakit trypophobia, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat menemukan akar ketakutan dan mengelola gejala yang timbul dan mengganggu. 

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
    register-docotr