Kamus Penyakit

Kemoterapi: Ketahui Prosedur dan Efek Sampingnya

May 31, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Mendengar istilah kemoterapi, kamu pasti akan menghubungkannya dengan kanker. Ya, terapi ini memang merupakan salah satu metode pengobatan penyakit kanker, apapun jenisnya.

Pengobatan kemoterapi sangat beragam, tergantung pada tingkat keparahan, jenis kanker, dan penyebaran sel kanker itu sendiri. Yang perlu kamu ketahui, terapi ini memiliki banyak efek samping yang tidak boleh diremehkan.

Yuk, simak ulasan lengkap tentang kemoterapi berikut ini.

Sekilas tentang kemoterapi

Kemoterapi adalah perawatan kepada pasien kanker menggunakan obat-obatan berbahan kimia dengan dosis kuat, bertujuan untuk menghambat, menghentikan, dan membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh.

Dosis yang lebih kuat dibanding obat-obatan medis lainnya bisa menurunkan fungsi sejumlah organ dan menimbulkan efek samping serius. Dosis tersebut diperlukan untuk menghadang penyebaran sel kanker yang pertumbuhannya lebih cepat dari kebanyakan sel dalam tubuh.

Kemoterapi juga sering dikombinasikan dengan metode perawatan lain, seperti radiasi, operasi, dan terapi hormon. Semuanya tergantung pada jenis kanker itu sendiri, lokasi dominan penyebaran sel, perawatan sebelumnya, dan stadium kanker.

Cara kerja kemoterapi

Meski memiliki fungsi utama mengobati penyakit kanker, kemoterapi dilakukan untuk tujuan yang berbeda-beda, di antaranya:

  • Meringankan gejala. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa kemoterapi harus ditempuh. Meringankan gejala pada penderita kanker dilakukan dengan menghambat atau membunuh penyebaran sel-sel kanker itu sendiri.
  • Mendeteksi sel kanker tersembunyi. Sel kanker yang telah berdampak serius pada kesehatan biasanya sudah dalam kondisi berkembang. Padahal, ada potensi sel-sel tersembunyi yang harus diketahui sesegera mungkin untuk pencegahan lainnya.
  • Membunuh sel tersisa. Kemoterapi lanjutan bisa saja dilakukan setelah terapi utama selesai. Biasanya, kemoterapi lanjutan ditempuh untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa agar tidak berkembang dan memicu kanker baru.

Baca juga: Jangan Keliru, Kenali Ciri-ciri Kanker Payudara Berdasarkan Stadiumnya

Berapa lama proses kemoterapi?

Tidak ada patokan khusus tentang lamanya kemoterapi. Semua tergantung dari tingkat keparahan dan penyebaran sel kanker di dalam tubuh. Kemoterapi bisa dilakukan dalam rentang harian, mingguan, atau bahkan bulanan.

Kasus kanker yang lebih dari satu jenis membutuhkan perawatan yang tidak sebentar. Proses pemulihannya juga memerlukan durasi yang relatif lebih panjang.

Pada dasarnya, pengobatan kemoterapi dilakukan satu hari, kemudian istirahat beberapa hari, minggu, atau bulan, untuk mengetahui efeknya. Lalu, dilanjutkan dengan pengobatan yang sama setelah masa istirahat tersebut selesai.

Pengulangan ini yang mengharuskan pasien memiliki kesabaran dan kedisiplinan tinggi. Sebab, tak jarang ada yang mengalami gangguan emosi dan mental karena lamanya masa pengobatan.

Persiapan kemoterapi

Menjalani kemoterapi bukan perkara mudah. Perlu kedisiplinan dan niat yang bulat, karena terapi ini memiliki efek dan risiko yang tidak kecil. Sebelum melakukan prosedur terapi, kamu akan menjalani serangkaian persiapan, di antaranya:

  • Tes darah. Selain untuk memantau tekanan darah, tes ini dilakukan untuk mengetahui kondisi organ dalam, seperti ginjal dan hati. Jika ada gangguan pada dua organ tersebut, dokter tidak akan ragu untuk menunda pengobatan.
  • Pemeriksaan gigi. Pemeriksaan yang satu ini untuk mengetahui apakah ada infeksi di area mulut. Ini menjadi penting, karena proses kemoterapi sendiri bisa menurunkan sistem imun tubuh yang berfungsi melawan berbagai infeksi.
  • Rencanakan dampak jangka panjang. Proses kemoterapi dapat menyebabkan infertilitas, jika kamu berencana memiliki anak ada baiknya kamu dan pasangan mengawetkan sel telur dan sperma untuk digunakan di masa depan.

Prosedur kemoterapi

Prosedur kemoterapi sendiri ada banyak, tergantung pada jenis kanker dan tingkat keparahannya. Dokter akan meminta persetujuan pasien sebelum menjalankan prosedur terapi. Dengan begitu, kamu akan dilibatkan untuk memilih prosedur apa yang dikehendaki.

  • Injeksi. Biasanya, saat metode ini dipilih, pasien harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Injeksi sendiri dilakukan menggunakan infus, yang mana cairan-nya langsung disalurkan menuju pembuluh darah.
  • Suntikan. Hampir sama seperti injeksi.
  • Obat oral. Mengkonsumsi obat dalam bentuk pil atau kapsul
  • Penggunaan krim. Krim digunakan sebagai prosedur terapi untuk pasien kanker kulit

Baca juga: Wajib Tahu, Ini Penyebab dan Gejala Kanker Kulit yang Jarang Disadari

Pemulihan kemoterapi

Setelah kemoterapi selesai, dokter dan tim tidak membiarkan kamu begitu saja. Kamu tetap berada di bawah pengawasan. Sebelum dinyatakan tuntas dari proses kemoterapi, dokter akan melihat efektivitas pengobatan itu sendiri.

Artinya, kamu masih perlu mengonsumsi obat-obatan, jika memungkinkan. Meski, dosisnya tidak sekuat pada saat proses kemoterapi berlangsung. Pemantauan juga mencakup memerhatikan efek samping yang dialami.

Efek samping kemoterapi

Seperti yang telah disebutkan pada poin pembuka, kemoterapi adalah pengobatan terhadap pasien kanker dengan cara menghambat, menghentikan, dan membunuh sel-sel kanker yang perkembangannya sangat cepat.

Oleh karena itu, obat-obatan yang digunakan juga memiliki dosis atau kekuatan yang lebih tinggi. Dosis dan kekuatan obat yang tinggi berpotensi menimbulkan efek samping pada tubuh, karena penggunaan obat-obatan tersebut dapat menurunkan fungsi sejumlah organ.

1. Rambut rontok

Salah satu efek samping dari kemoterapi yang sudah banyak orang tahu adalah rambut rontok. Efek samping ini biasanya terjadi saat terapi sudah dijalankan beberapa minggu. Rambut menjadi tipis, rapuh, dan terlepas dari akarnya.

Mengenakan topi atau penutup kepala saat rambut mulai rontok adalah keputusan yang tepat. Penutup kepala bisa membuat kulit kepala tetap terjaga, karena rambut yang biasanya menjadi pelindung telah rontok.

Efek samping ini tak selamanya berlangsung. Dalam beberapa kasus, kerontokan akan berhenti setelah proses kemoterapi selesai.

2. Kulit lebih sensitif

Selain rambut, kulit pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi akan lebih sensitif terhadap sinar matahari. Kulit akan terasa kering, kusam, atau bahkan perih. Oleh karena itu, saat kamu melakukan metode pengobatan ini, perhatikan hal-hal berikut:

  • Hindari terkena sinar matahari secara langsung, terutama siang hari.
  • Menggunakan sunblock atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan.
  • Mengenakan pakaian tertutup, mulai kepala sampai kaki.

3.  Mudah lelah

Kamu bisa mengurangi aktivitas harianmu dan menambah jam istirahat lebih banyak. Istirahat adalah kunci untuk mengembalikan energi tubuh.

4. Anemia

Pasien yang menjalani kemoterapi sangat rentan mengalami anemia, yaitu berkurangnya sel darah merah. Padahal, sel darah merah bertugas membawa dan mengalirkan oksigen ke semua jaringan tubuh.

Untuk mengatasinya, kamu bisa lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi tinggi, seperti sayuran berdaun hijau gelap, kacang-kacangan, daging merah, dan plum. Anemia parah mengharuskan transfusi darah.

Baca juga: Bukan Sekadar Kurang Darah, Apa Itu Anemia?

5. Mudah terkena infeksi

Sistem imunitas pada pasien kemoterapi juga tidak sekuat biasanya. Ini karena pengobatan kanker tersebut sangat berpengaruh pada produksi sel darah putih.

Sel darah putih bertugas melindungi tubuh dari infeksi. Artinya, kadar yang menurun akan membuat tubuh lebih rentan mengalami infeksi atau peradangan.

Saat infeksi terjadi, kamu harus segera mengobatinya. Antibiotik masih aman untuk dikonsumsi berbarengan dengan obat-obatan kemoterapi. Sedangkan untuk pencegahannya, bisa dengan selalu cuci tangan, makan makanan bergizi, dan deteksi dini jika ada luka terbuka.

6. Rentan perdarahan

Proses pengobatan yang berlangsung tidak sebentar bisa membuat kadar trombosit berkurang. Trombosit sendiri adalah komponen darah yang berfungsi pada pembekuan. Saat trombosit di dalam tubuh tidak mencukupi, kamu akan lebih mudah mengalami perdarahan.

Beberapa perdarahan tersebut meliputi:

  • Mudah mimisan.
  • Gusi berdarah.
  • Rentan terjadi memar pada kulit.
  • Luka kecil yang sulit diobati.

Kadar trombosit yang terlampau rendah membutuhkan transfusi darah. Oleh karena itu, kamu bisa melakukan pencegahan dengan mengurangi aktivitas yang bisa menimbulkan luka, seperti bercukur, memasak, dan memotong rumput halaman.

7. Hilang nafsu makan

Pasien kanker yang menjalani kemoterapi sangat mungkin untuk mengalami penurunan berat badan signifikan. Salah satu penyebabnya adalah kurang atau hilangnya nafsu makan.

Saat terapi dilakukan, penyerapan nutrisi dari makanan di dalam tubuh berlangsung lebih lama. Dengan begitu, nafsu makan akan berkurang atau bahkan hilang. Sayangnya, ini tidak hanya terjadi dalam sehari, tapi bisa mingguan hingga bulanan.

Untuk mengatasinya, kamu bisa memperbanyak camilan. Pastikan tubuhmu tetap mendapat asupan makanan yang cukup. Jika tidak, kamu akan mudah lelah dan lemas.

8. Gangguan kognitif dan emosi

Sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat menjelaskan, pasien kemoterapi memiliki peluang gangguan emosi dan penurunan fungsi kognitif. Persentasenya mencapai 75 persen.

Gangguan kognitif dan emosi yang dimaksud bisa berupa depresi, dan mood swing.

9. Masalah pada usus

Sama seperti beberapa efek samping yang telah disebutkan, kemoterapi juga bisa menurunkan fungsi sejumlah organ, salah satunya adalah usus. Sembelit atau diare bisa saja muncul setelah beberapa hari perawatan.

Kondisi ini dipicu oleh rusaknya dinding usus yang diakibatkan obat-obatan dalam terapi.

Baca juga: Serba-serbi Kanker Usus: Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

10. Libido dan kesuburan menurun

Tingkat kesuburan sperma atau sel telur bisa terpengaruh oleh konsumsi obat-obatan kemoterapi. Begitu juga dengan libido atau hasrat seksual. Meski begitu, saat proses pengobatan kemoterapi selesai, semua akan kembali ke tahapan normal.

11. Mengganggu kehamilan

Jika telah mengetahui adanya perkembangan sel kanker di dalam tubuh, ada baiknya kamu menunda kehamilan. Ini menjadi penting, karena sel kanker bisa mengganggu perkembangan janin di dalam rahim.

Wanita hamil yang akan mendapat penanganan kemoterapi, dokter menyarankan untuk menunggu setelah usia kehamilan 12 hingga 14 minggu. Periode ini adalah masa-masa perkembangan janin yang signifikan.

Dengan begitu, jalan terbaiknya adalah pada penundaan kehamilan itu sendiri, misalnya menggunakan metode kontrasepsi.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang kemoterapi beserta efek sampingnya. Kamu bisa melakukan deteksi dini untuk mengetahui perkembangan sel kanker yang ada di dalam tubuh. Dengan begitu, proses kemoterapi akan lebih efektif dijalankan.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

  1. Mayo Clinic, diakses 25 Mei 2020, Chemotherapy.
  2. Medical News Today, diakses 25 Mei 2020, What you need to know about chemotherapy.
  3. Healthline, diakses 25 Mei 2020, Chemotherapy.
  4. US National Library of Medicine, diakses 25 Mei 2020, An Update on Cancer and Chemotherapy Related Cogitive Dysfunction: Current Status.

    register-docotr