Kamus Penyakit

Bruxism Tak Boleh Disepelekan, Ini Bahaya yang Bisa Ditimbulkan!

September 2, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Bruxism adalah kondisi di mana seseorang menggertakan gigi dan mengatupkan rahang secara berlebihan. Ketika melakukan ini, biasanya seseorang tidak menyadarinya. Meskipun terdengar sepele, tetapi jika kebiasaan ini dilakukan terus menerus dapat menimbulkan bahaya.

Bruxism adalah kebiasaan yang dilakukan oleh sekitar 8-10 persen populasi. Kondisi ini dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa, tetapi lebih sering terjadi pada sesorang berusia 25-44 tahun.

Mengenal lebih dalam tentang bruxism

Bruxism seringkali dikaitkan dengan stres atau kecemasan. Kondisi ini biasanya tidak membahayakan, tetapi jika megggertakkan gigi dilakukan secara terus menerus, ada beberapa bahaya yang dapat ditimbulkan.

Bruxism dapat terjadi di siang hari saat bangun tidur (awake bruxism) atau malam hari saat tidur (sleep bruxism). Sleep bruxism sendiri dianggap sebagai gangguan gerakan terkait tidur.

Seseorang yang menggertakan dan mengatupkan giginya saat tidur lebih cenderung mengalami gangguan tidur, seperti mendengkur dan berhenti bernapas (sleep apnea).

Baca juga: Nyeri Sakit Gigi Ganggu Aktivitasmu? Ini Cara Mengatasi Gigi Berlubang

Apa penyebab bruxism?

Penyebab bruxism masih belum belum jelas, tetapi ada beberapa faktor yang dapat menyebabkannya. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang menggertakkan giginya.

  • Awake bruxism: Disebabkan oleh emosi, seperti kecemasan, stres, kemarahan, frustasi, serta ketegangan. Ini juga dapat disebabkan oleh kebiasaan saat seseorang sedang berkonsentrasi penuh.
  • Slepp bruxism: Gigitan yang tidak normal atau gigi yang hilang atau bahkan bengkok. Bisa juga disebabkan oleh gangguan tidur seperti sleep apnea.

Bruxism juga dapat disebabkan oleh efek obat-obatan tertentu, misalnya saja antidepresan dan antipsikotik, serta amfetamin.

Gejala bruxism

Bruxism memiliki beberapa gejala yang dapat ditimbulkan. Mengenali gejala bruxism dapat membantumu untuk segera mencari perawatan yang tepat untuk kondisi ini agar tidak menimbulkan bahaya lainnya.

Dilansir dari Mayo Clinic, berikut adalah gejala bruxism.

  • Menggertakkan atau mengatupkan gigi secara keras
  • Gigi rata, retak, terkelupas, atau terasa longgar
  • Enamel gigi yang aus, memperlihatkan lapisan gigi yang lebih dalam
  • Sakit atau sensitivitas gigi yang meningkat
  • Otot rahang yang lelah atau tegang nyeri pada rahang, leher, atau wajah
  • Sakit yang terasa seperti sakit telinga, tetapi tidak ada masalah pada telinga
  • Sakit kepala
  • Kerusakan pada bagian dalam pipi akibat mengunyah
  • Gangguan tidur

Nyeri pada wajah dan sakit kepala biasanya akan menghilang ketika kamu berhenti menggertakkan gigi. Sedangkan kerusakan yang terjadi pada gigi biasanya hanya terjadi dalam kasus yang lebih parah dan membutuhkan perawatan dengan segera.

Apa saja bahaya yang ditimbulkan oleh bruxism?

Kebanyakan orang mungkin akan menggertakan atau mengatupkan gigi pada waktu tertentu dan biasanya hal ini tidak disadari.

Bruxism biasanya tidak membahayakan dan bruxism ringan mungkin tidak memerlukan pengobatan. Akan tetapi, jika dilakukan secara teratur atau terus menerus bruxism dapat menyebabkan gigi rusak dan komplikasi kesehatan mulut lainnya dapat muncul.

Pada beberapa orang bruxism seringkali terjadi dan cukup parah, hingga dapat menyebabkan gangguan rahang, sakit kepala, kerusakan gigi, dan masalah lainnya.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah komplikasi serius yang dapat ditimbulkan oleh bruxism.

  • Kerusakan pada gigi, yang termasuk mahkota gigi
  • Sakit kepala tegang (tension headadche)
  • Nyeri wajah atau rahang yang parah
  • Gangguan pada sendi temporomandibular (TMJ), yang terletak tepat didepan telinga, yang dapat menyebabkan bunyi klik saat membuka dan menutup mulut

Pengobatan bruxism

Dalam kebanyakan kasus, perawatan atau pengobatan tidak diperlukan. Namun jika kasusnya cukup parah, terdapat beberapa pengobatan yang dapat dilakukan, di antaranya ialah:

Perawatan gigi

Dokter mungkin akan menyarankan cara memelihara atau memperbaiki gigi seperti:

  • Menggunakan splint dan pelindung mulut (mouth guards): Dirancang untuk menghindari kerusakan yang disebabkan oleh menggertakkan dan mengatupkan gigi
  • Koreksi gigi: Ketika keausan gigi menyebabkan sensitivitas serta ketidakmampuan mengunyah dengan benar, dokter perlu membentuk kembali permukaan gigi atau menggunakan mahkota gigi untuk memperbaiki kerusakan

Perawatan lainnya

Selain dengan melakukan perawatan gigi, untuk meredakan gejala bruxism juga dapat dilakukan dengan cara lainnya, ini termasuk:

  • Mengelola stres dan kecemasan
  • Perubahan perilaku
  • Terapi biofeedback (metode yang menggunakan alat pantau untuk membantu mengontrol aktivitas otot di rahang)

Nah, itulah beberapa informasi mengenai bruxism yang perlu kamu ketahui. Kondisi ini tidak boleh disepelekan, jika kamu mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya lakukan perawatan yang tepat agar bruxism tidak semakin parah ya.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Mayo Clinic (2017). Diakses pada 01 September 2020. Bruxism (Teeth Grinding) 

Medical News Today (2017). Diakses pada 01 September 2020. What is Bruxism, or Teeth Grinding? 

NHS (2020). Diakses pada 01 September 2020. Teeth Grinding (Bruxism)

The Bruxism Assocation. Diakses pada 01 September 2020. What is Bruxism?

Webmd (2019). Diakses pada 01 September 2020. Dental Health and Teeth Grinding (Bruxism) 

    Berita Terkait
    register-docotr