Kamus Obat

Itraconazole

April 7, 2021 | Arin Khurota | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Itraconazole (itrakonazol) merupakan obat antijamur azole dari turunan triazol dan termasuk dalam satu kelompok dengan obat fluconazole.

Obat ini disetujui untuk penggunaan medis di Amerika Serikat sejak 1992. Kini itraconazole telah masuk dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sudah banyak digunakan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Berikut informasi selengkapnya mengenai obat itraconazole, manfaat, dosis, cara pakai, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat itraconazole?

Itraconazole adalah obat yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh jamur. Masalah ini termasuk infeksi di bagian tubuh mana pun, seperti paru-paru, mulut dan tenggorokan, kuku kaki, atau kuku tangan.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa itraconazole juga dapat digunakan dalam pengobatan kanker dengan menghambat saluran hedgehog.

Itraconazole telah tersedia sebagai obat oral yang diminum melalui mulut dan sebagai injeksi yang disuntikkan ke pembuluh darah. Beberapa merek obat yang beredar hanya bisa diberikan untuk orang dewasa dan tidak direkomendasikan untuk anak-anak.

Apa fungsi dan manfaat obat itraconazole?

Itraconazole berfungsi sebagai agen antijamur yang bekerja dengan menghentikan pertumbuhan jamur.

Mekanisme kerja obat ini langsung memengaruhi pembentukan membran sel dan metabolisme jamur. Akibatnya, pembentukan membran sel terhambat yang akhirnya menyebabkan kematian jamur.

Berdasarkan sifatnya, itraconazole memiliki banyak manfaat untuk mengatasi beberapa kondisi infeksi berikut:

Aspergillosis

Aspergillosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur Aspergillus. Gejala yang mungkin dapat diamati adalah batuk, sesak napas, demam hidung tersumbat, pilek, sakit kepala, batuk darah, dan nyeri dada.

Pengobatan untuk aspergillosis melibatkan obat-obatan yang khusus digunakan untuk mengobati infeksi jamur.

Itraconazole dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk mengobati infeksi aspergillosis. Obat ini diberikan pada pasien yang tidak toleran atau yang penyakitnya refrakter terhadap amfoterisin B.

Namun, apabila pasien diketahui menderita HIV, maka obat ini tidak direkomendasikan untuk digunakan. Pengobatan aspergillosis invasif pada orang yang terinfeksi HIV, vorikonazol lebih direkomendasikan sebagai obat pilihan.

Blastomikosis

Itraconazole digunakan sebagai pengobatan blastomikosis paru dan ekstrapulmonal yang disebabkan oleh Blastomyces dermatitidis. Gejala yang mungkin muncul termasuk demam, menggigil, batuk, nyeri otot, nyeri sendi, dan nyeri dada.

Pada kasus blastomikosis yang sangat serius, jamur dapat menyebar ke bagian tubuh lain, seperti kulit dan tulang. Oleh karena itu, pengobatan yang tepat harus segera dilakukan apabila pasien positif terinfeksi.

Itraconazole oral atau amfoterisin B menjadi obat pilihan yang umumnya digunakan untuk mengobati infeksi blastomikosis. Amfoterisin B lebih disarankan untuk pengobatan awal blastomikosis berat, terutama infeksi yang melibatkan sistem saraf sentral.

Itraconazole dapat diberikan untuk blastomikosis yang tidak mengancam nyawa, termasuk blastomikosis paru ringan sampai sedang. Obat ini juga digunakan apabila infeksi tidak berkaitan dengan sistem saraf pusat.

Infeksi kandidemia

Fluconazol atau vorikonazol biasanya direkomendasikan jika antijamur azol digunakan untuk pengobatan kandidemia. Itraconazole menjadi obat alternatif apabila pasien tidak dapat menerima terapi obat pilihan.

Namun, kamu mungkin tidak dapat menerima obat ini apabila sebelumnya pernah menerimanya sebagai obat profilaksis kandidemia.

Kandidiasis orofaring

Itraconazole dapat diberikan untuk mengobati infeksi kandidiasis orofaring apabila pasien refrakter terhadap obat terapi lini pertama. Obat-obatan yang umumnya digunakan termasuk tablet hisap klotrimazol atau suspensi oral nistatin.

Namun, pengobatan awal pada pasien kandidiasis orofaring yang juga menderita HIV lebih disarankan dengan pengobatan fluconazole oral.

Profilaksis lanjutan untuk mencegah kekambuhan biasanya kurang dianjurkan, tetapi dapat dilakukan apabila gejala kekambuhan sering terjadi. Fluconazole dan itraconazole oral dapat diberikan setelah diperhitungkan mengenai kemungkinan resistansi azole terhadap jamur penginfeksi.

Kandidiasis esofagus

Itraconazole oral dapat digunakan sebagai pengobatan kandidiasis esofagus. Beberapa obat rekomendasi lain yang dapat diberikan termasuk fluconazole, amfoterisin B, atau echinocandin.

Untuk pasien yang diketahui juga menderita HIV, maka obat fluconazole oral atau intravena lebih direkomendasikan sebagai pengobatan awal. Namun, apabila pasien tidak dapat menerima fluconazole, maka itraconazole dapat diberikan sebagai alternatif pengobatan.

Kandidiasis vulvovaginal

Itraconazole juga digunakan untuk infeksi kandidiasis vulvovaginal yang tidak disertai komplikasi. Beberapa obat lain yang umumnya juga digunakan termasuk butokonazol, klotrimazol, mikonazol, terconazol, dan tiokonazol.

Namun, beberapa ahli kesehatan lebih merekomendasikan fluconazole untuk pengobatan kandidiasis vulvovaginal, baik dengan komplikasi atau tidak. Pertimbangan untuk memberikan obat alternatif didasarkan pada kondisi klinis pasien, seperti kontraindikasi.

Infeksi Coccidioidomycosis

Itraconazole dan fluconazole termasuk obat pilihan untuk pengobatan dan pencegahan infeksi coccidioidomycosis yang disebabkan oleh Coccidioides immitis atau C. posadasii.

Biasanya pengobatan diberikan untuk kategori infeksi sedang hingga berat. Untuk infeksi ringan biasanya tidak membutuhkan pengobatan karena umumnya dapat sembuh dengan sendirinya.

Pengobatan juga diberikan pada pasien dengan gangguan kekebalan atau kelemahan, terutama untuk pasien yang terinfeksi HIV, penerima transplantasi organ, yang menerima terapi imunosupresif, serta memiliki riwayat diabetes atau penyakit kardiopulmoner.

Apabila pasien tidak dapat menerima terapi obat lini pertama, maka amfoterisin B dapat direkomendasikan.

Terapi pemeliharaan jangka panjang (seumur hidup) dengan flukonazol atau itraconazole oral juga diperlukan pada pasien yang dirawat karena meningitis coccidioidal.

Kriptokokosis

Itraconazole digunakan sebagai terapi alternatif untuk pengobatan kriptokokosis. Gejala yang mungkin muncul termasuk kelelahan, penglihatan kabur, nyeri dada, kebingungan, batuk kering, sakit kepala, mual, demam, banyak berkeringat terutama pada malam hari.

Namun, pada pasien yang memiliki imunitas lemah lebih direkomendasikan dengan fluconazole oral untuk pengobatan infeksi ringan sampai sedang.

Histoplasmosis

Itraconazole direkomendasikan untuk pengobatan histoplasmosis yang disebabkan oleh Histoplasma capsulatum. Infeksi ini termasuk penyakit paru kronis dan penyakit nonmeningeal diseminata.

Selain obat ini, amfoterisin B juga disarankan untuk pengobatan awal pada histoplasmosis parah yang mengancam jiwa. Obat amfoterisin B juga lebih direkomendasikan pada pasien histoplasmosis yang juga menderita HIV.

Itrakonazol oral umumnya digunakan untuk pengobatan awal penyakit yang kurang parah. Obat ini dapat diberikan untuk histoplasmosis paru akut tingkat ringan hingga sedang.

Selain itu, itraconazol juga digunakan sebagai pengobatan lanjutan untuk infeksi berat setelah infeksi merespons dari pengobatan amfoterisin B.

Mikrosporidiosis

Itraconazole digunakan sebagai terapi alternatif untuk mikrosporidiosis diseminata, terutama infeksi yang disebabkan oleh Trachipleistophora atau Anncaliia.

Terkadang obat ini diberikan dalam kombinasi dengan albendazole untuk infeksi mikrosporidiosis. Obat ini juga diketahui efektif dalam mengobati beberapa infeksi keratoconjunctivitis atau sinusitis yang disebabkan oleh Encephalitozoon.

Merek dan harga obat itraconazole

Obat ini termasuk dalam golongan obat keras dan kamu mungkin memerlukan resep dokter untuk bisa mendapatkannya. Beberapa merek itraconazole yang telah beredar di Indonesia adalah Forcanox, Sporacid, Igrazol, Sporadal, Sporanox, Itzol, Sporax, dan lain-lain.

Beberapa merek obat itraconazole yang telah beredar beserta harganya bisa kamu lihat berikut ini:

Obat generik

Itraconazole 100mg tablet. Sediaan tablet generik untuk mengobati berbagai infeksi jamur, seperti dermatomikosis, kandidiasis, dan lainnya. Obat ini diproduksi oleh Bernofarm dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp6.254/tablet.

Obat paten

  • Trachon 100mg capsul. Sediaan kapsul untuk mengobati berbagai infeksi jamur. Obat ini diproduksi oleh Bernofarm dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp24.881/tablet.
  • Spyrocon 100mg cap. Sediaan kapsul untuk terapi infeksi jamur, seperti kandidiasis, keratitis jamur, dan lainnya. Obat ini diproduksi oleh Interbat dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp34.698/tablet.
  • Spornox 100mg capsul. Sediaan kapsul untuk mengobati infeksi jamur yang memiliki spektrum kerja yang luas. Obat ini diproduksi oleh Janssen Cilag dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp51.435/tablet.
  • Forcanox 100mg capsul. Sediaan kapsul untuk mengobati berbagai infeksi jamur, terutama infeksi kandidiasis. Obat ini diproduksi oleh Guardian dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp29.979/tablet.
  • Itzol 100mg tablet. Sediaan tablet untuk mengobati infeksi jamur, seperti kandidiasis, keratitis jamur, dan lainnya. Obat ini diproduksi oleh Lapi Laboratories dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp29.503/tablet.
  • Sporacid 100mg capsul. Sediaan kapsul untuk mengobati infeksi jamur. Obat ini diproduksi oleh Ferron dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp28.123/tablet.

Bagaimana cara pakai obat itraconazole?

Baca dan ikuti petunjuk cara minum serta dosis yang tertera di kemasan resep obat sesuai arahan yang diberikan oleh dokter. Jangan minum obat dalam dosis yang lebih besar atau kurang dari yang direkomendasikan.

Jangan berikan obat pada orang lain meskipun mereka memiliki gejala infeksi yang sama. Konsultasikan lebih dahulu dengan dokter sebelum memberikan obat ini pada orang lain.

Obat itraconazole paling baik diminum saat makan. Usahakan untuk meminum obat dalam waktu yang sama setiap hari secara teratur. Hal ini akan membantu kamu lebih mudah mengingat jadwal pengobatan dan mendapatkan efek terapi yang maksimal dari obat.

Minum obat tablet utuh dengan air putih. Obat jangan dihancurkan, dipecah, dibuka, atau dilarutkan tanpa ada arahan dari dokter. Beritahu dokter apabila kamu mengalami kesulitan menelan tablet atau kapsul.

Untuk sediaan larutan, sebaiknya diminum saat perut kosong, minimal satu jam sebelum atau dua jam setelah makan. Kumur obat dalam mulut selama beberapa detik sebelum menelannya.

Kapsul itraconazole tidak boleh digunakan sebagai pengganti obat larutan itraconazole oral kecuali diresepkan oleh dokter. Hindari kesalahan dalam penggunaan obat dengan mengikuti bentuk sediaan yang telah ditetapkan dokter.

Jika kamu juga mengonsumsi obat asam lambung, minumlah itraconazole dengan minuman asam seperti cola non-diet.

Minum obat sesuai dosis yang ditentukan hingga dosis obat habis. Jangan menghentikan pengobatan meskipun kamu merasa gejala telah sembuh. Menghentikan pengobatan saat dosis masih tersisa dapat menyebabkan pengobatan tidak terkontrol dengan baik karena risiko resistansi.

Kamu bisa menyimpan obat itraconazole dalam suhu kamar, jauh dari kelembapan dan paparan sinar matahari. Pastikan botol tertutup rapat saat tidak digunakan.

Berapa dosis obat itraconazole?

Dosis dewasa

Infeksi jamur sistemik

Obat diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah vena (intravena)

  • Dosis lazim: 200mg diberikan melalui infus lebih dari 1 jam dua kali sehari selama 2 hari.
  • Dosis selanjutnya dapat diikuti dengan 200mg melalui infus intravena selama 1 jam sekali sehari untuk melengkapi pengobatan selama 14 hari.

Dosis obat diberikan melalui mulut (per oral)

  • Dosis lazim: 100 hingga 200mg sekali sehari
  • Dosis dapat ditingkatkan menjadi 200mg dua kali sehari untuk infeksi invasif atau diseminata.
  • Pada kasus infeksi yang mengancam jiwa dapat diberikan dosis alternatif 200mg tiga kali sehari selama 3 hari.

Profilaksis infeksi jamur pada pasien yang memiliki sistem imun lemah

Dosis sebagai larutan oral: 5mg per kg berat badan per hari dalam 2 dosis terbagi.

Infeksi jamur kuku

Dosis lazim diberikan sebagai sediaan kapsul: 200mg diminum sekali sehari selama 90 hari.

Pityriasis versicolor

Dosis lazim diberikan sebagai sediaan kapsul: 200mg sekali sehari selama 7 hari.

Profilaksis infeksi pada pasien neutropenik atau AIDS

Dosis diberikan sebagai sediaan kapsul: 200mg diminum setiap hari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 200 mg dua kali sehari bila perlu.

Tinea corporis dan Tinea cruris

Dosis lazim diberikan sebagai sediaan kapsul: 100mg sekali sehari selama 15 hari atau 200mg sekali sehari selama 7 hari.

Kandidiasis orofaringeal

  • Dosis lazim diberikan sebagai sediaan kapsul: 100mg diminum sekali sehari selama 15 hari.
  • Dosis untuk penderita AIDS atau neutropenia: 200mg sekali sehari selama 15 hari.

Kandidiasis esofagus dan kandidiasis oral

  • Dosis lazim diberikan sebagai kapsul atau tablet: 200 mg setiap hari diberikan dalam 2 dosis terbagi atau sebagai dosis harian tunggal selama 1-2 minggu.
  • Pasien dengan infeksi yang resistan terhadap fluconazole: 100 hingga 200mg dua kali sehari selama 2 sampai 4 minggu.

Tinea manuum dan Tinea pedis

Dosis lazim diberikan sebagai sediaan kapsul: 100mg sekali sehari selama 30 hari.

Kandidiasis vulvovaginal

Dosis lazim diberikan sebagai sediaan kapsul: 200mg dua kali sehari.

Apakah itraconazole aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) memasukkan itraconazole dalam golongan obat kategori kehamilan C.

Studi penelitian pada hewan percobaan telah menunjukkan bahwa obat ini dapat menyebabkan efek merugikan pada janin (teratogenik). Namun, studi terkontrol pada wanita hamil masih belum memadai. Penggunaan obat dilakukan apabila manfaat yang didapatkan lebih besar dari risikonya.

Itraconazole telah diketahui dapat terserap dalam ASI meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit. Meskipun demikian, obat ini tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi ibu hamil karena dikhawatirkan akan memengaruhi bayi yang disusui.

Konsultasikan lebih lanjut sebelum menggunakan obat ini, terutama saat kamu sedang hamil atau menyusui.

Apa efek samping obat itraconazole yang mungkin terjadi?

Hentikan pengobatan dan hubungi dokter segera apabila muncul reaksi efek samping berikut setelah menggunakan itraconazole:

  • Gejala reaksi alergi terhadap itraconazole, seperti gatal-gatal, ruam kulit yang parah, kesemutan di lengan atau tungkai, kesulitan bernapas, pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.
  • Tanda-tanda gagal jantung kongestif, termasuk merasa lelah atau sesak napas, batuk berlendir, detak jantung cepat, bengkak, berat badan cepat naik, atau masalah tidur.
  • Kebingungan
  • Perasaan pusing seperti akan pingsan
  • Penglihatan kabur, penglihatan ganda, telinga berdenging, gangguan pendengaran
  • Detak jantung cepat
  • Gangguan kandung kemih
  • Kesulitan buang air kecil atau terasa nyeri saat buang air kecil
  • Tingkat kalium rendah ditandai dengan kram kaki, sembelit, detak jantung tidak teratur, dada berdebar, rasa haus atau buang air kecil meningkat, kelemahan otot atau perasaan lemas
  • Pankreatitis yang ditandai dengan gejala sakit parah di perut bagian atas yang menyebar ke punggung, disertai mual dan muntah
  • Gangguan hati yang ditandai dengan gejala mual, sakit perut bagian atas, kelelahan, kehilangan nafsu makan, urine gelap, tinja berwarna tanah liat, atau penyakit kuning.

Efek samping umum yang mungkin terjadi dari penggunaan itraconazole, antara lain:

  • Sakit kepala, pusing, mengantuk, kelelahan
  • Tekanan darah meningkat
  • Ruam gatal
  • Mual, muntah, sakit perut, diare, sembelit
  • Pembengkakan pada beberapa bagian tubuh
  • Tes fungsi hati atau tes darah menjadi tidak normal
  • Demam
  • Nyeri otot atau sendi
  • Rasa yang tidak biasa atau tidak enak pada mulut
  • Rambut rontok
  • Impotensi dan masalah ereksi
  • Perubahan dalam periode menstruasi.

Peringatan dan perhatian

Kamu tidak boleh mengonsumsi itraconazole apabila kamu pernah mengalami reaksi alergi dengan obat ini sebelumnya. Kamu juga tidak boleh mengonsumsi itraconazole apabila pernah mengalami gagal jantung.

Jika kamu menderita penyakit hati atau gangguan ginjal, kamu tidak boleh mengonsumsi itraconazole dengan colchicine, fesoterodine, atau solifenacin.

Beritahu dokter mengenai riwayat penyakit tertentu yang kamu miliki, terutama:

  • Penyakit ginjal
  • Penyakit hati
  • Penyakit jantung, misalnya gangguan katup jantung
  • Fibrosis kistik (penyakit bawaan yang menyebabkan lendir yang terlalu kental dan lengket menumpuk di paru-paru atau usus)
  • Achlorhydria (tidak adanya atau produksi asam yang rendah di perut)
  • Sistem kekebalan yang lemah karena kondisi tertentu, misalnya penyakit darah, AIDS, transplantasi organ.

Itraconazole dapat membahayakan bayi yang belum lahir. Sebaiknya kamu tidak mengonsumsi itraconazole saat sedang hamil dan selama 2 bulan setelah dosis terakhir minum obat.

Jangan berikan obat ini untuk orang tua usia lanjut tanpa ada rekomendasi dari dokter.

Hindari alkohol saat kamu mengonsumsi obat ini. Kerusakan hati yang parah dapat terjadi saat kamu mengonsumsi itraconazole bersamaan dengan alkohol.

Interaksi dengan obat lain

Beberapa obat sebaiknya dihindari untuk digunakan bersamaan karena dapat meningkatkan risiko efek samping tertentu. Beberapa obat lain juga dapat meningkatkan efek obat atau menurunkan khasiat obat.

Jangan mengonsumsi itraconazole apabila kamu menggunakan salah satu dari obat-obatan berikut:

  • Obat-obatan untuk mengobati detak jantung tidak teratur, misalnya quinidine, dronedarone, dofetilide, disopyramide
  • Obat-obatan untuk nyeri dada dan tekanan darah tinggi, misalnya bepridil, felodipine, lercanidipine, nisoldipine, ranolazine
  • Obat untuk flu atau alergi, misalnya terfenadine, astemizole, mizolastine
  • Obat-obatan untuk migrain, misalnya dihydroergotamine, ergotamine
  • Obat-obatan untuk gangguan mood, misalnya pimozide, sertindole, lurasidone
  • Obat-obatan untuk mengatasi gangguan kecemasan, misalnya midazolam oral, triazolam
  • Cisapride (obat untuk masalah pencernaan)
  • Irinotecan (obat kanker)
  • Halofantrine (obat yang digunakan untuk mengobati malaria)
  • Obat penurun kolesterol, misalnya simvastatin, lovastatin
  • Eplerenone.

Beritahu dokter dan apoteker mengenai obat-obatan lain yang kamu gunakan, terutama:

  • Obat-obatan yang digunakan dalam transplantasi organ atau gangguan kekebalan tertentu, ciclosporin, tacrolimus
  • Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati tuberkulosis atau TBC, misalnya rifampisin, rifabutin, isoniazid
  • Obat-obatan untuk mengobati epilepsi, misalnya karbamazepin, fenitoin, fenobarbital
  • Obat-obatan untuk infeksi HIV misalnya indinavir, ritonavir, saquinavir, nevirapine, efavirenz
  • Obat-obatan untuk tekanan darah tinggi atau penyakit jantung, misalnya verapamil, digoxin, nadolol
  • Obat pengencer darah, misalnya warfarin, cilostazol, apixaban
  • Obat-obatan untuk kanker, misalnya alkaloid vinca, busulfan, docetaxel
  • Obat-obatan untuk kecemasan, misalnya alprazolam, buspirone
  • Antibiotik tertentu misalnya eritromisin, klaritromisin, siprofloksasin
  • Obat-obatan untuk peradangan, asma atau alergi misalnya budesonide, deksametason, metilprednisolon
  • Obat-obatan untuk menetralkan asam lambung misalnya antasida, ranitidin, omeprazol
  • Obat menghilangkan rasa sakit yang kuat, misalnya fentanyl, alfentanil, oxycodone.

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 17 Maret 2021, Itraconazole | C35H38Cl2N8O4 – PubChem

Drugsite Trust, diakses pada 17 Maret 2021, Itraconazole monograph

Science Direct, diakses pada 17 Maret 2021, Itraconazole – an overview

WebMD, diakses pada 17 maret 2021, Itraconazole Oral: Uses, Side Effects, Interactions

The Monthly Index of Medical Specialities (MIMS), diakses pada 17 Maret 2021, Itraconazole: Indication, Dosage, Side Effect, Precaution

Pusat Informasi Obat Nasional (Pionas), diakses pada 17 Maret 2021, Itraconazol | PIO Nas

    register-docotr