Kamus Obat

Clomiphene

December 9, 2020 | Arin Khurota | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Clomiphene juga biasa disebut clomifene, merupakan salah satu alternatif pengobatan utama dalam mengatasi masalah kesuburan wanita.

Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan sebelum mengonsumsi obat ini. Yuk, simak selengkapnya untuk apa obat clomiphene, cara pakai, dosis, serta manfaatnya berikut!

Untuk apa obat clomiphene?

Clomiphene atau clomifene adalah obat golongan antiestrogen untuk mengobati masalah infertilitas pada wanita. Obat ini juga digunakan untuk membantu meningkatkan kesuburan pada wanita yang sedang menjalani program hamil atau berusaha untuk hamil.

Obat ini bekerja dengan merangsang peningkatan jumlah hormon yang mendukung pertumbuhan dan pelepasan sel telur (ovulasi).

Obat ini tidak dianjurkan untuk wanita yang ovariumnya tidak lagi menghasilkan telur, misalnya karena ada masalah pada kelenjar di bawah otak atau pada ovarium primer.

Baca Juga: 7 Posisi Hubungan Seks Ini Bisa Memperbesar Peluang Kehamilan Lho!

Apa fungsi dan manfaat obat clomiphene?

Clomiphene atau clomifene berfungsi mengatasi masalah infertilitas dengan cara merangsang kelenjar pituitar dalam otak untuk menyekresikan hormon LH, FSH, dan gonadotropin.

Dalam tindakan medis, clomiphene dimanfaatkan untuk mengatasi beberapa masalah kesehatan berikut:

Menginduksi ovulasi

Clomifene adalah salah satu dari beberapa alternatif yang dimanfaatkan untuk menginduksi ovulasi pada wanita yang kurang subur karena anovulasi atau oligoovulasi.

Waktu konsumsi obat menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Biasanya, untuk menginduksi ovulasi, obat ini harus dikonsumsi sekitar lima hari dari siklus menstruasi dan harus sering berhubungan seksual.

Dalam mengonsumsi obat ini, tidak direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi.

Hal tersebut dapat menyingkirkan pembesaran ovarium sisa secara signifikan sebelum memasuki setiap siklus pengobatan baru.

Penggunaan lainnya

Clomiphene juga telah digunakan dengan teknologi reproduksi terbantu lainnya untuk meningkatkan tingkat keberhasilan dari model pengobatan induksi ovulasi.

Clomifene kadang-kadang digunakan dalam pengobatan hipogonadisme pria sebagai alternatif terapi penggantian testosteron.

Obat ini telah digunakan dengan dosis 20 sampai 50mg tiga kali seminggu sampai sekali sehari untuk pengobatan hipogonadisme. Meskipun penggunaan obat ini sebagai penggantian testosterone masih dalam uji coba komparator dan masih cukup dipertanyakan.

Clomiphene dijadikan alternatif utama karena biaya obat yang cenderung lebih murah dari jenis obat lain, manfaat terapeutik yang efektif, serta hasil efek terapi yang lebih besar terhadap perbaikan hipogonadisme.

Clomiphene juga telah digunakan dalam pengobatan ginekomastia. Obat ini telah terbukti bermanfaat dalam pengobatan beberapa kasus ginekomastia walau tidak seefektif tamoxifen atau raloxifene.

Namun, beberapa penelitian menguraikan bahwa obat ini tidak direkomendasikan untuk pengobatan ginekomastia.

Merek dan harga obat clomiphene

Nama generik

Clomiphene citrate. Sediaan tablet mengandung clomiphene 50mg. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga sekitar Rp136.500-Rp200.000/strip isi 10 tablet. Harga obat bergantung dari masing-masing apotek.

Nama dagang/paten

  • Blesifen. Sediaan tablet clomiphene citrate 50mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp17.973/tablet.
  • Clovertil tablet mengandung clomiphene citrate 50mg. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp18.411/tablet.
  • Dipthen tablet. Sediaan tablet clomiphene citrate 50mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp17.185/tablet.
  • Fertin tablet mengandung zat aktif clomiphene citrate diproduksi oleh Interbat dan biasa dijual dengan harga Rp24.431/tablet.
  • Genoclom tablet mengandung Clomifene 50mg. Obat ini juga sering digunakan untuk meningkatkan spermatogenesis pada pria. Obat bisa didapatkan dengan harga Rp19.669/tablet.
  • Profertil tablet mengandung clomifene citrate 50mg yang bisa kamu dapatkan dengan harg Rp23.555/tablet.
  • Provula tablet mengandung clomifene 50mg yang biasa dijual dengan harga Rp23.006/tablet.

Bagaimana cara minum clomiphene?

Minum clomiphene sesuai dengan aturan yang diberikan oleh dokter. Ikuti semua petunjuk pada label resep yang kamu dapatkan. Dokter mungkin sesekali mengubah dosis untuk memastikan kamu mendapatkan hasil pengobatan maksimal.

Jangan mengurangi atau menambah dosis yang telah diberikan dokter atau memperpanjang lama pengobatan dari yang dokter sarankan.

Clomiphene biasanya diminum selama 5 hari, dimulai pada hari ke-5 dari periode menstruasi. Ikuti petunjuk minum sesuai instruksi dokter.

Periksakan panggul setiap kali melakukan pemeriksaan rutin. Penggunaan obat ini harus dengan pengawasan ketat dari dokter.

Kemungkinan besar rahim akan berovulasi dalam 5 hingga 10 hari setelah mengonsumsi clomiphene. Untuk meningkatkan peluang hamil, kamu harus melakukan hubungan seksual saat ovulasi berada di tingkat subur. Ikuti instruksi dokter mengenai kapan waktu yang tepat untuk hal tersebut.

Dokter kamu mungkin meminta kamu menjalani tes ovulasi atau memeriksa suhu setiap pagi dan mencatatnya untuk membantu kamu menentukan kapan waktu puncak ovulasi terjadi.

Dalam kebanyakan kasus, klomiphene tidak boleh digunakan lebih dari 3-6 siklus pengobatan (3 siklus ovulasi). Jika ovulasi terjadi tetapi kamu tidak hamil setelah tiga siklus pengobatan, dokter mungkin menghentikan pengobatan dan mengevaluasi infertilitas kamu lebih lanjut.

Simpan pada suhu kamar jauh dari kelembapan, panas, dan cahaya setelah kamu menggunakan obat.

Berapa dosis obat clomiphene?

Dosis dewasa untuk induksi ovulasi:

Dosis 50mg diminum sekali sehari selama 5 hari. Terapi harus dimulai pada atau mendekati hari ke-5 siklus menstruasi, tetapi dapat dimulai kapan saja pada pasien tanpa ada masalah perdarahan uterus.

Jika ovulasi terjadi, tetapi kehamilan tidak tercapai, dapat diberikan hingga 2 dosis tambahan klomifen 50mg diminum sekali sehari selama 5 hari. Setiap pengobatan berikutnya dapat dimulai paling cepat 30 hari setelah pengobatan sebelumnya.

Kebanyakan pasien mengalami ovulasi setelah terapi pertama. Namun, jika pasien gagal berovulasi, terapi kedua dapat diberikan 100mg per hari selama 5 hari

Obat dapat diberikan sedini mungkin sejak 30 hari setelah terapi awal. Dosis pengobatan ketiga dapat diberikan 100mg per hari hingga 5 hari atau sampai 30 hari jika diperlukan.

Apakah clomiphene aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) menggolongkan obat ini dalam kategori X, artinya penelitian pada hewan atau manusia telah menunjukkan kelainan janin atau ada bukti risiko pada janin (teratogenik).

Risiko penggunaan obat pada wanita hamil jelas lebih besar daripada manfaat yang mungkin didapat. Obat ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau merencanakan hamil.

Obat ini juga tidak direkomendasikan bagi ibu menyusui karena obat dapat terserap dalam ASI.

Apa efek samping obat clomiphene yang mungkin terjadi?

Reaksi alergi yang sangat serius setelah menggunakan obat ini masih jarang terjadi. Namun, segera dapatkan bantuan medis jika kamu mendapati gejala efek reaksi alergi yang serius:

  • Ruam
  • Gatal
  • Bengkak (terutama pada wajah, lidah, dan tenggorokan)
  • Pusing dan vertigo
  • Kesulitan bernapas.

Kemungkinan dapat muncul kondisi yang disebut sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS), terutama setelah perawatan pertama. OHSS bisa menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Hubungi dokter segera jika muncul gejala OHSS berikut:

  • Nyeri atau terdapat tekanan berat pada panggul
  • Pembesaran di area panggul
  • Masalah penglihatan
  • Melihat kilatan cahaya atau “floaters” pada organ penglihatan
  • Peningkatan kepekaan mata terhadap cahaya
  • Perdarahan berat pada vagina.

Efek samping clomiphene secara umum yang kemungkinan dapat terjadi:

  • Sakit perut, kembung
  • Mual, muntah, diare
  • Kenaikan berat badan secara drastis
  • Pembengkakan terutama pada wajah dan bagian tengah tubuh
  • Kesulitan buang air kecil
  • Nyeri saat bernapas, detak jantung cepat, sesak napas (terutama saat berbaring)
  • Kulit dan mata kemerahan
  • Sakit kepala.

Apabila gejala efek samping di atas muncul setelah kamu mengonsumsi obat ini, segera hentikan pemakaian. Hubungi dokter dan konsultasikan lebih lanjut mengenai gejala reaksi yang kamu alami.

Baca Juga: Mau Program Hamil? Pahami 4 Perbedaan Inseminasi Buatan Vs Bayi Tabung

Peringatan dan perhatian

Jangan minum obat ini apabila kamu memiliki riwayat alergi clomiphene sebelumnya.

Beritahu dokter apabila kamu memiliki riwayat penyakit berikut:

  • Perdarahan vagina abnormal
  • Kista ovarium yang tidak berhubungan dengan sindrom ovarium polikistik
  • Penyakit hati
  • Gangguan pada kelenjar pituitari atau tumor otak
  • Masalah kesehatan yang tidak dapat diobati atau tidak terkontrol pada kelenjar tiroid
  • Endometriosis atau fibroid uterus.

Jangan gunakan clomiphene jika kamu sudah hamil. Konsultasikan lebih lanjut mengenai efek obat ini dalam pengobatan jangka panjang dan kemungkinan efek obat ini pada kehamilan baru.

Clomiphene dapat masuk ke dalam ASI dan dapat membahayakan bayi yang disusui. Obat ini dapat memperlambat produksi ASI pada beberapa wanita. Beritahu dokter jika kamu sedang menyusui.

Menggunakan clomiphene selama lebih dari 3 siklus pengobatan dapat meningkatkan risiko terkena tumor ovarium. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter mengenai risiko spesifik yang mungkin terjadi apabila dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu.

Penggunaan clomiphene dalam dosis tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan baru yang disebut sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS). OHSS bisa menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Gejala berupa sakit perut, kembung, mual, penambahan berat badan, dan kesulitan bernapas.

Pengobatan obat ini adalah meningkatkan kesuburan, sehingga kemungkinan kamu dapat melahirkan kembar. Hal ini adalah kehamilan berisiko tinggi bagi ibu dan bayi. Tanyakan kepada dokter tentang risiko ini.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

register-docotr