Kamus Obat

Carbamazepine

March 10, 2021 | Arin Khurota | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Carbamazepine (karbamezpin) merupakan obat antikonvulsan yang memiliki cara kerja mirip obat fenitoin dan asam valproat. Obat ini pertama kali ditemukan pada 1953 dan mulai digunakan untuk keperluan medis pada 1962.

Berikut informasi selengkapnya mengenai carbamazepine, manfaat, dosis, cara minum, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat carbamazepine?

Carbamazepine adalah obat antikejang untuk mengatasi epilepsi dan nyeri neuropatik. Kombinasi obat ini juga diberikan untuk mengatasi gangguan skizofrenia dan terapi lini kedua untuk gangguan bipolar.

Carbamazepine termasuk dalam obat resep dan telah tersedia sebagai obat generik. Umumnya obat ini tersedia sebagai sediaan oral yang diminum melalui mulut. Sediaan suppositoria juga tersedia bagi seseorang yang tidak dapat menggunakan sediaan oral

Apa fungsi dan manfaat obat carbamazepine?

Carbamazepine berfungsi sebagai antikonvulsan yang bekerja dengan mengurangi impuls saraf yang menyebabkan kejang dan nyeri saraf. Obat ini dapat menekan aktivitas nyeri di talamus otak dan membatasi masuknya ion natrium melintasi membran sel otak.

Umumnya obat diberikan untuk mengobati neuralgia trigeminal dan neuropati diabetik. Selain itu, carbamazepine juga memiliki manfaat untuk mengobati masalah kesehatan berikut:

Gangguan kejang

Carbamazepine dapat diberikan untuk mengobati kejang, baik sebagai obat tunggal atau dalam kombinasi dengan obat antikejang lain.

Beberapa jenis kejang termasuk kejang parsial dengan gejala kompleks (kejang psikomotor atau lobus temporal), kejang tonik-klonik (grand mal) umum, dan pola kejang campuran. Obat ini cukup efektif dalam mengatasi jenis kejang tersebut.

Namun, carbamazepine tidak efektif diberikan untuk jenis kejang absen (petit mal) atau kejang mioklonik dan akinetik. Diagnosis awal perlu dilakukan sebelum pemberian obat terkait jenis kejang dan kondisi pasien.

Nyeri neuropati

Carbamazepine juga dapat diberikan sebagai pengobatan gejala nyeri yang berhubungan dengan neuralgia trigeminal. Selain itu, beberapa penelitian lain juga menilai bahwa obat ini efektif untuk mengobati neuralgia glossofaringeal.

Beberapa ahli medis menyatakan bahwa carbamazepine efektif untuk pengobatan gejala nyeri kronis dari sindrom neuropatik perifer lainnya. Gejala nyeri perifer ini termasuk nyeri neuropati diabetik.

Gangguan bipolar

Carbamazepine dapat digunakan untuk pengobatan episode manik akut atau campuran pada seseorang dengan gangguan bipolar I.

Umumnya, obat lini pertama untuk gangguan bipolar termasuk lithium, valproate, agen antipsikotik, seperti olanzapine. Namun, pada beberapa orang mungkin tidak merespons pengobatan ini.

Oleh karena itu, American Psychiatric Association (APA) menyatakan bahwa carbamazepine dapat diberikan sebagai pilihan pengobatan alternatif. Pemberian obat terutama untuk pasien yang tidak merespons obat lini pertama secara memadai.

Skizofrenia

Selain untuk kejang, carbamazepine juga dapat digunakan untuk memperbaiki gejala skizofrenia akut. Obat dapat diberikan sebagai obat tunggal atau dalam kombinasi.

Biasanya obat ini diberikan sebagai tambahan untuk terapi dengan agen antipsikotik. Obat ini akan diberikan apabila pasien gagal merespons pengobatan dengan agen antipsikotik yang memadai.

APA menyatakan bahwa penggunaan obat tunggal diberikan untuk gejala akut saja. Untuk terapi jangka panjang (kronis), carbamazepine tidak direkomendasikan.

Manfaat lain

Carbamazepin telag digunakan untuk mengatasi kepribadian agresif, seperti ledakan amarah yang tidak terkontrol atau hilang kendali. Biasanya hal ini terjadi pada pasien dengan gangguan perilaku, kepribadian antisosial, gangguan krisis kepribadian, atau demensia.

Selain itu, obat ini juga dapat diberikan sebagai pengobatan gejala sindrom sakau karena alkohol.

Carbamazepine juga menghilangkan rasa sakit dan mengendalikan gejala paroksismal multiple sclerosis, nyeri pascatrauma paresthesia, spasme hemifasial, dan distonia pada anak-anak.

Merek dan harga obat carbamazepine

Carbamazepine telah beredar di Indonesia dan termasuk dalam golongan obat keras. Kamu harus menyertakan resep dokter untuk bisa mendapatkan obat ini.

Beberapa merek carbamazepine yang telah beredar adalah Bamgetol, Tegretol, Cetazep, Lepigo, Lepsitol, dan Teril. Berikut informasi mengenai beberapa merek obat carbamazepine beserta harganya:

Obat generik

Carbamazepine tablet 200mg. Sediaan tablet salut selaput generik yang diproduksi oleh Mersi. Obat ini umumnya dijual dengan harga berkisar Rp35.000/strip isi 10 tablet.

Obat paten

Bamgetol 200mg. Sediaan obat tablet yang diproduksi oleh Mersifar dan paling umum dijumpai di beberapa apotek. Obat ini biasanya dijual dengan harga berkisar antara Rp2.490-Rp4.350/tablet.

Bagaimana cara pakai obat carbamazepine?

Baca dan ikuti petunjuk cara minum dan dosis yang tertera di label resep obat yang telah ditentukan oleh dokter. Jangan minum obat lebih banyak atau kurang dari dosis yang direkomendasikan.

Obat ini sebaiknya diminum bersama dengan makanan. Minum obat utuh dengan segelas air putih. Obat jangan dihancurkan, dikunyah, atau dilarutkan dalam air. Beberapa sediaan carbamazepine termasuk tablet salut selaput yang ditujukan untuk sediaan lepas lambat.

Mungkin diperlukan waktu hingga 4 minggu sebelum gejala benar-benar membaik. Tetap gunakan obat sesuai petunjuk dan segera hubungi dokter apabila obat berhenti bekerja dalam mencegah kejang.

Gunakan obat secara teratur dan dalam waktu yang sama setiap hari. Hal ini akan membantu kamu lebih mudah mengingat dan mendapatkan efek terapi yang maksimal dari obat.

Jika lupa minum, segera minum obat apabila rentang minum berikutnya masih lama. Lewati dosis apabila sudah hampir tiba waktu minum dosis berikutnya. Jangan menggandakan dosis obat dalam satu waktu minum.

Sediaan suppositoria harus dimasukkan ke dalam rektum. Jangan dimakan, dikunyah, atau ditelan. Kamu bisa mengikuti langkah berikut ini untuk menggunakan suppositoria:

  1. Cuci tangan sampai bersih.
  2. Buka pembungkus foil suppositoria.
  3. Berbaringlah miring ke kiri dan tarik lutut kanan ke dada.
  4. Masukkan supositoria dengan lembut dengan ujung runcing terlebih dahulu ke dalam rektum. Dorong supositoria dengan lembut hingga benar-benar masuk.
  5. Tetap berbaring dalam posisi ini selama 10-15 menit agar supositoria meleleh. Jika kamu merasa supositoria terlepas, tekan pantat merapat. Supositoria harus tetap berada di rektum agar obatnya bisa diserap.
  6. Cuci tangan setelah selesai.

Kamu mungkin perlu sering melakukan pemeriksaan rutin saat mengonsumsi obat carbamazepine. Pastikan dokter atau apoteker mengetahui apabila kamu mengonsumsi obat ini saat akan melakukan tes medis tertentu.

Jangan berhenti menggunakan karbamazepin secara tiba-tiba, meskipun kamu merasa baik-baik saja. Berhenti tiba-tiba dapat menyebabkan kekambuhan kejang. Ikuti instruksi dokter mengenai cara pengurangan dosis yang aman.

Setelah digunakan, simpan obat carbamazepine pada suhu ruangan jauh dari kelembapan dan panas matahari. Untuk sediaan suppositoria bisa kamu simpan dalam lemari pendingin..

Berapa dosis obat carbamazepine?

Dosis dewasa

Untuk kejang tonik-klonik umum dan kejang parsial dalam sediaan oral

  • Dosis lazim sebagai sediaan tablet biasa: 100-200mg diminum sekali atau dua kali sehari.
  • Dosis lazim sebagai sediaan suspensi: 100mg/5 mL diberikan 4 kali sehari.
  • Dosis lazim sebagai obat lepas lambat: 200mg diminum dua kali sehari.
  • Dosis pemeliharaan: 800-1.200mg per hari dalam dosis terbagi.
  • Dosis maksimal: 1.200mg setiap hari.
  • Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap hingga 200 mg setiap hari dengan interval mingguan sampai diperoleh respons optimal.
  • Dalam beberapa kasus, mungkin diperlukan hingga 1.600mg (atau bahkan 2.000mg) setiap hari. Dosis harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.

Kejang tonik-klonik umum dan kejang parsial dalam sediaan suppositoria (rektal)

  • Dosis maksimal: 250mg setiap 6 jam hingga 7 hari.
  • Saat beralih dari formulasi oral ke suppositoria rektal, maka dosis ditingkatkan sekitar 25%.

Pengobatan gangguan bipolar

  • Pengobatan diberikan pada pasien yang tidak merespons pengobatan litium, maka dapat diberikan dosis 400mg sehari dalam dosis terbagi.
  • Dosis pemeliharaan: 400-600mg per hari diberikan dalam dosis terbagi.
  • Dosis maksimal: 1.600mg setiap hari.

Neuralgia glossopharyngeal dan neuralgia trigeminal

  • Dosis lazim sebagai sediaan tablet biasa atau tablet kunyah: 100-200mg diminum dua kali sehari.
  • Dosis lazim sebagai sediaan suspensi: 50mg/2.5 mL diminum 4 kali sehari.
  • Dosis sebagai bsediaan tablet lepas lambat: 200mg diminum sekali sehari.
  • Dosis pemeliharaan: 400-800mg per hari dalam dosis terbagi. Kurangi dosis secara bertahap ke tingkat pemeliharaan serendah mungkin setelah rasa sakit mereda.
  • Dosis maksimal: 1.200mg setiap hari.
  • Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap dengan peningkatan hingga 200 mg setiap hari sesuai kebutuhan.

Dosis anak

Kejang tonik-klonik umum dan kejang parsial

Usia kurang dari 6 tahun

  • Dosis lazim sebagai sediaan tablet biasa atau tablet kunyah: 10-20mg perkg berat badan per hari dalam 2-3 dosis terbagi.
  • Dosis lazim sebagai sediaan suspensi: 10-20mg perkg berat badan per hari diberikan dalam 4 dosis terbagi.
  • Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap dengan interval mingguan untuk mencapai respons yang optimal.
  • Dosis maksimal: 35mg perkg berat badan setiap hari

Usia 6 tahun hingga 12 tahun

  • Dosis lazim sebagai sediaan tablet biasa atau tablet kunyah: 100mg diminum dua kali sehari.
  • Dosis lazim sebagai sediaan suspensi: 50mg/2.5 mL diminum 4 kali sehari.
  • Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap hingga 100 mg setiap hari dengan interval mingguan.
  • Dosis pemeliharaan: 400-800mg per hari diberikan dalam dosis terbagi.
  • Dosis maksimal: 1.000mg setiap hari.

Usia di atas 12 tahun hingga 15 tahun

  • Dosis lazim dapat diberikan dosis sama dengan dosis dewasa.
  • Dosis maksimal: 1.000mg setiap hari atau 1.200 mg setiap hari. Dosis harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.

Apakah carbamazepine aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) memasukkan carbamazepine dalam golongan obat kategori kehamilan D.

Dalam uji klinis, obat ini telah menunjukkan risiko merugikan pada janin wanita hamil. Namun, pemberian obat dapat dilakukan disamping risikonya untuk situasi yang mengancam nyawa.

Selain itu, carbamazepine juga telah diketahui dapat terserap dalam ASI sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh ibu menyusui. Konsultasikan lebih dulu dengan dokter sebelum menggunakan obat ini, terutama saat sedang hamil atau menyusui.

Apa efek samping obat carbamazepine yang mungkin terjadi?

Hentikan pemakaian obat dan hubungi dokter apabila muncul reaksi efek samping berikut setelah kamu menggunakan obat carbamazepine:

  • Tanda-tanda reaksi alergi, seperti gatal-gatal, sulit bernapas, atau bengkak pada wajah atau tenggorokan.
  • Reaksi kulit yang parah, ditandai dengan gejala demam, sakit tenggorokan, mata terasa terbakar, nyeri kulit, ruam merah atau ungu yang menyebar dan menyebabkan lepuh dan mengelupas.
  • Perubahan suasana hati atau perilaku dengan mendadak
  • Depresi
  • Gangguan kecemasan
  • Insomnia
  • Merasa gelisah, mudah tersinggung, atau memiliki pikiran untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri.
  • Kehilangan nafsu makan, sakit perut bagian kanan atas, atau urine berwarna gelap
  • Detak jantung lambat, cepat, atau berdebar kencang
  • Anemia atau masalah darah lainnya, seperti sariawan, gusi berdarah, mimisan, kulit pucat, mudah memar, kelelahan yang tidak biasa, merasa pusing, atau sesak napas.
  • Kadar natrium rendah dalam tubuh yang ditandai dengan gejala sakit kepala, kebingungan, kelemahan parah, perasaan tidak stabil, kejang meningkat.

Efek samping umum yang mungkin terjadi dari penggunaan obat carbamazepine, antara lain:

  • Pusing
  • Masalah koordinasi
  • Gangguan berjalan
  • Mual atau muntah
  • Mengantuk.

Peringatan dan perhatian

Kamu tidak boleh mengonsumsi obat ini apabila memiliki riwayat alergi terhadap carbamazepine atau obat-obatan antidepresan, seperti amitriptyline, desipramine, doxepin, imipramine, atau nortriptyline.

Kamu juga tidak boleh mengonsumsi carbamazepine apabila memiliki riwayat supresi sumsum tulang, riwayat porfiria, atau gagal jantung.

Jangan gunakan obat ini apabila kamu telah mengonsumsi obat MAO Inhibitor dalam 14 hari terakhir. Interaksi obat yang berbahaya dapat terjadi. Penghambat MAO termasuk furazolidone, isocarboxazid, linezolid, phenelzine, rasagiline, selegiline, dan tranylcypromine.

Karbamazepin dapat menyebabkan ruam kulit yang parah dan mengancam jiwa, terutama pada orang keturunan Asia. Dokter mungkin merekomendasikan tes darah sebelum kamu memulai pengobatan untuk menentukan risiko dan keamanan penggunaan obat.

Untuk memastikan kamu aman mengonsumsi carbamazepine, beritahu dokter apabila kamu memiliki riwayat penyakit berikut:

  • Gangguan jantung
  • Penyakit hati atau ginjal
  • Glaukoma
  • Kadar natrium rendah dalam darah
  • Depresi, gangguan mood atau memiliki kecenderungan berpikir atau tindakan bunuh diri.

Jangan memulai atau menghentikan penggunaan obat tiba-tiba selama kehamilan tanpa ada arahan dari dokter. Pastikan kamu berkonsultasi lebih dulu dengan dokter, baik saat sedang hamil atau menyusui. Kamu mungkin tidak boleh menyusui saat mengonsumsi obat ini.

Carbamazepine dapat membuat pil atau implan KB kurang efektif. Gunakan alat kontrasepsi penghalang (seperti kondom atau diafragma dengan spermisida) untuk mencegah kehamilan.

Interaksi dengan obat lain

Jangan menggunakan Carbamazepine jika kamu sedang atau telah minum obat untuk depresi yang dikenal sebagai penghambat oksidase monoamine (MAOI) seperti isocarboxazid, phenelzine dan tranylcypromine dalam 14 hari terakhir.

Kamu juga sebaiknya tidak minum carbamazepine dengan obat-obatan berikut ini:

  • Nefazodone (obat untuk mengobati depresi)
  • Delavirdine (obat untuk infeksi HIV) kecuali diinstruksikan oleh dokter

Beritahu dokter dan apoteker apabila kamu sedang mengonsumsi atau menggunakan obat-obatan berikut saat akan menggunakan carbamazepine:

  • Obat lain untuk epilepsi, misalnya fenitoin, fenobarbital, asam valproik
  • Obat-obatan untuk mengobati depresi, misalnya fluoxetine, fluvoxamine
  • Obat-obatan untuk mengobati asma, misalnya teofilin, aminofilin
  • Obat-obatan untuk mengobati infeksi jamur, misalnya ketokonazol, itrakonazol, flukonazol, mikonazol
  • Antibiotik tertentu misalnya siprofloksasin, eritromisin, klaritromisin
  • Obat untuk mengobati TBC (tuberkulosis), misalnya isoniazid, rifampisin
  • Obat-obatan untuk penyakit jantung, misalnya diltiazem, verapamil
  • Obat-obatan untuk kanker, misalnya cisplatin, doksorubisin
  • Pelemas otot yang digunakan selama operasi, misalnya cisatracurium, pancuronium, vecuronium
  • Obat pengencer darah, misalnya warfarin, apixaban, dabigatran
  • Simetidin
  • Lithium (obat untuk gangguan mood)
  • St. John’s wort (obat herbal).

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 23 Februari 2021, Carbamazepine | C15H12N2O – PubChem

Healthline Media, Inc, diakses pada 23 Februari 2021, Carbamazepine | Side Effects, Dosage, Uses, and More

Drugsite Trust, diakses pada 23 Februari 2021, Carbamazepine monograph

The Monthly Index of Medical Specialities (MIMS), diakses pada 23 Februari 2021, Carbamazepine – MIMS.com

Pusat Informasi Obat Nasional (Pionas), diakses pada 23 Februari 2021, KARBAMAZEPIN | PIO Nas

    register-docotr