Kamus Obat

Budesonide

February 8, 2021 | Arin Khurota | dr.Pitoyo Marbun
feature image

Budesonide, yang umum dikenal dengan nama dagang Symbicort merupakan golongan obat kortikosteroid. Obat ini memiliki fungsi berdasarkan bentuk sediaan obatnya.

Budesonide dipatenkan pertama kali pada 1978 dan mulai diizinkan untuk penggunaan medis pada 1981. Kini obat ini telah termasuk dalam daftar obat esensial organisasi kesehatan dunia (WHO).

Berikut informasi selengkapnya mengenai obat budesonide, manfaat, dosis, cara pakai, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat budesonide?

Budesonide adalah obat steroid untuk mengurangi peradangan dalam tubuh. Obat ini umumnya digunakan untuk mengatasi asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Budesonide telah tersedia sebagai obat generik dalam beberapa bentuk sediaan tablet, inhalasi, semprotan hidung, dan rektal (suppositoria). Obat ini bisa digunakan untuk anak-anak dan orang dewasa, bahkan beberapa bentuk inhalasi diklaim aman untuk ibu hamil.

Apa fungsi dan manfaat obat budesonide?

Budesonide berfungsi sebagai agonis reseptor glukokortikoid yang memengaruhi laju sintesis protein. Sifat lain obat ini adalah mampu mengendalikan peradangan dalam tubuh dengan membalik permeabilitas kapiler dan stabilisasi lisosom.

Umumnya budesonide dimanfaatkan berdasarkan bentuk sediaannya untuk mengatasi beberapa masalah kesehatan, antara lain:

1. Asma

Asma adalah kondisi paru-paru umum yang sesekali menyebabkan kesulitan bernapas. Gejala utama asma, seperti mengi, sesak napas, dada terasa berat terasa seperti ada tali yang mengencang, serta berkeringat.

Saat ini belum ada obat untuk asma, tetapi ada perawatan yang dapat membantu mengendalikan gejalanya agar tidak berdampak fatal.

Bentuk sediaan inhaler umumnya diberikan untuk mengatasi asma kronis. Budesonide diberikan dengan inhaler dosis terukur atau nebulizer untuk pemeliharaan dan pengobatan profilaksis asma.

Budesonide juga diberikan pada pasien yang membutuhkan kortikosteroid oral. Pemberian obat disertai pengurangan dosis obat sistemik untuk mengurangi risiko efek samping jangka panjang.

Obat ini juga dapat digunakan sebagai profilaksis bronkospasme jangka panjang. Terkadang obat diberikan sebagai kombinasi dengan formoterol pada pasien dengan gejala asma tidak terkontrol atau yang penyakitnya sangat parah.

Namun, kombinasi dengan formoterol tidak boleh digunakan pada pasien asma yang telah berhasil ditangani dengan kortikosteroid inhalasi.

Penggunaan obat ini juga hanya sesekali dan jangka pendek pada beberapa tipe asma. Obat juga tidak disarankan untuk diberikan pada kasus bronkospasme akut atau pengobatan bronkospasme akibat olahraga.

2. Penyakit radang usus

Formulasi obat budesonide tablet pelepasan tertunda dan rektal cukup efektif digunakan untuk beberapa jenis penyakit radang usus. Salah satunya adalah penyakit Crohn.

Penyakit Crohn dapat menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan. Gejala utamanya seperti sakit perut, diare parah, kelelahan, penurunan berat badan, dan kekurangan gizi.

Peradangan yang disebabkan oleh penyakit Crohn dapat melibatkan berbagai area saluran pencernaan pada beberapa orang. Peradangan ini sering menyebar ke lapisan usus yang lebih dalam.

Meskipun belum ada obat yang diketahui untuk penyakit Crohn, terapi dengan budesonide oral atau rektal bisa menjadi pilihan. Obat ini juga telah digunakan untuk pengelolaan penyakit Crohn ringan sampai sedang pada sejumlah anak usia 9,5-18 tahun.

Budesonide juga dapat mengurangi gejala pada orang dengan kolitis ulserativa aktif. Obat ini terbukti sangat efektif dan direkomendasikan sebagai obat pilihan pada kolitis mikroskopis. Terkadang obat juga digunakan untuk kolitis limfositik serta kolitis kolagen.

3. Rinitis alergi

Rinitis alergi, atau hay fever, adalah pembengkakan di dalam hidung yang merupakan reaksi alergen di udara. Gejala rinitis alergi umumnya bersin, pilek, hidung tersumbat, batuk, tenggorokan sakit atau gatal, mata gatal atau berair, dan sebagainya.

Alergen bisa disebabkan oleh apa saja yang menyebabkan reaksi alergi, seperti gulma, rumput, pohon, atau jamur. Tungau debu dalam ruangan, kecoak, atau bulu hewan peliharaan juga dapat menyebabkan rinitis alergi.

Perawatan untuk rinitis alergi biasanya dapat diberikan obat-obatan antihistamin, seperti dexchlorpheniramine maleate, difenhidramin, dan lain-lain.

Namun, beberapa obat nasal spray (semprotan hidung), seperti budesonide nasal spray, juga direkomendasikan untuk meredakan rinitis. Obat ini akan bekerja dengan mengurangi peradangan yang terjadi di dalam hidung sehingga rinitis alergi tidak menjadi semakin parah.

4. Esofagitis eosinofilik

Eosinofilik esofagitis adalah kondisi peradangan akibat alergi pada esofagus yang melibatkan sel darah putih yang disebut eosinofil. Umumnya, eosinofil tidak terdapat pada orang yang sehat. Namun, pada beberapa kasus, eosinofil berpindah ke esofagus dalam jumlah besar.

Saat ada makanan yang masuk, sel darah putih tersebut dapat meresponsnya sebagai zat alergen sehingga timbul peradangan. Gejala yang timbul dapat berupa kesulitan menelan, impaksi makanan, muntah, dan mulas.

Beberapa ahli medis belum dapat memahami kondisi ini dengan baik. Pada kasus yang parah, mungkin diperlukan perawatan untuk memperbesar kerongkongan dengan prosedur endoskopi.

Namun, perawatan awal dapat diberikan untuk mencegah kondisi yang semakin parah. Perawatan awal ini adalah dengan menjauhkan pemicu alergi serta pengobatan untuk menekan respons imun.

Obat kortikosteroid, termasuk busonide dalam bentuk topikal dinyatakan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mengobati penyakit ini. Selain itu, sediaan obat yang larut dalam mulut juga dapat direkomendasikan untuk mengobati eosinofilik esofagitis.

5. COVID-19 (Coronavirus)

Selama pandemi COVID-19 hingga saat ini, para peneliti dan ahli medis dunia banyak melakukan penelitian mencari obat-obatan yang mampu mengatasi wabah ini.

Dokter dan peneliti mengamati bahwa pasien yang telah diresepkan kortikosteroid hirup tampaknya menunjukkan penekanan pada perkembangan penyakit COVID-19.

Salah satu obat yang diuji coba adalah budesonide inhalasi. Selanjutnya, obat itu terus diteliti sebagai objek kemungkinan pengobatan untuk penyakit COVID-19.

Pada Juni 2020, peneliti Inggris dan Australia yang berpusat di Inggris mendapatkan hasil yang diharapkan dari uji coba budesonide sebagai pengobatan intervensi dini untuk COVID-19. Hasil ini didapatkan tepat di bulan September pada tahun yang sama.

Merek dan harga obat budesonide

Budesonide telah mendapatkan izin edar untuk penggunaan medis di Indonesia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Obat ini memiliki merek yang cukup beragam dan telah banyak digunakan.

Untuk mendapatkannya, kamu harus menyertakan resep dokter karena obat ini termasuk dalam golongan obat keras. Berikut beberapa merek obat beserta harganya:

  • Symbicort turbuhaler 120 dosis 160/4,5mcg. Sediaan obat serbuk inhalasi yang digunakan dengan cara dihirup. Obat mengandung budesonide 160mcg dan formoterol 4,5mcg. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp664.884/pcs.
  • Symbicort turbuhaler 60 dosis 160/4,5mcg. Sediaan obat serbuk inhalasi mengandung budesonide 160mcg dan formoterol 4,5mcg. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga 413.351/pcs.
  • Symbicrot turbuhaler 60 dosis 80/4,5mcg. Sediaan obat serbuk inhalasi mengandung budesonide 80mcg dan formoterol 4,5mcg. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp293.847/pcs.
  • Obucort Swinghaler. Sediaan serbuk inhalasi mengandung budesonide 200mcg/dosis. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp208.469/pcs.
  • Budenofalk 3mg. Sediaan kapsul resisten asam lambung mengandung budesonide 3mg untuk mengatasi penyakit Crohn. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp31.892/tablet.
  • Pulmicort respulers 0,5mg/mL. Sediaan cairan untuk terapi penguapan pada serangan asma dan untuk asma bronkial. Obat ini mengandung budesonide yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp33.334/pcs.
  • Pulimoct respulers 0,25mg/mL. Sediaan cairan untuk terapi penguapan asma yang mengandung budesonide 0,5mg/2mL. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp27.736/pcs.

Bagaimana cara pakai obat budesonide?

Berikut cara pakai obat bisa kamu perhatikan berdasarkan bentuk sediaan obat:

  • Baca petunjuk penggunaan serta aturan dosis yang telah tertera di label kemasan obat atau yang telah diarahkan oleh dokter. Jika ada yang tidak dipahami, tanyakan pada dokter atau apoteker untuk menjelaskannya kembali.
  • Obat oral sebaiknya diminum di pagi hari dengan segelas air putih.
  • Jangan minum obat dengan susu, soda, atau minuman yang mengandung kafein, seperti teh.
  • Telan tablet atau kapsul utuh sekaligus dengan air putih. Jangan menghancurkan, mengunyah, memecahkan, atau membukanya karena hal ini dapat mempercepat penyerapan obat dalam tubuh.
  • Jika kamu tidak dapat menelan kapsul atau tablet utuh, buka dan campurkan obat ke dalam sesendok saus apel atau madu. Telan campuran segera, atau dalam 30 menit setelah pencampuran. Setelah itu minum segelas air putih.
  • Kebutuhan dosis mungkin dapat berubah jika kamu menjalani operasi, sakit, atau sedang stres. Jangan mengubah dosis atau jadwal pengobatan tanpa ada arahan langsung dari dokter.
  • Budesonide obat hidrup bukanlah obat penyelamat untuk serangan asma. Gunakan hanya obat inhalasi yang bekerja cepat untuk serangan atau obat yang telah dicampur dengan gas (nebulizer).
  • Cari pertolongan medis jika masalah pernapasan yang kamu alami memburuk dengan cepat atau jika obat asma yang kamu gunakan tidak bekerja dengan baik.
  • Hubungi dokter jika gejala tidak membaik, atau bahkan memburuk setelah menggunakan budesonide.
  • Budesonide dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Beritahu dokter apabila kamu memiliki tanda-tanda infeksi seperti demam, menggigil, nyeri tubuh, muntah, atau merasa lelah.
  • Jika kamu menggunakan obat ini dalam jangka panjang, kamu mungkin perlu sering melakukan tes medis.
  • Simpan obat budesonide pada suhu kamar jauh dari kelembapan dan panas matahari. Jaga agar botol obat tetap tertutup rapat saat tidak digunakan.

Berapa dosis obat budesonide?

Dosis dewasa

Asma

  • Sebagai inhaler bubuk kering: 200-800mcg sehari sebagai dosis tunggal atau dalam 2 dosis terbagi.
  • Dosis maksimal: 800mcg.
  • Sebagai nebulizer dalam mengobati asma parah atau saat mengurangi atau menghentikan kortikosteroid oral:
    • Dosis awal: 1-2mg atau dua kali lipat.
    • Dosis pemeliharaan: 0,5-1mg.
  • Dosis harus disesuaikan dengan kebutuhan individu dan dikurangi hingga dosis efektif minimum untuk mempertahankan pengendalian asma yang baik.

Rinitis alergi

Sebagai spray dosis terukur (64mcg/dosis):

  • Dosis awalnya: 2 semprotan ke setiap lubang hidung sekali sehari di pagi hari atau 1 semprotan ke setiap lubang hidung.
  • Dosis dapat dikurangi menjadi 1 semprotan ke setiap lubang hidung sekali sehari jika efek yang diinginkan tercapai.
  • Dosis dapat disesuaikan ke dosis efektif terendah untuk mempertahankan kontrol gejala yang memadai.

Polip hidung

  • Sebagai spray nasal dosis terukur (64mcg dosis) dapat diberikan dosis awal 1 semprotan ke setiap lubang hidung.
  • Dosis lanjutan disesuaikan ke dosis efektif terendah apabila sudah menunjukkan perbaikan gejala klinis.

Penyakit Crohn

  • Dosis lazim: 9mg setiap hari baik sebagai dosis tunggal sebelum sarapan atau dalam 3 dosis terbagi sekitar 30 menit sebelum makan.
  • Durasi pengobatan dapat dilakukan hingga 8 minggu.
  • Kurangi dosis 2-4 minggu sebelum menghentikan terapi.
  • Pengobatan dapat dilanjutkan hingga 8 minggu apabila gejala aktif penyakit muncul kembali atau berulang.
  • Dosis pemeliharaan: 6mg sekali sehari sampai 3 bulan. Dosis dikurangi secara bertahap sebelum menghentikan pengobatan.

Hepatitis autoimun

Sebagai kapsul tahan asam lambung yang diberikan dalam kombinasi dengan azathioprine (hanya jika pasien toleran dengan azathioprine):

  • Dosis lazim: 3mg tiga kali sehari hingga perbaikan klinis tercapai.
  • Dosis pemeliharaan: 3mg dua kali sehari selama setidaknya selama 24 bulan
  • Dosis dapat ditingkatkan menjadi 3mg tiga kali sehari jika rasio enzim hati ALT/AST meningkat selama pengobatan pemeliharaan.

Kolitis mikroskopis

  • Sebagai kapsul lepas lambat: 9mg sekali sehari di pagi hari hingga 8 minggu.
  • Dosis pemeliharaan: 6mg sekali sehari di pagi hari, atau gunakan dosis efektif terendah.

Kolitis kolagen

  • Dosis lazim: 9mg sekali sehari pada pagi hari hingga 8 minggu.
  • Kurangi dosis secara bertahap selama 2 minggu terakhir terapi.

Esofagitis eosinofilik

Sebagai tablet larut dalam mulut:

  • Dosis lazim: 1mg selama 6 minggu.
  • Dosis dapat diperpanjang hingga 12 minggu bagi pasien yang sulit merespons pengobatan.

Kolitis ulseratif

  • Sebagai tablet pelepasan tertunda: 9mg sekali sehari di pagi hari hingga 8 minggu.
  • Sebagai enema: 2mg per 100 mL diberikan setiap hari sebelum tidur selama 4 minggu. Pengobatan dapat diperpanjang hingga 8 minggu jika pasien tidak menunjukkan perbaikan klinis setelah pengobatan 4 minggu awal.

Dosis anak

Laringotrakeobronkitis

  • Sebagai nebulizer: 2mg sebagai dosis tunggal, atau dalam 2 dosis terbagi yang diberikan dalam selang waktu 30 menit.
  • Dosis dapat diulangi setiap 12 jam sampai 36 jam atau sampai didapatkan perbaikan klinis.

Asma

Sebagai inhaler bubuk kering:

  • Usia 5-12 tahun: 200-800mcg per hari dalam 2 dosis terbagi.
  • Usia di atas 12 tahun dapat diberikan dosis sama dengan dosis dewasa.

Sebagai nebulizer:

  • Usia 3 bulan sampai 12 tahun dapat diberikan dosis awal 0,5-1mg. Dosis pemeliharaan: 0,25-0,5mg.
  • Usia di atas 12 tahun diberikan dosis sama dengan dosis dewasa.
  • Dosis harus disesuaikan dengan kebutuhan individu dan dikurangi hingga dosis efektif minimum.

Rinitis alergi

Usia di atas 6 tahun dapat diberikan dosis sama dengan dosis dewasa.

Apakah budesonide aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) menggolongkan sediaan obat rektal dan oral dalam kategori kehamilan C. Sedangkan untuk sediaan inhalasi, spray hidung, dan topikal, FDA memasukkan obat ini dalam kategori obat B.

Artinya, obat oral dan rektal telah menunjukkan risiko efek merugikan pada janin hewan percobaan (teratogenik). Namun, studi pada ibu hamil belum memiliki data yang memadai. Pengobatan dapat dilakukan apabila manfaat yang didapatkan lebih besar dari risikonya.

Sedangkan untuk obat inhalasi, spray nasal, atau sediaan topikal tidak menunjukkan risiko merugikan pada janin hewan percobaan. Namun, belum ada studi terkontrol yang memadai pada wanita hamil. Penggunaan obat mungkin aman diberikan atas nasihat dokter.

Obat ini diketahui dapat terserap dalam ASI sehingga tidak disarankan untuk digunakan oleh ibu menyusui. Selalu konsultasikan lebih dulu dengan dokter sebelum menggunakan obat ini.

Apa efek samping obat budesonide yang mungkin terjadi?

Hentikan pemakaian obat dan hubungi dokter segera apabila kamu mengalami efek samping berikut setelah menggunakan obat ini:

  • Tanda-tanda reaksi alergi, seperti gatal-gatal, sulit bernapas, pembengkakan wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.
  • Kulit mengelupas dan menipis, mudah memar
  • Tumbuh jerawat parah atau rambut pada wajah
  • Pembengkakan di pergelangan kaki
  • Kelemahan, kelelahan, atau perasaan pusing, seperti akan pingsan
  • Mual, muntah
  • Perdarahan rektal
  • Nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil
  • Masalah menstruasi pada wanita atau impotensi pada pria

Efek samping umum yang mungkin terjadi setelah menggunakan budesonide, antara lain:

  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Gangguan pencernaan, mual, muntah, sakit perut, kembung, sembelit
  • Merasa lelah
  • Sakit punggung
  • Nyeri sendi
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Gejala pilek seperti hidung tersumbat, bersin, sakit tenggorokan

Peringatan dan perhatian

Beberapa hal yang harus kamu perhatian sebelum menggunakan obat ini, antara lain:

  • Jangan minum budesonide apabila kamu memiliki riwayat alergi obat ini sebelumnya.
  • Beritahu dokter sebelum menggunakan obat ini apabila kamu memiliki riwayat kondisi berikut:
    • Tuberkulosis
    • Infeksi, termasuk cacar air atau campak
    • Tekanan darah tinggi
    • Sistem kekebalan tubuh lemah yang disebabkan oleh penyakit atau dengan menggunakan obat-obatan tertentu
    • Osteoporosis atau kepadatan mineral tulang yang rendah
    • Sakit maag
    • Penyakit hati
    • Eksim
    • Riwayat alergi apapun
    • Riwayat pribadi atau keluarga yang diabetes, katarak, atau glaukoma.
  • Beritahu dokter sebelum menggunakan obat ini apabila kamu sedang hamil, berencana hamil, atau sedang menyusui. Kamu sebaiknya tidak menyusui saat menggunakan budesonide.
  • Jika kamu telah menggunakan budesonide selama kehamilan, beritahu dokter apabila kamu mengalami kelemahan, mudah marah, muntah, atau masalah makan pada bayi yang baru lahir.
  • Beberapa merek obat, seperti Entocort atau Ortikos, tidak boleh diberikan kepada anak di bawah 8 tahun atau dengan berat kurang dari 25 kilogram. Merek Uceris tidak disetujui untuk digunakan oleh siapapun yang berusia di bawah 18 tahun.
  • Jangan gunakan budesonide untuk mengobati kondisi apapun pada anak tanpa ada rekomendasi dari dokter.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

WebMD, diakses pada 27 Januari 2021, Budesonide Oral : Uses, Side Effects, Interactions

MedlinePlus – Health Information from the National Library of Medicine, diakses pada 27 Januari 2021, Budesonide: MedlinePlus Drug Information

National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 27 Januari 2021, Budesonide | C25H34O6 – PubChem

The Monthly Index of Medical Specialities (MIMS), diakses pada 27 Januari 2021, Budesonide: Indication, Dosage, Side Effect, Precaution

The National Health Service (NHS), diakses pada 27 Januari 2021, Budesonide inhalers: steroid medicine used for asthma

Pusat Informasi Obat Nasional (Pionas), diakses pada 27 Januari 2021, BUDESONID | PIO Nas

    register-docotr