Kamus Obat

Acetazolamide

May 3, 2021 | Arin Khurota | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Acetazolamide (asetazolamid) merupakan salah satu obat penghambat anhidrase karbonat yang berada dalam satu kelompok dengan methazolamide. Obat ini juga masuk dalam kelas obat diuretik sehingga memiliki beberapa manfaat dalam mengatasi masalah retensi cairan.

Berikut informasi selengkapnya mengenai manfaat acetazolamide, cara minum, dosis, serta risiko efek samping yang bisa terjadi.

Untuk apa obat acetazolamide?

Acetazolamide adalah obat yang digunakan untuk mengobati glaukoma dengan dikombinasikan dengan obat lain. Obat ini juga digunakan untuk mengurangi tekanan pada mata sebelum operasi.

Selain itu, acetazolamide juga digunakan untuk mengatasi kondisi lain, termasuk epilepsi dan penyakit altitude sickness (AMS) atau penyakit ketinggian yang menyernag para pendaki di atas gunung. Obat ini juga diberikan untuk mengobati hipertensi intrakranial idiopatik, gagal jantung, dan pembengkakan karena penumpukan cairan (edema).

Acetazolamide tersedia sebagai sediaan tablet oral yang diminum melalui mulut. Beberapa sediaan suntikan juga tersedia untuk keadaan darurat tertentu di mana penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter.

Apa fungsi dan manfaat acetazolamide?

Acetazolamide memiliki fungsi untuk menekan aktivitas karbonat anhidrase di sistem saraf pusat. Ia juga dapat menurunkan tekanan karbondioksida di alveoli paru sehingga meningkatkan tekanan oksigen pada arteri.

Aktivitas penghambatan karbonat anhidrase juga dapat memengaruhi aktivitas pada tubulus ginjal sehingga muncul potensi sebagai diuretik. Sifat-sifat tersebut menjadikan acetazolamide banyak dimanfaatkan untuk mengobati beberapa masalah kesehatan berikut:

Glaukoma

Acetazolamide dapat menurunkan tekanan dalam mata dengan menonaktifkan karbonat anhidrase dan mengganggu pompa natrium. Biasanya obat ini diberikan sebagai pengobatan tambahan untuk glaukoma sekunder atau glaukoma sudut terbuka.

Acetazolamide juga diberikan untuk pengobatan jangka pendek pada glaukoma primer atau glaukoma sudut sempit.

Selain itu, obat ini juga digunakan untuk membantu menurunkan tekanan intraokular sebelum operasi. Acetazolamide akan menurunkan pembentukan humor aqueous sehingga dapat menurunkan tekanan dalam mata.

Penyakit ketinggian

Penyakit ketinggian atau juga disebut penyakit altitude sickness (acute mountain sickness/AMS) adalah kondisi yang disebabkan oleh perjalanan ke dataran tinggi di mana terdapat tekanan udara dan kadar oksigen yang rendah.

Biasanya, gejala yang muncul dari penyakit AMS adalah sakit kepala, lesu, insomnia, mual, sesak napas, dan pusing.

Dalam mengobati penyakit gunung, acetazolamide akan memaksa ginjal untuk mengeluarkan bikarbonat. Peningkatan jumlah bikarbonat yang diekskresikan dalam urine menyebabkan darah menjadi lebih asam.

Karena tubuh menyamakan keasaman darah dengan konsentrasi karbon dioksida, maka tubuh akan merespons bahwa darah kelebihan gas karbon dioksida.

Untuk mengeluarkan kelebihan karbon dioksida tersebut, maka tubuh akan memberikan perintah untuk bernapas lebih dalam dan lebih cepat. Dengan demikian, jumlah oksigen dalam darah dapat meningkat.

Acetazolamide akan efektif jika diminum pada awal keberangkatan menuju tempat ketinggian. Sebagai pencegahan, obat ini bisa diminum satu hari sebelum perjalanan dan dilanjutkan selama dua hari pendakian.

Epilepsi

Acetazolamide cukup efektif untuk mengatasi sebagian besar jenis epilepsi atau kejang, termasuk tonik-klonik, kejang fokal umum, dan absens sederhana.

Namun, penggunaan acetazolamide untuk epilepsi kronis cukup terbatas karena potensi berkembangnya toleransi yang membuat obat tidak berfungsi. Oleh karena itu, obat ini jarang diberikan untuk terapi epilepsi kronis kecuali sebagai alternatif bersama dengan obat epilepsi lain.

Edema

Acetazolamide dapat digunakan untuk mengobati pembengkakan pada bagian tubuh tertentu karena penumpukan cairan (edema). Gejalanya mungkin termasuk pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, tungkai bawah dan tangan, serta sesak napas.

Sifat diuretik acetazolamide kurang kuat jika dibandingkan dengan golongan obat thiazide. Oleh karena itu, obat ini direkomendasikan hanya sebagai obat tambahan.

Biasanya, acetazolamide digunakan untuk mengobati retensi cairan yang disebabkan oleh gagal jantung, gangguan menstruasi, dan penggunaan obat tertentu. 

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa acetazolamide juga dapat digunakan untuk hipertensi intrakranial idiopatik. Hipertensi ini merupakan jenis kelainan peningkatan tekanan pada otak yang tidak jelas penyebabnya.

Merek dan harga obat acetazolamide

Obat ini termasuk dalam golongan obat resep di mana penggunaannya harus di bawah pengawasan dari dokter. Merek acetazolamide yang telah beredar di Indonesia adalah Glauseta dan Glaucon.

Berikut informasi mengenai beberapa merek obat acetazolamide beserta harganya:

  • Glauseta 250mg tablet. Sediaan obat tablet untuk mengobati glaukoma sekunder dan sebelum operasi untuk glaukoma sudut sempit. Obat ini diproduksi oleh Sanbe Vision dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp6.475/tablet.
  • Glaucon 250mg tablet. Sediaan tablet pemakaian sistemik untuk menurunkan tekanan pada mata glaukoma. Obat ini diproduksi oleh Cendo Pharmaceutical Industries dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp4.864/tablet.

Bagaimana cara minum obat acetazolamide?

Minum obat sesuai petunjuk cara minum serta dosis yang telah diresepkan oleh dokter. Jangan minum obat dalam dosis yang lebih banyak atau lebih sedikit dari yang direkomendasikan.

Kamu bisa meminum acetazolamide dengan makanan atau segera setelah makan. Minumlah obat dalam watu yang sama setiap hari untuk membantu kamu mengingat jadwal.

Sediaan tablet tersedia sebagai bentuk lepas lambat. Minum tablet utuh dengan segelas air. Tablet jangan dihancurkan, digerus, atau dilarutkan dalam air tanpa ada petunjuk dari dokter. Beritahu dokter apabila kamu mengalami kesulitan menelan tablet.

Minum obat secara teratur untuk mendapatkan efek terapi yang diharapkan. Jika lupa minum, segera ambil dosis jika waktu minum berikutnya masih lama. Lewati dosis apabila masuk waktu minum berikutnya dan jangan menggandakan dosis dalam satu waktu minum.

Usahakan untuk tidak meminum acetazolamide menjelang waktu tidur karena obat ini dapat menyebabkan kamu sering buang air kecil.

Jika kamu memerlukan pembedahan, baik operasi besar atau kecil, atau akan melakukan tes medis tertentu, beritahu dokter bahwa kamu menggunakan obat ini.

Lakukan pemeriksaan darah dan tekanan mata secara berkala saat kamu dirawat dengan acetazolamide.

Kamu bisa menyimpan obat acetazolamide pada suhu ruangan terhindar dari kelembapan dan paparan sinar matahari setelah digunakan.

Berapa dosis obat acetazolamide?

Dosis dewasa

Untuk pengobatan tambahan pada glaukoma sekunder dan sebelum operasi glaukoma

  • Dosis diberikan melalui suntikan intravena: 250 hingga 1.000mg per hari. Dosis dapat diberikan dalam dosis terbagi dengan jumlah lebih dari 250mg per hari.
  • Untuk dosis diberikan sebagai tablet biasa: 250 hingga 1.000mg.
  • Dosis sebagai tablet lepas lambat: 500mg diminum dua kali sehari.

Untuk diuresis dan edema

  • Retensi cairan pada gagal jantung kongestif dan edema akibat penggunaan obat tertentu: 250mg hingga 375mg sekali sehari.
  • Retensi cairan berkaitan dengan ketegangan sebelum menstruasi: 125mg hingga 375mg sebagai dosis harian tunggal.

Untuk epilepsi

Dosis lazim: 250mg hingga 1.000mg per hari diberikan dalam dosis terbagi.

Profilaksis gangguan ketinggian

  • Dosis lazim: 500mg hingga 1.000mg setiap hari dalam dosis terbagi, sebaiknya 24-48 jam sebelum pendakian.
  • Untuk dosis dilanjutkan setidaknya selama 48 jam saat berada di dataran tinggi atau sesuai kebutuhan untuk mengontrol gejala.

Dosis anak

Untuk epilepsi

Dosis lazim: 8mg hingga 30mg per kg berat badan per hari diberikan dalam dosis terbagi.

Dosis maksimal: 750mg per hari.

Apakah acetazolamide aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) memasukkan acetazolamide dalam golongan obat kategori kehamilan C.

Studi penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa obat ini dapat menyebabkan risiko efek samping pada janin (teratogenik). Namun, belum ada studi terkontrol yang lebih memadai pada wanita hamil. Penggunaan obat dilakukan apabila potensi manfaatnya lebih besar dari risikonya.

Acetazolamide telah diketahui dapat terserap dalam ASI sehingga tidak direkomendasikan untuk ibu menyusui tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Apa efek samping obat acetazolamide yang mungkin terjadi?

Hentikan pengobatan dan hubungi dokter apabila muncul gejala efek samping berikut setelah kamu mengonsumsi acetazolamide:

  • Tanda-tanda reaksi alergi, seperti ruam kemerahan, gatal-gatal, kesulitan bernapas, pembengkakan pada mulut, wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan
  • Gejala asidosis, seperti kebingungan, pernapasan cepat, detak jantung cepat, sakit perut yang sangat parah atau muntah, merasa sangat mengantuk atau merasa sangat lelah
  • Gangguan elektrolit seperti perubahan mood, kebingungan, nyeri otot atau kelemahan, detak jantung tidak normal, kejang, tidak lapar, atau sakit perut yang sangat parah atau muntah
  • Munculnya gangguan penglihatan
  • Gangguan pendengaran
  • Telinga berdenging
  • Sensasi terbakar, mati rasa, atau kesemutan yang tidak normal
  • Nyeri saat buang air kecil atau urine berdarah
  • Tidak bisa buang air kecil atau perubahan jumlah urine yang dikeluarkan
  • Kelemahan otot
  • Gangguan keseimbangan
  • Kesulitan bergerak
  • Suasana hati yang buruk (depresi)
  • Kebingungan
  • Kejang

Efek samping lain yang umum terjadi dari penggunaan acetazolamide, antara lain:

  • Sakit perut atau muntah
  • Perubahan selera makan
  • Diare
  • Penglihatan kabur
  • Merasa pusing, mengantuk, lelah, atau lemas
  • Sakit kepala
  • Merasa gugup atau bersemangat

Konsultasikan dengan dokter apabila gejala efek samping tidak hilang, semakin parah, atau muncul gejala efek samping lain.

Peringatan dan perhatian

Jangan minum acetazolamide apabila kamu pernah mengalami reaksi alergi saat mengonsumsi obat ini sebelumnya. Beritahu dokter mengenai riwayat alergi lain, termasuk obat lain, terutama kelompok obat sulfa.

Beritahu dokter mengenai riwayat kesehatan yang kamu miliki sebelum menggunakan acetazolamide, terutama:

  • Penyakit hati yang parah
  • Penyakit ginjal yang parah
  • Kadar kalium dan natrium yang rendah dalam darah
  • Gangguan kelenjar adrenal
  • Asidosis hiperkloremik dan asidosis pernapasan
  • Glaukoma sudut tertutup non-kongestif jangka panjang.

Beritahu dokter apabila kamu sedang menggunakan methazolamide sebelum mengonsumsi acetazolamide.

Konsultasikan ke dokter apabila kamu memiliki riwayat diabetes atau kadar gula yang tinggi dalam darah. Kamu mungkin perlu memeriksakan kadar gula darah secara berkala.

Beritahu dokter apabila kamu sedang hamil, berencana untuk hamil, atau sedang menyusui bayi sebelum memutuskan menggunakan acetazolamide.

Berhati-hatilah saat kamu berada di luar ruangan karena acetazolamide dapat membuat kulit lebih mudah terbakar sinar matahari.

Hindari mengemudi atau melakukan aktivitas berbahaya setelah mengonsumsi acetazolamide. Obat ini mungkin dapat menyebabkan penglihatan kabur sementara waktu.

Beritahu dokter apabila kamu sedang mengonsumsi aspirin saat akan meminum acetazolamide. Penggunaan aspirin dalam dosis tinggi dengan obat ini dapat menyebabkan kehilangan rasa lapar, napas cepat, lesu, koma, dan kematian.

Jangan memberikan obat pada anak-anak atau orang tua usia lanjut tanpa ada pengawasan ketat dari dokter. Risiko efek samping lebih mungkin terjadi pada anak kecil dan orang tua usia di atas 65 tahun.

Periksa pertumbuhan anak-anak secara rutin saat mengonsumsi acetazolamide. Obat ini dapat memengaruhi tingkat pertumbuhan, terutama pada anak-anak.

Jangan mengonsumsi alkohol saat kamu sedang masa perawatan dengan acetazolamide. Risiko efek samping tertentu lebih mungkin terjadi saat kamu minum alkohol secara bersamaan.

Interaksi dengan obat lain

Acetazolamide dapat memengaruhi mekanisme kerja obat lain yang menyebabkan terjadi interaksi. Interaksi obat yang mungkin terjadi saat dikonsumsi bersamaan dengan acetazolamide, antara lain:

  • Meningkatkan efek antikejang dalam darah apabila digunakan bersama dengan obat-obatan antikonvulsan, seperti phenytoin, carbamazepine.
  • Memperkuat efek antagonis dari obat asam folat, obat hipoglikemia, dan antikoagulan oral.
  • Meningkatkan ekskresi litium (obat untuk depresi).
  • Menurunkan tingkat primidone dalam darah.
  • Meningkatkan efek antidepresan jika dikonsumsi dengan amfetamin dan quinidine.
  • Meningkatkan kadar ciclosporin dalam darah.
  • Melawan sifat antiseptik urine saat digunakan dengan methenamine.
  • Risiko fatal dapat terjadi jika acetazolamide dikonsumsi bersamaan dengan aspirin dosis tinggi.

Beritahu dokter apabila kamu sedang mengonsumsi obat-obatan tersebut, termasuk juga obat resep dan non resep, obat herbal, atau vitamin.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

Drugsite Trust, diakses pada 6 April 2021, Acetazolamide monograph

National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 6 April 2021, Acetazolamide | C4H6N4O3S2 – PubChem

MedlinePlus – Health Information from the National Library of Medicine, diakses pada 6 April 2021, Acetazolamide: MedlinePlus Drug Information

The Monthly Index of Medical Specialities (MIMS), diakses pada 6 April 2021, Acetazolamide: Indication, Dosage, Side Effect, Precaution

Pusat Informasi Obat Nasional (Pionas), diakses pada 6 April 2021, ASETAZOLAMID | PIO Nas

    register-docotr