Diet dan Nutrisi

Hati-hati, Makanan Pemicu Inflamasi Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit KardioVaskular, Lho!

November 14, 2020 | Richaldo Hariandja | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Kamu tentu sudah tahu jika kesehatan kamu dipengaruhi oleh apa yang kamu makan. Untuk itu, masukkan makanan pemicu inflamasi dalam daftar yang harus kamu hindari karena makanan ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American College of Cardiology menunjukkan dua hubungan tersebut. Para peneliti menyebut kalau makanan yang yang menyebabkan inflamasi di dalam tubuh dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Apa itu makanan penyebab inflamasi?

Makanan penyebab inflamasi atau inflammatory diets merupakan segala jenis makanan yang meningkatkan inflamasi di tubuh. Makanan yang tinggi gula, kaya akan lemak trans buatan, daging merah atau proses serta karbohidrat dan biji-bijian olahan merupakan jenis makanan ini.

Inflamasi yang bertahan di dalam tubuh, walaupun kecil, dapat mengiritasi pembuluh darah. Lama-kelamaan, kondisi ini akan meningkatkan pertumbuhan plak, melepaskan plak ke arteri dan memicu pembekuan darah yang merupakan penyebab utama serangan jantung dan stroke.

Situs kesehatan News Medical menyebut adanya penelitian di masa lalu yang menemukan pengaruh makanan dengan level inflamasi. Kamu bisa menurunkan risiko inflamasi dengan mengonsumsi makanan yang sehat, seperti konsumsi sedikit daging dan perbanyak sayur.

Selain itu, buah-buahan, kacang polong, kacang-kacangan, buncis, cereal, gandum, ikan dan lemak tak jenuh juga bisa menurunkan biomarker atau senyawa yang berasal dari inflamasi. Dengan demikian, makanan-makanan ini bisa menurunkan risiko penyakit jantung.

Apa kata penelitian terbaru?

Penelitian yang mengungkapkan jika makanan pemicu inflamasi dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular ini menggunakan kajian Nurses’ Health Studies I dan II yang melibatkan lebih dari 210.000 orang sejak tahun 1986 dan ditindaklanjuti selama 32 tahun.

Selama 4 tahun, para partisipan diminta untuk mengerjakan survey untuk melihat asupan makanan mereka. Kepala penelitian, Dr. Jun Li dalam keterangannya kepada Healthline menyebut keterkaitan ini ditemukan secara konsisten pada tiap kelompok dan jenis kelamin.

Dirinya mengatakan kalau potensi inflamasi terhubung dengan sangat signifikan dengan kejadian penyakit kardiovaskular yang tinggi. Sementara 20 persen responden yang mengonsumsi makanan antiinflamasi tidak mengalami hal yang sama.

“Sementara 20 persen responden yang mengonsumsi makanan pro-inflamasi mengalami 46 persen lebih rentan terkena penyakit jantung dan 28 persen lebih rentan terkena stroke,” ucap Dr. Jun.

Saran dari penelitian

Salah satu saran dalam penelitian ini adalah agar dilakukan kajian lebih lanjut. Karena kajian ini hanya dilakukan pada perawat dan tenaga medis profesional dan kebanyakan orang yang diteliti merupakan warga kulit putih.

Selain itu, terkait dengan hasil temuan, Dr. Jun menyarankan agar mulai sekarang setiap orang mengurangi makanan yang memicu inflamasi. “Aku rasa akan sangat baik kalau mulai sekarang kita kurangi asupan gandum olahan, daging merah dan olahan serta minuman berpemanis,” kata dia.

Memang tidak mudah menyetop makanan-makanan tersebut, tapi langkah paling mudah adalah mengurangi dan mengganti pola konsumsi kamu dengan makanan antiinflamasi. Seperti gandum utuh, sayur-sayuran dan dan sumber protein yang sehat.

Singkatnya, mengikuti diet yang kaya akan buah dan sayuran, beserta gandum utuh dan protein yang sehat merupakan satu kunci untuk kesehatan yang lebih baik ketimbang kamu memakan makanan yang diproses dan olahan.

Merubah gaya hidup

Tidak bisa dipungkiri kalau makanan yang dapat menyebabkan inflamasi ini selalu dapat menggoyang lidah. Nyatanya, memang banyak makanan cepat saji dan minuman berpemanis yang mudah ditemukan di pasaran.

Akan tetapi, untuk kesehatan yang lebih baik, kamu harus melakukan perubahan gaya hidup. Hal ini secara khusus dikatakan oleh pakar kardiologi Dr. Andrew Freeman dalam situs kesehatan Healthline

Freeman menyebut kalau perubahan gaya hidup ini sama saja dengan melakukan hidup yang sehat. Yaitu dengan makan protein nabati, olahraga yang rutin, singkirkan stres dan tidur yang cukup.

“Semua ini bisa menaklukan banyak penyakit kronis yang tidak kita inginkan, kalau memang kita bisa menerapkan gaya hidup sehat ini,” kata Freeman.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr