Diet dan Nutrisi

Gemar Minum Kopi? Pahami Dulu Efek Kafein Bagi Tubuh Kamu

June 30, 2020 | Richaldo Hariandja | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Kopi bisa memberikan efek tidak mudah mengantuk karena kafein yang dikandungnya. Tapi jangan salah, kafein bukan hanya sekedar obat penghilang kantuk, lho!

Kafein juga tidak hanya ditemukan di dalam kopi, karena teh dan cokelat pun ternyata mengandung kafein. Zat ini juga ditambahkan pada beberapa produk permen karet, wafel, minuman energi, sirup dan makanan ringan lainnya.

Konsumsi wajar kafein

Karena terlalu banyak kafein yang bisa kamu temukan sehari-hari, kamu harus tahu berapa asupan kafein yang tepat untuk tubuh kamu. Beberapa negara bahkan sudah memberikan peringatan resmi kepada penduduknya mengenai batas konsumsi wajar ini.

Kanada misalnya, mengatakan penggunaan kafein berlebihan dapat memberikan efek insomnia, sakit kepala, perasaan lekas marah, dan tegang. Oleh karena itu, konsumsi wajar kafein direkomendasikan sebagai berikut:

  • Orang dewasa sehat tidak lebih dari 400 mg per hari
  • Ibu hamil atau menyusui tidak lebih dari 300 mg per hari
  • Anak usia 4-6 tahun tidak lebih dari 45 mg per hari
  • Anak usia 7-9 tahun tidak lebih dari 62,5 mg per hari
  • Anak usia 10-12 tahun tidak lebih dari 85 mg per hari
  • Remaja berusia lebih dari sama dengan 13 tahun tidak lebih dari 2,5 mg/kg berat badan

Melihat batasan-batasan konsumsi ini, maka kamu pun harus tahu efek kafein bagi tubuh sebagai berikut:

Manfaat

Kafein dapat memberikan efek yang baik untuk kesehatan kamu, akan tetapi tidak semua hal ini telah teruji oleh riset:

Berat badan turun

Kafein bisa meningkatkan penurunan berat badan atau mencegah terjadinya kenaikan berat badan. Kemungkinan hal ini bisa terjadi dengan cara:

  • Menekan nafsu makan dan menurunkan keinginan untuk makan
  • Merangsang thermogenesis, sehingga tubuh menghasilkan panas dan energi dari makanan yang sedang dicerna

Meningkatkan kewaspadaan

Sebuah jurnal yang diterbitkan oleh European Food Safety Authority menyebut konsumsi 75 g kafein dapat meningkatkan konsentrasi dan kewaspadaan. 

Jurnal tersebut juga menulis dosis 160 hingga 600 mg kafein dapat meningkatkan kewaspadaan, kecepatan merespons dan daya ingat. Meskipun demikian, kafein bukanlah pengganti dari tidur kamu.

Performa fisik

Kafein dapat meningkatkan performa fisik selama olahraga untuk meningkatkan ketahanan tubuh dan menurunkan dampak yang dirasakan dari olahraga tersebut. Meski demikian, efek kafein yang satu ini bersifat jangka pendek.

Meningkatkan fungsi otak

Efek kafein bagi otak adalah dapat mempengaruhi reseptor adenosin di otak. Dalam hal ini kopi sebagai sumber kafein juga mengandung antioksidan polifenol, yang juga memberikan efek yang sama.

Harvard Medical School mencatat konsumsi kopi dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir dan memperlambat penurunan mental yang terjadi seiring pertambahan usia.

Menurunkan risiko alzheimer

Sebuah riset dilakukan di Portugal menyebut konsumsi kafein sepanjang masa hidup dapat menurunkan risiko perkembangan penyakit alzheimer

Tidak hanya itu, riset tersebut juga menunjukan orang yang mengonsumsi kopi dalam jumlah besar memiliki risiko penyakit parkinson yang lebih kecil.

Efek buruk kafein

Banyak publikasi riset yang menyebut efek positif dari kafein jika dikonsumsi secara moderat. Akan tetapi ada juga beberapa kajian yang menggarisbawahi potensi buruk efek kafein bagi kesehatan, di antaranya:

Meningkatkan depresi

Terlalu banyak konsumsi kafein dapat memperburuk gejala keresahan dan depresi. Hal ini dikonfirmasi dalam kajian yang dipublikasi pada 2016 lalu.

Kajian yang dilakukan pada 234 murid SMP itu mengaitkan konsumsi kafein dengan peningkatan berat badan, perolehan akademik yang rendah dan risiko tinggi atas depresi yang berat.

Meningkatkan gula darah

Hal ini dilaporkan dalam kajian di Belanda yang menyebut konsumsi gula darah orang dengan diabetes tipe 2 meningkat setelah mengonsumsi kafein.

Berbahaya bagi kehamilan

Kafein memberikan efek berbahaya bagi kehamilan, apabila dikonsumsi lebih dari 300 mg per hari. Jumlah yang setara dengan tiga gelas kopi ini dapat menyebabkan:

  • Keguguran
  • Pertumbuhan janin terhambat
  • Detak jantung janin tidak normal

Tidak hanya pada saat hamil, konsumsi kafein sebelum kehamilan pun berpengaruh. National Institute of Health Amerika Serikat menyebut ada risiko keguguran jika kedua orangtua mengonsumsi lebih dari dua minuman berkafein sehari seminggu sebelum pembuahan.

Mempengaruhi fertilitas

Kafein dapat memberikan efek negatif terhadap fertilitas. Disebutkan dalam sebuah jurnal yang diterbitkan oleh British Journal of Pharmacology jika konsumsi kafein dapat menurunkan aktivitas otot tuba falopi.

Akibatnya, pergerakan sel telur dari ovarium ke rahim menjadi terganggu. Penelitian tersebut menyatakan ada penurunan 27 persen kehamilan bagi perempuan yang gemar mengonsumsi kafein.


Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Ifit.org (2017) diakses 26 Juni 2020. https://www.ift.org/news-and-publications/news/2017/may/26/health-canada-sets-safe-levels-of-caffeine-consumption
  2. Medicalnewstoday.com (2017) diakses 26 Juni 2020. https://www.medicalnewstoday.com/articles/285194
  3. Care.diabetesjurnals.org (2004) diakses 26 Juni 2020. https://care.diabetesjournals.org/content/27/12/2990
  4. Nih.gov (2016) diakses 26 Juni 2020. https://www.nih.gov/news-events/news-releases/couples-pre-pregnancy-caffeine-consumption-linked-miscarriage-risk
  5. Bpspubs.olinelibrary.wiley.com (2011) diakses 26 Juni 2020. https://bpspubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/j.1476-5381.2011.01266.x
  6. Health.harvard.edu (2014) diakses 26 Juni 2020. https://www.health.harvard.edu/blog/caffeine-healthy-diet-may-boost-memory-thinking-skills-alcohols-effect-uncertain-201406187219
  7. Pubmed.ncbi.nlm.nih.gov (2010) diakses 26 Juni 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20182026/
  8. Ncbi.nlm.nih.gov (2016) diakses 26 Juni 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4826990/
  9. Efsa.europa.eu (2015) diakses 26 Juni 2020. https://www.efsa.europa.eu/en/efsajournal/pub/4102
    Berita Terkait
    register-docotr