Kesehatan Mental

Toxic Positivity: Saat Kata Penyemangat Justru Tak Baik untuk Mental

June 22, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Saat sedang dalam kondisi sedih, seseorang mungkin akan mendapat kata-kata penyemangat dari teman atau kerabatnya. Namun, sebagian besar pesan yang disampaikan terkadang masuk dalam kategori toxic positivity, yang justru tidak baik untuk kesehatan mental.

Lantas, apa sebenarnya toxic positivity itu? Apa dampaknya bagi kesehatan mental? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa itu toxic positivity?

Toxic positivity merupakan sebuah asumsi, baik oleh diri sendiri maupun dari orang lain, untuk selalu menganggap segala sesuatu menjadi positif. Meski sebenarnya, kondisi yang dialami adalah hal yang menyakitkan atau menjengkelkan.

Contoh dari toxic positivity yang paling sering dialami oleh banyak orang adalah komentar untuk ‘melihat sisi baiknya’ atau ‘mensyukuri atas setiap yang dimiliki’. Pada intinya, hal ini berkaitan dengan cara pandang seseorang dalam menyikapi suatu keadaan.

Orang itu mungkin akan menghindari perasaan sedih, cemas, kesepian, takut, dan berbagai bentuk emosi negatif lainnya. Dalam toxic positivity, semua emosi yang negatif dianggap sebagai sesuatu yang buruk.

Mengapa disebut ‘toxic’?

Meningkatkan optimisme dan memandang semua hal secara positif mungkin terlihat baik. Namun, ada kata ‘toxic’ yang berarti ‘racun’ pada istilah toxic positivity. Seperti namanya, racun adalah sesuatu yang membahayakan.

Dalam hal ini, disadari atau tidak, toxic positivity bisa mengganggu kesehatan mental seseorang. Orang yang mengalami kondisi tersebut akan berusaha untuk mengubah emosi negatif yang dirasakan menjadi sesuatu yang positif.

Padahal, menurut sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat, menyembunyikan, menekan, dan menolak suatu perasaan atau bentuk emosi tertentu justru bisa memicu masalah psikologis.

Baca juga: Mengenal Doodling: Coretan yang Bisa Memberi Manfaat bagi Kesehatan Mental

Efek buruk pada psikologis

Toxic positivity, baik oleh diri sendiri maupun dari orang lain, bisa memberi sejumlah efek buruk pada kesehatan mental, seperti:

Tekanan batin

Penelitian pada 2010 mengungkapkan bahwa semakin kamu menyembunyikan atau menyangkal sebuah perasaan atau emosi, maka semakin banyak tekanan pada pikiran. Lama-kelamaan, ini akan berdampak pada kesehatan mental.

Meski menyerang aspek psikologis, gejalanya bisa berupa tanda fisik, seperti peningkatan detak jantung, pelebaran pupil, hingga peningkatan produksi keringat.

Perasaan bersalah

Orang yang menjadi korban toxic positivity bisa terus merasa bersalah terhadap dirinya sendiri. Sebagian orang memang tidak ingin terlihat ‘buruk’ di depan orang lain. Maka, menyembunyikan perasaan atau berpura-pura semua berjalan baik adalah hal yang kerap dilakukan.

Bahkan, orang tersebut mungkin akan malu (shame) pada dirinya sendiri karena penolakan atas emosi atau perasaan yang dialami. Kondisi itu bisa ‘melumpuhkan’ pola pikir yang akan berdampak pada aktivitas yang dilakukan.

Penarikan diri

Saat menyangkal sebuah perasaan, seseorang bisa hidup seperti bukan dirinya sendiri. Ini dapat berpengaruh pada aspek sosial. Orang itu mungkin akan membatasi pergaulan dengan dunia luar dan cenderung menarik diri.

Tips untuk mencegah dan menyikapinya

Seperti yang telah dijelaskan, toxic positivity adalah hal yang bisa mengganggu kesehatan mental. Penting untuk melakukan sesuatu, baik dalam menyikapinya sekaligus agar tidak menjadi pelaku, di antaranya adalah:

  • Penerimaan diri: Akui dan terima setiap hal yang kamu rasakan, baik atau buruknya.
  • Jadilah pendengar: Setiap orang berhak atas perasaannya sendiri, maka jangan permalukan orang lain dengan menjadi pelaku toxic positivity kepadanya. Setiap masalah punya solusinya masing-masing, tidak harus sama seperti apa yang kamu pikirkan.
  • Tak apa jika tidak sedang baik: Jika kamu sedang dalam kondisi down, terapkan prinsip it’s OK not to be OK.
  • Perasaan yang saling melengkapi: Tidak ada bentuk perasaan yang eksklusif, melainkan saling ‘melengkapi’. Misalnya, kamu sedih karena kehilangan pekerjaan selama pandemi, tapi tetap berharap untuk menemukan pekerjaan baru di masa depan.
  • Kenali pesan toxic positivity: Kamu tidak harus memercayai atau menerapkan pesan atau kata penyemangat dari orang lain. Misalnya, “Jika aku bisa, maka kamu juga!”, “Hapus semua pikiran negatif!”, “Jangan khawatir, tetaplah bahagia!”, dan lain sebagainya.

Nah, itulah ulasan tentang toxic positivity dan apa saja dampak pada kesehatan mental yang jarang diketahui. Mulai sekarang, jangan pernah untuk menangkal emosi atau perasaan diri sendiri, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr