Kesehatan Mental

Studi Terbaru: Kurang Tidur di Usia 50 tahun Meningkatkan Risiko Demensia

April 27, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Demensia adalah sekelompok gejala yang memengaruhi daya ingat, berpikir, dan kemampuan sosial.

Meskipun demensia umumnya melibatkan kehilangan memori, namun kehilangan ingatan saja tidak berarti kamu menderita demensia.

Studi terbaru menunjukkan bahwa orang yang tidak cukup tidur di usia 50-an dan 60-an dapat meningkatkan kemungkinan terkena demensia di kemudian hari.

Baca juga: Jangan Tertukar! Ini Perbedaan Demensia, Alzheimer dan Pikun

Gejala demensia

Beberapa gejala demensia mungkin bisa disadari sendiri oleh penderitanya. Namun ada juga yang mungkin hanya terlihat oleh perawat atau petugas kesehatan.

Dilansir dari Medical News Today, berikut adalah beberapa hal yang umum terjadi saat seseorang mengalami demensia:

  1. Kehilangan memori baru-baru ini – ini mungkin ditandai dengan menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali.
  2. Kesulitan menyelesaikan tugas sehari-hari
  3. Masalah komunikasi – kesulitan dengan bahasa; melupakan kata-kata sederhana atau menggunakan kata-kata yang salah.
  4. Disorientasi – tersesat di jalan yang sebelumnya dikenal, misalnya.
  5. Masalah dengan pemikiran abstrak – misalnya, berurusan dengan uang.
  6. Salah taruh barang
  7. Perubahan suasana hati yang tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan.
  8. Kepribadian berubah – mungkin menjadi mudah tersinggung, curiga atau takut.

Mengenal demensia dan kaitannya dengan pola tidur

Demensia bukanlah penyakit tunggal, tetapi ini adalah istilah umum yang dipakai untuk menggambarkan gejala gangguan memori, komunikasi, dan berpikir. Meskipun kemungkinan mengalami demensia meningkat seiring bertambahnya usia, ini bukanlah bagian normal dari penuaan.

Dilansir dari Nature Communication, studi observasi menunjukkan bahwa durasi tidur memiliki kaitan erat dengan peningkatan risiko penurunan kognitif dan demensia.

Penelitian ini melibatkan hampir 8.000 orang di Inggris Raya selama sekitar 25 tahun, dan dimulai sejak mereka berusia sekitar 50 tahun.

Hasilnya diketahui bahwa subjek yang melaporkan rata-rata tidur 6 jam atau kurang dalam semalam, 30 persen lebih mungkin mengembangkan demensia dibandingkan mereka yang secara teratur rata-rata tidur 7 jam atau lebih per malam.

Para peneliti juga menemukan bahwa hubungan tersebut tidak tergantung pada faktor-faktor yang berpotensi merancukan seperti kesehatan mental, atau perbedaan perilaku, status sosiodemografi, atau kesehatan jantung.

Tidur membantu otak membersihkan diri

Otak dan tubuh membutuhkan waktu di jam-jam terakhir tidur untuk melakukan banyak fungsi biologis, termasuk membersihkan produk limbah beracun yang menumpuk di otak.

Akumulasi jenis limbah otak tertentu yang disebut beta-amiloid tersebut, dianggap sebagai penyebab utama penyakit Alzheimer. Sebagian besar pengangkatan beta-amiloid terjadi selama tahap tidur terdalam.

Ketika tidur dibatasi hingga kurang dari tujuh jam, otak memiliki lebih sedikit waktu untuk membersihkan beta-amiloid, yang mengarah ke tingkat akumulasi racun dan meningkatkan risiko pengembangan Alzheimer.

Kesimpulan studi

Studi ini tidak menetapkan hubungan kausal antara demensia dan durasi tidur yang singkat, melainkan hanya membuat asosiasi di antara keduanya. Jadi sejauh ini kesimpulannya baru sampai kepada kurang tidur mungkin merupakan tanda awal atau faktor risiko demensia.

Studi tersebut juga  memperhitungkan penyebab lain yang diyakini dapat menyebabkan demensia, termasuk merokok, konsumsi alkohol, olahraga, massa tubuh, tingkat pendidikan, kondisi seperti diabetes, dan penyakit mental.

Adapun untuk jenis kelamin, tidak ada perbedaan mencolok yang ditemukan terkait hubungan antara waktu tidur dengan risiko terjadinya demensia di usia tua.

Baca juga: Merokok Meningkatkan Risiko Penyakit Demensia, Bagaimana Faktanya?

Tidur berkualitas untuk mencegah demensia

Kamu disarankan untuk menargetkan jadwal tidur yang konsisten dari 7 hingga 9 jam per malam. Upayakan pula untuk mengatur kamar tidur agar terasa sejuk, nyaman, gelap, dan tenang selama beristirahat.

Melakukan rutinitas santai sebelum tidur disarankan untuk dimulai satu jam sebelum tidur, dan ini tidak boleh melibatkan pemakaian perangkat yang memancarkan cahaya.

Kamu juga tidak boleh mengonsumsi kafein selama 8 jam sebelum tidur, karena bisa meningkatkan produksi hormon kortisol yang membuat sulit tidur.

Terakhir, lakukan olahraga secara rutin, dan hentikan kebiasan merokok maupun minum minuman beralkohol, untuk mengurangi risiko terjaidnya demensia di usia tua.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Nature Communication diakses pada 26 April 2021

University College London diakses pada 26 April 2021

Healthline diakses pada 26 April 2021

Medical News Today diakses pada 26 April 2021

    register-docotr