Kesehatan Mental

Mengenal Celebrity Worship Syndrome: Kekaguman Berlebih pada Idola

June 10, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Publik Indonesia dihebohkan oleh fenomena restoran cepat saji yang berkolaborasi dengan salah satu band terkenal dalam menghadirkan menu khusus. Antrean panjang di restoran itu tak dapat dihindari, hingga menimbulkan kerumuman di tengah pembatasan sosial.

Bahkan, kemasan dari menu yang dihadirkan oleh restoran tersebut sudah banyak dijual di marketplace dengan harga gila-gilaan. Kondisi ini bisa menjadi indikasi dari celebrity worship syndrome. Lantas, apa sebenarnya celebrity worship syndrome itu? Simak ulasannya berikut!

Apa itu celebrity worship syndrome?

Celebrity worship syndrome telah diidentifikasi sebagai gangguan obsesif-adiktif di mana seseorang menjadi terlalu tertarik dan terlibat dengan detail kehidupan pribadi orang terkenal. Bukan cuma artis, orang terkenal tersebut bisa juga seorang penulis, politisi, dan lain sebagainya.

Namun, pengidap celebrity worship syndrome cenderung menjadikan sosok yang sering tampil di televisi sebagai objeknya, terutama pemain film atau musisi. Istilah celebrity worship syndrome sendiri dicetuskan oleh Lynn McCutcheon pada awal 2000-an.  

Baca juga: Mengenal Doodling: Coretan yang Bisa Memberi Manfaat bagi Kesehatan Mental

Penyebab dan ciri-cirinya

Celebrity worship syndrome bisa disebabkan oleh banyak hal. Ketika berada dalam situasi krisis identitas, seseorang dapat tidak yakin dengan dirinya sendiri. Akibatnya, orang itu akan mencari sosok idola yang dijadikan sebuah panutan.

Penyebab lainnya bisa karena faktor ketertarikan berlebihan, misalnya dari sisi romantisme. Kekaguman berlebihan dapat membuat seseorang mengidap celebrity worship syndrome. Apa pun detail yang berhubungan pada sosok yang idolakan seolah-olah menjadi bagian dari hidupnya.

Namun, seseorang bisa saja mengidap celebrity worship syndrome melalui proses imitasi terhadap perilaku sosok yang diidolakan. Dengan kata lain, sosok tersebut telah menjadi role model, yang mana setiap yang dilakukan akan diimitasi atau ditiru oleh penggemarnya.

Obsesi yang terjadi secara terus-menerus bisa berpengaruh pada pikiran, yang lama-kelamaan juga berdampak pada kesehatan mental.

Faktor-faktor yang memengaruhi

Menurut sebuah penelitian, ada beberapa faktor yang bisa membuat seseorang terkena celebrity worship syndrome, di antaranya:

  • Usia: Masa-masa remaja (11-17 tahun) adalah periode di mana seseorang sangat rentan mengidap celebrity worship syndrome. Di atas 17 tahun, kemungkinannya bisa menurun.
  • Pendidikan: Orang dengan intelegensi yang tinggi bisa melihat sosok yang diidolakan secara seimbang melalui kepribadiannya, sehingga biasanya tidak terlalu berisiko terkena sindrom ini.
  • Keterampilan sosial: Orang yang memiliki keterampilan sosial rendah biasanya menjadikan sosok yang diidolakan sebagai pengisi kekosongan.
  • Jenis kelamin: Baik pria maupun wanita bisa menyukai idolanya secara berlebihan. Namun, celebrity worship syndrome lebih umum ditemukan pada wanita.
  • Faktor agama: Kesamaan agama dan tingkat religiusitas dari sosok tertentu bisa membuat seseorang mengaguminya secara berlebihan.
  • Body image: Penampilan fisik dari sosok yang diidolakan bisa membuat penggemar terkena sindrom ini, dan tak jarang yang berniat untuk meniru body style dari sosok tersebut.

Seberapa normal dalam mengagumi sosok idola?

Sebenarnya, tidak ada aturan yang menyebutkan tentang tingkat kenormalan dalam mengagumi seseorang. Hanya saja, menurut Psychology Today, jika kekaguman tersebut berubah menjadi obsesif-adiktif, itu adalah tanda dari celebrity worship syndrome.

Artinya, kamu boleh-boleh saja dalam mengidolakan seseorang. Asalkan, tidak berlebihan apalagi sampai mengorbankan banyak hal yang lebih penting.

Cara mengatasinya yang juga bisa dijadikan sebagai langkah pencegahan adalah pengendalian dan kontrol diri sendiri. Selain itu, membatasi tontonan juga perlu, agar tidak terlalu sering terpapar (exposure) oleh konten yang berisi sosok yang diidolakan.

Kamu juga harus bisa membedakan antara realita dan khayalan. Ketahui batasan mengagumi seseorang yang tidak dikenal secara personal.

Tips mengagumi sosok idola dengan benar

Mengagumi seseorang, terutama artis, bukan sebuah larangan. Hanya saja, kamu patut memahami dan menyaring mana yang harus dilakukan dan yang tidak.

Misalnya, kamu bisa menjadikan kesuksesan sosok idola sebagai motivasi untuk meraih cita-cita. Namun, tetap di jalur yang benar alias tidak dipenuhi oleh obsesi seperti dalam celebrity worship syndrome.

Kamu juga dapat menjadikan idola sebagai penyemangat dalam melakukan sesuatu, sehingga aktivitas sehari-hari bisa menjadi lebih produktif. Termasuk jika sosok yang kamu idolakan mempunyai gaya hidup sehat, tak ada salahnya untuk mencontohnya dengan cara yang benar.

Nah, itulah ulasan tentang celebrity worship syndrome yang perlu kamu ketahui. Tetap kontrol diri sendiri agar tidak terkena sindrom tersebut, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Psychology Today, diakses 10 Juni 2021, Celebrity Worship Syndrome.
  2. Research Gate, diakses 10 Juni 2021, Personality and coping: A context for examining celebrity worship and mental health.
  3. Research Gate, diakses 10 Juni 2021, Conceptualization and measurement of celebrity worship.
  4. City University of Hong Kong, diakses 10 Juni 2021, Idol worship, religiosity, and self-esteem among university and secondary students in Hong Kong.
  5. Universitas Pelita Harapan, diakses 10 Juni 2021, Celebrity worship behavior pada fans K-Pop Idol BTS. 
  6. Universitas Negeri Yogyakarta, diakses 10 Juni 2021, PENGARUH CELEBRITY WORSHIP TERHADAP IDENTITAS DIRI REMAJA USIA SMA DI KOTA YOGYAKARTA.

    register-docotr