Kesehatan Mental

Deretan Tanda dan Gejala Shopaholic, Apakah Kamu Mengalaminya?

March 4, 2021 | Arianti Khairina | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Aktivitas berbelanja tentunya menjadi kesukaan banyak orang, khususnya bagi para wanita. Banyak orang mengatakan bahwa dengan berbelanja akan mendapatkan rasa bahagia yang tidak bisa diucapkan.

Namun demikian, kebiasaan berbelanja seperti apakah yang menjadi tanda-tanda kamu seorang shopaholic?

Apa itu shopaholic?

Melansir penjelasan laman Healthline, kecanduan belanja atau shopaholic adalah bagian dari gangguan pembelian kompulsif. Kondisi ini digambarkan sebagai keharusan untuk membelanjakan uang, terlepas dari kebutuhan atau kemampuan finansial. 

Meskipun banyak orang menikmati berbelanja sebagai hadiah atau aktivitas rekreasi, belanja kompulsif adalah gangguan kesehatan mental dan dapat menyebabkan konsekuensi yang parah.

Apa saja gejala shopaholic

Dalam beberapa kasus, mungkin sulit untuk mengetahui apakah kamu seorang shopaholic atau bukan. Banyak orang suka berbelanja, banyak orang juga yang menghabiskan terlalu banyak uang saat melakukan aktivitas ini. 

Namun penting untuk diperhatikan bahwa pergi berbelanja sesekali tidak berarti kamu seorang pecandu belanja.

Seperti dilansir laman Psych Guide, ada beberapa tanda dan gejala yang ditampilkan apabila kamu seorang shopaholic

Gejala emosional dan kecanduan belanja

Pada umumnya para pecandu belanja mungkin mencoba menyembunyikan kecanduannya. Jadi, jika kamu mulai berusaha menyembunyikan tagihan kartu kredit, tas belanja, atau kuitansi, mungkin itu menjadi gejala awal seorang shopaholic.

Dalam beberapa kasus, pecandu belanja mencoba menyembunyikan kecanduan mereka dengan berbohong tentang satu hal. 

Misalnya, seseorang mungkin mengakui bahwa mereka pergi berbelanja, tetapi mereka mungkin berbohong tentang berapa banyak yang mereka habiskan. 

Tak hanya itu saja, beberapa gejala emosional lain yang mungkin bisa memperlihatkan bahwa kamu adalah seorang shopaholic atau bukan sebagai berikut ini: 

  • Menghabiskan banyak uang untuk berbelanja lebih dari yang mereka mampu
  • Belanja sebagai reaksi dari perasaan marah atau depresi
  • Berbelanja sebagai cara untuk mengurangi rasa bersalah karena berbelanja sebelumnya.
  • Merusak hubungan karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berbelanja
  • Kehilangan kendali atas perilaku belanja
  • Setelah berbelanja akan merasa bersalah, namun akan mengulanginya kembali secara terus menerus

Gejala fisik

Meskipun sebagian besar kecanduan memiliki gejala fisik yang terkait dengannya, kecanduan belanja mungkin tidak.

Dalam kebanyakan kasus, gejala yang kamu alami akibat kecanduan belanja akan lebih banyak menampilkan sifat emosional. Bukti fisik kecanduan belanja mungkin termasuk situasi keuangan yang menurun.

Dampak menjadi seorang shopaholic

Apa saja dampak yang bisa terjadi bagi seorang shopaholic? Berikut ulasannya:

Efek jangka pendek

Efek jangka pendek dari kecanduan belanja mungkin terasa positif. Dalam banyak kasus, kamu akan merasa bahagia setelah menyelesaikan aktivitas belanja.

Namun, perasaan ini sering kali bercampur dengan kecemasan atau rasa bersalah, dan dalam banyak kasus, rasa bersalah atau kecemasan dapat mendorong kamu kembali ke toko untuk berbelanja lebih banyak lagi.

Efek jangka panjang

Efek jangka panjang dari kecanduan belanja dapat bervariasi khususnya dalam intensitas dan cakupannya. Banyak pecandu belanja menghadapi masalah keuangan, dan mereka mungkin terbebani oleh utang. 

Perlu diwaspadai bahwa ketika kamu kecanduan belanja, hubungan pribadimu juga bisa rusak. Dalam kondisi shopaholic yang parah mungkin bisa sampai mengalami perceraian atau menjauhkan diri dari orang tua, anak-anak, hingga orang yang kamu cintai.

Baca juga: Cara Menggunakan Sarung Tangan saat Belanja Agar Cegah Penularan Virus Corona

Cara mengatasi shopaholic

Kecanduan belanja bisa jadi sulit untuk dikontrol, karena kegiatan berbelanja adalah bagian normal dari kehidupan sehari-hari. Setiap orang harus membeli makanan secara teratur, dan barang-barang seperti pakaian, produk pribadi, dan mobil dari waktu ke waktu. 

Bergantung pada tingkat keparahan kecanduan belanja, pembeli kompulsif pada tingkat yang parah mungkin perlu menghentikan atau mulai merencanakan pengeluaran dengan sebaik mungkin. 

Apabila kamu tidak bisa melakukannya sendiri, cobalah untuk meminta bantuan orang lain untuk mengatur keuangan.

Paling sering, kecanduan belanja dapat diobati dengan terapi perilaku dan konseling individu. Orang dengan kecanduan belanja harus mengembangkan kontrol impuls dan juga belajar mengidentifikasi pemicu.

Jika kondisi ini berasal dari depresi atau masalah kesehatan mental lainnya, pengobatan konseling dapat membantu.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Healthline.com (2016) diakses pada 3 Maret 2021.  Shopping Addiction
  2. Psychguides.com (2021) diakses pada 3 Maret 2021. Shopping Addiction Symptoms, Causes and Effects
  3. Verywellmind.com (2020) diakses pada 3 Maret 2021. Traits and Patterns of Shopaholics 
    register-docotr