Kulit & Perawatan Tubuh

Mengenal Gejala Penyakit Kusta Agar Terhindar dari Kecacatan

August 23, 2020 | Dani Kosasih | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Gejala penyakit kusta pada awalnya selalu ditandai oleh keberadaan bercak putih atau merah di kulit. Bercak tersebut bersifat ringan dan tidak gatal, tidak nyeri, tetapi menyebabkan mati rasa.

Bercak sebagai gejala penyakit kusta seringkali ditemukan di bagian siku. Selain itu, ada pula bercak yang biasa ditemukan di sekitar tulang pipi (wajah), telinga, atau bahu (badan).

Gejala utama penyakit kusta

Gejala utama pada penderita kusta antara lain:

  • Mengalami kelemahan otot
  • Mengalami mati rasa di tangan, lengan, kaki, dan tungkai
  • Mengalami lesi kulit
  • Mengalami penurunan sensasi saat disentuh (mati rasa) akibat dari lesi kulit

Selain timbul bercak, gejala penyakit kusta lain adalah munculnya bintil kemerahan yang tersebar di beberapa bagian tubuh.

Gejala lainnya juga bisa dilihat dari kulit yang terasa kering dan rambut alis yang merontok baik seluruhnya atau sebagian.

Gejala penyakit kusta sering diabaikan

Banyak orang masih sering mengabaikan gejala awal kusta karena dirasa masih tidak mengganggu. Pengabaian gejala awal ini sangat berisiko menularkan kusta ke orang lain karena tidak diobati.

Penderita kusta bisa menularkan kumannya melalui percikan cairan pernafasan, maupun kontak melalui kulit yang luka.

Melansir laman Kemkes.go.id, seringkali penderita kusta baru datang ke fasilitas pelayanan kesehatan setelah terlambat dan dalam keadaan cacat.

Rentang waktu kemunculan gejala kusta

Bakteri penyebab kusta memiliki masa perkembangbiakan cukup lama karena berkembang biak dengan sangat lambat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit ini bahkan memiliki masa inkubasi rata-rata selama lima tahun, dengan hitungan waktu antara awal terinfeksi dan munculnya gejala pertama.

Variasi gejala dapat muncul dalam 1 tahun tetapi juga dapat memakan waktu hingga 20 tahun atau bahkan lebih.

Apa itu kusta?

Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini paling utama menyerang kulit, saraf tepi, mukosa saluran pernapasan bagian atas, dan mata.

Kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan. Bahkan, melakukan pengobatan pada tahap awal dapat mencegah terjadinya kecacatan akibat kusta.

Klasifikasi kusta menurut WHO

WHO mengategorikan penyakit kusta berdasarkan jenis dan jumlah area kulit yang terkena, yaitu:

Kategori pertama adalah paucibacillary

Kategori ini didasari oleh adanya temuan lima lesi atau kurang dan tidak ada bakteri yang terdeteksi pada sampel kulit

Kategori kedua adalah multibasiler

Kategori ini didasari oleh temuan lebih dari lima lesi dengan bakteri yang terdeteksi di apusan kulit, atau keduanya.

Kusta di Indonesia

Hingga saat ini masih ada beberapa wilayah di Indonesia yang belum benar-benar bebas dari kusta.

Artinya, prevalensi kusta di beberapa wilayah di Indonesia masih lebih dari 1 per 10.000 penduduk. Beberapa wilayah itu adalah Jawa Timur, Sulawesi, Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara.

Sebagai informasi, angka prevalensi kusta di Indonesia saat ini 0,71 per 10.000 penduduk dengan total 18.248 kasus terdaftar.

Melansir laman kemkes.go.id, obat kusta telah disediakan oleh pemerintah secara gratis. Saat ini yang dibutuhkan hanyalah motivasi dan dukungan keluarga serta kepatuhan penderita dalam menjalani pengobatan.

Jika kamu memiliki pertanyaan terkait gejala penyakit kusta, silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

1. kemkes.go.id (2018). Diakses 19 Agustus 2020. https://www.kemkes.go.id/article/view/18013100003/kusta-masih-ada-di-indonesia.html

2. kemkes.go.id. Diakses 19 Agustus 2020. https://www.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infoDatin-kusta-2018.pdf

3. who.int. Diakses 19 Agustus 2020. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/leprosy

4. healthline.com (2018). Diakses 19 Agustus 2020. https://www.healthline.com/health/leprosy#types

5. who.int. Diakses 19 Agustus 2020. https://www.who.int/lep/classification/en/

    Berita Terkait
    register-docotr