Info Sehat

Mi Instan Disebut-sebut Dapat Menyebabkan Tumor Payudara, Benarkah?

April 16, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Mi instan menjadi kegemaran banyak orang. Namun, terlalu sering makan mi instan dikatakan bisa menyebabkan tumor di payudara. Bagaimana faktanya?

Belum lama ini terdapat sebuah video viral di TikTok mengenai kisah seorang gadis yang didiagnosis terkena fibroadenoma (FAM). Dalam video tersebut, ia menceritakan bahwa kondisinya disebabkan oleh kebiasaannya dalam mengonsumsi makanan pedas dan mi instan.

Perlu kamu tahu bahwa FAM merupakan tumor payudara yang bersifat jinak. Untuk mengetahui informasi selengkapnya, yuk simak ulasannya di sini!

Apa itu FAM?

Fibroadenoma atau juga yang disebut sebagai fibroadenoma mammae (FAM) adalah benjolan bertekstur padat pada payudara yang bersifat non-kanker. Kondisi ini lebih sering memengaruhi wanita yang berusia antara 15 dan 35 tahun.

Fibroadenoma dapat muncul di salah satu atau kedua payudara dan biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Fibroadenoma memiliki ukuran yang bervariasi, dan dapat membesar atau menyusut dengan sendirinya.

Tanda dan gejala fibroadenoma

Benjolan fibroadenoma memiliki beberapa tanda-tanda tertentu, seperti:

  • Berbentuk bulat dengan batas tepi yang jelas
  • Mudah digerakkan
  • Terasa kenyal atau padat
  • Biasanya tidak terasa sakit

Pada sebagian kasus fibroadenoma, ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dirasakan.

Apa penyebab fibroadenoma?

Pada dasarnya, penyebab pasti dari kondisi ini masih belum diketahui, namun mungkin saja terkait dengan hormon reproduksi. Sebab, fibroadenoma lebih sering berkembang selama masa reproduksi.

Dikutip dari Mayo Clinic, benjolan dapat berukuran lebih besar selama masa kehamilan atau dengan penggunaan terapi hormon. Benjolan mungkin saja menyusut setelah menopause, yakni ketika kadar hormon menurun.

Jenis-jenis fibroadenoma

Fibroadenoma terdiri dari beberapa jenis, salah satunya adalah simple fibroadenoma. Simple fibroadenoma tidak meningkatkan risiko kanker payudara dan terlihat sama secara keseluruhan ketika dilihat di bawah mikroskop.

Selain simple fibroadenoma, juga terdapat beberapa jenis fibroadenoma lainnya yang perlu untuk diketahui, ini meliputi:

  • Complex fibroadenoma: Pada kasus complex fibroadenoma terdapat perubahan, misalnya saja pertumbuhan berlebih dari sel atau hyperplasia yang dapat tumbuh dengan cepat
  • Juvenile fibroadenoma: Fibroadenoma jenis ini adalah jenis benjolan payudara yang paling umum ditemukan pada anak perempuan dan remaja dengan usia antara 10 dan 18 tahun. Fibroadenoma jenis ini dapat membesar, namun seiring dengan waktu dapat mengalami penyusutan atau bahkan menghilang
  • Giant fibroadenoma: Giant fibroadenoma dapat tumbuh hingga berukuran lebih dari 2 inci. Fibroadenoma jenis ini mungkin memerlukan prosedur pengangkatan karena dapat menekan atau mengganti jaringan payudara lainnya
  • Phyllodes tumor: Phyllodes tumor biasanya jinak. Akan tetapi, beberapa Phyllodes tumor dapat berkembang menjadi kanker (ganas). Prosedur pengangkatan biasanya direkomendasikan

Kebanyakan fibroadenoma tidak memengaruhi risiko kanker payudara. Namun, pada kasus complex fibroadenoma atau phyllodes tumor risiko kanker payudara mungkin sedikit meningkat.

Diagnosis pada fibroadenoma

Terdapat beberapa tes untuk mengevaluasi benjolan pada payudara, yakni diagnostic mammography dan USG payudara, berikut adalah penjelasannya masing-masing:

Diagnostic mammography

Mammography menggunakan bantuan sinar-X untuk menghasilkan gambar (mammogram) di sekitar jaringan payudara. Fibroadenoma mungkin muncul pada mammogram sebagai massa payudara dengan tepi yang bulat, berbeda jika dibandingkan dengan jaringan payudara di sekitarnya

USG payudara

Pada prosedur ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar pada bagian dalam payudara. Ultrasonografi atau USG payudara mungkin akan direkomendasikan selain mammogram untuk mengevaluasi benjolan payudara apabila jaringan payudara padat.

USG payudara dapat membantu dokter untuk menentukan apakah benjolan payudara padat atau berisi cairan. Apabila padat, kemungkinan fibroadenoma. Namun, benjolan berisi cairan cenderung menjadi kista.

Benarkah mi instan bisa menyebabkan tumor payudara?

Perlu kamu ketahui bahwa mengonsumsi mi instan secara berlebihan memang sebaiknya harus dihindari.

Sebuah studi menemukan bahwa konsumsi makanan olahan tinggi atau ultraprocessed foods, seperti nugget ayam ataupun mi instan dapat meningkatkan risiko kanker.

“Asupan makanan ultraprocessed dikaitkan dengan risiko kanker yang lebih tinggi secara keseluruhan,” tulis tim peneliti dalam laporan yang diterbitkan di British Medical Journal’s (BMJ).

Lebih lanjut, peneliti juga mengatakan bahwa peningkatan 10 persen dalam proporsi makanan ultraprocessed dalam makanan dikaitkan dengan peningkatan signifikan, yakni lebih dari 10 persen pada risiko keseluruhan serta kanker payudara.

Adapun beberapa makanan yang terkait dengan risiko kanker di antaranya adalah soda dan minuman yang ditambahkan pemanis, mi dan sup instan, nugget ayam dan ikan, hingga frozen meal.

Peneliti juga mencatat bahwa ada beberapa cara makanan olahan secara teori dapat meningkatkan risiko kanker.

Salah satunya adalah makanan ultraprocessed memiliki kandungan lemak total, lemak jenuh, serta tambahan gula atau garam yang tinggi. Namun, serat dan kepadatan vitaminnya rendah.

Itulah beberapa informasi mengenai keterkaitan mi instan dengan tumor payudara. Jika kamu memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai kondisi ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Healthline (2018). Diakses pada 15 April 2021. Fibroadenoma of Breast

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 15 April 2021. Fibroadenoma 

Nbcnews.com (2018). Diakses pada 16 April 2021. Highly processed foods linked to cancer risk, study finds 

Thebmj (2018). Diakses pada 16 April 2021. Consumption of ultra-processed foods and cancer risk: results from NutriNet-Santé prospective cohort

    register-docotr