Share This Article
Gangguan identitas disosiatif atau dissociative identity disorder (DID) merupakan gangguan mental yang terbilang parah. Mengapa? Karena kondisi ini sampai mengganggu ingatan (amnesia), identitas, emosi, persepsi, perilaku, dan rasa pada diri si penderitanya. Faktanya, sebanyak 1,5 persen populasi global didiagnosis dengan gangguan ini.
DID sendiri menggantikan istilah multiple personality disorder (MPD) atau gangguan kepribadian ganda yang tidak lagi dipakai sejak 1994. Sejumlah laporan kasus di beberapa negara bahkan mengaitakan penderita kepribadian ganda sebagai individu yang sedang ‘kerasukan dunia luar’ atau ‘kerasukan setan’.
Lalu seperti apa tanda seseorang memiliki kepribadian ganda, penyebab dan bagaimana pengobatannya, simak penjelasannya dalam artikel ini.
BACA JUGA: Ilusi Kepribadian, Apakah Alter Ego Berbahaya?
Tanda Seseorang dengan Kepribadian Ganda
The Diagnostic and Statistical Manual (DSM-5) mengkriteriakan seseorang dengan gangguan identitas disosiatif adalah mereka yang memiliki lebih dari dua kepribadian yang berbeda dan bahkan dapat bertolak belakang. Kepribadian lain ini dinamakan sebagai alter ego, yakni kepribadian yang bahkan memiliki nama, identitas, peran, dan fungsi yang berbeda.
Penderita kepribadian ganda seringkali tidak sengaja dan tidak menginginkan adanya pergantian ‘pribadi’ yang lain dalam dirinya. Ditandai misalnya tiba-tiba ada perubahan tentang pilihan makanan, aktivitas, dan pakaian kesukaan.
Penderita juga kerap merasa adanya perubahan fisik, yakni merasa jadi anak kecil, lawan jenis, atau seseorang yang bertubuh besar dan berotot. Semua perubahan itu bisa tiba-tiba muncul lalu kembali ke pribadi semula.
Ciri-ciri seseorang dengan kepribadian ganda:
1.Punya lebih dari dua kepribadian yang berbeda
Peralihan dari kepribadian yang satu ke pribadi yang lain seringkali ditandai dengan adanya perubahan perilaku, ingatan dan pemikiran si penderita. Adanya bahasa tubuh tertentu juga bisa menjadi tanda adanya peralihan seperti mengedipkan mata, memutar mata, dan perubahan postur tubuh.
Orang lain bisa melihat tanda dan gejala tersebut, dan bahkan si penderita juga bisa merasakan dan melaporkannya untuk mendapatkan bantuan.
2. Amnesia atau hilang ingatan
Seseorang dengan kepribadian ganda kerap mengalami hilang ingatan terhadap peristiwa sehari-hari dan bahkan yang belum lama dialami, informasi seputar pribadi, dan peristiwa traumatis yang pernah dialami di masa lalu.
Gejala-gejala tersebut pada akhirnya bisa memberikan dampak buruk yang signifikan dalam kehidupan sosial si penderitanya, misalnya dalam dunia pekerjaan atau pergaulan sosial.
Penyebab Muncul dan Berkembangnya Gangguan Identitas Disosiatif
DID disebabkan antara lain:
1. Mengalami pengalaman yang luar biasa berbeda. Misalnya ikatan bonding yang terganggu bahkan terputus antara anak dengan orang tua atau pengasuhnya.
2. Mengalami peristiwa traumatis. Seperti kekerasan fisik dan pelecehan yang terjadi di masa kanak-kanak, biasanya sebelum usia 5 atau 6 tahun. Pelecehan termasuk pelecehan seksual, penelantaraan, dan pengabaian terhadap anak
3. Mengalami trauma medis. Misalnya pernah menjalani prosedur medis yang menyakitkan dan berkepanjangan pada usia dini.
4.   Kondisi lingkungan yang tidak stabil dan bahkan cenderung membahayakan. Ini menyebabkan anak akhirnya menciptakan upaya penenangan mandiri, misalnya dengan menciptakan alter ego atau pribadi lain yang diberi nama, identitas dan fungsi yang berbeda.
Komplikasi DID
Bukan sekadar perilaku yang berubah dan lupa ingatan, pemilik kepribadian ganda bisa mengalami komplikasi serius bahkan hingga membahayakan nyawanya sendiri. Seperti:
1.Tindakan melukai diri sendiri (self harm) yang bisa berkembang menjadi keinginan untuk menyudahi hidup atau bunuh diri. Lebih dari 70 persen pasien rawat jalan dengan gangguan identitas disosiatif pernah mencoba bunuh diri.
2.Menggunakan obat dan zat-zat berbahaya yang bisa meningkatkan risiko bahaya terhadap diri sendiri.
Pengobatan dan Penanganan DID
Pengobatan gangguan identitas disosiatif mencakup upaya dasar untuk menangani gangguan kepribadian yang dilakukan melalui sejumlah pendekatan, seperti:
-Memastikan penderita mendapatkan rasa aman dan stabil. Ini erat kaitannya dengan risiko bunuh diri yang tinggi pada penderita. Penting untuk mengurangi risiko tersebut.
-Dilatih menghadapi, menata dan mengatasi ingatan traumatis. Fokusnya yakni terus mengakses kembali ingatan traumatis dengan identitas alternatif yang dapat mengingat.
–Direhabilitasi, yakni untuk didekatkan dan disatukan kembali dengan kepribadiannya yang asli.
BACA JUGA: Apakah Kamu Kerap Berperilaku Impulsif atau Tidak? Ketahui Ini Tanda-tandanya
Gangguan kepribadian ganda jelas bukan sedang kesurupan mahluk astral, melainkan ada luka masa lalu yang mungkin belum sembuh dan justru terus dipupuk agar berkembang. Penting untuk mencari bantuan medis agar gangguan ini tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Kalau kamu merasakan ada pribadi lain dalam diri yang justru kerap mengambil kendali atas dirimu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahlinya melalui layanan telekesehatan Good Doctor Indonesia. Klik link ini untuk berkonsultasi dengan dokter mitra terpercaya kami dalam 24/7.
Referensi:
1.NCBI, Dissociative Identity Disorder, diakses 28 Januari 2026.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK568768
2.Psychiatry.org , What Are Dissociative Disorders?, diakses 28 Januari 2026.
https://www.psychiatry.org/patients-families/dissociative-disorders/what-are-dissociative-disorders
3.Traumadissociation.com, Dissociative Identity Disorder (formerly Multiple Personality Disorder), diakses 28 Januari 2026. https://traumadissociation.com/dissociativeidentitydisorder

