Info Sehat

Hari Thalasemia Sedunia: Ini Data Penderita di Indonesia dan Penanganannya Secara Nasional

May 7, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Thalasemia masih menjadi penyakit yang sering dialami masyarakat Indonesia karena kesadaran dan pengetahuan yang kurang. Perlu diketahui, thalasemia tidak menular namun merupakan salah satu penyakit turunan.

Beberapa penderitanya bisa mengalami gejala ringan hingga parah dan mengancam jiwa. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit thalasemia yuk simak penjelasan berikut.

Baca juga: Deteksi Penyakit dari Lidah, Mulai dari Perubahan Warna hingga Teksturnya

Apa itu thalasemia?

Dilansir dari Medical News Today, thalasemia adalah kelainan darah bawaan yang memengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi hemoglobin dan sel darah merah. Orang dengan penyakit thalasemia akan memiliki terlalu sedikit sel darah merah dan terlalu sedikit hemoglobin.

Terdapat tiga jenis utama thalasemia dengan empat subtipe, yakni beta thalassemia yang meliputi subtipe mayor dan intermedia, alpha thalassemia yang meliputi subtipe hemoglobin D dan hydrops fetalis, serta thalasemia minor. 

Beberapa gejala yang paling umum dari penyakit thalasemia, termasuk kelainan bentuk tulang terutama wajah, urine berwarna gelap, pertumbuhan dan perkembangan tertunda, kelelahan berlebih, serta penyakit kuning.

Tidak semua orang mengalami gejala terlihat, tetapi umumnya cenderung muncul di masa kanak-kanak atau remaja. Karena itu, gejala thalasemia tidak akan terlihat sampai usia 6 bulan pada kebanyakan bayi dengan thalasemia. 

Update statistik terbaru kasus thalasemia di Indonesia

Indonesia termasuk negara dengan prevalensi thalasemia mencapai sekitar 3,8 persen dari seluruh populasi. Dikutip dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berdasarkan data dari Yayasan Thalassemia Indonesia terjadi peningkatan kasus terus menerus sejak tahun 2012 hingga 2018.

Saat ini, terdapat lebih dari 10.531 pasien thalasemia yang ada di Indonesia, di mana diperkirakan sekitar 2.500 bayi lahir dengan kondisi tersebut setiap tahunnya. Sementara itu, diketahui pula bahwa provinsi Jawa Barat menjadi daerah dengan prevalensi thalasemia terbanyak se-Indonesia.

Dari data Perhimpunan Orangtua Penderita Thalasemia Indonesia atau POPTI Jawa Barat tahun 2018, tercatat ada sekitar 3.636 penyandang thalasemia berat di Indonesia.

Jumlah ini cukup tinggi dibandingkan daerah lainnya dan diperkirakan akan terus meningkat jika tidak dilakukan pencegahan dini. 

Penanganan secara nasional terhadap masalah thalasemia

Penanganan thalasemia yang konstan mungkin diperlukan tergantung pada jenisnya. Perlu diketahui, thalasemia termasuk penyakit turunan sehingga tidak ada pencegahan yang dapat dilakukan. 

Salah satu penanganan secara nasional yang dapat diberikan pada penderita thalasemia adalah pemberian transfusi darah. Selain itu, dokter juga akan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang, memberikan obat-obatan, dan suplemen.

Dokter biasanya menginstruksikan penderita thalasemia untuk tidak mengonsumsi vitamin atau suplemen yang mengandung zat besi terutama jika transfusi darah telah diberikan.

Hal ini dikarenakan, zat besi ekstra dari vitamin dan transfusi darah bisa menumpuk di jaringan sehingga akan berakibat fatal. Jika kamu menerima transfusi darah, maka mungkin memerlukan terapi kelasi.

Terapi ini melibatkan injeksi bahan kimia yang mengikat besi dan logam berat lainnya di mana dapat membantu menghilangkan zat besi ekstra dari tubuh.

Hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi kasus thalasemia

Peningkatan kesadaran dan penyebarluasan kewaspadaan pada masyarakat Indonesia terhadap thalasemia merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kasusnya. Beberapa hal lain yang perlu dilakukan untuk membantu mengurangi kasus thalasemia, yakni:

Lakukan deteksi dini

Deteksi dini terhadap penyakit thalasemia sangat penting dilakukan untuk mengetahui status seseorang apakah termasuk pembawa sifat atau tidak. Hal ini diperlukan karena pembawa sifat thalasemia sama sekali tidak bergejala.

Periksakan diri 

Idealnya, sebelum menikah atau memiliki keturunan kamu perlu mengetahui riwayat keluarga.

Lakukan juga pemeriksaan darah untuk mengetahui ada tidaknya pembawa sifat thalasemia dalam tubuh sedini mungkin. Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk menghindari pernikahan antara sesama pembawa sifat. 

Baca juga: Pertolongan Pertama saat Tubuh Tidak Sengaja Kemasukan Racun

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Medical News Today (2018), diakses 6 Mei 2021. Everything you need to know about thalassemia
  2. Healthline (2019), diakses 6 Mei 2021. Everything You Need to Know About Thalassemia
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2019), diakses 6 Mei 2021. Angka Pembawa Sifat Talasemia Tergolong Tinggi
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2019), diakses 6 Mei 2021. Hari Talasemia Sedunia 2019 : Putuskan Mata Rantai Talasemia Mayor
  5. Repository.upi.edu (2017), diakses 6 Mei 2021. MEKANISME KOPING KELUARGA DALAM MERAWAT ANAK DENGAN THALASEMIA MAYOR USIA 6-
    12 TAHUN DI POPTI KOTA BANDUNG
    register-docotr