Info Sehat

Mengapa Demam Berdarah dan Tipes Bisa Terjadi di Waktu yang Bersamaan?

April 24, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Demam berdarah (DBD) dan tipes adalah dua kondisi yang sangat bertolak belakang. Meskipun demikian dalam beberapa kasus, DBD dan tipes datang dalam waktu yang bersamaan. Lantas, mengapa hal tersebut terjadi?

Baca juga: Ampuh Percepat Penyembuhan Demam Berdarah, Coba 8 Makanan Penuh Nutrisi ini

Sekilas mengenai DBD dan tipes

Demam berdarah (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Virus dengue ditularkan oleh nyamuk terutama dari spesies Aedes aegypti atau Aedes albopictus.

DBD bisa menyebabkan beberapa gejala, ini meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, tulang, atau sendi, serta munculnya ruam atau bintik-bintik merah pada kulit.

Sementara itu, tipes atau demam tifoid adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Infeksi bakteri dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminsi bakteri Salmonella typhi.

Tipes juga bisa menimbulkan gejala tertentu, seperti demam tinggi, sakit kepala, sakit perut, hingga sembelit atau diare.

Apa penyebab seseorang bisa terkena DBD dan tipes bersamaan?

Baik DBD ataupun tipes memang memiliki perbedaan. Namun seperti yang sudah dijelaskan bahwa pada beberapa kasus, DBD dan tipes dapat terjadi secara bersamaan.

Pada dasarnya, penyebab pasti dari DBD dan tipes yang terjadi secara bersamaan masih belum diketahui dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Namun, terdapat beberapa faktor yang diperkirakan dapat menyebabkan DBD dan tipes terjadi bersamaan, di antaranya adalah:

1. Sistem kekebalan tubuh yang menurun

Sistem kekebalan tubuh yang menurun juga dapat menyebabkan seseorang yang terkena demam berdarah rentan terserang penyakit lainnya, misalnya saja dapat menyebabkan DBD dan tipes bersamaan.

Perlu kamu ketahui bahwa untuk melawan infeksi, sistem kekebalan memproduksi antibodi untuk menetralkan partikel virus dengue. Kemudian, sistem pelengkap akan diaktifkan untuk membantu antibodi dan sel darah putih mengeluarkan virus.

Respons imun juga termasuk sel T sitotoksik (limfosit) yang berperan dalam mengenali dan membunuh sel yang terinfeksi. Agar kamu lebih memahami bagaimana cara virus dengue memengaruhi sistem kekebalan, berikut adalah penjelasan selengkapnya.

Baca juga: Jangan Keliru, Ini Lho Perbedaan Gejala Tipes dan DBD

Dua bagian sistem kekebalan tubuh

Pertahanan tubuh dalam melawan patogen yang menyerang adalah sistem kekebalan yang terdiri dari dua bagian, yakni sistem kekebalan bawaan (memberikan tubuh perlindungan langsung).

Respons imun bawaan dengan cepat mengenali patogen, tetapi tidak memberikan kekebalan jangka panjang terdapat patogen yang menyerang.

Kemudian juga terdapat sistem kekebalan adaptif (menghasilkan sel yang secara spesifik mampu menargetkan sel patogen dan yang terinfeksi. Sel-sel yang diproduksi oleh sistem kekebalan adaptif termasuk sel B yang mensekresi antibodi dan sel T sitotoksik.

Sistem kekebalan adaptif membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons patogen. Akan tetapi, sistem kekebalan adaptif memberikan kekebalan jangka panjang terhadap patogen.

Bagaimana virus dengue menyerang sistem kekebalan?

Nyamuk dapat menyuntikkan virus dengue ke dalam aliran darah. Virus kemudian menginfeksi sel kulit di dekatnya yang dikenal sebagai keratinosit. Tak hanya itu, virus dengue juga dapat bereplikasi di dalam sel kekebalan khusus yang terletak di kulit, yakni sel Langerhans.

Sel Langerhans sendiri berperan dalam mendeteksi patogen yang menyerang dan menampilkan molekul dari patogen (antigen) pada permukaannya.

Sel-sel Langerhans kemudian melakukan perjalanan ke kelenjar getah bening dan mengingatkan sistem kekebalan untuk memicu respons kekebalan karena terdapat patogen di dalam tubuh.

Sel Langerhans yang mengaktifkan respons imun bawaan memperingatkan dua jenis sel darah putih, yakni monosit dan makrofag untuk melawan virus. Biasanya, kedua sel darah putih tersebut akan menghancurkan patogen. Namun, keduanya juga dapat terinfeksi oleh virus.

Virus dengue dapat “menipu” sistem kekebalan untuk menyiasati pertahanannya. Meskipun demikian, sistem kekebalan memiliki pertahanan tambahan untuk melawan virus.

Nah, pada saat respons imun bawaan ataupun adaptif melawan infeksi dengue, tubuh dapat pulih dari demam berdarah.

2. Kerusakan endotel usus

Kerusakan enditel usus juga bisa menyebabkan dbd dan tipes bersamaan. Pada dasarnya, penyebab koinfeksi bakteri pada kasus demam berdarah masih belum sepenuhnya dipahami.

Namun diketahui bahwa virus demam berdarah dapat menyebabkan proliferasi sel T terhadap respons mitogen berkurang.

Kemungkinan interaksi antara demam berdarah dan tipes terjadi akibat kerusakan endotel usus atau perdarahan pada usus. Alasan lainnya adalah kerusakan pada penghalang mukosa usus. Seperti dikutip dari laman Bangladesh Journals Online.

Itulah beberapa informasi mengenai penyebab dbd dan tipes bersamaan. Jika kamu memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait dengan kondisi ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Bangladesh Journals Online (2019). Diakses pada 19 April 2021. Dengue Typhoid Co-infection: a New Threat 

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 19 April 2021. Dengue fever 

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 19 April 2021. Typhoid fever 

Nature.com. Diakses pada 19 April 2021. Host Response to the Dengue Virus 

World Health Organization (2020). Diakses pada 19 April 2021. Dengue and severe dengue 

NCBI (2014). Diakses pada 19 April 2021. Dengue and Typhoid Co-infection– Study from a Government Hospital in North Delhi 

Research Gate (2016). Diakses pada 19 April 2021. Dengue and typhoid co-infection: A case report from a tertiary care hospital in South India

    register-docotr