Info Sehat

Beda Post Mortem dan Ante Mortem dalam Identifikasi Jenazah

January 13, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Proses identifikasi korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih berlanjut untuk mengenali identitas setiap korban yang ditemukan.

Dilansir dari Kompas, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, identifikasi ini merupakan pencocokan antara data ante mortem dan post mortem.

Kedua istilah ini sering dipakai dalam proses pengenalan identitas korban bencana ataupun kecelakaan. Lalu apa perbedaan di antara keduanya?

Baca juga: 5 Tips Hidup Sehat meski Hanya Punya Satu Ginjal

Peran pemeriksaan forensik dalam identifikasi korban kecelakaan

Setiap musibah yang mengakibatkan munculnya korban dalam jumlah banyak, akan menyulitkan pihak berwenang untuk mengenali identitas masing-masing korban. Ini dikarenakan tak jarang kondisi jasad yang ditemukan sudah tidak utuh atau bahkan hancur.

Padahal proses ini penting, karena selain menyangkut masalah kemanusiaan, Keputusan Bersama Menkes dan Kapolri tahun 2004, juga menyebutkan bahwa setiap korban meninggal saat bencana massal harus diidentifikasi.

Oleh karena itu, diperlukan proses pemeriksaan forensik yang rinci serta menyeluruh untuk membantu mengenali identitas korban kecelakaan maupun bencana alam.

Perbedaan ante mortem dan post mortem

Dalam praktiknya sendiri, pemeriksaan forensik memerlukan pemahaman yang luas tentang perbedaan antara post mortem dan ante mortem. Tujuannya agar hasil identifikasi yang menjadi tujuan akhir bisa semakin akurat.

Apa itu ante mortem?

Dilansir dari IDIOnline, ante mortem adalah data-data yang dimiliki sebelum korban meninggal. Umumnya ini bisa diperoleh dari keluarga terdekat, misalnya sidik jari yang bisa ditemukan pada surat pribadi semacam SIM, Ijazah, atau KTP.

Fase pengumpulan data ante mortem dilakukan oleh tim kecil yang meminta masukan data sebanyak-banyaknya dari keluarga korban. Data yang diminta mulai dari pakaian terakhir yang dikenakan, sampai ciri-ciri khusus seperti tanda lahir, tato, tahi lalat, atau bekas operasi.

Apabila tidak ada data DNA korban, maka tim akan melakukan pencocokan DNA dari keluarga kandung. Misalnya, orang tua dan anak-anak, umumnya ini dilakukan melalui pengambilan sampel darah.

Terakhir, data ante mortem kemudian diisikan ke dalam yellow form, yakni dokumen resmi yang dijadikan acuan pemeriksaan mayat berdasarkan standar Interpol.

Apa itu post mortem?

Dilansir dari NHS, post mortem atau autopsi adalah pemeriksaan tubuh setelah kematian. Ini dilakukan sesegera mungkin, yakni dalam 2 hingga 3 hari setelah jenazah ditemukan. Namun, bisa juga lebih cepat, apabila kondisi mayat yang ditemukan sangat hancur dan membusuk.

Berlangsung dengan membedah mayat, post mortem memiliki tujuan utama untuk menentukan penyebab kematian. Ini termasuk memberikan informasi yang berguna tentang bagaimana, kapan dan mengapa seseorang meninggal.

Dalam prosesnya, tim identifikasi akan mencari data post mortem sebanyak-banyaknya dari jenazah. Mulai dari sidik jari, pemeriksaan terhadap gigi, seluruh tubuh, dan barang bawaan yang melekat pada mayat.

Tak jarang dilakukan pula pengambilan sampel jaringan untuk pemeriksaan DNA. Data ini lalu dimasukkan ke dalam pink form berdasarkan standar interpol. Penelusuran data post mortem dapat berlangsung bersamaan dengan fase pengumpulan data anti mortem.

Baca juga: Tak Usah Malu, Ini Penyebab Penis Susah Ereksi dan Cara Mengatasinya

Rekonsiliasi data ante mortem dan post mortem

Setelah semua data baik ante mortem dan post mortem telah diperoleh, pihak berwenang kemudian akan mencocokkan keduanya untuk mendapatkan hasil identifikasi jenazah yang akurat.

Namun, proses ini bukan berarti identifikasi korban kecelakaan telah selesai. Masih ada satu fase lagi yang disebut dengan istilah fase debriefing, ini dilakukan 3 sampai 6 bulan setelah proses identifikasi selesai.

Fase ini adalah waktu di mana semua orang yang terlibat dalam proses identifikasi berkumpul untuk melakukan evaluasi terhadap semua hal yang berkaitan dengan pelaksanaan proses identifikasi korban.

Semua faktor akan diulas termasuk dari sisi sarana, prasarana, kinerja, prosedur, serta hasil identifikasi itu sendiri. Proses ini diharapkan bisa menemukan kendala apa saja yang menjadi hambatan selama proses identifikasi jenazah berlangsung untuk diperbaiki di masa depan.

Jangan ragu untuk konsultasikan masalah kesehatanmu bersama dokter terpercaya di Good Doctor. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Identifikasi Korban Bencana Massal: Praktik DVI Antara Teori dan Kenyataan, ejournal.unud.ac.id/new/detail-39-61-indonesian-journal-of-legal-and-forensic-sciences-ijlfs.html, diakses pada 12 Januari 2021

Mengenal Ante mortem Pada Proses Identifikasi Korban Bencana, http://www.idionline.org/artikel/mengenal-ante-mortem-pada-proses-identifikasi-korban-bencana/ diakses pada 12 Januari 2021

Autopsy (Post Mortem Examination, Necropsy), https://www.medicinenet.com/autopsy/article.htm diakses pada 12 Januari 2021

Post-mortem, https://www.nhs.uk/conditions/post-mortem/ diakses pada 12 Januari 2021

The differences between postmortem and antemortem injuries, https://www.grin.com/document/381247#:~:text=Post%2Dmortem%20refers%20to%20a,the%20occurrence%20of%20the%20death.&text=Ante%2Dmortem%20injuries%20occur%20before,events%20occurring%20prior%20to%20death. diakses pada 12 Januari 2021

Satu Penumpang Sriwijaya Air SJ 182 Teridentifikasi, Atas Nama Okky Bisma, https://megapolitan.kompas.com/read/2021/01/11/18184261/satu-penumpang-sriwijaya-air-sj-182-teridentifikasi-atas-nama-okky-bisma diakses pada 12 Januari 2021

    register-docotr