Covid-19

Viral: Resep Obat COVID-19 di Media Sosial, Apakah Aman atau Justru Berbahaya?

July 2, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Sekarang ini, banyak beredar mengenai resep obat untuk mengatasi COVID-19 di media sosial. Obat tersebut bahkan sudah disertai dengan takaran masing-masing, padahal terdapat obat keras yang mengharuskan resep dari dokter untuk mengonsumsinya.

Perlu diketahui, obat keras yang dikonsumsi bebas bisa menyebabkan efek samping bagi kesehatan. Nah, untuk mengetahui bahaya konsumsi obat keras tanpa resep dokter yuk simak penjelasan lebih lengkapnya berikut.

Baca juga: Moms Wajib Tahu, Ini Jenis Tes COVID-19 yang Dianjurkan untuk Anak

Viral, antibiotik diresepkan sebagai obat COVID-19

Salah satu resep obat COVID-19 yang beredar di media sosial adalah antibiotik. Dilansir dari Healthline, antibiotik adalah obat resep bertujuan untuk membantu mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Antibiotik bekerja dengan cara menghentikan bakteri bertumbuh dan berkembang biak. Perlu diingat, antibiotik termasuk obat keras di mana penggunanya harus dalam pantauan dokter.

Apa saja bahaya konsumsi obat keras tanpa resep dokter?

Jika dikonsumsi secara bebas, antibiotik bisa menyebabkan efek samping antara lain sebagai berikut:

Masalah pencernaan

Masalah dengan pencernaan merupakan salah satu efek samping yang paling sering dilaporkan dari penggunaan antibiotik. Beberapa gejala dari masalah pencernaan, meliputi mual, gangguan pencernaan, muntah, diare, kehilangan selera makan, dan kram atau nyeri perut.

Sebagian besar masalah pencernaan hilang begitu seseorang berhenti mengonsumsi antibiotik. Namun, jika kamu mengalami gejala parah atau persisten maka harus segera berbicara dengan dokter.

Gejala parah yang berkaitan dengan konsumsi antibiotik adalah darah atau lendir dalam tinja, diare parah, kram atau nyeri perut hebat, demam, dan muntah tak terkendali.

Karena itu, untuk mengurangi risiko mengembangkan masalah pencernaan maka pastikan membaca petunjuk yang disertakan dalam obat.

Reaksi alergi

Sekitar 1 dari 15 orang memiliki reaksi alergi terhadap antibiotik, terutama penisilin dan sefalosporin.

Dalam kebanyakan kasus, reaksi alergi bisa ringan hingga sedang termasuk ruam kulit atau gatal-gatal, batuk, mengi, serta pembengkakan tenggorokan yang bisa menyebabkan kesulitan bernapas.

Reaksi alergi ringan hingga sedang ini dapat diobati dengan mengonsumsi antihistamin. Akan tetapi, jika gejala alergi sudah cukup parah maka segera mendapatkan perawatan dari dokter.

Resisten terhadap antibiotik

Beberapa infeksi akibat strain bakteri yang resisten antibiotik tidak akan merespons antibiotik yang tersedia.  Infeksi yang kebal terhadap antibiotik bisa sangat serius dan menjadi sulit untuk diobati.

Selain itu, infeksi yang resisten terhadap antibakteri dapat menjadi parah dan berpotensi mengancam jiwa. Untuk menghindari hal tersebut, maka ada baiknya untuk mengonsumsi antibiotik sesuai anjuran atau resep dari dokter.

Infeksi jamur

Antibiotik dirancang untuk membunuh bakteri yang merugikan. Namun, terkadang antibiotik bisa membunuh bakteri baik yang melindungi orang dari infeksi jamur. Akibatnya, banyak orang yang mengonsumsi antibiotik mengalami infeksi jamur di vagina, mulut, serta tenggorokan.

Gejala infeksi jamur yang umum, meliputi vagina gatal, bengkak, nyeri serta sakit saat berhubungan seks dan buang air kecil. Selain itu, gejala lain yang menyertai adalah demam, lapisan putih tebal di mulut, nyeri saat menelan.

Karena itu, segera hentikan pemakaian jika gejala infeksi jamur sudah dirasakan. Jika kamu memakai atau mengonsumsi antibiotik dan kemungkinan mengalami infeksi jamur maka harus segera berbicara dengan dokter.

Kapan harus mengunjungi dokter?

Ketika melakukan isolasi mandiri akibat COVID-19, memang dianjurkan untuk tetap hidup sehat dan mengonsumsi obat-obatan agar tubuh cepat pulih. Namun, jangan pernah mengonsumsi obat-obatan tersebut tanpa resep dokter.

Jika dokter meresepkan antibiotik, kamu juga perlu mengetahui bahwa ada cara untuk mengelola efek samping yang mungkin ditimbulkan. Ketika mengalami reaksi parah dalam bentuk apapun terhadap antibiotik, maka harus segera berhenti minum obat.

Saat kamu mengalami efek samping yang tidak menyenangkan harus memberi tahu dokter tentang gejalanya. Dokter akan memberikan perawatan yang tepat untuk mengatasi gejala-gejala akibat mengonsumsi antibiotik.

Baca juga: IDAI: Komorbid Tak Terdeteksi, Sebabkan Angka Kematian Anak Akibat COVID-19 Tinggi

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
  1. Cleveland Clinic (2016), diakses 2 Juli 2021. Antibiotics
  2. Medical News Today (2018), diakses 2 Juli 2021. What are the side effects of antibiotics?
  3. Healthline (2019), diakses 2 Juli 2021. Side Effects of Antibiotics: What They Are and How to Manage Them
  4. NHS (2019), diakses 2 Juli 2021. Antibiotics
    register-docotr