Covid-19

Vaksin Pfizer Kini Dapat Digunakan untuk Anak Usia 12-15 Tahun

May 18, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Saat ini, pemberian vaksin COVID-19 sudah semakin diperluas agar pencegahan penyebaran virus bisa lebih maksimal. Vaksin COVID-19 sendiri cukup beragam, salah satunya Pfizer yang umum diberikan pada orang dewasa.

Namun, baru-baru ini diketahui bahwa vaksin Pfizer diperbolehkan penggunaannya pada anak usia 12 hingga 15 tahun. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pemberian vaksin Pfizer pada anak-anak yuk simak penjelasan berikut.

Baca juga: Tempat Rekreasi Tetap Buka saat Lebaran, Begini Tips Pencegahan COVID-19 yang Perlu Diketahui!

Pemberian vaksin Pfizer pada anak usia 12-15 tahun

Dilansir dari U.S Food and Drug Administration atau FDA, penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 untuk pencegahan penyakit corona sudah diperluas.

Penggunaan vaksin ini dilakukan untuk mencegah penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut parah.

Komisaris FDA, Janet Woodcock, MD mengatakan bahwa perluasan izin penggunaan darurat untuk vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 untuk remaja berusia 12 hingga 15 tahun adalah langkah signifikan dalam memerangi pandemi.

FDA telah menetapkan bahwa vaksin Pfizer telah memenuhi kriteria dan membawa manfaat dan potensial pada individu berusia 12 tahun ke atas. Karena itu, pemberian vaksin Pfizer juga memungkinkan populasi yang lebih muda agar terlindungi dari COVID-19. 

Data keefektifan vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19

Data keefektifan untuk mendukung penggunaan vaksin Pfizer pada remaja hingga usia 12 tahun didasarkan pada imunogenisitas dan analisis kasus COVID-19.

Respons imun terhadap vaksin pada 190 peserta, usia 12 hingga 15 tahun dibandingkan dengan respons imun 170 peserta, usia 16 hingga 25 tahun.

Dalam analisis ini, respons imun remaja tidak kalah dengan respons imun dari peserta yang lebih tua. Analisis kasus COVID-19 yang terjadi di antara peserta usia 12 hingga 15 tahun, tujuh hari setelah dosis kedua juga dilakukan.

Hasil analisisnya ditemukan bahwa di antara peserta tanpa bukti infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya, tidak ada kasus COVID-19 yang terjadi. Untuk itu, vaksin tersebut terbukti 100 persen efektif dalam mencegah COVID-19.

Saat ini, data masih terbatas untuk membahas apakah vaksin dapat mencegah penularan virus dari satu orang ke orang lain. Tak hanya itu, data untuk menentukan berapa lama vaksin akan memberikan perlindungan juga belum tersedia.

Keamanan vaksin Pfizer untuk anak-anak

Dr. Sara Oliver dari Pusat Nasional untuk Imunisasi dan Penyakit Pernapasan CDC telah menjelaskan tentang risiko dan manfaat vaksin. Oliver mengatakan bahwa remaja berusia 12 hingga 17 tahun berisiko terkena penyakit parah akibat COVID-19. 

Perlu diketahui, ada lebih dari 1,5 juta kasus yang dilaporkan dan lebih dari 13.000 rawat inap berasal dari kalangan remaja 12 hingga 17 tahun. Hal ini kemudian menjelaskan bahwa remaja dan anak-anak adalah sumber penyebaran virus.

Vaksin Pfizer sendiri telah terbukti aman dan efektif dalam uji klinis. Uji klinis untuk vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 menunjukkan kemanjuran melawan gejala COVID-19 yang telah dikonfirmasi di laboratorium.

Efek samping yang mungkin muncul setelah vaksin

Terdapat 2.260 peserta berusia 12 hingga 15 tahun yang terdaftar dalam uji klinis acak terkontrol plasebo di Amerika Serikat.

Efek samping yang paling sering dilaporkan pada remaja peserta uji klinis di mana biasanya berlangsung 1 hingga 3 hari adalah nyeri di tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, dan demam. 

Dengan pengecualian nyeri di tempat suntikan, lebih banyak remaja melaporkan efek samping ini setelah dosis kedua daripada dosis pertama. Efek samping pada remaja konsisten dengan yang dilaporkan dalam peserta uji klinis berusia 16 tahun ke atas.

Penting untuk dicatat bahwa efek samping ini adalah masalah umum. Karena itu, tidak semua orang akan mengalami efek samping dan beberapa di antaranya mungkin tidak mengalaminya sama sekali.

Namun, vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 tidak boleh diberikan kepada siapapun yang diketahui memiliki riwayat reaksi alergi parah termasuk anafilaksis. Meskipun begitu, sejak penggunaan darurat vaksin ini dilaporkan jarang menyebabkan reaksi alergi parah.

Baca juga: Vitamin D Tidak Memberikan Efek pada COVID-19, Benarkah?

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr