Covid-19

Tes PCR untuk COVID-19, Simak Begini Penjelasan Medisnya

December 3, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Tes PCR adalah metode yang direkomendasikan untuk mengetahui infeksi virus corona pada tubuh seseorang. Akan tetapi, sebagian penyintas COVID-19 masih menunjukkan hasil PCR positif ketika kondisi mereka sudah membaik. Lantas sebenarnya, apa maksud dari hal tersebut?

Apa itu tes PCR?

Tes PCR adalah metode yang dilakukan untuk melihat keberadaan virus yang terdapat di dalam tubuh, yakni dengan mendeteksi keberadaan RNA dalam sampel swab dari hidung atau tenggorokan.

Berbeda dengan Rapid test yang hasilnya bisa diperoleh dengan cepat. Sementara untuk melihat hasil dari tes PCR membutuhkan waktu yang lama, yakni sekitar beberapa jam hingga beberapa hari. PCR adalah metode ‘gold standard’ dan memiliki tingkat keakuratan yang tinggi.

Baca juga: Waspadai Gejala Baru COVID-19 Hidung Kering: Ini Fakta & Update Risetnya

Cara kerja tes PCR

Tes PCR bekerja dengan cara mendeteksi keberadaan materi genetik virus menggunakan teknik yang dikenal sebagai reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR).

Seperti yang sudah diketahui, tes ini dilakukan dengan cara mengambil sampel dari swab hidung atau tenggorokan, namun sampel air liur juga bisa digunakan. Kemudian, sampel akan dikirimkan ke laboratorium, di mana RNA virus corona diekstraksi dari sampel dan diubah menjadi DNA.

Perlu diketahui, PCR hanya dapat bekerja pada DNA, sedangkan virus COVID-19 menggunakan RNA sebagai kode genetiknya. DNA sendiri adalah kode genetik yang ada di setiap sel tubuh.

DNA kemudian diperkuat, yang berarti bahwa banyak salinan DNA virus dibuat. Ini dilakukan untuk membuat hasil yang dapat diukur.

Apa yang dimaksud dari PCR tidak bisa membedakan virus hidup dan mati?

Tingkat keakuratan uji diagnostik ini bergantung dari beberapa faktor. Termasuk apakah sampel dikumpulkan dengan benar, kapan pengujian dilakukan, serta apakah sampel dipertahankan dalam kondisi yang sesuai pada saat dikirimkan ke laboratorium.

Melansir dari laman Ministry of Health New Zealand, waktu tes PCR untuk mendeteksi virus COVID-19 adalah ketika jumlah virus tertinggi terdapat di dalam tubuh (viral load).

Satu atau dua hari sebelum seseorang mengalami gejala apa pun, jumlah virus sudah cukup tinggi untuk dideteksi pada hidung dan tenggorokan. Begitu pasien pulih, virus yang tertinggal di tubuh mulai mati karena pertahanan tubuh membunuhnya.

Meskipun demikian, mungkin saja ada pecahan materi genetik virus yang tertinggal di hidung dan tenggorokan seseorang untuk beberapa waktu atau bahkan berminggu-minggu setelah ia pulih. Pada tingkat yang cukup tinggi untuk dideteksi, tetapi belum cukup untuk pengujian yang akurat.

Baca juga: Jenis-jenis Tes COVID: Kelebihan, Kekurangan, dan Kisaran Biayanya

Apa kata ahli?

Windu Purnomo, yang merupakan ahli Epidemiologi dari Universitas Airlangga seperti dilansir dari Kompas.com, memberikan penjelasan mengenai masih terdeteksinya hasil positif pada seseorang yang kondisinya sudah membaik.

Menurutnya, pasien tersebut tidak memiliki virus aktif, melainkan hanya sisa virus yang masih terdeteksi oleh PCR. “Kalau dilihat di PCR-nya kadang-kadang masih positif. Padahal itu virus yang sudah mati, tinggal fragmen-fragmennya,” kata windu.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa terdapat istilah Cycle trasehold (Ct) pada tes PCR. Jika angka Cycle trasehold tinggi, ini dapat menunjukkan bahwa yang terdeteksi hanya fragmen virus saja, sedangkan virusnya sudah mati.

Maka dari itu, pada pasien yang kondisinya sudah membaik serta sudah menjalani perawatan, tetapi hasil tes PCR masih tetap positif, yang menjadi rujukan adalah nilai Ct.

Pasien dapat dipulangkan dari rumah sakit jika…

Dalam publikasi yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada 16 Oktober, terdapat beberapa kriteria pemulangan pasien dari perawatan di rumah sakit, di antaranya adalah:

  • Hasil assesmen klinis menyeluruh termasuk di antaranya gambaran radiologis menunjukkan perbaikan, pemeriksaan darah juga menunjukkan perbaikan, yang dilakukan oleh Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) menyatakan pasien diperbolehkan untuk pulang.
  • Tidak ada tindakan atau perawatan yang dibutuhkan oleh pasien, baik itu merupakan sakit yang berkaitan dengan COVID-19 maupun masalah kesehatan lain yang dialami oleh pasien

Tak hanya itu, pasien yang telah dipulangkan, termasuk dengan gejala berat secara konsisten juga harus tetap menerapkan protokol kesehatan.

Nah, itulah beberapa informasi mengenai hasil positif tes PCR. Mengingat penambahan kasus COVID-19 masih terus terjadi, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19, selalu terapkanlah protokol kesehatan, ya.

Jika kamu memiliki pertanyaan lain seputar COVID-19, kamu bisa berkonsultasi melalui Aplikasi Good Doctor. Mitra dokter kami siap membantumu dengan akses layanan 24/7. Jangan ragu untuk berkonsultasi ya!

Reference

Discovery’s Edge (2020). Diakses pada 02 Desember 2020. The Science Behind the Test for the COVID-19 Virus 

Harvard Health Publising (2020). Diakses pada 02 Desember 2020. If you’ve been exposed to the coronavirus 

Kemkes.go.id (2020). Diakses pada 02 Desember 2020. Begini Alur Pelayanan Pasien COVID-19 

Kompas.com (2020). Diakses pada 02 Desember 2020. Sudah Mati, Sisa Virus Masih Bisa Terdeteksi Alat Tes PCR dalam Jangka Waktu Lama 

Ministry of Health (2020). Diakses pada 02 Desember 2020. How COVID-19 testing works 

NHS (2020). Diakses pada 02 Desember 2020. Coronavirus testing explained 

 

    Berita Terkait
    register-docotr