Covid-19

Berikut Tanda Paru-Paru Berkabut pada Pasien COVID-19

July 28, 2021 | Arianti Khairina | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Seseorang yang terinfeksi COVID-19 tentu juga akan mengalami kerusakan pada organ pernapasan yaitu paru-paru. Lalu seperti apa tanda paru-paru berkabut pada pasien COVID-19? 

Tanda paru-paru berkabut pada pasien COVID-19

Umumnya seseorang yang terinfeksi COVID-19 akan mengalami kerusakan dengan munculnya bercak putih atau kabut pada hasil rontgen toraks atau dada pasien.

Tanda-tandanya tak hanya itu saja, tentu akan disertai dengan beberapa gejala seperti gangguan pernapasan dan nyeri di dada. Berikut ini 3 tanda utama paru-paru berkabut pada pasien COVID: 

1. Frekuensi napas mulai melemah

Ketika seorang pasien COVID-19 dengan pneumonia atau paru-paru terinfeksi makin membesar, maka akan muncul gejala sesak napas dan frekuensi napas melemah.

Untuk mengetahuinya, frekuensi napas yang lebih dari 24 kali per menit menunjukkan tanda kesulitan bernapas karena infeksi pada paru meluas.

2. Mulai menurunnya saturasi oksigen 

Perlu kamu ketahui bahwa oksigen normal berada pada kisaran 95-100 persen. Tetapi pada pasien COVID-19, saturasi oksigen bisa menurun hingga dibawah 93 persen.

Apabila saturasi oksigen sudah di bawah angka 93 persen, maka pasien yang terinfeksi bisa dikatakan berada dalam kondisi sesak napas. Hal ini bisa disebabkan karena infeksi pada paru semakin meluas, sehingga pasien harus segera mendapat penanganan medis di fasilitas kesehatan. 

Kamu harus segera melakukan pemeriksaan ke dokter, agar tidak menimbulkan komplikasi lain pada kesehatan dan menghindari dampak yang fatal. 

3. Mengalami dada sesak 

Infeksi SARS-CoV-2 pada paru yang semakin luas, dapat membuat dada terasa sesak. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda klinis pembekuan darah. Jika dada sesak disertai frekuensi napas melemah, maka pasien sedang mengalami perburukan dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Hal tersebut tentunya akan membuat kamu mengalami kesulitan bernapas. COVID-19 adalah penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi paru-paru seperti pneumonia. 

Dan dalam kasus yang paling parah, sindrom gangguan pernapasan akut atau ARDS. Sepsis, kemungkinan komplikasi lain dari COVID-19 yang juga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada paru-paru dan organ lainnya.

Faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan paru-paru akibat COVID-19

Melansir penjelasan dari laman Hopkins Medicine, terdapat tiga faktor yang memengaruhi risiko kerusakan paru-paru pada infeksi COVID-19 dan seberapa besar kemungkinan orang tersebut pulih serta mendapatkan kembali fungsi paru-parunya:

1.  Tingkat keparahan penyakit

Faktor pertama adalah tingkat keparahan infeksi virus Corona itu sendiri. Infeksi virus yang dialami termasuk dalam kasus ringan atau parah.  Kasus yang lebih ringan cenderung menyebabkan bekas luka yang bertahan lama di jaringan paru-paru.

2. Kondisi kesehatan tubuh

Masalah kesehatan yang ada, seperti penyakit paru obstruktif kronik atau penyakit jantung yang dapat meningkatkan risiko penyakit parah bisa menjadi salah satu faktornya.

Orang yang lebih tua juga rentan untuk kasus COVID-19 yang parah. Jaringan paru-paru mereka mungkin kurang elastis, dan kekebalan tubuhnya juga mungkin melemah karena usia lanjut.

3. Pengobatan

Pengobatan adalah faktor ketiga. Masa pemulihan pasien dan kesehatan paru-paru jangka panjang akan bergantung pada jenis perawatan apa yang kamu dapatkan, dan seberapa cepat. Dukungan tepat waktu di rumah sakit untuk pasien yang sakit parah dapat meminimalkan kerusakan paru-paru.

Baca juga: Perbedaan Wujud Paru-Paru Orang yang Sudah Divaksin COVID-19 dan Belum

Apakah kerusakan paru-paru akibat COVID-19 bisa dikurangi? 

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan pasien untuk meningkatkan kemungkinan kerusakan paru-paru yang tidak terlalu parah. 

Jika memiliki masalah kesehatan yang menempatkanmu pada risiko yang lebih tinggi, pastikan melakukan semua yang kamu bisa untuk meminimalkan kemungkinan tertular virus. Selain itu juga, pastikan bahwa kondisi kesehatan kronis yang kamu derita dikelola sebaik mungkin. 

Misalnya, orang yang hidup dengan diabetes atau penyakit jantung harus sangat berhati-hati untuk mengelola kondisi tersebut dengan memantau dan meminum obat sesuai petunjuk dari dokter. 

Tambahan lainnya adalah nutrisi dan hidrasi yang tepat juga dapat membantu pasien menghindari komplikasi COVID-19. Makanan dengan nutrisi yang baik penting untuk kesehatan secara keseluruhan.

Hidrasi yang tepat juga mempertahankan volume darah yang tepat dan selaput lendir yang sehat dalam sistem pernapasan, yang dapat membantu mereka melawan infeksi dan kerusakan jaringan dengan lebih baik.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 diKlinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, kliklink ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
  1. Cnnindonesia.com (2021) diakses pada 28 Juli 2021. 3 Tanda dan Gejala Paru-Paru Berkabut pada Pasien Covid-19
  2. Hopkinsmedicine.org (2021) diakses pada 28 Juli 2021. COVID-19 Lung Damage
  3. Webmd.com (2020) diakses pada 28 Juli 2021. What Does COVID-19 Do to Your Lungs?
    register-docotr