Covid-19

Obat Cacing Ivermectin Dipakai untuk Atasi COVID-19, Amankah?

June 11, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

COVID-19 adalah penyakit baru, sehingga butuh waktu untuk menemukan obat yang tepat untuk mengatasinya. Sejumlah obat untuk penyakit lain telah digunakan dalam penanganan COVID-19. Salah satunya ivermectin, obat yang biasa dipakai untuk infeksi cacing parasit.

Lantas, apakah ivermectin benar-benar bisa dipakai untuk mengobati pasien COVID-19? Aman atau tidak? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu ivermectin?

Ivermectin adalah obat yang biasa dipakai untuk mengatasi infeksi cacing parasit di dalam tubuh manusia. Pada orang yang mempunyai tingkat kekebalan lemah, infeksi cacing bisa meningkatkan keparahannya.

Masuk dalam golongan antihelmintik, ivermectin bekerja dengan dua mekanisme berbeda. Pertama, membunuh dan melumpuhkan cacing parasit. Kedua, menghentikan parasit dewasa untuk menghasilkan larva dalam waktu tertentu.

Obat ini hanya untuk mengatasi infeksi parasit. Penggunaan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping, baik ringan maupun berat. Efek samping ringan bisa berupa sakit perut, mual, muntah, diare, pusing, gatal-gatal, mudah lelah, hingga muncul ruam.

Sedangkan efek beratnya bisa berupa pembengkakan, kemerahan pada mata, perdarahan, sesak napas, tidak mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar, kejang, hingga pingsan.

Baca juga: Obat Asam Urat Colchicine Diteliti untuk Mengobati COVID-19, Bagaimana Faktanya?

Ivermectin untuk COVID-19

Ivermectin pertama kali digunakan sebagai pegobatan pasien infeksi virus Corona di India beberapa waktu lalu ketika negara itu mengalami tsunami COVID-19. Bukan hanya mengatasi, obat ini juga disebut-sebut dapat dipakai sebagai pencegahan.

Menurut sebuah penelitian, ivermectin dikaitkan dengan tingkat hasil negatif tes polymerase chain reaction (PCR) yang tinggi, pengurangan gejala secara drastis, perawatan rumah sakit yang lebih cepat, dan penurunan angka fatalitas seperti kematian terhadap pasien.

Dalam mekanisme kerjanya, ivermectin diklaim dapat menghambat penyerapan protein dari virus Corona terhadap sel di dalam tubuh yang masih sehat. Dampaknya, sel tersebut tidak bisa dijadikan inang oleh SARS-CoV-2.

Tanpa adanya sel untuk dijadikan inang, maka virus bisa mati dalam beberapa jam karena tidak bisa melakukan mekanismenya secara normal. Itulah kemudian yang menyebabkan mengapa obat ini diklaim bisa memengaruhi tingkat gejala, fatalitas, dan durasi perawatan di rumah sakit.

Apa kata pemerintah?

Untuk saat ini, pemerintah melalui Badan Pengawas Makanan dan Obat (BPOM) menyatakan dengan tegas bahwa ivermectin dilarang untuk dipakai dalam mencegah dan mengobati COVID-19.

Dikutip dari laman resmi BPOM, ada beberapa poin yang membuat ivermectin dilarang untuk dipakai sebagai pengobatan COVID-19, di antaranya:

  • Beberapa penelitian memang menyebutkan ivermectin mempunyai efek antivirus, tapi masih perlu kajian mendalam terkait keamanan, khasiat, dan efektivitasnya
  • Ivermectin adalah obat keras, sehingga penggunaan harus sesuai dengan fungsinya (mengatasi cacingan) dan sesuai dengan anjuran dokter
  • Ivermectin yang digunakan dalam waktu panjang tanpa indikasi medis (infeksi cacing) dan tanpa resep dokter dapat memicu sejumlah efek samping, termasuk sindrom Stevens-Johnson (penyakit kulit langka)
  • Pembelian ivermectin tanpa resep dokter, baik secara langsung maupun online, adalah sebuah pelanggaran, bisa dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca juga: 5 Gejala COVID-19 yang Masih Bisa Bertahan Meski Sudah Sembuh

Dilarang juga oleh FDA

Bukan hanya BPOM, Food and Drug Administration (FDA) juga melarang penggunaan ivermectin untuk mencegah dan mengatasi COVID-19. Ivermectin hanya diizinkan sebagai pengobatan infeksi cacing, bukan yang lain.

Hingga saat ini, FDA belum menemukan adanya data atau bukti pendukung efektivitas ivermectin sebagai obat untuk mengatasi COVID-19. Penggunaan atau konsumsi obat itu untuk COVID-19 dinilai sangat berbahaya, apalagi jika dalam dosis besar.

Konsumsi ivermectin dalam mengatasi infeksi cacing juga harus diperhatikan. Sebab, ivermectin dapat berinteraksi dengan banyak jenis obat, salah satunya pengencer darah. Penyalahgunaan ivermectin dalam hal apa pun bisa berdampak fatal, seperti koma hingga kematian.

World Health Organization (WHO) sendiri menyatakan bahwa penggunaan ivermectin untuk COVID-19 baru bisa dilakukan jika sudah ada uji klinis, bukan serta-merta hanya berdasarkan penelitian yang ada.

Nah, itulah ulasan tentang obat cacing ivermectin yang sedang ramai dibahas karena telah digunakan untuk mengatasi COVID-19 di negara tertentu. Untuk membantu memutus penularan virus Corona, selalu terapkan protokol kesehatan di mana pun kamu berada, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

  1. Food and Drug Administration (FDA), diakses 11 Juni 2021, Why You Should Not Use Ivermectin to Treat or Prevent COVID-19.
  2. World Health Organization (WHO), diakses 11 Juni 2021, WHO advises that ivermectin only be used to treat COVID-19 within clinical trials.
  3. Medical News Today, diakses 11 Juni 2021, Ivermectin, oral tablet.
  4. WebMD, diakses 11 Juni 2021, Ivermectin Oral.
  5. Wiley Online Library, diakses 11 Juni 2021,  Ivermectin and outcomes from Covid-19 pneumonia: A systematic review and meta-analysis of randomized clinical trial studies.
  6. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), diakses 11 Juni 2021, PENJELASAN BADAN POM RI TENTANG INFORMASI PENGGUNAAN OBAT IVERMECTIN.

    register-docotr