Covid-19

Mengenal B1.617, Varian COVID-19 dari India yang Memiliki Mutasi Ganda

April 21, 2021 | Richaldo Hariandja
feature image

Virus COVID-19 kembali berkembang. Kali ini, terdapat varian baru mutasi virus tersebut yang diberi nama B.1.617. Varian baru ini ditemukan pertama kali di India dan disebut mutasi ganda.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menjelaskan sebutan mutasi ganda tersebut karena memang varian ini mengandung dua mutasi sekaligus, yaitu E484Q dan L452R.

“Jadi dia itu ada dua mutasi yang dianggap berpengaruh. Mengandung dua mutasi sekaligus, E484Q dan L452R,” ucap Nadia. 

Baca juga: Mengenal Varian Baru Mutasi Virus Corona N439K, Ini Fakta Lengkapnya!

Bagaimana varian baru ini ditemukan?

Para peneliti di India meneliti temuan virus varian baru ini di antara Desember 2020 dengan Maret 2021. Mereka mengkaji infeksi COVID-19 yang terjadi di bagian barat Provinsi Maharashtra.

Pada tanggal 24 Maret, Menteri Kesehatan India melaporkan 15-20 persen kejadian infeksi COVID-19 yang juga merupakan tahap awal gelombang kedua penyakit ini di negara tersebut mengandung dua mutasi baru E484Q dan L452R.

Varian baru ini terus berkembang hingga akhirnya menjadi lebih dari 60 persen infeksi COVID-19 di negara tersebut. Varian ini dinamakan B.1.617.

Seberapa bahaya varian baru ini?

Lembaga pelayanan kesehatan publik Inggris atau Public Health England (PHE) minggu lalu menyatakan kalau varian virus ini merupakan ‘varian yang masih diinvestigasi’. Label tersebut biasanya dipakai untuk varian yang mengkhawatirkan tapi belum sepenuhnya dipahami.

Saat ini para peneliti masih bekerja untuk mengonfirmasi apakah varian ini lebih berbahaya daripada varian yang lainnya. Misalnya dia lebih mudah menyebar, menyebabkan sakit yang parah atau bahkan membuat imunitas yang dihasilkan vaksinasi menjadi tidak berarti.

Nah, jika hasil dari penelitian laboratorium bisa mengonfirmasi varian ini berbahaya, maka statusnya akan meningkat menjadi ‘varian yang harus diperhatikan’.

Ada kemungkinan lebih menular

Grace C. Roberts, Research Fellow in Virology, Queen’s University Belfast menyebut model varian baru ini memiliki kemungkinan lebih menular daripada yang sebelumnya.

Hal ini lantara salah satu mutasinya, L425R, memengaruhi struktur protein dalam virus yang berbentuk paku (virus spike). Struktur ini merupakan kunci dari yang digunakan oleh virus corona untuk membuka sel manusia.

Mutasi L425R ini mengubah bagian dari protein paku tersebut yang berinteraksi secara langsung dengan ACE2, sebuah molekul di permukaan sel manusia yang diikat oleh virus untuk masuk. 

Dalam penelitian yang diterbitkan medRxiv, menyebut mutasi L425R ini dapat mengikat sel lebih stabil. Pada varian sebelumnya, mutasi serupa yang membuat virus lebih mudah mengikat sel menghasilkan penyakit yang lebih menular.

Tidak otomatis membuat infeksi yang parah

Meskipun demikian, mutasi L425R yang membuat virus mengikat sel manusia lebih baik ini tidak otomatis membuat infeksi COVID-19 menjadi lebih parah. 

Sebagai contoh varian B1427 yang sebelumnya ditemukan lebih mudah menyebar tidak menghasilkan penyakit COVID-19 yang lebih parah. Itu sebabnya, kemungkinan tersebut pun bisa berlaku pada varian B.1.617 ini, meskipun kemungkinannya masih dikaji lebih jauh.

Bagaimana dengan efikasi vaksin COVID-19?

Perhatian khusus memang tengah diberikan untuk mengkaji efek varian baru ini terhadap efikasi vaksin COVID-19. Pasalnya, mayoritas vaksin yang tengah dikembangkan berbasis pada protein paku dari virus ini.

Pada dasarnya, imun tubuh akan membuat antibodi berdasarkan protein yang dilihatnya pada permukaan virus. Itu sebabnya, ketika protein ini berubah bentuk, ada kemungkinan antibodi yang sudah ada menjadi kurang efektif.

Mutasi lainnya dalam varian B.1.617 ini pun mengubah protein paku. Itu sebabnya ada kemungkinan kalau varian ini membuat antibodi lebih rentan terhadap virus ini. 

Meskipun demikian, kajian terhadap hal ini masih dilakukan. Belum ada penelitian terhadap manusia yang dapat mengonfirmasi temuan dalam laboratorium ini.

Sudah ditemukan di Indonesia?

Hingga saat ini, Satgas Penanganan COVID-19 belum menemukan varian baru ini di Indonesia. Pemerintah telah melakukan upaya untuk membendung masuknya imported case dengan melarang arus masuk bagi pelaku perjalanan Internasional.

“Jadi sampai saat ini varian B.1.617 tidak ditemukan pada sampel yang digunakan untuk whole genum sequencing sampai dengan tanggal 19 April 2021,” kara Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr