Covid-19

Mengapa Ibu Hamil Bukan Prioritas untuk Divaksin COVID-19? Begini Penjelasannya!

January 16, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Vaksin COVID-19 di Indonesia sudah mulai diberikan pada golongan prioritas, yakni tenaga kesehatan. Perlu diketahui, terdapat dua vaksin virus korona yang diberikan otoritas penggunaan darurat oleh Food and Drug Administration (FDA).

Namun, banyak yang masih mempertanyakan mengapa ibu hamil bukan termasuk golongan yang diprioritaskan untuk mendapat vaksin COVID-19. Nah, untuk mengetahui alasannya yuk simak penjelasan lebih lengkap berikut.

Baca juga: Pusing Tiba-tiba Bisa Jadi Gejala Awal COVID-19? Ini Faktanya!

Fakta mengenai penggunaan vaksin COVID-19

Pada 11 Desember, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS atau FDA mengesahkan vaksin COVID-19 pertama untuk penggunaan darurat. Vaksin tersebut adalah yang dibuat oleh Pfizer dan BioNTech di mana telah terbukti 95 persen efektif dalam uji klinis skala besar.

Sementara itu, vaksin COVID-19 kedua yang telah disetujui untuk penggunaan darurat adalah dari Moderna. Vaksin Moderna ini memiliki tingkat kemanjuran yang sama tinggi, yakni sebesar 94,1 persen. 

Selain itu, Kelompok Penasihat Strategis Ahli Imunisasi WHO atau SAGE sudah mengeluarkan rekomendasi kebijakan untuk peluncuran vaksin COVID-19 pertama untuk penggunaan darurat. Menurut SAGE, vaksin mRNA Pfizer-BioNTech COVID-19 sudah aman dan efektif. 

Namun demikian, terdapat populasi tertentu yang tidak dianjurkan vaksinasi baik karena kontraindikasi, kurangnya pasokan, maupun data terbatas.

Prioritas pemberian vaksin COVID-19 saat ini adalah petugas kesehatan yang berisiko tinggi terpapar, sebelum memvaksinasi seluruh populasi.

Wanita hamil bukan termasuk prioritas penerima vaksin

Dilansir dari WHO, wanita hamil berisiko lebih tinggi terkena COVID-19 parah daripada wanita yang tidak hamil. Tak hanya itu, COVID-19 juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur.

Meski demikian, WHO tidak merekomendasikan pemberian vaksin COVID-19 pada ibu hamil karena data yang kurang memadai.

Namun, jika seorang wanita hamil memiliki risiko penularan tinggi yang tidak dapat dihindari seperti petugas kesehatan, maka vaksinasi dapat dipertimbangkan dalam diskusi.

Satu kemungkinan efek samping jangka pendek dari uji coba vaksin mRNA yang biasa terjadi dalam satu atau dua hari setelah vaksinasi adalah demam.

Sekitar 1 hingga 3 persen orang akan mengalami demam setelah dosis pertama vaksin mRNA dan sekitar 15 hingga 17 persen setelah dosis kedua.

Demam ini biasanya rendah dan dapat ditangani dengan menggunakan asetaminofen yang aman dikonsumsi selama kehamilan. Namun, jika demam yang terlalu tinggi dan berkepanjangan selama kehamilan maka dapat berisiko mengakibatkan cacat lahir. 

Uji klinis vaksin COVID-19 tidak melibatkan wanita hamil

Uji coba vaksin mRNA tidak dengan sengaja melibatkan individu yang hamil atau menyusui sehingga pengetahuan mengenai boleh atau tidaknya pemberian vaksin ini masih sangat terbatas.

Selama uji hewan, vaksin mRNA tidak memengaruhi kesuburan atau menyebabkan masalah pada kehamilan. Namun, masih belum diketahui apakah vaksin benar-benar aman diberikan pada wanita hamil.

Perlu diketahui, vaksin mRNA tidak mengandung partikel virus. Dalam beberapa jam atau hari, tubuh bisa menghilangkan partikel mRNA yang digunakan dalam vaksin sehingga tidak mungkin melewati plasenta.

Kekebalan yang dihasilkan oleh individu hamil dari vaksinasi dapat melewati plasenta dan akan membantu menjaga bayi tetap aman setelah lahir. Meskipun begitu, pastikan untuk menunggu sampai bayi lahir saat ingin mendapatkan vaksin agar terhindar dari risiko kesehatan. 

Jika kamu mempertimbangkan untuk menunda vaksin, tanyakan apakah vaksinasi akan tersedia di kemudian hari. Selain itu, untuk wanita yang sedang mempertimbangkan hamil dalam waktu dekat maka penyuntikan vaksin COVID-19 bisa dilakukan.

Vaksin COVID-19 tidak memengaruhi kesuburan

Vaksinasi COVID-19 diyakini tidak akan memengaruhi kesuburan di masa depan. Karena itu, jika kamu masuk ke dalam prioritas penerima vaksin COVID-19 saat ini maka tidak perlu ragu untuk melakukan vaksinasi karena aman dan tidak akan memengaruhi kesehatan.

Pastikan untuk tetap mendapatkan informasi dengan memeriksa situs web kesehatan terpercaya dan bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan.

Dengan begitu, kamu bisa menyeimbangkan data terbaru tentang risiko COVID-19 dalam kehamilan, keamanan vaksin, dan yang terpenting adalah nilai serta referensi. 

Baca juga: Waspadai Gejala Long Covid: Infeksi Virus yang Menyerang Lebih dari 90 Hari

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
  1. WHO (2021), diakses 15 Januari 2021. Who can take the Pfizer-BioNTech COVID-19 vaccine?
  2. Harvard Health Publishing (2021), diakses 15 Januari 2021. Wondering about COVID-19 vaccines if you’re pregnant or breastfeeding?
  3. What to Expect (2021), diakses 15 Januari 2021. Is the COVID-19 Vaccine Safe During Pregnancy?
  4. Pfizer, diakses 15 Januari 2021. Pfizer COVID-19 Vaccine EUA Letter of Authorization reissued 12-23-20
    register-docotr