Covid-19

Kenali Reinfeksi COVID-19: Seberapa Mungkin Kondisi Ini Terjadi?

July 27, 2021 | Nik Nik Fadlah
feature image

Pernahkah kamu mendengar istilah ‘reinfeksi COVID-19’? Sebagian dari kamu mungkin saja tidak asing mendengar istilah tersebut. Ya, istilah tersebut memang tengah menjadi perhatian saat ini.

Lantas, apa sebenarnya reinfeksi COVID-19? Dan seberapa sering terjadi? Nah, untuk mengetahui selengkapnya mengenai reinfeksi COVID-19, simak ulasannya di bawah ini.

Baca juga: Serba-serbi Herd Immunity dan Kaitannya dengan Vaksinasi

Apa itu reinfeksi COVID-19?

Secara umum, reinfeksi dapat berarti bahwa seseorang yang terinfeksi atau sakit sudah dinyatakan sembuh, tetapi kemudian terinfeksi kembali.

Secara spesifik, dr Yoga Fitria Kusuma Sp PD dari Primaya Evasari Hospital menjelaskan bahwa reinfeksi COVID-19 adalah ketika seseorang yang sudah sembuh dari infeksi virus corona, lalu terinfeksi kembali oleh struktur virus corona yang berbeda dengan infeksi sebelumnya.  

Walaupun sebenarnya ketika seseorang pulih dari COVID-19, tubuh sudah mengembangkan sistem imun yang lebih kuat untuk menghadapi virus, tetapi reinfeksi COVID-19 bukan hal yang mustahil terjadi.

Ini karena virus corona masih terus berkembang dan bermutasi, sehingga memiliki beberapa varian dengan karakteristik berbeda-beda.

Seberapa mungkin kasus reinfeksi COVID-19 terjadi?

Dikutip dari laman Nature, sebagian besar orang yang terinfeksi dan pulih dari COVID-19 kemungkinan akan kebal selama beberapa bulan setelahnya. Hal ini berdasarkan sebuah penelitian terhadap lebih dari 20.000 petugas kesehatan di Inggris.

Studi yang berjudul SARS-CoV-2 Immunity and Reinfection Evaluation (SIREN) tersebut menyimpulkan bahwa respons imun dari infeksi masa lalu mengurangi risiko tertular virus kembali sebesar 83 persen selama setidaknya 5 bulan.

Hasil sementara dari penelitian tersebut memang meredakan beberapa kekhawatiran terhadap reinfeksi. Di samping itu, data menunjukkan bahwa infeksi ulang atau reinfeksi jarang terjadi.

Berdasarkan data tersebut, diketahui terjadi pada kurang dari 1 persen dari sekitar 6.600 peserta yang telah teinfeksi COVID-19.

Terkait dengan hal tersebut ahli imunologi, John Wherry mengatakan bahwa reinfeksi merupakan kasus yang sangat tidak biasa, namun hal ini bukan berarti kamu dapat bebas untuk tidak menggunakan masker.

Di samping itu, asisten profesor di University of Toronto’s Dalla Lana School of Public Health, Ashleigh Tuite juga menegaskan bahwa reinfeksi dengan SARS-CoV-2 dapat terjadi. Maka dari itu, seseorang yang pernah terkena COVID-19 harus tetap menerapkan protokol kesehatan.

Baca juga: Minum Es Setelah Vaksinasi COVID-19, Boleh atau Tidak?

Apakah gejala reinfeksi bisa lebih parah dibandingkan sebelumnya?

Pada dasarnya, berbagai penelitian belum bisa menyimpulkan apakah gejala reinfeksi lebih parah atau tidak dibandingkan dengan sebelumnya.

Namun diketahui bahwa sejak tahun 1960-an para ilmuwan telah mengetahui bahwa ketika beberapa pasien terinfeksi virus untuk kedua kalinya, antibodi dibuat untuk melawan penyakit pada tingkat pertama dapat secara tidak sengaja meningkatkan efektivitasnya pada reinfeksi.

Sementara itu pada kasus COVID-19, sebagian besar reinfeksi dari SARS-CoV-2 telah dilaporkan lebih ringan jika dibandingkan dengan infeksi pertama. Akan tetapi, beberapa melaporkan lebih berbahaya jika dibandingkan dengan infeksi pertama. Demikian dilansir The BMJ.

Profesor kedokteran di University of East Anglia, Paul Hunter, mengatakan bahwa hampir pasti kekebalan dari infeksi ringan tidak bertahan lama.

Namun secara seimbang, sebagian besar infeksi kedua akan menjadi jauh lebih ringan karena tingkat memori kekebalan dan pengaruh sel T.

Peran sistem imun untuk meminimalkan risiko reinfeksi

Terkait dengan hal tersebut, dr Yoga menjelaskan bahwa salah satu faktor yang diduga berpengaruh adalah sistem imun.

“Jika imun yang terbentuk dari infeksi pertama masih kuat dan bisa melawan virus corona, maka gejalanya akan ringan atau bahkan tidak ada gejala. Sedangkan, bila imun sudah lemah atau tidak dapat menemukan virus corona yang menyerang, maka gejalanya bisa lebih berat,” kata dr Yoga.

Nah, itulah beberapa informasi mengenai reinfeksi COVID-19. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, jangan lupa selalu terapkanlah protokol kesehatan, ya.

Jika kamu memiliki pertanyaan lain seputar COVID-19, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Centers for Disease Control and Prevention (2020). Diakses pada 26 Juli 2021. Reinfection with COVID-19 

Detik.com (2021). Diakses pada 26 Juli 2021. Apa Itu Reinfeksi COVID-19 dan Seberapa Mungkin Terjadi?

Healthline (2021). Diakses pada 26 Juli 2021. COVID-19 Pandemic: What We Know About Coronavirus Reinfections 

Nature (2021). Diakses pada 26 Juli 2021. COVID reinfections are unusual — but could still help the virus to spread 

Thebmj (2021). Diakses pada 26 Juli 2021. What we know about covid-19 reinfection so far 

    register-docotr