Covid-19

Fakta-fakta soal Delta Plus: Mutasi Terbaru Varian Delta Virus Corona

June 17, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menandai strain B.1.617.2 sebagai varian delta dari SARS-CoV-2. Namun, sekarang varian delta telah bermutasi lebih lanjut dengan membentuk varian Delta Plus atau AY.1.

Varian COVID-19 satu ini memiliki beberapa fakta-fakta yang perlu diketahui. Nah, untuk mengenal lebih lanjut mengenai varian virus COVID-19 varian Delta Plus, yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Vaksin Novavax Efektif Lawan Varian COVID-19 Beta, Apakah Benar?

Fakta mengenai varian virus COVID-19 Delta Plus

Dilansir dari India Today, varian Delta Plus diidentifikasi sebagai salah satu pendorong gelombang kedua infeksi virus corona. Terdapat beberapa fakta mengenai varian delta plus dari virus corona, seperti berikut ini:

Lebih agresif

Salah satu varian yang muncul adalah B.1.617.2.1 atau dikenal juga dengan AY.1, di mana ditandai dengan akuisisi mutasi K417N. Varian Delta Plus ini diketahui lebih agresif, di mana mendorong gelombang kedua infeksi di India. 

Efek terhadap pengobatan

Protein lonjakan ini membantu virus masuk dan menginfeksi sel manusia. Perlu diketahui, mutasi K417N telah dikaitkan dengan pengurangan kekebalan atau penghindaran yang membuatnya kurang rentan atau lebih kebal terhadap vaksin maupun segala bentuk terapi obat.

Teridentifikasi di beberapa negara

Menurut Public Health England, sejauh ini 63 genom B.1.617.2 dengan mutasi K417N telah diidentifikasi, 6 di antaranya berasal dari India. Ada 36 kasus Delta Plus yang dikonfirmasi di Inggris dan hal tersebut diketahui menyumbang sekitar enam persen kasus di AS.

Frekuensi varian untuk K417N tidak banyak di India saat ini, di mana urutannya kebanyakan dari Eropa, Asia, dan Amerika.

Selain India, sejumlah negara yang teridentifikasi memiliki varian ini adalah Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Rusia, Jepang, Portugal, Polandia, Turki, Nepal, dan Swiss.

Penularan virus

Direktur Institut CSIR-Genomics and Integrative Biology atau IGIB Delhi, Anurag Agrawal mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk khawatir mengenai penularan virus. Hal ini dikarenakan, laporan baru masih rendah dan belum ada indikasi tentang tingkat keparahan penyakit.

Agarwal juga mengatakan jika plasma darah dari sejumlah individu yang divaksinasi lengkap harus diuji terhadap varian ini. Hal tersebut dilakukan untuk menentukan apakah menunjukkan tingkat pelarian kekebalan yang signifikan.

Tahan terhadap koktail antibodi monoklonal

Varian Delta Plus diketahui tahan terhadap koktal antibodi monoklonal yang baru-baru ini disahkan di India. Koktail antibodi monoklonal atau Casirivimab dan Imdevimab ini dirancang untuk memblokir virus agar tidak menempel pada sel manusia.

Koktail antibodi monoklonal ini akan memasuki tubuh dan serupa dengan antibodi yang diproduksi tubuh manusia secara alami untuk mempertahankan diri melawan penyakit. Namun, varian baru Delta Plus tahan terhadap antibodi tersebut sehingga dibutuhkan studi lebih lanjut.

Efektivitas vaksin terhadap varian delta

Studi berbeda tentang efektivitas vaksin di India, yakni Covishield dan Covaxin telah dilakukan. Dalam studi tersebut, para peneliti ingin mengetahui apakah vaksin dapat melindungi terhadap varian delta.

Studi AIIMS menunjukkan bahwa mungkin tidak melindungi orang bahkan setelah dosis kedua. Sementara penelitian yang diterbitkan di The Lancet mengatakan bahwa Covishield atau suntikan AstraZeneca memberikan perlindungan 79 persen setelah dua dosis.

Meski penularan varian ini rendah, namun keefektifan vaksin yang diberikan perlu diuji lebih lanjut. Hal ini bertujuan agar varian baru dari virus corona tidak menyebar atau menular lebih luas ke berbagai negara lainnya.

Untuk mencegah penularan, pencegahan tetap diperlukan seperti menerapkan protokol kesehatan setiap keluar rumah. Beberapa penerapan kesehatan yang perlu dilakukan adalah rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak dengan orang lain di tempat umum.

Baca juga: AstraZeneca, Sinopharm, Sinovac: Mana yang Terbaik?

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr