Covid-19

Mengenal Efek Peltzman setelah Vaksin COVID-19 yang Jarang Diketahui

May 17, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Vaksin COVID-19 diketahui dapat memberi efek samping pada tubuh. Namun belakangan ini, ada efek lain yang bukan menyerang fisik, disebut efek Peltzman. Efek Peltzman setelah vaksin COVID-19 dikhawatirkan berdampak pada penyebaran virus di tengah masyarakat.

Lantas, apa sebenarnya efek Peltzman itu? Mengapa bisa berdampak pada penyebaran COVID-19? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu efek Peltzman?

Pada dasarnya, efek Peltzman mengacu pada kondisi yang sangat luas, bukan hanya tentang kesehatan. Masih kontroversial hingga sekarang, efek Peltzman sendiri dicetuskan pada 1975 oleh Sam Peltzman, seorang pakar Ekonomi di University of Chicago Booth School of Business.

Efek Peltzman mengacu pada kondisi seseorang yang cenderung melakukan perilaku, tindakan, atau aktivitas yang berisiko (risky behavior) karena merasa sudah aman dari beberapa kemungkinan buruk yang sebelumnya dapat dialami.

Pada kehidupan normal, seseorang akan berperilaku sangat hati-hati atau waspada jika ada suatu ‘ancaman’. Namun, ketika sudah mendapat ‘perlindungan’, maka orang itu cenderung lebih meremehkan atau mengabaikan ‘ancaman’ tersebut karena sudah merasa aman.

Misalnya, seseorang yang telah memakai sabuk pengaman di mobil mungkin akan merasa aman saat berkendara karena sudah terlindungi. Padahal, ancaman kecelakaan yang membahayakan nyawa masih bisa terjadi jika orang itu mengemudikan kendaraannya secara ugal-ugalan.

Efek Peltzman setelah vaksin COVID-19

Menurut sebuah penelitian yang terbit di British Medical Journal, efek Peltzman sangat mungkin terjadi setelah seseorang mendapat vaksin COVID-19. Dengan adanya vaksinasi, tidak sedikit orang yang merasa kebal dan terlindungi sepenuhnya dari ancaman virus Corona.

Orang tersebut cenderung meninggalkan kebiasaan atau perilaku protektif dan preventif. Salah satu bentuk efek Peltzman setelah vaksin COVID-19 adalah pengabaian protokol kesehatan, seperti tidak memakai masker, berkerumun, dan tidak menerapkan social distancing.

Sehingga, risiko penyebaran virus dikhawatirkan lebih tinggi. Ini membuat orang yang mengalami efek Peltzman bisa memicu infeksi baru, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan muncul gelombang baru COVID-19.

Terlebih, virus pemicu COVID-19 diketahui terus bermutasi dan tak jarang mengakibatkan gejala klinis yang lebih parah. Di Eropa sendiri, angka kasus COVID-19 cenderung melonjak bahkan setelah dimulainya program vaksinasi pada akhir Desember 2020.

Baca juga: Vaksin COVID-19: Amankah untuk Ibu Menyusui?

Vaksin tidak sepenuhnya memberi perlindungan

Banyak orang yang abai terhadap protokol kesehatan setelah divaksin karena menganggap sudah benar-benar terlindungi. Faktanya, vaksin memang bisa memberi perlindungan, tapi tidak 100 persen.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), meski telah divaksin, kamu tetap harus menerapkan protokol kesehatan.

Avery August, pakar imunologi di Cornell University, Amerika Serikat, juga menjelaskan, orang yang telah divaksin masih dapat menyebarkan virus SARS-CoV-2, meski tidak menunjukkan tanda atau gejala tertentu.

Virus masih bisa memasuki saluran napas, bahkan ketika sel imun sudah bekerja melindungi tubuh secara keseluruhan.

Apa yang harus dilakukan?

Dalam pedoman terbarunya, CDC memperbolehkan orang yang sudah divaksin untuk beraktivitas bersama orang yang tinggal di satu rumah tanpa masker, asalkan sama-sama telah divaksin atau tidak berisiko tinggi dari paparan COVID-19.

Meski begitu, demi meminimalkan dampak yang lebih buruk, kesadaran diri sendiri sangat diperlukan untuk tetap menjaga perilaku atau kebiasaan sesuai protokol kesehatan, yaitu:

  • Menggunakan masker ketika beraktivitas di luar.
  • Selalu bersihkan tangan dengan sabun dan air sesering mungkin. Jika bepergian, bawalah hand sanitizer yang mengandung alkohol.
  • Jaga jarak aman minimal satu meter dari orang lain, terutama yang sedang batuk dan bersin.
  • Tutup hidung dan mulut dengan siku tertekuk atau tisu jika kamu batuk atau bersin.
  • Jika merasa sakit, tetaplah diam di rumah dan batasi bertemu dengan orang.

Selain itu, intervensi pemerintah diharapkan bisa menekan munculnya efek Peltzman pada orang-orang yang telah divaksin. Strategi untuk melawan efek Peltzman, terutama setelah adanya program vaksin COVID-19, merupakan kunci pengendalian jangka panjang di masa pandemi.

Pandemi masih jauh dari akhir, belum ada tanda-tanda akan selesai. Bahkan, di beberapa negara sedang terjadi gelombang baru dengan peningkatan kasus harian.

Nah, itulah ulasan tentang efek Peltzman yang kerap terjadi pada banyak orang setelah mendapat vaksin COVID-19. Meski telah divaksin, untuk membantu memutus penularan COVID-19, selalu terapkan protokol kesehatan di mana pun kamu berada, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

  1. BMJ, diakses 10 Mei 2021, Influence of the Peltzman effect on the recurrent COVID-19 waves in Europe.
  2. ACP Journal, diakses 10 Mei 2021, Risk Compensation and COVID-19 Vaccines.
  3. The Guardian, diakses 10 Mei 2021, Will I have to wear a mask after getting the Covid vaccine? The science explained.
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 10 Mei 2021, Frequently Asked Questions about COVID-19 Vaccination.
  5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 10 Mei 2021, When You’ve Been Fully Vaccinated.
  6. World Health Organization (WHO), diakses 10 Mei 2021, Advice for Public.
  7. JSTOR, diakses 10 Mei 2021, The Peltzman Hypothesis Revisited: An Isolated Evaluation of Offsetting Driver Behavior.
  8. National Herald, diakses 10 Mei 2021, Peltzman Effect: Why COVID cases are soaring after jabs.

    register-docotr