Covid-19

Daftar Vitamin dan Obat yang Bisa Dikonsumsi saat Isolasi Mandiri

July 2, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Juni 2021, Indonesia mengalami lonjakan kasus harian COVID-19. Pasien konfirmasi tanpa gejala dan bergejala ringan disarankan untuk isolasi mandiri di rumah. Selama menjalani isolasi, penting untuk meningkatkan imunitas. Caranya adalah dengan mengonsumsi vitamin dan obat.

Lantas, vitamin dan obat-obatan apa yang boleh dikonsumsi saat menjalani isolasi mandiri? Yuk, simak ulasannya berikut!

Apa itu isolasi mandiri?

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), isolasi mandiri adalah upaya pemisahan orang yang sakit dari orang-orang yang sehat. Dalam hal ini, orang yang sakit sedang terinfeksi COVID-19.

Di rumah, siapa pun yang terinfeksi harus terpisah dari anggota keluarganya, tinggal di ruangan tertentu, dan menggunakan kamar mandi sendiri (jika memungkinkan).

Isolasi mandiri umumnya berlaku untuk orang yang tidak bergejala tapi menerima hasil positif COVID-19. Isolasi dilakukan sampai orang tersebut dinyatakan sembuh. Jika muncul gejala yang memerlukan bantuan medis, orang itu harus segera menghubungi fasilitas kesehatan terdekat.

Isolasi berbeda dengan karantina. Jika isolasi biasanya dilakukan oleh orang tanpa gejala (OTG) atau bergejala ringan, maka karantina mencakup area yang lebih luas. Karantina bisa dilakukan oleh orang yang tidak terinfeksi tapi berisiko, tujuannya meminimalkan potensi paparan virus.

Baca juga: Lengkap! Ini Panduan Isolasi Mandiri untuk Pasien COVID-19 Tanpa Gejala

Vitamin dan obat yang perlu dikonsumsi

Meski tidak mendapat perawatan di rumah sakit, orang yang sedang isolasi mandiri sebaiknya tetap mengonsumsi vitamin atau obat tertentu. Selain meningkatkan daya tahan dan respons imun, vitamin dan obat diharapkan bisa mempercepat penyembuhan.

Dalam Pedoman Tatalaksana COVID-19 Edisi 3 yang disusun oleh tim gabungan dari sejumlah perhimpunan dokter spesialis seluruh Indonesia, berikut beberapa obat dan vitamin yang perlu dan boleh dikonsumsi saat menjalani isolasi mandiri di rumah:

Untuk pasien tanpa gejala

Obat-obatan dan vitamin yang bisa dikonsumsi oleh pasien konfirmasi tanpa gejala saat menjalani isolasi mandiri meliputi:

Vitamin C

Vitamin C telah lama dikenal karena kandungan antioksidannya. Pilihan dosis dan aturan minumnya adalah sebagai berikut:

  • Tablet vitamin C non-acidic 500 mg per 6-8 jam (untuk 14 hari)
  • Tablet isap vitamin C 500 mg per 12 jam (selama 30 hari)
  • Multivitamin yang mengandung vitamin C, 1-2 tablet per 24 jam (selama 30 hari)
  • Dianjurkan multivitamin yang juga mengandung vitamin B, E, dan zinc.

Vitamin D

Selain vitamin C, pasien konfirmasi tanpa gejala yang sedang menjalani isolasi mandiri juga perlu mengonsumsi vitamin D. Pilihan dosisnya adalah sebagai berikut:

  • Suplemen: 400 IU-1000 IU per hari (tersedia dalam bentuk kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet isap, kapsul lunak, serbuk, dan sirop)
  • Obat: 1000-5000 IU per hari (tersedia dalam bentuk tablet 1000 IU dan tablet kunyah 5000 IU)
  • Obat-obatan yang memiliki sifat antioksidan
  • Obat-obatan pendukung, baik tradisional maupun obat modern asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tetap pantau apakah ada gejala yang muncul atau tidak.

Untuk pasien konfirmasi bergejala ringan

Bukan hanya yang tanpa gejala, pasien konfirmasi dengan gejala klinis ringan juga disarankan untuk isolasi mandiri di rumah. Dalam hal ini, vitamin dan obat-obatan yang dibutuhkan mungkin lebih banyak, seperti:

Vitamin C

Vitamin C masih dibutuhkan karena kandungan antioksidannya bisa meningkatkan sistem imun. Pilihan dosis dan aturan minum untuk pasien COVID-19 bergejala ringan adalah:

  • Tablet vitamin C non-acidic 500 mg per 6-8 jam (untuk 14 hari)
  • Tablet isap vitamin C 500 mg per 12 jam (selama 30 hari)
  • Multivitamin yang mengandung vitamin C, diminum 1-2 tablet per 24 jam (selama 30 hari)
  • Dianjurkan minum multivitamin yang juga dilengkapi vitamin B dan E, serta zinc.

Vitamin D

Selain vitamin C, vitamin D juga dibutuhkan untuk pasien konfirmasi bergejala ringan. Pilihan dosis dan aturan minumnya adalah sebagai berikut:

  • Suplemen: 400 IU-1000 IU per hari (tersedia dalam bentuk kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet isap, kapsul lunak, serbuk, sirop)
  • Obat: 1000-5000 IU per hari (tersedia dalam bentuk tablet 1000 IU dan tablet kunyah 5000 IU).

Obat antiinflamasi

COVID-19 memang dipicu oleh virus, namun peradangan yang terjadi dapat diredakan menggunakan obat antiinflamasi, salah satunya adalah azitromisin. Dosis dan aturan minumnya adalah 500 mg per 24 jam selama lima hari.

Obat antivirus

Antivirus adalah pengobatan utama dalam perawatan penyakit yang disebabkan oleh virus, termasuk COVID-19. Antivirus yang diizinkan untuk dikonsumsi adalah:

  • Oseltamivir oral (Tamiflu), dosis 75 mg diminum per 12 jam selama 5 sampai 7 hari (terutama bila diduga ada infeksi influenza)
  • Favipiravir (Avigan sediaan 200 mg), maksimal konsumsi 1600 mg secara oral per 12 jam pada hari pertama, dan selanjutnya 2 x 600 mg (hari ke 2-5).

Perlu diingat, kamu hanya boleh minum satu jenis obat tersebut. Jika sudah mengonsumsi oseltamivir, maka jangan mengonsumsi favipiravir. Berlaku juga sebaliknya.

Obat lainnya

Obat-obatan lain yang bersifat pendukung bisa dikonsumsi, misalnya parasetamol untuk meredakan gejala demam. Obat herbal atau tradisional juga bisa diminum, tapi tetap perhatikan kondisi kesehatan dan perkembangan gejala klinis yang dirasakan.

Konsumsi obat-obatan pendukung berlaku pula untuk orang-orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Nah, itulah ulasan tentang daftar obat dan vitamin yang perlu dikonsumsi saat menjalani isolasi mandiri. Jangan lupa juga untuk selalu melaporkan kondisi kesehatanmu kepada dokter agar lebih mudah dipantau, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

  1. World Health Organization (WHO), diakses 2 Juli 2021, Coronavirus disease 2019 (COVID-19).
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 2 Juli 2021, Isolate when you are sick.
  3. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), diakses 2 Juli 2021, Pedoman Tatalaksana COVID-19 Edisi 3.

    register-docotr