Covid-19

COVID-19 Disebut Bisa Picu Kerusakan Otak Jangka Panjang, Bagaimana Faktanya?

January 15, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Sejak setahun setelah kemunculannya pada awal 2020, lebih dari 88 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi COVID-19. Gejalanya pun berkembang tak hanya pada sistem pernapasan. Belakangan ini, COVID-19 disebut bisa memicu kerusakan pada otak.

Lantas, bagaimana cara virus corona bisa masuk dan memengaruhi fungsi otak? Apa saja dampak yang bisa ditimbulkan? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Sekilas tentang COVID-19

COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2, salah satu jenis dari virus corona. COVID-19 yang merupakan kependekan dari Coronavirus Disease 2019 ini merupakan penyakit yang menyerang dan memengaruhi saluran pernapasan, terutama paru-paru.

Penyakit ini sangat menular, karena virus pemicunya bisa menyebar lewat udara. Transmisi dari orang ke orang membuat kasus COVID-19 terus meningkat. Pada kasus yang parah, seseorang bisa mengalami berbagai komplikasi serius yang dapat membahayakan nyawa.

Begitu virus berada di dalam tubuh manusia, SARS-CoV-2 bisa menyebar ke orang lain melalui percikan air liur (droplet) ketika bersin, berbicara, atau batuk.

Baca juga: Waspada! Usia di Bawah 20 Tahun Disebut Lebih Berisiko Terinfeksi Varian Baru Virus Corona

COVID-19 dan dampaknya pada otak

Baru-baru ini, sebuah penelitian yang terbit di Journal of Alzheimer and Dementia mengemukakan fakta bahwa COVID-19 bisa berdampak pada kerusakan otak.

Menurut penjelasan Dr. Gabriel A. de Erausqin, ilmuwan yang terlibat dalam riset sekaligus seorang profesor neurologi di University of Texas Health Science Center, kerusakan otak tersebut bisa meningkatkan risiko beberapa penyakit, seperti alzheimer dan parkinson.

Tak hanya menyerang sistem pernapasan, SARS-CoV-2 juga dianggap sebagai virus neurotropik, karena dapat memasuki sel saraf. Seperti diketahui, otak adalah bagian terpenting dalam tubuh manusia yang juga berfungsi sebagai kendali sistem saraf pusat.

Kenali gejala neurologis dari COVID-19

Selain pada sistem pernapasan, gejala neurologis dari infeksi COVID-19 perlu diperhatikan. Kondisi tersebut bahkan bisa muncul pada orang yang tak mengalami gejala umum seperti demam.

Mengutip dari Medical News Today, diperkirakan 15 hingga 25 persen pengidap COVID-19 mengalami gejala neurologis, seperti hilangnya fungsi indra penciuman dan perasa. Sakit kepala berkepanjangan juga bisa mengindikasikan adanya gangguan neurologis.

Meski pada awalnya berlangsung ringan, kamu tak boleh mengabaikannya begitu saja. Gejala tersebut tetap penting untuk diperhatikan, karena berhubungan langsung dengan fungsi otak.

Bagaimana virus corona memengaruhi otak?

Dr. de Erausqin menjelaskan, agar bisa masuk ke sistem saraf, SARS-CoV-2 menempel dan mengikat reseptor ACE2 pada membran dari sel. Kemudian, memengaruhi olfaktori, yaitu bagian otak yang berfungsi menerima rangsangan indra penciuman.  

Olfaktori sendiri terhubung langsung dengan hipokampus, salah satu bagian terpenting otak yang berfungsi menyimpan memori. Saat virus mengarah ke bagian itu, seseorang bisa mengalami gangguan kognitif.

Parahnya, pasien yang telah terinfeksi COVID-19 berat bisa berisiko mengalami penumpukan cairan di otak, peradangan, hingga kejang.

Sebelumnya, Robert Stevens, MD, ahli saraf dari Johns Hopkins Medicine, pernah menyatakan, ada beberapa kemungkinan bagaimana COVID-19 bisa membahayakan otak, di antaranya adalah:

  • Sistem kekebalan tubuh bekerja terlalu keras dalam melawan virus corona, hingga menghasilkan respons inflamasi yang dapat memicu banyak kerusakan jaringan dan organ. Akibatnya, virus akan lebih mudah menginvasi
  • Semua perubahan fisiologis karena infeksi COVID-19 seperti demam hingga penurunan kadar oksigen di dalam tubuh dapat menyebabkan kegagalan organ. Hal tersebut bisa meningkatkan risiko disfungsi otak seperti delirium pada pasien yang parah
  • Sistem pembekuan darah pada pasien COVID-19 bisa abnormal, hingga memicu penggumpalan. Gumpalan bisa terbentuk di pembuluh darah, lalu menghentikan alirannya ke otak

Dampak jangka panjang permanen

Dampak jangka panjang dari COVID-19 dapat berlangsung permanen alias tak bisa kembali seperti kondisi semula. Bahkan, risiko kerusakan otak permanen dikhawatirkan memiliki persentase lebih tinggi jika dibandingkan dengan efek pada paru-paru.

Dari pengamatan infeksi beberapa virus sebelumnya, ditemukan fakta tentang risiko kerusakan otak yang bisa memengaruhi ingatan dan perilaku. Namun, karena COVID-19 merupakan penyakit baru, para ilmuwan perlu melakukan studi mendalam untuk mengonfirmasi kekhawatiran itu.

Nah, itulah ulasan tentang dampak COVID-19 pada otak dan risiko penyakit yang bisa ditimbulkan. Untuk meminimalkan infeksi virus corona, tetap patuhi protokol kesehatan dan terapkan pola hidup sehat, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

  1. World Health Organization (WHO), diakses 14 Januari 2021, Coronavirus disease 2019 (COVID-19).
  2. Medical News Today, diakses 14 Januari 2021, COVID-19: Research points to long-term neurological effects.
  3. Johns Hopkins Medicine, diakses 14 Januari 2021, How Does Coronavirus Affect the Brain?
  4. ALZ Journals, diakses 14 Januari 2021, The chronic neuropsychiatric sequelae of COVID‐19: The need for a prospective study of viral impact on brain functioning.

    register-docotr