Covid-19

COVID-19 Dapat Pengaruhi Sistem Pencernaan, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai!

March 10, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Tak hanya dapat menyerang sistem pernapasan saja, COVID-19 diketahui juga dapat memengaruhi sistem pencernaan. Bahkan berdasarkan ulasan terbaru, sekitar 53 persen pasien COVID-19 mengembangkan setidaknya satu gejala gastrointestinal.

Lantas, bagaimana tanda-tanda COVID-19 sudah memengaruhi sistem pencernaan? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Baca juga: Perhatikan! Ini Beda Nyeri Punggung Biasa dan Gejala COVID-19

Mengapa COVID-19 bisa menyebabkan gejala sistem pencernaan?

Pada dasarnya, para peneliti masih mempelajari lebih lanjut mengapa COVID-19 dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh.

Meskipun demikian, penelitian menunjukkan bahwa virus penyebab COVID-19 yakni SARS-CoV-2 memasuki sel usus dan sel pernapasan melalui protein angiotensin-converting enzyme 2 (ACE-2) sebagai reseptor.

Virus memasuki sel usus setelah spike protein mengikat ACE-2. Ketika berada di dalam sel, virus menggunakan mesin sel itu sendiri untuk membuat salinan protein virus serta ribonucleic acid (RNA).

Apabila partikel dari SARS-CoV-2 meninggalkan sel yang terinfeksi, ini dapat memicu pelepasan sitokin.

Sitokin sendiri merupakan protein yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh. Proses tersebut dapat menyebabkan gejala yang memengaruhi sistem pencernaan.

Virus dapat merusak jaringan sistem pencernaan

Di sisi lain, gejala COVID-19 yang melibatkan sistem pencernaan juga dapat terjadi karena virus menghancurkan atau merusak jaringan sistem pencernaan, terutama pada kasus nyeri, mual, dan diare.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa COVID-19 dapat mengubah mikrobiota usus, yakni kumpulan mikroba yang terdapat pada usus atau lambung. Ketika berada di dalam saluran pencernaan, virus dapat berjalan melalui vena portal.

Vena portal merupakan pembuluh darah yang berperan untuk mengalirkan darah dari saluran pencernaan. Ini dapat membuat virus juga memengaruhi saraf vagus. Akibatnya, dapat menyebabkan gejala mual.

COVID-19 dan sistem pencernaan

Batuk, sesak napas, serta demam merupakan gejala umum dari COVID-19. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa COVID-19 juga dapat menimbulkan gejala pada sistem pencernaan.

Gejala COVID-19 yang memengaruhi sistem pencernaan sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sebab, sebuah laporan dari China pada tahun lalu menunjukkan bahwa COVID-19 juga dapat memicu gejala sistem pencernaan.

Salah satu studi di Amerika juga menemukan bahwa sekitar 32 persen pasien COVID-19 mengalami gejala pada sistem pencernaan yang meliputi diare, mual, hingga kehilangan nafsu makan.

Apa saja tanda-tanda COVID-19 sudah memengaruhi sistem pencernaan?

Penelitian terus berkembang. Akan tetapi, menurut tinjauan terbaru yang menganalisis sekitar 125 artikel, gejala umum dari COVID-19 yang memengaruhi sistem pencernaan di antaranya adalah:

  • Kehilangan nafsu makan
  • Kehilangan indra perasa atau penciuman
  • Diare
  • Mual.

Jarang terjadi, COVID-19 juga dapat menyebabkan:

  • Sendawa
  • Refluks asam
  • Gangguan pencernaan
  • Kolitis atau peradangan usus.

COVID-19 juga dikatakan dapat mengganggu fungsi jaringan usus serta mengurangi pergerakan usus. Kebanyakan pasien yang mengalami gejala sistem pencernaan juga disertai dengan gejala yang memengaruhi sistem pernapasan.

Meskipun demikian, sebuah tinjauan menemukan bahwa sekitar 20 persen orang yang terinfeksi COVID-19 hanya mengalami gejala sistem pencernaan. Bahkan terkadang, gejala tersebut berkembang sebelum gejala umum muncul, misalnya saja demam atau gejala pada sistem pernapasan.

Baca juga: Dapat Menyerang Sistem Pencernaan, Apakah Mencret Termasuk Gejala COVID-19?

Apakah gejala sistem pencernaan COVID-19 dapat meningkatkan risiko kondisi tertentu?

Berdasarkan Medical News Today, gejala COVID-19 pada sistem pencernaan mungkin dapat meningkatkan risiko kesehatan tertentu. Sebuah studi pada November 2020 menemukan bahwa gejala sistem pencernaan dapat meningkatkan risiko acute respiratory distress syndrome.

Selain itu, studi juga menemukan bahwa gejala sistem pencernaan dapat meningkatkan risiko menjalani prosedur tertentu, seperti ventilasi mekanik non-invasif atau bahkan intubasi trakeal.

Di sisi lain, beberapa studi juga menemukan seseorang yang sebelumnya sudah memiliki kondisi yang memengaruhi sistem pencernaan juga dapat mengembangkan kondisi yang lebih serius.

Sebuah penelitian menemukan bahwa seseorang dengan kondisi tertentu yang memengaruhi sistem pencernaan, seperti esofagus Barrett, berisiko lebih tinggi mengembangkan gejala parah dari COVID-19.

Beberapa peneliti berspekulasi bahwa hal tersebut mungkin saja disebabkan karena kondisi medis pada sistem pencernaan dapat menyebabkan metaplasia usus, yang mana menggantikan lapisan lambung dengan sel-sel yang memiliki kesamaan dengan sel pada lapisan usus.

Demikianlah informasi mengenai hubungan COVID-19 dan sistem pencernaan. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, selalu terapkanlah protokol kesehatan, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr