Covid-19

CDC: Ada Peningkatan Kasus Peradangan Jantung setelah Vaksinasi COVID-19

June 4, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Baru-baru ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memaparkan fakta terbaru bahwa ada tren peningkatan kasus peradangan jantung setelah pemberian vaksin COVID-19. Bukan semua tipe vaksin, melainkan hanya yang berjenis messenger ribonucleic acid (mRNA).  

Dari beberapa jenis vaksin mRNA, dua di antara yang dimaksud adalah vaksin dari perusahaan farmasi Pfizer-BioNTech and Moderna. Lantas, peradangan seperti apa yang terjadi pada jantung setelah mendapatkan vaksin tersebut? Bagaimana gejalanya? Berikut ulasannya!

Laporan CDC terkait peradangan jantung

Di Amerika Serikat, lebih dari 165 juta orang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19. Dari jumlah itu, sebagian kecil di antaranya mengalami efek berupa peradangan pada jantung, disebut dengan miokarditis dan perikarditis.

Sebagian besar orang yang mengalami peradangan setelah vaksinasi masuk dalam kelompok remaja dan dewasa muda (berusia di atas 16 tahun). Peradangan tersebut umumnya terjadi beberapa hari setelah mendapatkan vaksin milik Pfizer-BioNTech and Moderna.

Meski begitu, pasien dapat kembali menjalankan aktivitas normal setelah gejalanya membaik. Tapi, tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk memantau perkembangan kondisi jantungnya.

Meski terjadi peningkatan, persentase kasus peradangan jantung akibat vaksin masih sangat rendah. Jadi, CDC masih tetap merekomendasikan pemberian vaksin untuk semua orang yang berusia di atas 12 tahun, mengingat COVID-19 punya risiko lebih besar terhadap komplikasi parah.

Baca juga: Alur dan Mekanisme Pelaporan KIPI Vaksin COVID-19, Cek di Sini!

Mengenal lebih jauh tentang peradangan jantung

Peradangan jantung terjadi ketika ada aktivitas inflamasi di organ tersebut. Dalam hal ini, ada dua peradangan yang dimaksud, yaitu miokarditis dan perikarditis. Masing-masing mempunyai gejala yang hampir mirip, tapi kondisinya tidak sama.

Miokarditis

Miokarditis adalah peradangan yang terjadi pada otot jantung bernama miokardium. Dikutip dari Mayo Clinic, miokarditis dapat memengaruhi kekuatan otot dan sistem kelistrikan pada jantung, hingga mengurangi kemampuan organ tersebut dalam memompa darah.

Pada beberapa kasus, miokarditis adalah faktor risiko dari aritmia, yaitu kondisi ketika jantung mempunyai irama yang tidak normal (terlalu cepat atau terlalu lambat). Infeksi virus biasanya menjadi penyebabnya. Namun, keadaan itu juga bisa dipicu oleh reaksi obat (dan vaksin).

Miokarditis yang parah dapat melemahkan kerja jantung hingga menghambat aliran atau sirkulasi darah ke seluruh tubuh. Sehingga, penanganannya perlu dilakukan dengan cepat dan tepat. Jika gumpalan darah terbentuk, ini dapat menyebabkan stroke dan serangan jantung.

Penting untuk selalu memantau setiap gejala yang terjadi pada jantung. Pada kasus miokarditis, gejalanya bisa berupa:

  • Nyeri dada
  • Irama jantung yang tidak normal
  • Sesak napas, baik ketika istirahat maupun beraktivitas
  • Retensi cairan yang ditandai dengan pembengkakan kaki dan pergelangan tangan
  • Mudah lelah
  • Sakit kepala
  • Nyeri di beberapa bagian tubuh
  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Diare

Baca juga: Bisa Sebabkan Kematian, Ini 7 Penyebab Penyakit Jantung yang Kamu Harus Tahu

Perikarditis

Perikarditis adalah pembengkakan akibat adanya iritasi dan peradangan pada perikardium, yaitu jaringan tipis seperti kantong yang mengelilingi jantung. Biasanya, perikarditis berlangsung ringan dan dapat hilang tanpa pengobatan.

Jika berlangsung parah, perawatan seperti operasi mungkin dibutuhkan (meski jarang). Perikarditis sering kali menyebabkan nyeri dada yang serius (seperti ditusuk-tusuk) secara tiba-tiba, dipicu oleh lapisan perikardium yang teriritasi saling bergesekan.

Namun, beberapa orang mengalami nyeri tersebut seperti ada tekanan pada dada, dapat menyebar hingga ke tulang bahu dan leher bagian kiri. Gejala tersebut sering memburuk ketika sedang batuk, berbaring, atau menarik napas dalam-dalam.

Selain nyeri dada, perikarditis juga dapat memicu gejala lain, seperti pembengkakan perut dan kaki, batuk, mudah lelah dan lemas, demam ringan, detak jantung cepat (berdebar-debar), hingga kesulitan bernapas (terutama saat sedang dalam posisi berbaring).

Nah, itulah ulasan tentang efek peradangan jantung dari pemberian vaksin berjenis mRNA. Namun, kamu tak perlu khawatir, selama memiliki tubuh yang sehat, kondisi itu sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Tetap patuhi protokol kesehatan di mana pun berada, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 3 Juni 2021, Myocarditis and Pericarditis Following mRNA COVID-19 Vaccination.
  2. Mayo Clinic, diakses 3 Juni 2021, Pericarditis.
  3. Mayo Clinic, diakses 3 Juni 2021, Myocarditis.

    register-docotr