Covid-19

5 Gejala COVID-19 yang Masih Bisa Bertahan Meski Sudah Sembuh

March 2, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Banyak orang mengira bahwa setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19, maka gejalanya pun akan hilang. Faktanya, meski telah negatif dari infeksi virus Corona, seseorang masih mungkin untuk mengalami gejala yang pernah dirasakan sebelumnya.

Lantas, apa yang membuat hal itu bisa terjadi? Apa saja gejala-gejala itu? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Tetap bergejala meski dinyatakan sembuh

Baru-baru ini, sebuah studi oleh sejumlah peneliti di University of Washington mengungkapkan bahwa orang-orang yang telah dinyatakan sembuh dari COVID-19 masih mungkin untuk mempertahankan gejala.

Fenomena yang diberi nama ‘long COVID’ ini diamati selama berbulan-bulan. Penelitian dilakukan secara acak melibatkan ratusan orang yang mendapat hasil positif setelah menjalani tes COVID-19.

Lebih dari 30 persen dari total 177 orang mengaku masih merasakan gejala yang belum hilang meski telah dinyatakan sembuh dari infeksi virus Corona.

Baca juga: Studi Terbaru: Antibodi COVID-19 Bisa Bertahan hingga 6 Bulan

Apa saja gejala-gejala itu?

Setelah dinyatakan negatif dari SARS-CoV-2, beberapa gejala masih bisa bertahan hingga beberapa bulan. Gejala itu bisa terjadi dalam skala ringan hingga yang dapat mengganggu aktivitas, seperti:

1. Hilangnya kemampuan indra penciuman

Gejala pertama yang masih bisa bertahan meski sudah dinyatakan sembuh dari COVID-19 adalah hilangnya kemampuan indra penciuman, atau yang disebut dengan anosmia. Beberapa penyintas tidak bisa mengendus atau merasakan aroma tertentu pada hidungnya.

Satu alasan utama yang bisa menyebabkan hal itu terjadi adalah karena virus telah menyerang sel pendukung yang memiliki fungsi penting dalam hal penciuman. Hasilnya, gejala ini sulit untuk pulih dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali normal.

Namun, menurut ahli neurobiologi Sandeep Robert Datta, seperti dikutip dari Harvard Medical School, meski ada hubungannya dengan masalah saraf, anosmia akibat COVID-19 sangat kecil kemungkinannya bersifat permanen.

2. Lelah berlebihan

Para penyintas COVID-19 yang terlibat dalam penelitian mengaku masih merasakan gejala lelah berlebihan atau fatigue meski telah dinyatakan sembuh. Bahkan, gejala itu disebut berlangsung selama berminggu-minggu.

Belum ada penjelasan pasti mengapa gejala fatigue masih bertahan. Namun, ada satu teori yang diyakini oleh peneliti, yaitu karena efek perlawanan yang diberikan oleh sistem imun. Seperti diketahui, saat terjadi infeksi, sistem imun akan berusaha melawan zat asing dari luar, dalam hal ini adalah virus.

‘Perlawanan’ cukup lama itulah yang membuat sistem kekebalan menghasilkan sitokin, bahan kimia yang bisa memicu kelelahan ekstrem. Cara paling efektif untuk mengatasinya adalah dengan memastikan tubuh tetap terhidrasi dan mengonsumsi makanan bergizi.

3. Masalah pernapasan

Bagi pasien yang memang telah mengalami komplikasi pada paru-paru akibat COVID-19, kesulitan bernapas adalah keluhan yang umum. Namun, hal yang sama ternyata juga bisa terjadi pada orang-orang yang sudah dinyatakan sembuh, lho.

Gejala yang satu ini disebabkan oleh kerusakan kantong udara yang ada di paru-paru. Sehingga, distribusi oksigen dan karbon dioksida menjadi terganggu. Akibatnya, pola pernapasan ikut terdampak.

Latihan pernapasan ekstensif dan penggunaan mesin oksigen mungkin diperlukan agar fungsi pernapasan bisa kembali normal.

4. Sakit kepala

Gejala berikutnya yang masih bisa bertahan meski telah dinyatakan sembuh dari COVID-19 adalah sakit kepala. Gejala yang satu ini bisa terasa menyakitkan hingga mengganggu rutinitas.

Dikutip dari laman COVID symptom study, sakit kepala merupakan salah satu tanda awal paling umum dari COVID-19. Namun, kondisi itu bisa bertahan hingga berbulan-bulan setelah sembuh. Sakit kepala dianggap sebagai komplikasi neurologis akibat infeksi virus Corona.

Bisa jadi, itu menandakan adanya peradangan di tubuh, termasuk ujung saraf di rongga hidung. Sakit kepala yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak dibiarkan. Kamu bisa mendatangi dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

5. Nyeri otot

Gejala terakhir yang masih bisa bertahan berbulan-bulan setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19 adalah nyeri otot. Nyeri terjadi ketika virus berusaha menghancurkan jaringan otot yang memiliki fungsi penting.

Setelah itu, peradangan tak bisa dihindarkan dan menyebar ke seluruh tubuh, termasuk area persendian.

Nah, itulah lima gejala COVID-19 yang masih bisa bertahan meski telah dinyatakan sembuh. Jika kamu pernah positif COVID-19 dan masih merasakan gejala-gejala di atas meski sudah negatif virus Corona, jangan ragu untuk periksakan diri ke dokter, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

  1. JAMA Network, diakses 1 Maret 2021, Sequelae in Adults at 6 Months After COVID-19 Infection.
  2. Times of India, diakses 1 Maret 2021, Coronavirus: Symptoms That Take The Longest To Go Away, According To Studies.
  3. COVID Symptom Study, diakses 1 Maret 2021, Surprising research findings on the early symptoms of COVID-19.
  4. Harvard Medical School, diakses 1 Maret 2021, How COVID-19 Causes Loss of Smell.

    register-docotr