Kehamilan

Bahaya Aborsi: Risiko dan Efek Samping Prosedur yang Tak Aman bagi Wanita

June 18, 2020 | Husni Efendi | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Melakukan pengguguran kandungan atau aborsi bukanlah keputusan yang mudah, pasti banyak alasan dan pertimbangan kenapa hal itu harus dilakukan. Banyak dampak buruk yang dialami perempuan, apalagi jika tidak mengetahui bahaya aborsi dan dilakukan dengan sembarangan.

Yang paling penting sebelum memutuskan untuk melakukan aborsi, adalah mengetahui risikonya.

Apalagi jika aborsi dilakukan tanpa bantuan tenaga medis yang profesional bisa berakibat buruk pada kondisi kesehatan fisik perempuan, psikologis, bahkan yang terburuk bisa mengakibatkan kematian.

Bahaya aborsi jika dilakukan sembarangan

Dilansir dari badan kesehatan dunia (WHO), aborsi dikategorikan tidak aman bila dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai pengetahuan atau keterampilan medis yang memadai dan layak, sekaligus tidak memiliki fasilitas medis yang sesuai standar kesehatan.

Akibatnya, risiko dan bahaya aborsi yang dilakukan sembarangan bisa berujung kematian pada perempuan.

WHO juga mencatat bahwa di negara-negara berkembang praktek aborsi tidak aman sering terjadi. Lebih dari setengah dari total jumlah aborsi yang tidak aman secara global juga terjadi di Asia. Sebagian besar pelaku aborsi yang tidak aman ini mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

Pendidikan seksualitas yang komprehensif, pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan melalui penggunaan kontrasepsi yang efektif, dan ketentuan tentang aborsi yang aman dan legal menjadi sangat penting.

Beberapa hal yang  bisa dialami setelah aborsi

1. Pendarahan setelah aborsi

Banyak perempuan akan mengalami pendarahan setelah melakukan aborsi. Selama periode ini, kamu mungkin mengalami pendarahan selama beberapa hari, dengan bercak yang ringan hingga berat.

Perdarahan berat sebagai efek aborsi, umumnya disertai dengan demam tinggi. Beberapa tanda mengalami pendarahan berat setelah aborsi adalah adanya gumpalan darah yang lebih besar dari bola golf.

Bisa berlangsung selama 2 jam atau bahkan lebih. Sehingga membutuhkan untuk selalu mengganti pembalut lebih dari 2 kali dalam satu jam.

Penting kemudian untuk mengantisipasi hal tersebut, supaya aborsi dilakukan oleh tim medis, dan menghindari hal lain yang lebih berbahaya.

2. Infeksi setelah aborsi

Berikut beberapa efek samping yang bisa dikategorikan ringan setelah melakukan aborsi, biasanya meliputi:

  • Kram perut
  • Mual dan muntah
  • Payudara yang terasa sakit
  • Mengalami kelelahan

Kadang aborsi juga dapat menimbulkan komplikasi serius. Salah satu komplikasi paling umum yakni infeksi. Hal ini dapat disebabkan oleh aborsi yang tidak tuntas atau ada paparan bakteri melalui vagina.

Infeksi tersebut terjadi karena leher rahim yang melebar selama proses aborsi dan diinduksi dengan obat aborsi. Hal ini menyebabkan bakteri dari luar masuk dengan mudah ke dalam tubuh, memicu timbulnya infeksi di rahim, saluran tuba, dan panggul.

Gejala infeksi ini biasanya adalah keputihan yang berbau sangat kuat, demam, dan rasa nyeri di bagian panggul.

3. Mengalami sepsis

Sepsis atau keracunan darah, adalah komplikasi infeksi atau luka yang bisa berpotensi mengancam nyawa. Dalam beberapa kasus aborsi, infeksi tetap berada di rahim. Namun, dalam kasus yang lebih parah, infeksi bakteri bisa masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Hal yang harus diwaspadai setelah melakukan aborsi dan mengalami gejala dari sepsis, biasanya ditandai dengan:

  • Suhu tubuh yang tinggi, bisa di atas 38 derajat celcius, atau bahkan sangat rendah
  • Anggota tubuh seperti tangan dan kaki menjadi pucat, terasa dingin, dan menggigil
  • Merasakan kebingungan dan perasaan gelisah
  • Merasakan sesak napas

4. Efek psikologis

Bukan hanya berakibat pada fisik saja, perempuan yang melakukan tindakan aborsi juga bisa mengalami gangguan psikologis. Beberapa hal yang dialami mungkin merasa ada rasa bersalah, atau juga rasa cemas.

Beberapa perempuan yang melakukan aborsi kebanyakan akan mengalami kesedihan. Tidak jarang mereka yang melakukan aborsi juga merasa depresi. Suasana psikologis yang tidak sehat, juga bisa berpotensi mengganggu kondisi kesehatan.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

– Nhs.uk, Abortion, diakses 15 Juni 2020

https://www.nhs.uk/conditions/abortion/

 

– Mayoclinic.org, Medical abortion, diakses 15 Juni 2020

https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/medical-abortion/about/pac-20394687

 

– WHO.int, Preventing unsafe abortion, diakses 15 Juni 2020

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/preventing-unsafe-abortion

 

– Healthline.com, Later-Term Abortion: What to Expect, diakses 15 Juni 2020

https://www.healthline.com/health/late-term-abortion#support

 

– Medicalnewstoday.com, How to cope with depression after abortion, diakses 15 Juni 2020

https://www.medicalnewstoday.com/articles/313098#abortion_and_depression

 

– Nhs.uk, Risks Abortion, diakses 15 Juni 2020

https://www.nhs.uk/conditions/abortion/risks/

 

– Helloclue.com, What to expect before, during, and after an abortion, diakses 15 Juni 2020

https://helloclue.com/articles/cycle-a-z/what-to-expect-before-during-and-after-an-abortion

 

– Healthline.com, After Abortion Care, diakses 15 Juni 2020

https://www.healthline.com/health/after-abortion

 

– Healthline.com, Abortion with Septic Shock, diakses 15 Juni 2020

https://www.healthline.com/health/abortion-with-septic-shock

 

– Mayoclinic.org, Sepsis, diakses 15 Juni 2020

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sepsis/symptoms-causes/syc-20351214

    register-docotr