Banyak Menyerang Anak-Anak, Waspadai Gejala Penyakit Kawasaki

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Penyakit kawasaki mungkin masih terdengar kurang lazim di telinga Moms dan Ayah. Tapi nyatanya penyakit ini ada dan kerap menyerang usia anak-anak. Mendapatkan informasi yang tepat terkait penyakit kawasaki bisa membantu mencegah atau penanganan yang tepat terhadap penyakit ini.

Baca Juga: Jangan Sembarangan Pakai Obat Kuat, Yuk Kenali Efek Sampingnya di Sini

Memahami penyakit kawasaki

Penyakit kawasaki adalah penyakit yang menyebabkan pembuluh darah meradang. Penyakit ini banyak menyerang anak-anak dan dapat jadi penyebab utama penyakit jantung

Penyakit kawasaki juga dikenal sebagai sindrom kelenjar getah bening mukokutan karena pengaruhnya terhadap kelenjar getah bening. Biasanya penyakit kawasaki menimbulkan bengkak di berbagai tempat seperti kulit, dan selaput lendir di dalam mulut, hidung dan tenggorokan.

Penyakit ini tidak menular, dapat diobati dan sebagian besar anak dapat sembuh tanpa masalah serius.

Penyebab penyakit kawasaki

Hingga saat ini  penyebab pasti penyakit kawasaki belum bisa ditentukan. Yang jelas, penyakit kawasaki tidak menular sehingga tidak mungkin disebabkan oleh virus saja. Penyakit ini mungkin terjadi karena gen, virus, bakteri, dan hal-hal lain di dunia sekitar anak, seperti bahan kimia dan iritan.

Ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko anak terhadap penyakit kawasaki, di antaranya:

  • Usia. Penyakit kawasaki banyak menyerang anak di bawah usia 5 tahun. Pada penderita yang berusia di bawah 1 tahun, penyakit kawasaki bisa lebih serius. 
  • Jenis kelamin. Anak laki-laki lebih berisiko dibandingkan anak perempuan.
  • Etnis. Anak-anak keturunan Asia Timur lebih cenderung mengalami penyakit ini. Terutama Jepang dan Korea. 

Gejala penyakit kawasaki 

Lidah stroberi, salah satu gejala yang paling umum. (Foto: https://www.shutterstock.com)

Gejala dari penyakit kawasaki rata-rata berkembang dalam 3 fase selama periode 6 minggu. Berikut penjelasan lengkapnya. 

Fase pertama, minggu ke-1 hingga ke- 2

Pada fase ini gejala yang muncul terbilang parah sehingga anak akan menjadi sangat rewel. Berikut adalah gejala di fase pertama:

  • Demam tinggi dengan suhu 38 derajat Celcius atau lebih. Biasanya berlangsung lebih dari 5 hari. Obat penurun demam pun umumnya tidak dapat menurunkan suhu tubuh
  • Ruam dan kulit mengelupas. Ruam biasanya terjadi di antara dada dan kaki serta daerah genital atau selangkangan
  • Pembengkakan dan kemerahan. Umumnya muncul di tangan dan bagian bawah kaki
  • Mata merah
  • Radang tenggorokan
  • Bibir pecah-pecah
  • Lidah bengkak dan memerah disertai benjolan kecil. Kondisi ini dikenal sebagai lidah stroberi 
  • Pembengkakan kelenjar getah bening. Biasanya ditandai dengan benjolan di satu sisi leher. 

Fase kedua, minggu ke-2 hingga ke-4

Selama fase ini, gejala akan berkurang tingkat keparahannya. Terutama demam, demam seharusnya sudah mereda tapi anak mungkin masih rewel dan kesakitan. Kemudian beberapa gejala lainnya adalah sebagai berikut:

  • Sakit perut
  • Muntah
  • Diare
  • Urine yang mengandung nanah
  • Mengantuk
  • Lesu
  • Sakit kepala
  • Nyeri sendi dan sendi bengkak
  • Menguningnya kulit dan bagian putih mata (jaundice)
  • Kulit mengelupas di bagian jari tangan, jari kaki, telapak tangan atau telapak kaki. Tangan dan kaki anak juga mungkin lunak dan sakit saat disentuh. Sehingga anak enggan berjalan atau merangkak.

Fase ketiga, minggu ke-4 hingga ke- 6

Pada fase ini, anak akan mulai pulih. Fase ini juga dikenal sebagai fase pemulihan. Kemudian gejala harusnya sudah mulai reda dan semua tanda penyakit pada akhirnya akan hilang. Namun anak mungkin masih merasa kekurangan energi dan menjadi mudah lelah selama fase ini.

Baca juga: Jangan Dianggap Sepele, Gondongan pada Anak: Ini Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kapan harus ke dokter?

Segeralah periksakan kondisi tubuh bila anak mengalami demam yang berlangsung lebih dari tiga hari. Terutama bila demam disertai dengan mata merah, lidah bengkak, ruam, serta pembengkakan kelenjar getah bening.

Diagnosis penyakit kawasaki

Tidak ada pemeriksaan tunggal yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis penyakit kawasaki. Untuk mendiagnosis penyakit ini dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan tubuh serta memastikan beberapa tanda yang muncul pada anak.

Berikut adalah tanda kunci yang menunjukkan anak terkena penyakit kawasaki. 

  • Suhu tubuh yang tinggi atau demam di atas 38 derajat celcius selama lebih dari 5 hari
  • Injeksi konjungtiva di kedua mata. Ditandai dengan pembengkakan serta warna merah pada bagian putih mata. 
  • Gangguan pada mulut dan tenggorokan. Seperti bibir kering, pecah-pecah atau merah, bengkak lidah. 
  • Perubahan pada tangan dan kaki. Mulai dari bengkak, timbul rasa sakit, kulit yang memerah atau mengelupas pada bagian telapak tangan atau telapak kaki
  • Timbulnya ruam
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher

Di samping itu, dokter juga mungkin melakukan serangkaian tes untuk mengetahui apakah anak mengalami penyakit kawasaki atau tidak. Berikut adalah contoh tes yang dapat dilakukan:

  • Sampel urine. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah urine mengandung sel darah putih.
  • Tes darah. Hal ini dilakukan untuk mengukur jumlah sel darah putih atau jumlah trombosit dalam tubuh ana
  • Tusukan lumbal. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan jarum di antara tulang belakang tulang belakang bagian bawah
  • Tes jantung menggunakan elektrokardiogram dan ekokardiogram
  • Rontgen
  • Pemeriksaan angiogram koroner.

Serangkaian tes di atas mungkin menjadi langkah dokter untuk mendiagnosis penyakit kawasaki. Hal ini penting karena gejala penyakit kawasaki mungkin mirip dengan beberapa penyakit lain, misalnya:

  • Scarlet fever, yakni infeksi bakteri yang menyebabkan ruam merah pada kulit
  • Toxic shock syndrome, yakni infeksi bakteri langka yang mengancam jiwa
  • Campak, penyakit virus yang sangat menular. Dapat menyebabkan demam dan bercak merah-coklat pada kulit
  • Glandular fever, yakni  infeksi virus yang dapat menyebabkan demam dan pembengkakan kelenjar getah bening
  • Sindrom Stevens-Johnson, yakni reaksi alergi yang sangat parah terhadap pengobatan
  • Viral meningitis, yakni infeksi pada selaput pelindung yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meninges)
  • Lupus, atau kondisi autoimun yang dapat menyebabkan berbagai gejala, mulai dari kelelahan, nyeri sendi, dan ruam. 

Pengobatan penyakit kawasaki

Penyakit kawasaki harus ditangani di rumah sakit karena dapat menyebabkan komplikasi serius. Penyakit ini juga harus ditangani sesegera mungkin. 

Bila tidak segera diobati, waktu pemulihan pun dapat menjadi lebih lama. Di samping itu, risiko komplikasi juga akan meningkat. Untuk mengobati penyakit ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan, di antaranya:

  • Pemberian aspirin

Dokter mungkin akan memberikan resep aspirin pada anak yang mengalami penyakit ini. Penggunaan aspirin umumnya memang tidak direkomendasikan pada anak-anak, tetapi untuk menangani penyakit kawasaki dokter dapat meresepkannya.

Namun penting diingat, pemberian obat aspirin pada anak hanya boleh dalam pengawasan dokter. Bila sembarangan, hal ini dapat membahayakan anak dan menyebabkan efek samping seperti sindrom Reye. 

Aspirin merupakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Penggunaanya dibenarkan untuk kondisi penyakit ini karena:

  • Dapat meringankan rasa sakit dan ketidaknyamanan
  • Dapat membantu mengurangi suhu tubuh tinggi (demam)
  • Pada dosis tinggi, aspirin berperan sebagai antiinflamasi (mengurangi pembengkakan)
  • Pada dosis rendah, aspirin adalah antiplatelet (pencegah pembekuan darah)

Dosis aspirin yang diberikan pada anak mungkin berbeda-beda, tergantung pada gejala yang dialami. 

  • Imunoglobulin intravena

Imunoglobulin intravena juga disebut IVIG. Immunoglobulin adalah cairan antibodi yang diambil dari donor sehat. Sedangkan intravena berarti disuntikkan langsung ke pembuluh darah.

Penelitian telah menunjukkan IVIG dapat mengurangi demam dan risiko masalah jantung. Imunoglobulin yang digunakan untuk mengobati penyakit kawasaki disebut sebagai gamma globulin.

Ketika anak diberikan IVIG, gejalanya akan membaik dalam waktu 36 jam. Jika demam tidak membaik setelah 36 jam, mungkin anak perlu diberikan dosis IVIG untuk kedua kalinya.

  • Pemberian kortikosteroid

Kortikosteroid adalah jenis obat yang mengandung hormon. Obat ini merupakan bahan kimia kuat yang memiliki berbagai efek pada tubuh.

Bila IVIG belum efektif, mungkin dokter akan merekomendasikan konsumsi obat kortikosteroid. Di samping itu dokter juga mungkin merekomendasikan kortikosteroid bila ditemukan adanya risiko tinggi masalah jantung pada anak.

Setelah perawatan penyakit kawasaki di rumah sakit

Ketika anak sembuh dan selesai menjalani perawatan di rumah sakit, pastikan mereka minum banyak cairan. Juga, jangan lupa untuk selalu memantau obat yang diberikan dan perhatikan efek sampingnya.

Biasanya dokter juga akan memberikan jadwal kontrol untuk memantau kondisi kesehatan pasien secara berkala.

Risiko komplikasi

Dengan perawatan yang cepat, sebagian besar anak-anak dapat sembuh setelah mengalami penyakit kawasaki. Juga, ditemukan mereka sembuh secara total tanpa meninggalkan dampak lain untuk tubuh. Namun tetap saja terkadang komplikasi dapat terjadi.

Penyakit kawasaki menyebabkan pembuluh darah meradang dan membengkak. Hal ini kemudian dapat menyebabkan komplikasi pada pembuluh darah yang memasok darah ke jantung (arteri koroner).

Sekitar 25 persen anak-anak dengan penyakit kawasaki mengalami komplikasi dengan jantung. Bila tidak ditangani dengan baik atau dibiarkan, komplikasi dapat berakibat fatal pada sekitar 2 hingga 3 persen kasus

Dalam kasus yang jarang terjadi, anak-anak dapat mengalami:

  • Ritme jantung yang tidak biasa (disritmia)
  • Otot jantung yang meradang (miokarditis)
  • Katup jantung yang rusak (regurgitasi mitral)
  • Pembuluh darah yang meradang (vasculitis)

Kelainan jantung tersebut dapat diidentifikasi sejak fase pertama dari gejala penyakit kawasaki, yakni antara minggu pertama dan kedua.

Ketika komplikasi di atas terjadi pada anak, kondisi dapat semakin parah. Anak bisa mengalami aneurisma yakni kondisi dinding arteri yang melemah atau menggelembung. Selain itu, anak juga berisiko mengalami perdarahan internal dan serangan jantung.

Mengobati komplikasi penyakit kawasaki

Bila anak mengalami kelainan jantung akibat penyakit kawasaki, mereka mungkin perlu menjalani perawatan khusus. Seperti meminum obat-obatan atau menjalani operasi.

Perawatan yang mungkin dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Mengonsumsi obat antikoagulan dan obat antiplatelet.  Obat tersebut dibutuhkan untuk menghentikan pembekuan darah, yang dapat mencegah anak terkena serangan jantung bila arteri dalam tubuhnya meradang.
  • Coronary Artery Bypass Graft (CABG). Ini merupakan prosedur operasi untuk mengalihkan darah di sekitar arteri yang sempit atau tersumbat. Operasi ini juga dilakukan untuk meningkatkan aliran darah dan suplai oksigen ke jantung
  • Angioplasti koroner, yakni prosedur untuk memperluas arteri koroner yang tersumbat atau menyempit supaya aliran darah ke jantung meningkat. Dalam beberapa kasus, arteri yang tersumbat perlu dimasukkan stent atau logam pendek berongga agar arteri tetap terbuka. 

Anak-anak dengan komplikasi yang tergolong parah dapat mengalami kerusakan permanen pada otot atau katup jantung sebagai lipatan yang mengontrol aliran darah. Sehingga mereka butuh melakukan kontrol rutin dengan spesialis jantung. 

Itu dia serangkaian informasi mengenai penyakit kawasaki yang perlu kamu ketahui. Jika kamu atau kerabat terdekatmu menunjukkan gejala penyakit kawasaki, jangan ragu untuk temui dokter ya.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin