Flu Babi G4, Ancaman Pandemi Baru yang Harus Diwaspadai

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Baru-baru ini, para peneliti di Cina menemukan virus flu babi G4 jenis baru yang diyakini berpotensi memicu pandemi.

Studi tersebut tertuang dalam jurnal sains Amerika Serikat, Prosiding National Academy of Sciences Amerika Serikat (PNAS).

Studi tersebut mengatakan bahwa virus yang dinamai G4 secara genetik diturunkan dari strain H1N1 yang menyebabkan pandemi pada tahun 2009.

Selain itu strain H1N1 dari Amerika Utara yang memiliki gen dari virus influenza pada burung, manusia, dan babi juga memiliki peran besar.

Virus unik dan berbahaya

Oleh karena turunan dua strain tersebut, virus ini dianggap cukup unik dan berbahaya karena merupakan perpaduan dari berbagai gen dari beberapa virus sekaligus.

Selain itu, inti dari virus ini adalah virus flu burung dengan campuran strain mamalia. Sedangkan hingga saat ini, manusia dianggap masih belum memiliki kekebalan terhadap virus ini.

Penelitian dengan 30.000 sampel swab

Beberapa peneliti dari sejumlah universitas di Cina yang bergabung dalam penelitian tersebut telah mengambil 30.000 sampel swab.

Liu Jinhua dari Universitas Agrikultur China yang memimpin tim mengatakan bahwa sampel swab itu diambil dari rumah pemotongan babi di 10 provinsi di China sejak 2011 sampai 2018.

Dari 30.000 sampel swab itu, dihasilkan 179 virus flu babi yang sebagian besar merupakan jenis G4.

“Di sini, kami melaporkan pengawasan virus influenza babi dari 2011 hingga 2018 di Cina. Serta mengidentifikasi genotipe 4 (G4) yang muncul baru-baru ini yang menyerupai virus H1N1 yang menyerupai unggas Eurasia, yang membawa pandemi pada tahun 2009. Sejak tahun 2016, virus G4 telah menunjukkan peningkatan tajam,” ” ungkap para peniliti seperti dikutip dari Science Mag.

Serupa dengan HIN1 pada tahun 2009, virus G4 juga berikatan dengan reseptor tipe manusia yang menghasilkan virus G4 yang mudah mereplikasi diri dan lebih gampang menular. Virus ini menempel di dalam sel epitel dan ujung cabang saluran napas manusia.

Pengawasan serologis

Pengawasan serologis atau pemeriksaan darah untuk mendeteksi antibodi lebih lanjut di antara populasi paparan kerja menunjukkan bahwa 10,4 persen (35 dari 338 orang) pekerja di peternakan babi telah positif terhadap virus G4 H1N1.

Pada pekerja berusia 18 tahun hingga 35 tahun yang memiliki tingkat seropositif 20,5% menunjukkan bahwa virus G4 H1N1 yang dominan telah memperoleh peningkatan infektivitas pada manusia.

Infektivitas merupakan kemampuan agen penyakit untuk menyebabkan terjadinya infeksi pada manusia. Infektivitas seperti itu sangat meningkatkan peluang adaptasi virus pada manusia dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kemungkinan menjadi pandemi baru.

Flu babi sendiri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus influenza H1N1. Flu babi dapat menular dengan cepat. Penyakit ini menular saat orang sehat menghirup percikan cairan saluran pernapasan (droplet) penderita saat bersin atau batuk.

Gejala flu babi G4

Gejala flu babi G4 baru akan dirasakan 1 sampai 4 hari setelah tertular virus flu babi. Flu babi lebih mudah menular pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan sistem imun yang lemah.

Gejala yang dapat muncul diantaranya seperti demam, menggigil, batuk, nyeri tenggorokan, badan nyeri, hidung pilek, diare hingga mual muntah.

Babi merupakan inang penting untuk menghasilkan virus pandemi influenza. Pengawasan sistematis virus influenza pada babi diyakini harus sangat penting dilakukan sebagai peringatan dini dan kesiapan menghadapi pandemi potensial berikutnya.

Edward Holmes, ahli biologi evolusi di University of Sydney yang mempelajari patogen mengungkapkan bahwa varian virus G4 secara khusus cukup berbahaya karena memiliki inti virus yang serupa dengan flu burung dan manusia hingga saat ini masih belum memiliki kekebalan atas virus tersebut.

“Dari data yang disajikan, tampaknya ini adalah virus flu babi yang siap untuk muncul pada manusia, ”kata nya mengutip dari Science mag.

Tetap harus waspada

Martha Nelson, ahli biologi evolusi di Pusat Internasional Institut Kesehatan Nasional Fogarty AS yang mempelajari virus influenza babi di Amerika Serikat dan penyebarannya ke manusia mengungkapkan opini berbeda.

Menurutnya, virus flu babi memang sering berpindah dari babi ke manusia. Namun pada kebanyakan kasus, justru tidak menularkan antar manusia. Ia mengakui bahwa pada dua kasus yang terjadi di Cina tentang infeksi G4 manusia yang telah didokumentasikan adalah infeksi yang tidak menular ke manusia lain.

Hanya saja, manusia tetap harus belajar pada kasus H1NI di tahun 2009. Saat itu, tidak ada yang tahu tentang pandemi H1N1, hingga akhirnya kasus tersebut melonjak dari babi ke manusia, saat penularan antar manusia pertama muncul pada 2009.

Tidak perlu takut, namun tetap waspada. Lakukan kebiasaan dan pola hidup sehat, cuci tangan dengan sabun sebelum memegang wajah dan gunakan masker agar terhindar dari infeksi virus ini.

1.  https://www.healthline.com/health/swine-flu#symptoms

2.  https://www.theguardian.com/world/2020/jun/30/new-swine-flu-with-pandemic-potential-identified-by-china-researchers

3. https://www.pnas.org/content/early/2020/06/23/1921186117

4. https://en.as.com/en/2020/07/01/latest_news/1593556004_124752.html

5. https://www.sciencemag.org/news/2020/06/swine-flu-strain-human-pandemic-potential-increasingly-found-pigs-china

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin