Pilihan Obat Penurun Panas yang Bisa Didapatkan di Apotek

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Obat penurun panas harus diberikan pada seseorang dengan suhu tubuh di atas kisaran normal, yakni 36-37 derajat Celcius. Perlu diketahui, kondisi ini biasanya menandakan adanya infeksi pada tubuh.

Ketika infeksi terjadi, sistem kekebalan tubuh akan melancarkan serangan untuk mencoba menghilangkan penyebabnya. Nah, untuk mengetahui tentang obat penurun panas lainnya yuk simak penjelasan berikut agar lebih paham!

Baca juga: Penyebab Sering Buang Air Kecil di Malam Hari: Kondisi Medis hingga Gaya Hidup

Obat penurun panas untuk demam yang bisa digunakan

Demam umumnya akan sembuh dengan sendirinya, namun jika suhu tubuh naik terlalu tinggi maka mungkin menjadi gejala infeksi parah. Dalam kasus ini, dokter mungkin merekomendasikan pengobatan untuk mengurangi keparahan gejala. 

Dilansir Medical News Today, saat seseorang demam mungkin juga akan merasakan gejala berupa menggigil, nafsu makan rendah, peka terhadap rasa sakit, dan sulit berkonsentrasi.

Nah, untuk menghindari kondisi kesehatan yang parah berikut beberapa pilihan obat penurun panas di apotek yang bisa digunakan.

1. Paracetamol

Paracetamol atau disebut juga dengan asetaminofen merupakan salah satu pereda demam yang efektif menurunkan suhu tubuh. Obat demam satu ini umumnya digunakan untuk mengobati berbagai kondisi, seperti sakit kepala, nyeri otot, radang sendi, sakit punggung, hingga sakit gigi.

Jangan gunakan obat jika memiliki alergi terhadap asetaminofen atau parasetamol dan tanyakan pada dokter apakah aman untuk penderita penyakit hati atau memiliki sejarah alkoholisme.

Sebelum menggunakan parasetamol, beritahu juga pada dokter jika sedang hamil karena obat bisa masuk ke ASI.

Paracetamol tersedia dalam beberapa bentuk, termasuk tablet, kapsul, dan sirup atau cair dengan merek seperti Sanmol dan Panadol. Karena termasuk obat bebas, konsumsinya perlu diperhatikan yakni tidak lebih dari 4.000 mg dalam waktu 24 jam.

Efek samping mengonsumsi obat demam satu ini, dapat berupa mual, muntah, kesulitan tidur, serta reaksi alergi termasuk ruang parah. Perhatikan juga obat yang dapat menyebabkan interaksi berbahaya dengan paracetamol atau acetaminophen, meliputi:

  • Obat pengencer darah, seperti warfarin
  • Obat tuberkulosis atau TBC, yakni isoniazid
  • Obat kejang tertentu, seperti karbamazepin dan fenitoin

2. Obat antiinflamasi non-steroid atau NSAID

Obat antiinflamasi non-steroid umumnya bisa membantu mengurangi peradangan, nyeri, hingga demam. Obat ini bekerja dengan cara menghalangi produksi tubuh dari zat yang disebut dengan prostaglandin.

Zat tersebut dapat meningkatkan peradangan dan demam dengan menyebabkan pelepasan berbagai sinyal kimiawi dalam tubuh. Nah, obat demam satu ini ada memiliki berbagai macam jenis, antara lain:

Ibuprofen

Ibuprofen merupakan obat demam yang biasanya juga digunakan untuk menghilangkan berbagai rasa sakit dan nyeri pada punggung atau gigi. Obat demam satu ini tersedia dalam berbagai macam bentuk, seperti tablet, kapsul, sirup, hingga gel.

Produk bermerek umum yang mengandung ibuprofen, termasuk Bufect dan Paramex. Untuk anak, tersedia seperti merek Proris. Beberapa jenis ibuprofen hanya tersedia dengan resep sehingga untuk usia 17 tahun kebawah perlu membaca dosis pemakaian pada produk obat.

Ibuprofen membutuhkan waktu 20 hingga 30 untuk bekerja jika kamu meminumnya. Jika mengonsumsi tablet, ambillah dosis terendah untuk waktu yang singkat dan jangan gunakan selama lebih dari 10 hari kecuali sudah dibicarakan dengan dokter.

Aspirin

Aspirin merupakan sejenis pereda nyeri yang biasa digunakan untuk mengobati demam. Tak hanya itu, obat ini juga digunakan untuk membantu mencegah dan mengobati serangan jantung, stroke, penggumpalan darah, serta radang sendi atau peradangan.

Minum obat ini melalui mulut dengan segelas air dan ikuti petunjuk pada kemasan atau label resep. Jangan konsumsi obat lebih sering dari yang dianjurkan dan bicarakan dengan dokter mengenai penggunaan obat untuk anak-anak. 

Orang yang berusia di atas 65 tahun mungkin memiliki reaksi lebih kuat sehingga membutuhkan dosis kecil. Perlu diketahui juga, obat ini dapat berinteraksi dengan beberapa hal seperti alkohol, obat untuk diabetes, obat untuk mencegah pembekuan darah, hingga obat asam urat. 

Naproxen

Obat penurun panas, naproxen dikenal juga sebagai obat antiinflamasi non steroid atau NSAID yang bekerja dengan menghalangi produksi zat alami penyebab peradangan. Jika menggunakan produk yang dijual bebas, baca semua petunjuk pada kemasan produk sebelum mengonsumsinya.

Minum obat ini melalui mulut, biasanya 2 atau 3 kali sehari dengan segelas penuh air. Jangan berbaring setidaknya 10 menit setelah mengonsumsi obat untuk mencegah sakit perut. Dosis biasanya ditentukan berdasarkan kondisi medis dan respon terhadap pengobatan.

Jangan menambah dosis atau mengonsumsi obat lebih sering dari yang dianjurkan. Untuk kondisi terus memburuk, segera lakukan pemeriksaan medis atau konsultasikan dengan dokter jika demam berlangsung lebih dari 3 hari.

Baca juga: Nyeri Tak Tertahan di Dada? Ini Dia Gejala Angina yang Perlu Diwaspadai!

Butuh obat penurun demam? Order online aja lewat aplikasi Grab, langsung diantar ke rumahmu. Langsung klik di sini untuk order obat demam!

  1. Mayo Clinic (2020), diakses 28 September 2020. Fever treatment: Quick guide to treating a fever
  2. Healthline (2019), diakses 28 September 2020. Choosing the Best Fever Reducer
  3. Medical News Today (2020), diakses 28 September 2020. Fever: What you need to know
  4. Drugs.com (2020), diakses 28 September 2020. Paracetamol
  5. NHS (2018), diakses 28 September 2020. Ibuprofen for adults (including Nurofen)
  6. Cleveland Clinic, diakses 28 September 2020. Aspirin, ASA oral tablets
  7. Webmd, diakses 28 September 2020. Naproxen Tablet

     

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin