Kesehatan Anak

Anak Tertular TBC setelah Dicium Orang, Bagaimana Penjelasan Medisnya?

April 6, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Viral di sosial media cerita seorang ibu bernama Rima tentang anaknya yang terkena TBC atau tuberkulosis. Anak yang baru berusia 1 tahun itu harus menjalani pengobatan selama 9 bulan. Kata sang ibu, anak tersebut tertular TBC kemungkinan karena dicium oleh orang lain.

“Saya bukan nyalahin orang ya. Cuma memang menurut dokter anak yang periksa anak saya, cium itu salah satu media penyebaran bakteri yang paling umum pada anak-anak,” kata sang ibu. Benarkah demikian? 

Baca Juga: Bukan Cuma Batuk, Berikut Daftar Gejala TBC yang Perlu Kamu Waspadai!

Mengenal TBC pada anak dan orang dewasa

TBC adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja, anak-anak atau orang dewasa. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Orang dewasa yang terpapar bakteri ini tidak selalu menunjukkan gejala.

Bakteri yang masuk ke dalam tubuhnya dalam kondisi “tertidur”. Ini disebut dengan TBC laten dan ini tidak menular. Sedangkan orang dewasa yang terpapar dan mengalami sakit, disebut dengan penderita TBC aktif.

Penderita TBC aktif akan menunjukkan gejala batuk lebih dari 3 minggu, nyeri saat batuk, demam, keringat saat malam hari, kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan. Orang yang mengalami TBC aktif dapat menularkan penyakit tersebut kepada orang lain.

Sementara pada anak-anak, TBC juga bisa berupa laten dan aktif. Anak-anak yang mengalami TBC aktif juga memiliki gejala yang sama, seperti batuk, demam, berkeringat di malam hari, dan kehilangan nafsu makan hingga penurunan berat badan. 

Perbedaannya, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), anak yang mengalami TBC aktif cenderung tidak menularkan bakteri TBC kepada orang lain, dibandingkan dengan TBC orang dewasa.

Bagaimana anak bisa tertular TBC? 

Sebenarnya penularan TBC anak-anak atau orang dewasa sama saja. Bakteri bisa menyebar dari penderita TBC aktif, melalui udara. Bakteri akan keluar ketika penderita berbicara, bersin, batuk atau bernyanyi, dan bercampur di udara.

Jika orang lain menghirup udara tersebut, maka akan terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Dengan kata lain, jika kita berada di sekitar orang dengan TBC aktif, berarti kita berisiko tinggi terpapar bakteri tersebut. 

Kembali merujuk cerita ibu Rima, bahwa bayinya tertular TBC karena dicium orang, itu adalah hal yang mungkin terjadi. Misalnya penderita TBC aktif mencium sambil mengajak ngobrol anak tersebut.

Jika anak menghirup udara dengan bakteri yang keluar dari mulut penderita, tentunya anak tersebut akan tertular TBC. Jika demikian, sebaiknya dicari tahu sumbernya, ini diperlukan untuk pencegahan penularan yang lebih luas lagi di kemudian hari. 

Baca Juga: Tuberkulosis di Tengah Pandemi COVID-19, Apa Saja yang Harus Diwaspadai?

Bagaimana pengobatan anak yang terdiagnosis TBC? 

Seorang anak yang dinyatakan menderita TBC aktif akan dirujuk untuk melakukan perawatan Pengobatan akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi anak. Namun umumnya akan diberi obat anti-TBC yang harus dikonsumsi selama 6 hingga 9 bulan. 

Pengobatan harus dilakukan hingga selesai. Karena berhenti di tengah pengobatan akan membuat bakteri justru menjadi kebal dengan obat yang diberikan. Kondisi tersebut akan membuat TBC lebih sulit diobati. 

Jika terjadi kebal atau resistensi obat, pengobatan membutuhkan waktu yang lebih lama. Sekitar 18 hingga 24 bulan. Sedangkan anak yang didiagnosis mengalami TBC laten juga akan dianjurkan melakukan perawatan.

Untuk anak-anak di atas 2 tahun akan diberikan obat isoniazid-rifapentin yang harus diminum sesuai aturan. Obat harus dikonsumsi satu kali seminggu selama 12 minggu. 

Selain itu, anak dengan TBC laten mungkin akan diberikan obat rifampisin harian yang harus diminum selama 4 bulan atau isoniazid harian yang harus dikonsumsi selama 9 bulan. 

Bagaimana cara mencegah penularan TBC pada anak?

Untuk anak-anak, perlindungan yang bisa dilakukan dari penularan TBC adalah melakukan vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG). Selain melakukan vaksin, menurut World Health Organization (WHO), orang tua juga perlu melakukan skrining kontak. 

Skrining kontak dilakukan untuk membatasi kontak anak dengan orang yang mengalami TBC aktif. Risiko paling besar dari seorang anak yang mungkin tertular TBC adalah orang di sekitarnya, seperti keluarga atau pengasuh yang mengalami TBC aktif. 

Seperti yang sudah dijelaskan, jika penularan terjadi melalui udara yang mengandung bakteri, yang keluar saat penderita TBC aktif berbicara, batuk atau bernyanyi. Karena itu sebaiknya batasi kontak anak dengan orang-orang, jika berada di lingkungan dengan angka TBC yang tinggi. 

Demikian informasi tentang TBC anak dan memahami bagaimana penyakit tersebut bisa menular kepada anak. 

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr