Kesehatan Anak

Anak Muntah dan Masuk Angin? Yuk, Kenali Penyebab hingga Cara Mengatasinya

May 6, 2020 | Ahmad Ridwan | dr. Vivi Puspita Hartono
no-image

Anak muntah dan masuk angin? Jika hanya sesekali mungkin Moms tidak khawatir. Namun bagaimana jika kondisi tersebut terjadi dengan frekuensi yang lebih sering, apakah merupakan tanda bahaya?

Nah, sebelum merasa khawatir dengan keadaan yang dialami anak, ada baikya mengetahui terlebih dahulu apa sih muntah itu? Dan apa hubungannya dengan masuk angin?

Apa itu muntah dan masuk angin

Muntah adalah gejala yang menyebabkan mulut mengeluarkan olahan makanan dari lambung dan usus dalam bentuk cairan secara paksa, sementara masuk angin merupakan suatu kondisi yang disebabkan berkumpulnya gas ke dalam tubuh yang disebabkan udara dingin.

Muntah pada bayi yang berusia 0 bulan terjadi karena reflek dari eosapagus yaitu proses kembali susu yang sudah dikonsumsi ke mulut akibat saluran cerna bayi yang berukuran kecil dan belum terbentuk sempurna.

Biasanya, saluran cerna akan terbentuk dengan sempurna pada usis 4-5 bulan.

Hal-hal lain yang jadi penyebab anak muntah

Berikut adalah penyebab lain yang menyebabkan anak muntah dan masuk angin:

  • Gastroenteritis atau pada peradangan pada usus, yang biasanya disebabkan oleh virus rotavirus, dan juga bisa diakibatkan oleh bakter e.colli maupun salmonella. Anak biasanya akan merasakan muntah dan mencret bahkan demam.
  • Alergi makanan, menyebabkan muntah dan disertai gejala lain seperti ruam pada kulit seperti bercak-bercak kemerahan dan gatal-gatal.
  • Radang usus buntu.
  • Infeksi lainnya, misal infeksi saluran kencing, infeksi telinga bagian tengah, bahkan meningitis.
  • Keracunan.

Apa yang harus Moms lakukan saat bayi muntah?

Jangan panik jika si kecil yang masih bayi tiba-tiba muntah, segera lakukan 3 langkah berikut ini:

1.  Tegakkan bayi kira-kira 30 menit setelah menyusui.

2.  Pastikan tidak ada tekanan setelah bayi menyusui.

3.  Sendawakan bayi setelah menyusui.

Apa yang harus Moms lakukan saaat anak muntah?

Untuk balita dan anak-anak, berikut ini penanganan yang harus dilakukan apabila ia muntah:

1. Segera posisikan anak duduk atau berbaring setelah muntah agar lebih nyaman.

2. Berkumur. Karena muntah memiliki rasa asam, si kecil mungkin merasa tidak nyaman setelahnya. Mintalah dia untuk berkumur dan membersihkan mulut.

3. Hindari dulu memberi susu. Jika si kecil masih menyusui, silakan lanjutkan memberi ASI. Namun hindari produk susu sapi karena lambung si kecil tidak dapat menyerap dengan baik saat terjadi iritasi.

4. Beri minuman secara perlahan karena lambung sedang teriritasi dan jika dipaksa minum anak akan merasa nyeri perut kembali.

5. Berikan cairan oralit untuk menggganti cairan tubuh yang hilang.

6. Istirahatkan lambung, dengan tidak memberikan makan yang bertekstur padat.

7. Berikan makan sedikit demi sedikit tetapi sering.

8. Usapkan minyak telon atau aromaterapi untuk menenangkan anak.

Kapan harus hubungi dokter saat anak muntah?

Muntah pada anak biasanya tidak berbahaya. Namun, segera bawa si kecil ke dokter saat ia muntah dan menunjukkan beberapa gejala berikut:

1. Jika anak menunjukkan gejala dehidrasi, lesu, bibir kering, buang air kecil sedikit, mata cekung, pada bayi bagian kepala yang lunak akan tampak cekung.

2. Muntah yang sering terjadi terutama pada bayi kurang dari 1 bulan.

3. Muntah dan sakit perut yang parah diiringi sakit kepala, demam, dan diare.

4. Muntah terjadi setelah mengalami cedera pada kepala.

5. Muntah disertai darah atau muntahan berwarna kehitaman.

6. Muntah berwarna hijau.

7. Perut terasa keras saat diraba.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Berita Terkait
register-docotr