Kesehatan Wanita

Wajib Tahu, Ini 8 Masalah Reproduksi Wanita yang Paling Sering Terjadi

May 12, 2020 | Ajeng Annastasia
feature image

Organ reproduksi wanita memang menjadi salah satu sumber penyakit jika tidak dirawat dengan baik. Oleh sebab itu, ada masalah reproduksi wanita paling sering terjadi yang perlu kamu ketahui.

Dengan begitu, kamu bisa mulai lebih peduli untuk menjaga kesehatan, terutama kesehatan reproduksi.

Masalah reproduksi wanita paling sering terjadi

Ada banyak masalah maupun penyakit yang berhubungan dengan organ reproduksi wanita. Baik itu yang berkaitan dengan organ vulva dan vagina, indung telur, tuba falopi, hingga siklus haid.

Penting sekali mengenali apa saja masalah yang kerap terjadi pada organ reproduksi wanita. Tujuannya agar kamu bisa lebih ketat menjaga kesehatan area tersebut.

Berikut 8 masalah reproduksi wanita yang paling rentan terjadi:

Baca juga: Penting! Ini Penyebab Infeksi Saluran Kemih yang Harus Kamu Ketahui

1. Disfungsi seksual

Ini merupakan salah satu masalah yang bisa mengidap wanita mana pun. Penyebabnya beragam. Seks yang menyakitkan, kurangnya minat dalam berhubungan dan seks yang tidak memuaskan adalah beberapa jenis kondisi yang disebut disfungsi seksual.

Masalah ini bisa menjadi penyebab infertilitas (kemandulan). Jadi jika kamu sulit untuk hamil atau ada masalah pada aktivitas seksual, ada kemungkinan ini berhubungan dengan disfungsi seksual. Bicaralah dengan ahli kesehatan tentang masalah ini.

2. Endometriosis

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), endometriosis merupakan masalah reproduksi wanita (tepatnya rahim), yang merupakan tempat tumbuhnya bayi saat seorang wanita hamil.

Endometriosis adalah suatu kondisi ketika jaringan yang biasanya melapisi rahim tumbuh di tempat lain. Bisa tumbuh di ovarium, di belakang rahim, di usus, atau di kandung kemih.

Jaringan yang ‘salah tempat’ ini dapat menyebabkan rasa sakit, kemandulan, dan menstruasi yang sangat berat. Rasa sakit biasanya terjadi di perut, punggung bawah, atau daerah panggul.

Beberapa wanita tidak memiliki gejala sama sekali. Kesulitan hamil pun mungkin merupakan tanda pertama seorang wanita mengalami endometriosis.

3. Fibroid rahim eksternal

Fibroid rahim adalah tumor non-kanker yang paling umum terjadi pada wanita usia subur. Fibroid terdiri dari sel-sel otot dan jaringan lain yang tumbuh di dalam dan di sekitar dinding rahim.

Penyebab timbulnya fibroid sampai saat ini masih belum diketahui. Faktor risiko termasuk salah satunya kelebihan berat badan. Gejala fibroid meliputi:

  • Menstruasi berat dan kadang disertai rasa nyeri
  • Merasa ‘penuh’ di perut bagian bawah
  • Sering buang air kecil
  • Nyeri saat berhubungan seks
  • Nyeri punggung bawah
  • Masalah reproduksi, seperti infertilitas, keguguran berulang, atau persalinan dini

Namun demikian, sebagian kasus fibroid rahim muncul tanpa gejala. Itulah mengapa penting untuk menemui dokter untuk pemeriksaan rutin.

4. Kanker ginekologi

CDC menyebutkan ada lima jenis kanker ginekologi utama. Kanker ginekologi sendiri merupakan jenis kanker yang terjadi pada organ reproduksi wanita.

Kanker ginekologi umumnya bisa mulai terjadi di tempat yang berbeda di dalam panggul wanita, yaitu area di bawah perut dan di antara tulang pinggul.

Lima jenis kanker ginekologi tersebut antara lain kanker serviks, kanker ovarium, kanker rahim, kanker vagina dan kanker vulva.

5. HIV/AIDS

Masalah reproduksi wanita yang sering terjadi lainnya yakni HIV/AIDS. HIV adalah virus imunodefisiensi yang memengaruhi sel-sel tertentu dari sistem kekebalan (disebut sel CD4).

Seiring waktu, HIV dapat menghancurkan begitu banyak sel-sel ini sehingga tubuh tidak dapat melawan infeksi lagi. Tubuh manusia tidak dapat menyingkirkan HIV, itu berarti sekali seseorang memiliki HIV, maka ia memilikinya seumur hidup.

Sampai saat ini belum ada obat untuk mematikan HIV, tetapi dengan perawatan medis yang tepat virus dapat dikendalikan.

HIV merupakan virus yang dapat menyebabkan sindrom defisiensi imun atau acquired immune deficiency syndrome (AIDS). AIDS menjadi tahap akhir dari infeksi HIV, yakni ketika sistem kekebalan seseorang sudah rusak parah.

HIV pada wanita hamil

Wanita yang terinfeksi HIV biasanya tertular virus ini akibat berhubungan seks dengan pria yang terinfeksi atau berbagi jarum suntik dengan orang yang terinfeksi.

Penting untuk mengetahui status infeksi virus HIV saat hamil. Ini guna memastikan bayi tidak tertular HIV selama kehamilan, persalinan, atau setelah melahirkan (melalui ASI).

Ada kemungkinan seorang ibu dengan HIV tidak menularkannya kepada bayinya, terutama jika ia mengetahui status HIV-nya sejak dini dan aktif berobat intensif untuk mengurangi risiko.

6. Sistitis Interstisial

Sistitis interstisial atau interstitial cystitis (IC) adalah kondisi kronis yang mengakibatkan ketidaknyamanan atau nyeri berulang di kandung kemih atau daerah panggul di sekitarnya.

Wanita dengan IC biasanya memiliki dinding kandung kemih yang meradang atau teriritasi, yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan. IC dapat memengaruhi siapa saja, namun lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.

Beberapa orang memiliki beberapa atau tidak sama sekali dari gejala berikut:

  • Ketidaknyamanan ringan pada perut atau panggul
  • Sering buang air kecil
  • Perasaan mendesak untuk buang air kecil
  • Tekanan pada perut atau panggul
  • Nyeri hebat di kandung kemih atau daerah panggul
  • Nyeri perut bagian bawah yang parah yang meningkat saat kandung kemih terisi atau kosong

7. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik terjadi ketika ovarium wanita atau kelenjar adrenal menghasilkan lebih banyak hormon pria daripada biasanya.

Salah satu efeknya adalah kista (kantung berisi cairan) yang berkembang di ovarium. Wanita yang mengalami obesitas lebih berisiko mengalami PCOS. Gejala PCOS umumnya yaitu:

  • Infertilitas
  • Nyeri panggul
  • Pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, dada, perut, ibu jari, atau jari kaki
  • Kebotakan atau penipisan rambut
  • Jerawat, kulit berminyak, atau ketombe

8. Penyakit menular seksual

Penyakit menular seksual atau PMS merupakan infeksi yang bisa didapatkan dari berhubungan seks dengan seseorang yang memiliki infeksi.

Penyebab PMS adalah bakteri, parasit, dan virus. Sebagian besar PMS memengaruhi pria dan wanita, tetapi dalam banyak kasus masalah kesehatan yang ditimbulkan bisa lebih parah bagi wanita.

Salah satunya jika wanita hamil memiliki PMS, maka hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi bayinya.

Jika kamu mengalami PMS yang disebabkan oleh bakteri atau parasit, dokter mengobatinya dengan antibiotik atau obat lain. Namun jika PMS disebabkan oleh virus, maka obat yang ada sampai saat ini masih sekadar mengendalikan gejala.

Masalah reproduksi wanita lainnya: kemandulan

Kemandulan atau infertilitas memang tak hanya menyerang reproduksi wanita. Pria pun dapat mengalami hal serupa. Namun kebanyakan kasus, infertilitas sebagian besar menyerang kaum hawa.

Infertilitas dapat diartikan sebagai kegagalan dalam mencapai kehamilan selama hubungan seksual. Penyebab utamanya adalah disfungsi ovarium, adanya masalah pada tuba falopi, endometriosis, serviks, serta gangguan pada rahim.

Pilihan pengobatannya pun beragam. Infertilitas yang disebabkan karena disfungsi ovulasi kerap diobati dengan agen penginduksi ovulasi oral.

Sedangkan infertilitas karena endometriosis dapat ditangani melalui jalur pembedahan, induksi ovulasi, serta inseminasi intrauterin.

Baca juga: Cara Tepat Menghitung Siklus Menstruasi untuk Kehamilan

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

WebMD. Diakses 13 Oktober 2019. Women’s Health: Top Reproductive Problems
Journal of Reproduction & Infertility. Diakses 13 Oktober 2019. Sexual Dysfunction in Women Undergoing Fertility Treatment in Iran: Prevalence and Associated Risk Factors
NEJM (2018). Diakses 13 Oktober 2019. Heat-Stable Carbetocin versus Oxytocin to Prevent Hemorrhage after Vaginal Birth
Medscape (2019). Diakses 13 Oktober 2019. Medical Groups, NEJM Editors Urge Abortion Rights Protection
CDC. Diakses 8 Juni 2021. Common Reproductive Health Concerns for Women

    register-docotr