Kamus Penyakit

Pahami Penyakit Osteoporosis: Kondisi Saat Kepadatan Tulang Menurun

May 18, 2020 | Husni Efendi | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Seiring bertambahnya usia, tulang dapat mengalami penurunan kepadatan. Kondisi ini dikenal sebagai osteoporosis.

Tapi tak sekadar itu saja, jika diabaikan osteoporosis juga bisa mengganggu aktivitas harian, lho.

Apa yang kamu ketahui tentang osteoporosis? Kira-kira apa saja gejalanya, dan bagaimana mengatasinya, ya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut!

Apa itu osteoporosis?

Secara umum osteoporosis adalah kondisi tulang keropos, yang ditandai dengan penurunan kepadatan tulang.

Tulang yang awalnya padat menjadi tipis dan berongga, sehingga kekuatan tulang pun menurun dan menjadi rentan terhadap trauma maupun fraktur (tulang patah).

Gangguan yang menyerang tulang ini berkembang ketika kepadatan tulang menurun. Tubuh menyerap kembali lebih banyak jaringan tulang dan menghasilkan lebih sedikit untuk menggantikannya.

Pada orang dengan osteoporosis, tulang menjadi keropos dan melemah, meningkatkan risiko patah tulang, terutama di pinggul, tulang belakang, dan beberapa sendi perifer, seperti pergelangan tangan.

Tanda dan gejala osteoporosis

Osteoporosis berkembang secara lambat, dan kamu mungkin tidak tahu bahwa mungkin kamu bisa saja mengalaminya sampai saat terjadi patah tulang atau setelah insiden kecil, seperti jatuh.

Bahkan dalam kadar tertentu, batuk atau bersin bisa dapat menyebabkan patah tulang.

Keretakan akan sering terjadi di pinggul, pergelangan tangan, atau tulang belakang untuk orang yang menderita gangguan pada tulang ini.

Jika patah terjadi pada tulang belakang, ini dapat menyebabkan perubahan postur, dan kelengkungan tulang belakang.

Kapan harus ke dokter?

Ketidaknyamanan atau nyeri di salah satu ruas tubuh pada beberapa bagian tulang menandakan adanya fraktur yang tidak terduga atau bahkan tidak dikenal.

Kamu harus segera berkonsultasi dengan dokter setelah mengalami  beberapa jenis rasa sakit di tulang, untuk mengantisipasi osteoporosis.

Penyebab dan faktor risiko osteoporosis

Dokter telah mengidentifikasi beberapa faktor dari risiko osteoporosis. Beberapa dapat di cegah , teteapi ada juga yang tidak bisa di hindari.

Tubuh secara terus-menerus menyerap jaringan tulang yang lama, kemudian mengganti tulang dengan jaringan yang baru untuk menjaga destitas, kekuatan dan struktur tulang.

Kepadatan tulang memuncak ketika seseorang berusia akhir 20-an, dan mulai menurun pada usia sekitar 35 tahun, Seiring bertambahnya usia seseorang, tulang lebih cepat rusak dibandingkan regenerasinya.

Osteoporosis dapat berkembang jika gangguan ini terjadi secara berlebihan. Ini dapat memengaruhi pria dan perempuan, tetapi kemungkinan besar terjadi pada perempuan setelah menopause karena penurunan hormon erstrogen

Faktor risiko yang tidak dapat dihindari

Menurut American College of Rheumatology, faktor risiko yang tidak dapat dihindari dari osteoporosis ini termasuk:

  • Umur: risiko meningkat setelah pertengahan 30-an dan terutama setelah menopause
  • Mengurangi hormon seks: kadar estrogen yang lebih rendah tampaknya membuat tulang lebih sulit untuk beregenerasi
  • Etnisitas: Orang kulit putih dan orang Asia memiliki risiko lebih tinggi daripada kelompok etnis lain
  • Faktor genetik: memiliki anggota keluarga yang pernah terdiagnosis patah tulang pinggul atau osteoporosis membuat osteoporosis lebih besar kemungkinan bisa terjadi
  • Riwayat patah tulang: Seseorang di atas 50 tahun dengan patah tulang sebelumnya setelah cedera ringan, ada kemungkinan juga untuk terkena osteoporosis

Obat-obatan dan kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan

Beberapa penyakit atau obat-obatan bisa menyebabkan perubahan kadar hormon, dan beberapa obat juga bisa mengurangi massa tulang.

Penyakit yang memengaruhi kadar hormon termasuk hipertiroidisme, hiperparatiroidisme, dan sindrom cushing.

Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2015 menunjukkan bahwa  perempuan transgender yang menerima terapi hormon (HT) mungkin memiliki peningkatan risiko osteoporosis.

Namun, menggunakan antiandrogen selama setahun sebelum memulai HT mungkin dapat mengurangi risiko ini.

Kondisi medis yang meningkatkan risiko osteoporosis

  • Beberapa penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis dan spondilitis ankilosa
  • Sindrom cushing, kelainan kelenjar adrenal
  • Gangguan kelenjar hipofisis
  • Hipertiroidisme dan hiperparatiroidisme
  • Kekurangan estrogen atau testosteron
  • Masalah dengan penyerapan mineral, seperti penyakit celiac

Pencegahan osteoporosis

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi dan mencegah risiko osteoporosis:

1. Gaya hidup sehat

Perubahan gaya hidup tertentu dapat mengurangi risiko osteoporosis. Pilihan gaya hidup adalah faktor yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi osteoporosis.

Latihan menahan beban membantu mencegah osteoporosis. Karena hal tersebut dapat membangun tulang yang kuat dan memprlambat kerusakan tulang.

Cara lain untuk meminimalkan risiko adalah menghindari merokok, karena ini dapat mengurangi pertumbuhan tulang baru dan menurunkan kadar estrogen pada perempuan.

Membatasi asupan alkohol untuk membentuk tulang yang kuat dan mencegah kerusakan tulang.

Latihan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keseimbangan, seperti yoga, juga dapat mengurangi risiko jatuh dan patah tulang.

Bagi yang sudah memiliki gangguan tulang ini, nutrisi, olahraga, dan teknik pencegahan supaya tidak jatuh dan cidera memainkan peran kunci dalam mengurangi risiko patah tulang.

2. Cukupi asupan kalsium dan vitamin D

Kalsium sangat penting untuk tulang. Memastikan mengonsumsi kalsium cukup setiap hari adalah hal yang disarankan.

Orang dewasa yang berusia 19 tahun ke atas harus mengonsumsi 1.000 miligram (mg) kalsium sehari. Perempuan yang berusia lebih dari 51 tahun dan semua orang dewasa dari 71 tahun ke atas, setidaknya harus memiliki asupan harian kalsium 1.200 mg.

Sumber makanan yang mengandung kalsium meliputi:

  • Susu, keju, dan yoghurt
  • Sayuran berdaun hijau, seperti kangkung dan brokoli
  • Ikan dengan tulang lunak, seperti salmon dan tuna
  • Sereal

Vitamin D juga berperan penting dalam mencegah osteoporosis karena membantu tubuh menyerap kalsium.

Namun, sebagian besar vitamin D tidak berasal dari makanan tetapi dari paparan sinar matahari, sehingga dokter merekomendasikan untuk berjemur secara teratur di bawah sinar matahari.

Vitamin D berperan penting dalam pengaturan kalsium dan menjaga kadar fosfor dalam darah. Faktor-faktor ini sangat penting untuk menjaga kesehatan tulang.

Kamu membutuhkan vitamin D untuk memungkinkan usus menstimulasi dan menyerap kalsium dan mengambil kembali kalsium yang dikeluarkan oleh ginjal.

Kekurangan vitamin D pada anak-anak dapat menyebabkan rakhitis.

Demikian pula, pada orang dewasa, kekurangan vitamin D bisa berakibat menjadikan pelunakan tulang atau osteomalacia. Osteomalacia menyebabkan kepadatan tulang yang buruk dan memperburuk kelemahan otot.

Kekurangan vitamin D juga dapat berakibat sebagai osteoporosis itu sendiri. Itulah kenapa asupan vitamin D menjadi penting untuk asupan kesehatan tulang kamu.

Diagnosis osteoporosis

Seorang dokter akan mempertimbangkan riwayat keluarga dan faktor risiko apapun, jika dikhawatirkan adanya osteoporosis, dokter akan meminta pemindaian kepadatan mineral tulang (BMD).

Pemindaian kepadatan tulang menggunakan jenis sinar-X yang dikenal sebagai dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA).

DEXA dapat menunjukkan risiko patah tulang osteoporosis. Ini juga dapat membantu memantau respon seseorang terhadap pengobatan osteoporosis.

Dua jenis perangkat yang dapat melakukan pemindaian DEXA:

  • Perangkat central: Ini adalah pemindaian berbasis rumah sakit yang mengukur kepadatan mineral tulang pinggul dan tulang belakang sementara individu tersebut berada di atas meja
  • Perangkat periferal: Ini adalah mesin bergerak yang menguji tulang di pergelangan tangan, tumit, atau jari

Tes lainnya

Pemindaian ultrasound pada tulang tumit adalah metode lain yang digunakan dokter untuk menilai gangguan pada tulang ini, dan ini bisa di lakukan di pusat perawatan primer.

Komplikasi

Saat tulang menjadi lebih lemah, maka kemungkinan patah tulang terjadi akan menjadi lebih sering, dan seiring bertambahnya usia, kamu membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Maka, pencegahan sedari ini menjadi hal yang penting untuk dilakukan.

Hal ini dapat menyebabkan rasa sakit yang terus-menerus dan hilangnya keseimbangan bahkan kepercayaan diri ketika tulang-tulang di bagian tulang belakang mulai lemah.

Beberapa orang butuh waktu lama untuk pulih dari pinggulnya yang patah, dan yang lain mungkin tidak lagi bisa hidup lagi secara mandiri.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

– medicalnewstoday.com, diakses 14 Mei 2020 – What to know about osteoporosis

https://www.medicalnewstoday.com/articles/155646#complications

 

–  medicalnewstoday.com, diakses 14 Mei 2020 – What are the health benefits of vitamin D?

https://www.medicalnewstoday.com/articles/161618#benefits

 

– mayoclinic.org, diakses 14 Mei 2020 – Osteoporosis

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968

 

    Berita Terkait
    register-docotr