Kamus Penyakit

Diare

May 12, 2020 | Putri Prima Soraya | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Diare, satu atau dua kali, pasti kamu pernah mengalaminya. Penyebab yang paling umum terjadi penyakit ini adalah dikarenakan adanya infeksi virus, bakteri dan bisa juga karena keracunan makanan.

Normalnya, pada orang dewasa buang air besar bisa sebanyak satu hingga dua kali dalam sehari. Tapi, saat terserang penyakit ini, buang air besar bisa berlangsung lebih dari tiga kali sehari.

Selain perubahan frekuensi, saat terserang penyakit ini akan terjadi juga perubahan konsistensi feses menjadi lebih cair.

Saat terserang penyakit ini, sebaiknya kita jangan menganggap remeh. Karena meskipun bukan penyakit yang mematikan, diare juga dapat menyebabkan terjadinya komplikasi yang membuat kondisi kesehatan kita memburuk.

Baca Juga: Awas! Dibalik Manfaat Cuka Apel Ternyata Ada Efek Samping yang Berbahaya

Apa itu penyakit diare?

Diare atau diarea adalah kondisi di mana seseorang buang air besar dengan feses tidak berbentuk atau cair dengan frekuensi lebih dari tiga kali dalam 24 jam. 

Penyakit ini sendiri merupakan penyakit yang umum terjadi, bisa saja seseorang terkena penyakit ini dalam beberapa kali dalam setahun. Dalam kebanyakan kasus, penyebab penyakit ini pada seseorang tidak diketahui dan dapat hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari.

Menurut pusat data Kemenkes pada 2017, total kasus diare di Indonesia mencapai 7.077.299 orang. Umumnya, penyakit hanya berlangsung satu hingga dua hari dan akan sembuh dengan penanganan yang tepat.

Jenis-jenisnya

Berdasarkan tingkat keparahannya, diare dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Diare akut

Diare akut berlangsung dalam waktu singkat. Ini merupakan  permasalahan kesehatan yang tidak terlalu parah. Biasanya berlangsung sekitar satu atau dua hari, tetapi mungkin lebih lama dan kemudian akan sembuh dengan sendirinya.

2. Diare persisten

Diare persisten dibagi menjadi dua yaitu persisten berat dan persisten ringan. Pada diare persisten ringan, seseorang terkena penyakit ini yang berlangsung selama kurang dari  14 hari atau lebih yang tidak menunjukkan tanda dehidrasi.

Sedangkan pada kasus persisten berat, seseorang mungkin akan  lebih lama yaitu lebih dari 14 hari.

Persisten berat, dapat menimbulkan gejala dehidrasi, sehingga  memerlukan perawatan medis di rumah sakit.

3. Diare kronis

Diare kronis berlangsung lebih dari beberapa minggu. Kondisi ini dapat berlangsung setidaknya hingga empat minggu. Jika diare terus menerus ini terjadi, mungkin merupakan tanda masalah yang lebih serius dan dapat menjadi gejala penyakit kronis.

Maka dari itu, diare terus menerus tidak boleh dibiarkan dan harus segera mendapatkan penanganan dokter.

Apa penyebab diare?

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kita dapat terserang penyakit ini, di antaranya adalah :

  • Infeksi oleh bakteri seperti bakteri salmonella atau E. coli.
  • Beberapa jenis virus,  seperti Rotavirus, Norwalk virus, Astrovirus, dan Adenovirus.
  • Penyalahgunaan alkohol.
  • Alergi terhadap makanan tertentu.
  • Diabetes.
  • Penyakit usus seperti penyakit Crohn atau kolitis ulserativa.
  • Makan makanan tertentu yang mengganggu sistem pencernaan.
  • Penyalahgunaan obat pencahar.
  • Obat-obatan tertentu seperti antibiotik dan obat-obatan kanker.
  • Kondisi tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme).
  • Terapi radiasi.
  • Beberapa jenis penyakit kanker.
  • Operasi pada sistem pencernaan.
  • Kesulitan menyerap nutrisi tertentu.
  • Kondisi penyakit radang usus.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena diare?

Penyakit ini adalah penyakit yang tidak mengenal batasan usia, semua orang dari berbagai usia, termasuk bayi dan anak-anak dapat terkena penyakit ini.

Faktor lain yang menyebabkan seseorang berisiko terkena penyakit ini di antaranya adalah:

  • Kurang menjaga kebersihan diri: Bakteri, virus, dan parasit yang menyebabkan kondisi ini dapat disebarkan melalui kontak dengan permukaan, makanan, dan air yang terkontaminasi
  • Penanganan makanan yang tidak tepat: Diare akibat keracunan makanan dapat diakibatkan oleh penanganan makanan yang tidak tepat

Banyak faktor risiko yang menyebabkan diare pada bayi, salah satu faktor yang sering diteliti adalah faktor lingkungan yang mana ini meliputi sarana air bersih, sanitasi, saluran pembuangan air limbah, serta kondisi rumah.

Apa gejala dan ciri-ciri diare?

Setiap orang yang mengalami penyakit ini mungkin akan mengalami gejala yang berbeda-beda. Gejala pada penyakit ini dapat juga dipengaruhi oleh penyebabnya. Namun biasanya gejala yang sering dikeluhkan saat, adalah:

  1. Kembung
  2. Kram
  3. Feses berair
  4. Mulas
  5. Mual dan muntah
  6. Sakit perut

Gejala yang lebih serius dapat berupa:

  1. Darah atau lendir di tinja 
  2. Penurunan berat badan
  3. Demam

Diare berdarah sendiri adalah kondisi di mana darah bercampur dengan tinja yang encer. Diare berdarah seringkali merupakan tanda perdarahan gastrointestinal yang diakibatkan oleh cedera atau penyakit.

Oleh karenanya, jika kamu mengalami diare berdarah sangat penting untuk segera menghubungi dokter untuk mendapatkan perawatan.

Diare gejala corona

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa, COVID-19 memiliki beberapa gejala yang harus diwaspadai. Pada beberapa pasien dengan COVID-19 mengalami gejala gastrointensital, terutama diare sebagai tanda pertama penyakit.

Diare gejala corona ini juga dapat diikuti oleh beberapa gejala lainnya, seperti:

  • Muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual
  • Sakit perut

Diare gejala corona harus sangat diwaspadai. Jika kamu mengalami diare yang juga diikuti oleh beberapa gejala yang sudah disebutkan di atas, serta gejala lainnya (seringkali gejala flu) sebaiknya segeralah kunjungi dokter.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat diare?

Umumnya, penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, pada beberapa kondisi kita dapat terserang kondisi ini dalam waktu yang lama dan tidak kunjung membaik.

Jika diare terus menerus dibiarkan dan tidak mendapatkan pengobatan yang tepat dan sesuai, seseorang dapat saja berisiko terkena penyakit komplikasi. Beberapa penyakit komplikasi yang dapat menyerang kita di antaranya adalah:

1. Dehidrasi

Ketika kamu mengalami penyakit ini, tubuh akan kehilangan air dan elektrolit bersama dengan feses. Sangat disarankan untuk minum banyak cairan untuk menggantikan air dan elektrolit yang hilang.

Gejala-gejala dehidrasi dapat meliputi di antaranya:

  • Kelelahan
  • Selaput lendir kering
  • Peningkatan denyut jantung
  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Rasa haus meningkat
  • Penurunan buang air kecil
  • Mulut kering

Dehidrasi dapat menjadi serius dan memburuk jika tidak ditangani secara tepat.

2. Hipokalemia

Kandungan kalium (K) yang berkurang saat terkena diare dapat menyebabkan terjadinya hipokalemia. Penyakit hipokalemia ditandai dengan kelemahan otot, peristaltik usus berkurang, gangguan fungsi ginjal, dan aritmia.

3. Demam

Demam biasanya timbul pada saat kita terkena penyakit ini yang diakibatkan oleh bakteri. Demam dapat muncul karena sistem imun tubuh sedang melawan bakteri penyebab penyakit ini.

4. Sindrom uremik hemolitik (HUS)

HUS merupakan kondisi komplikasi langka infeksi E.coli, yang merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit ini. Sindrom ini umumnya menyerang anak-anak, meskipun begitu orang dewasa juga bisa loh terkena komplikasi penyakit ini.

Pada kondisi serius HUS dapat menyebabkan gagal ginjal. Gejala seseorang terkena sindrom uremik hemolitik ini di antaranya berupa diare dengan tinja berdarah, demam, mual, dan memar.

5. Septikemia

Kondisi septikemia merupakan komplikasi penyakit yang dapat terjadi pada saat seseorang terserang diare akibat bakteri. Septikemia merupakan penyakit yang diakibatkan masuknya bakteri ke dalam aliran darah.

Bakteri tersebut dapat berupa Clostridium difficile yang merupakan salah satu bakteri penyebab diare. Bakteri dapat menyebabkan penggumpalan darah dan mengakibatkan suplai oksigen ke suatu organ tubuh menjadi terhambat.

6. Malnutrisi

Pada saat mengalami diare secara terus menerus terutama diikuti dengan muntah, seseorang biasanya akan mengalami kondisi malnutrisi. Malnutrisi merupakan penyakit ketika tubuh seseorang tidak menerima asupan gizi yang cukup.

Ini menjadi penyebab umum yang dialami oleh bayi dan anak-anak. Meskipun tidak menimbulkan kematian, malnutrisi dapat menyebabkan pertumbuhan anak terganggu.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati diare?

Untuk mengatasi penyakit ini kamu dapat melakukan perawatan di dokter maupun perawatan di rumah. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut.

Perawatan diare di dokter

Diare yang terus menerus terjadi harus segera diobati. Berkunjung pada dokter merupakan penanganan diare yang paling tepat.

Dokter akan memberikan beberapa pendekatan secara medis, untuk menghentikan gejala yang kita rasakan.

Dokter akan bertanya mengenai riwayat kesehatanmu, obat-obatan lain yang dikonsumsi, serta melakukan beberapa pemeriksaan fisik, ini dapat termasuk:

  • Tes darah
  • Tes feses
  • Sigmoidoskopi

Cara mengatasi diare secara alami di rumah

Untuk mengobati kondisi ini sebagai perawatan pertama di rumah, kamu dapat melakukan hal-hal berikut ini:

  • Konsumsi banyak cairan
  • Tambahkan makanan setengah padat dan rendah serat secara bertahap
  • Hindari makanan tertentu
  • Mengonsumsi obat diare yang tersedia di apotek
  • Pertimbangkan untuk mengonsumsi probiotik

Apa saja obat diare yang biasa digunakan?

Ada beberapa obat maupun ramuan herbal yang biasanya digunakan untuk menangani diare. Seperti:

Obat diare di apotek

Beberapa jenis obat yang mungkin akan dokter resepkan untuk menangani keluhan tersebut, di antaranya adalah:

1. Cairan elektrolit

Aspek paling penting adalah menjaga kondisi hidrasi dan keseimbangan elektrolit selama kita terserang diare akut. Pemberian cairan ini dapat dilakukan dengan diminum, kecuali pada beberapa kasus dapat diberikan melalui infus.

Idealnya, cairan elektrolit harus terdiri dari 3,5 gram NaCl, 2,5 gram NaHCO₃, 1,5 gram KCl, dan 20 gram glukosa per liter air. Cairan seperti itu tersedia secara di apotek dalam paket yang mudah disiapkan dengan dicampur air.

2. Antibiotik

Antibiotik dapat diberikan oleh dokter kepada pasien dengan gejala dan tanda diare yang disebabkan oleh infeksi, seperti demam, feses berdarah, dan adanya kemungkinan kontaminasi lingkungan,

Jenis golongan antibiotik yang diberikan disesuaikan dengan jenis bakteri penyebab penyakit ini. Seperti yang disebabkan oleh bakteri Salmonella spp, dapat diberikan Ciprofloxacin.

Penting bagi kamu yang mendapatkan pengobatan dengan antibiotik, untuk selalu memerhatikan aturan pakai agar penggunaan antibiotik tidak menimbulkan mutasi pada bakteri.

Kamu bisa meminta bantuan dari apoteker untuk menjelaskan kembali terkait aturan pakai yang sesuai pada resep saat menerima obat.

3. Obat golongan opiat

Obat golongan opiat di antaranya adalah kodein fosfat, loperamid HCl, serta kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat. Penggunaan kodein adalah 15-60 mg 3x sehari, loperamid 2-4 mg/3-4 kali sehari.

Obat golongan opiat dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekuensi diare. Bila digunakan dengan sesuai arahan dokter, golongan obat ini cukup aman dan efektif. Obat ini tidak dianjurkan pada diare akut dengan gejala demam dan sindrom disentri.

Obat diare alami

Meskipun saat ini obat-obatan untuk menangani penyakit ini sudah banyak tersedia di apotek, tidak ada salahnya untuk mencoba pengobatan secara alami.

Terdapat beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk pertolongan pertama pada dengan cara alami, di antaranya adalah:

1. Chamomile

Saat ini chamomile tersedia dalam bentuk teh, cair atau kapsul. Mengonsumsi chamomile dipercaya dapat mengurangi peradangan dan kejang pada  usus. Selain itu, chamomile memiliki efek antispasmodik untuk meredakan nyeri kram yang sering terjadi.

2. Ekstrak biji rami (Linum usitatissimum)

Biji rami terbukti efektif melawan penyakit ini. Pada biji rami mengandung lendir yang dapat menyerap air sehingga bertindak sebagai konsistensi feses saat diare akan lebih memadat.

3. Lada putih

Lada putih memiliki kandungan piperine yang tinggi. Lada putih biasanya digunakan untuk mengobati sakit perut dan diare. Kandungan piperin pada lada putih dipercaya dapat meredakan rasa sakit dan mengurangi peradangan dalam tubuh.

4. Akar marshmallow (Althea officinalis)

Akar marshmallow dapat digunakan untuk mengurangi peradangan pada lapisan perut saat terserang diare. Cara pengolahan yang dapat dilakukan adalah dengan  mengonsumsi akar marshmallow sebagai teh dingin.

Cara pembuatannya dapat dilakukan dengan  merendam dua sendok makan akar marshmallow dalam 1 liter air semalaman, kemudian disaring dan bisa diminum. Kamu juga dapat menambahkan madu pada ramuan ini agar lebih enak

5. Jahe

Jahe memiliki kandungan yang dapat bersifat sebagai anti radang, anti nyeri dan anti bakteri. Jahe cocok untuk digunakan sebagai ramuan mengobati penyakit ini, karena bisa menenangkan perut.

Cara pengolahannya pun cukup mudah, hanya dengan merebus irisan jahe dan diminum selagi hangat.

Pengobatan herbal memiliki mekanisme kerja yang berbeda-beda. Beberapa tumbuhan dapat bekerja sebagai agen menyerap air, beberapa lainnya bekerja dengan cara mengontrol pergerakan usus.

Kombinasi pengobatan secara herbal dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit ini, diharapkan dengan kombinasi bahan tersebut dapat memberikan efek yang lebih efektif dalam mengobati daripada penggunaan secara tunggal.

Anak diare, ini pengobatan yang dapat dilakukan

Penyakit ini tak hanya dapat menyerang orang dewasa saja, tetapi juga dapat menyerang anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa anak-anak rentan terkena diare.

Diare pada bayi sendiri dapat disebabkan oleh perubahan pola makan bayi yang menyebabkan perubahan pada pergerakan usus. Jika penyakit ini menyerang anak-anak atau diare pada bayi terjadi, sebaiknya segeralah lakukan pengobatan yang tepat.

Ketika anak diare, mereka dapat mengalami beberapa gejala, bahkan gejala tersebut membuatnya tidak nyaman.

Adapun beberapa pengobatan yang dapat dilakukan ketika anak diare adalah:

  • Hindari konsumsi jus atau soda, ini dapat membuat diare semakin parah
  • Jika diare pada bayi terjadi, sebaiknya janganlah memberikan air putih
  • Tetaplah berikan ASI pada si kecil, kamu juga dapat memberikan mereka makanan yang biasa dikonsumsi
  • Tetaplah berikan mereka susu formula, apabila diare pada bayi terjadi

Pengobatan anak diare harus benar-benar diperhatikan. Karena penyakit ini dapat menyebabkan anak dehidrasi dan kehilangan banyak cairan. Jika penyakit ini terus berlangsung, sebaiknya segeralah kunjungi dokter.

Apa saja makanan pantangan untuk penderita diare?

Jika kamu mengalami penyakit ini, sangat penting untuk selalu memerhatikan makanan yang kamu konsumsi. Adapun beberapa makanan yang harus kamu hindari adalah:

  • Produk susu
  • Makanan berlemak
  • Makanan berserat tinggi
  • Makanan dengan bumbu yang kuat

Tak hanya menghindari makanan yang sudah disebutkan di atas saja, kamu juga harus selalu memerhatikan kebersihan makanan yang dikonsumsi.

Bagaimana cara mencegah diare?

Kita dapat melakukan pencegahan agar terhindar dari penyakit ini. Penyakit ini yang dapat dicegah yaitu yang disebabkan oleh rotavirus dan akibat bakteri ataupun virus.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan, adalah:

1. Pemberian vaksin

Vaksin rotavirus dapat diberikan kepada bayi, agar terhindar dari diare akibat rotavirus.

2. Penggunaan air bersih

Gunakan air kemasan atau air murni untuk minum, membuat es batu, dan menyikat gigi.

Jika kamu menggunakan air keran untuk minum atau memasak, rebuslah terlebih dahulu atau kamu dapat mencampurkannya dengan tablet yodium.

3. Rajin cuci tangan

Cuci tangan secara teratur menggunakan sabun terutama setelah memegang daging mentah, menggunakan toilet, mengganti popok, bersin, dan batuk.

4. Makan makanan matang dan bersih

Pastikan bahwa makanan yang kita makan sepenuhnya matang dan disajikan panas. Hindari buah dan sayuran mentah yang tidak dicuci atau tidak dikupas.

5. Batasi kafein

Batasi makanan dengan kafein seperti kopi, cola, dan teh kental. Kandungan kafein akan membuat kita mengalami dehidrasi apalagi saat sedang mengalami penyakit ini.

Menjaga kebersihan lingkungan dan makanan merupakan salah satu kunci untuk melindungi diri dari terkena penyakit ini. Jika tidak membaik dalam satu hingga dua hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

Kemenkes (2017). Diakses pada 11 Mei 2020. DATA DAN INFORMASI

WebMD (2019). Diakses pada 11 Mei 2020. Diarrhea

Healthline (2019). Diakses pada 11 Mei 2020. Causes of Diarrhea and Tips for Prevention

Medlineplus. Diakses pada 11 Mei 2020. Diarrhea

Mayo clinic (2019). Diakses pada 11 Mei 2020. Diarrhea – Symptoms and causes

The Herbal resource. Diakses pada 11 Mei 2020. Medicinal Herbs for Diarrhea Treatment and Relief

pubmed (2013). Diakses pada 11 Mei 2020.  Stir-fried white pepper can treat diarrhea in infants and children efficiently: a randomized controlled trial.

Pennstate Hershey (2016). Diakses pada 11 Mei 2020. Complementary and Alternative Medicine

Healthline (2020). Diakses pada 13 September 2020. Diarrhea and Other Confirmed Gastrointestinal Symptoms of COVID-19 

Health Grades (2018). Diakses pada 13 September 2020. Bloody Diarrhea 

Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 13 September 2020. Diarrhea in Children 

Kids Health (2019). Diakses pada 13 September 2020. Diarrhea

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 13 September 2020. Diarrhea 

Medline Plus. Diakses pada 13 September 2020. Diarrhea 

Very Well Family (2020). Diakses pada 13 September 2020. Appearance, Causes, and Treatment of Baby Diarrhea 

Very Well Health (2020). Diakses pada 13 September 2020. Causes and Risk Factors of Diarrhea 

Adisasmito, Wiku (2007). Faktor Risiko Diare pada Bayi dan Balita di Indonesia: Systematic Review Penelitian Akademik Bidang Kesehatan Masyarakat. Journal.ui.ac.id (diakses 13 September 2020)

 

    register-docotr