Kamus Obat

Antihistamin

September 3, 2020 | Arianti Khairina | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Ketika kamu mengalami alergi lalu pergi untuk melakukan pemeriksaan ke dokter, pasti antihistamin menjadi obat utama untuk menyembuhkannya. Namun sebelum konsumsi obat tersebut ketahui dahulu apa saja manfaat dan efek samping bagi tubuhmu yuk.

Baca Juga: Penyakit Jantung: Kenali Penyebab dan Cara Pencegahannya

Untuk apa obat antihistamin?

Antihistamin adalah obat yang digunakan menangani alergi atau gejala pilek dan flu.

Dilansir dari webmd.com, antihistamin digunakan untuk meredakan gejala yang disebabkan oleh pilek, flu, alergi, atau penyakit pernapasan lainnya (seperti sinusitis, bronkitis).

Apa fungsi dan manfaat obat antihistamin?

Ketika tubuh kamu bersentuhan dengan apa pun yang memicu alergi seperti serbuk sari, bulu hewan peliharaan, atau tungau debu, akan membuat bahan kimia yang disebut histamin.

Beberapa faktor tersebut yang menyebabkan jaringan di hidung kamu membengkak, dan terkadang mulut terasa gatal. Mungkin kamu juga akan mengalami ruam gatal pada kulit, yang disebut gatal-gatal.

antihistamin
Gatal-gatal pada badan. Sumber gambar : https://shutterstock.com

Antihistamin yang akan membantu kamu untuk mengurangi atau memblokir histamin, sehingga mereka menghentikan gejala alergi yang terjadi pada tubuhmu.

Obat-obatan ini bekerja dengan baik untuk meredakan gejala-gejala berbagai jenis alergi, termasuk alergi musiman, alergi di dalam ruangan, serta makanan. Tetapi bukan berarti mereka dapat menghilangkan setiap gejala yang ada ya.

Bagi kamu yang mengalami hidung tersumbat, dokter biasanya juga akan merekomendasikan dekongestan. Beberapa obat menggabungkan antihistamin dan dekongestan.

Merek dan harga obat antihistamin

Antihistamin umumnya tersedia dalam berbagai merek dagang. Obat antihistamin dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni yang menyebabkan kantuk dan tidak.

Beberapa antihistamin yang membuat kamu mengantuk, seperti Clorphenamine, Hydroxyine, dan Promethazine. Sementara obat yang tidak menyebabkan kantuk adalah Cetrizine, Fexofenadine, dan Loratadine,

Obat antihistamin juga tersedia dalam beberapa bentuk, yaitu berupa tablet, kapsul, cairan, sirup, krim, losion, gel, obat tetes mata, dan semprotan hidung.

Namun, biasanya antihistamin dijual dengan harga Rp1.500 hingga Rp90.000 atau bahkan lebih. Nah, harga dari antihistamin sendiri akan berbeda-beda tergantung pada masing-masing apotek yang menjualnya.

Bagaimana cara minum obat antihistamin?

Kamu cukup minum obat gatal ini melalui mulut seperti yang diarahkan oleh dokter. Jika kamu membeli obat gatal sendiri tanpa resep dokter, pastikan kamu sudah paham dengan semua petunjuk pada kemasan atau bertanya pada apoteker.

Konsumsi obat antihistamin dengan makanan

Kamu yang memiliki gangguan pada perut bisa mengonsumsi obat alergi secara bersamaan dengan makanan. Jangan lupa untuk minum banyak cairan agar obat bisa melebur dengan baik di dalam tubuh.

Jika kamu menggunakan obat alergi dalam bentuk cairnya, hati-hati dalam mengukur dosis. Gunakanlah alat pengukur khusus atau sendok obat. Pastikan kamu tidak menggunakan sendok makan biasa, karena kemungkinan tidak  mendapatkan dosis yang benar.

Jangan hancurkan atau kunyah tablet atau kapsul rilis panjang. Melakukan dengan cara tersebut kamu dapat melepaskan semua kandungan dalam obat sekaligus. Tak hanya itu saja kamu juga meningkatkan risiko efek samping setelah meminum obat.

Kamu menggunakan produk yang dibuat untuk larut dalam mulut seperti tablet atau strip, keringkan tangan sebelum memegang obat ya. Kemudian minum obat tersebut bersamaan dengan air putih.

Berapa dosis obat antihistamin?

Dosis antihistamin yang kamu minum harus sesuai dengan kondisi umur, kondisi medis, dan respons terhadap perawatan. Berikut ini beberapa dosis obat antihistamin yang tepat.

Cetirizine

  • Dewasa: 5 sampai 10 miligram sekali sehari.
  • Anak-anak berusia 6 tahun ke atas: 5 sampai 10 mg sekali sehari.
  • Anak-anak usia 4 sampai 6 tahun: 2,5 mg sekali sehari.

Penggunaan obat cetirizine untuk bayi dan anak-anak hingga usia 4 tahun tidak disarankan.

Chlorpheniramine

  • Dewasa dan remaja: 4 miligram setiap 4 hingga 6 jam sesuai kebutuhan.
  • Anak-anak usia 6 sampai 12 tahun: 2 mg, 3 atau 4 kali sehari sesuai kebutuhan.
  • Anak-anak usia 4 sampai 6 tahun: penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.

Bayi dan anak-anak hingga usia 4 tahun tidak disarankan untuk menggunakan obat Chlorpheniramine.

Clemastine

  • Remaja dan dewasa: 1,34 miligram, dua kali sehari atau 2,68 mg satu sampai tiga kali sehari sesuai kebutuhan.
  • Anak-anak usia 6 sampai 12 tahaun: 0,67 sampai 1,34 mg dua kali sehari.
  • Anak-anak usia 4 sampai 6 tahun: penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.

Penggunaan Clemastine untuk bayi dan anak-anak hingga usia 4 tahun tidak disarankan.

Fexofadine

  • Remaja dan dewasa: 60 miligram dua kali sehari sesuai dengan kebutuhan atau 180 mg sekali sehari.
  • Anak-anak usia 6 sampai 11 tahun: 30 mg dua kali sehari sesuai kebutuhan.
  • Anak-anak usia 4 sampai 6 tahun: penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.

Penggunaan obat untuk bayi dan anak-anak hingga usia 4 tahun tidak disarankan.

Loratadine

  • Dewasa dan anak-anak berusia 6 tahun ke atas: 10 miligram sekali sehari.
  • Anak-anak usia 4 sampai 5 tahun: 5 mg sekali sehari.

Penggunaan Loratadine pada bayi dan anak-anak hingga usia 4 tahun tidak dianjurkan.

Apakah obat antihistamin aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Anak-anak mungkin sensitif terhadap efek samping produk ini, terutama eksitasi dan agitasi sehingga harus diwaspadai oleh ibu hamil. Untuk itu, beri tahu dokter jika kamu hamil ketika ingin mengonsumsi antihistamin.

Diskusikan risiko dan manfaat minum obat selama kehamilan agar tidak menyebabkan efek samping jangka panjang. Perlu diketahui, obat satu ini bisa masuk ke dalam ASI dan akan memberi efek pada bayi ketika menyusui.

Oleh sebab itu, bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan setelah minum antihistamin jika sedang menyusui. Ketahui berbagai risiko yang mungkin terjadi untuk mencegah masalah kesehatan lebih serius.

Apa efek samping obat antihistamin yang mungkin terjadi?

Yang lebih tua cenderung menyebabkan lebih banyak efek samping, terutama kantuk. Antihistamin yang lebih baru memiliki efek samping yang lebih sedikit, sehingga mereka mungkin menjadi pilihan yang lebih baik bagi sebagian orang.

Beberapa efek samping utama antihistamin termasuk mulut kering, kantuk, pusing, mual dan muntah, gelisah atau murung, masalah kencing atau tidak bisa kencing, penglihatan kabur, hingga kebingungan.

Jika kamu minum antihistamin yang menyebabkan kantuk, lakukan sebelum tidur. Hindari konsumsi saat siang hari khususnya sebelum mengemudi.

Perhatikan dan pahami anjuran dengan baik yang tertera pada kemasan minum obat alergi.

Kamu perlu membicarakan dengan terlebih dahulu jika memiliki pembesaran prostat, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, masalah tiroid, penyakit ginjal atau hati, obstruksi kandung kemih, atau glaukoma.

Begitu juga dengan kamu yang sedang hamil atau menyusui ada baiknya konsultasi dahulu ke dokter ya.

Peringatan dan perhatian obat antihistamin

Sebelum menggunakan antihistamin, beri tahu dokter tentang semua kondisi medis yang kamu miliki. Beberapa kondisi yang dimaksud, yakni diabetes, tiroid yang terlalu aktif atau hipertiroidisme, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, glaukoma, epilepsi, dan prostat yang membesar.

Jangan mengemudi atau melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan sampai kamu mengetahui pengaruh obat gatal ini. Ikuti juga petunjuk pada resep atau label kemasan dengan hati-hati saat menggunakan antihistamin.

Hindarilah mengonsumsi obat lebih banyak dari yang dianjurkan. Karena itu, beri tahu dokter tentang semua resep, non-resep, herbal, atau obat diet yang kamu konsumsi sebelum menggunakan antihistamin.

Pengguna antihistamin mungkin perlu menghindari konsumsi buah grapefruit atau jusnya karena bisa memengaruhi kinerja obat gatal satu ini. Bicarakanlah dengan dokter jika kamu memiliki kekhawatiran tersebut.

Jenis-jenis obat antihistamin

Dilansir dari everydayhealth.com, berikut ini adalah beberapa contoh obat antihistamin dari generasi pertama adalah:

1. Diphenhydramine

Obat jenis ini berfungsi untuk membantu meredakan reaksi alergi seperti bersin, mata gatal, atau tenggorokan gatal. Tak hanya itu saja manfaat lain dari diphenhydramine bisa digunakan untuk mengobati serta mengurangi kemerahan akibat gatal pada tubuh.

obat-obatan
Obat-obat alergi. Sumber gambar : https://pixabay.com

Cara bekerja obat antihistamin sendiri dengan memblokir efek histamin yang menyebabkan kamu merasakan gatal-gatal. Produk ini mengandung bahan lain seperti allantoin dan zinc acetate. Fungsinya untuk meredakan masalah kulit, seperti kering, basah dan bernanah.

Tanpa menggukana resep dokter, diphenhydramine ini bisa kamu dapatkan secara  bebas di apotek. Salah satu contoh obat antihistamin satu ini biasanya dijual dalam bentuk bentuk topikal, seperti krim dan gel, serta semprotan hidung. 

Perlu diingat bahwa sangat tidak dianjurkan obat biduran diberikan untuk anak kurang dari 2, 6, atau 12 tahun kecuali sudah mendapatkan resep dari dokter.

Hal tersebut menjadi salah satu  alasan pentingnya membaca dahulu aturan pakai dan dosisnya yang tertera pada kemasan untuk informasi lebih lanjut.

2. Clemastine

Sebagai obat antihistamin generasi pertama yang memiliki fungsi untuk meredakan gejala alergi termasuk bersin, pilek, gatal, dan mata berair.

Versi generik dari Clemastine dalam bentuk tablet dan suspensi cair dapat dibeli di apotek. Cara penggunaan obat alergi dengan meminumnya sebanyak dua atau tiga kali sehari. Ikuti petunjuk pada label resep dan minum clemastine persis seperti yang diarahkan dokter atau apoteker.

3.Chlorpheniramine

Chlorpheniramine juga antihistamin generasi pertama untuk membantu meredakan pilek, bersin, mata gatal atau berair, dan hidung dan tenggorokan gatal akibat alergi. Obat jenis ini tersedia dalam sediaan tablet kunyah, permen, kapsul, dan suspensi cair.

Kamu yang meminum dalam bentuk kapsul, tablet telan, tablet kunyah, dan suspensi cair direkomendasikan diminum setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan. Sementara untuk tablet dan kapsul jangka panjang (long acting) diminum dua kali sehari pada pagi dan sore hari sesuai kebutuhan.

4. Promethazine

Kamu yang memiliki gejala seperti gatal, pilek, bersin, mata gatal, atau mata berair disarankan untuk meminum promethazine sebagai salah satu obat antihistamin.

Promethazine dapat dikombinasikan dengan obat-obatan lain untuk mengobati syok anafilaksis akibat reaksi alergi parah. 

Cara pemakaian obat biduran ini harus dengan resep dan di bawah pengawasan dokter. Pastikan kamu tidak membelinya secara bebas tanpa resep dokter di apotek ya.

Hal tersebut dikarenakan promethazine dapat menyebabkan pernapasan melambat atau berhenti. Promethazine juga tidak boleh diberikan kepada bayi atau anak-anak karena dapat menyebabkan bahaya yang fatal.

5. Cetirizine

Obat antihistamin yang ini banyak diresepkan untuk alergi ringan. Kamu yang ingin mengonsumsi obat alergi tersedia dalam bentuk tablet, sirup, dan obat tetes mata.

Obat gatal ini hanya perlu kamu minum sebanyak sehari sekali. Jika dokter meresepkan dosis lebih sedikit atau lebih banyak, maka konsumsi sesuai anjuran dokter. 

6. Loratadine

Ketika kamu mengalami gatal-gatal akibat alergi, loratadine bisa menjadi salah satu obat untuk mengobatinya. Sama dengan cetirizine, obat biduran juga aman dikonsumsi tanpa menyebabkan kantuk. Kamu cukup meminumnya sebanyak sekali dalam sehari.

obat-alergi-loratadine
Obat Loratadine. Sumber gambar : https://shutterstock.com

Namun, efek antihistamin pada obat cetirizine masih lebih cepat mengobati gatal-gatal yang timbul saat alergi daripada loratadine. 

7. Fexofenadine

Salah satu jenis obat antihistamin yang berfungsi untuk meringankan gejala alergi termasuk bersin, mata merah, gatal, atau berair. Pada umumnya obat gatal ini aman jika  digunakan pada orang dewasa dan anak-anak berusia 2 tahun ke atas. 

Kamu bisa membeli obat fexofenadine dalam bentuk tablet dan suspensi (cair) untuk dikonsumsi. Cara konsumsinya sendiri, bisa diminum dengan cara dicampur air sebanyak sekali atau dua kali sehari.

Perlu diingat sebaiknya fexofenadine tidak dikonsumsi bersama jus buah seperti jeruk, jeruk bali, atau jus apel agar bisa bekerja dengan baik di dalam tubuh.

Sebelum digunakan, kocok botol agar zat obat tercampur merata. Takar dosis fexofenadine persis seperti yang diarahkan pada kemasan atau sesuai dengan anjuran dokter.

Pastikan dengan teliti kamu tidak menakar lebih atau kurang dari anjuran atau mengonsumsinya lebih sering daripada yang ditentukan oleh dokter ya.

Baca juga : Dapat Mengatasi Alergi, Ini Efek Samping Cetirizine yang Harus Diketahui

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. webmd.com (2020) diakses 15 Mei 2020. Antihistamine Tablet 
  2. everydayhealth.com (2015) diakses 15 Mei 2020. What Is an Antihistamine? 
  3. webmd.com (2019) diakses 15 Mei 2020. Do I Need Antihistamines for Allergies? 
  4. healthline.com (2017) diakses 15 Mei 2020. Cetirizine 
  5. Drugs.com (2019), diakses pada 3 September 2020. Antihistamines
  6. NHS (2020), diakses pada 4 September 2020. Antihistamines
  7. Mayo Clinic (2020), diakses pada 4 September 2020. Antihistamine (Oral Route, Parenteral Route, Rectal Route)
    Berita Terkait
    register-docotr