Kesehatan Mental

Serupa Tapi Tak Sama: Ini Perbedaan Psikolog dan Psikiater

October 9, 2020 | Fitri Chaeroni | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Psikolog maupun dokter psikiater memang terlihat mirip karena sama-sama menangani seseorang dengan gangguan mental. Namun, ada perbedaan mendasar antara psikolog dan psikiater, lho.

Perbedaan tersebut mulai dari latar belakang pendidikan, metode pendekatan dalam menangani pasien, hingga praktik meresepkan obat.

Untuk mengetahui apa saja persamaan serta perbedaan psikolog dan psikiater, lalu yang mana yang lebih cocok untuk mengatasi permasalahanmu, langsung saja simak ulasan ini!

Persamaan psikolog dan psikiater

Baik psikolog dan dokter psikiater dilatih dan mempelajari bagaimana cara menangani pasien dengan masalah mental.

Keduanya bisa bantu menyelesaikan berbagai masalah dengan cara memberi saran untuk masalah dalam kehidupan sehari-hari kamu.

Perbedaan psikolog dan psikiater

Ada beberapa aspek penting yang membedakan pekerjaan psikolog dan psikiater. Masing-masing profesional ini memiliki latar belakang pendidikan, pelatihan, dan peran yang berbeda dalam perawatan.

Beberapa perbedaaan dasar antara psikolog dan psikiater di antaranya yakni:

1. Perbedaan latar pendidikan psikolog dan psikiater

Aspek pertama yang membedakan kedua profesi ini adalah latar belakang mereka. Psikiater menempuh pendidikan di fakultas kedokteran, sedangkan psikolog di fakultas psikologi.

Psikiater

Psikiater termasuk dokter medis yang lulus dari sekolah kedokteran seperti kebanyakan dokter umum lainnya. Setelah lulus kuliah, mereka harus menjalani magang dan menjadi dokter residen selama 3 sampai 4 tahun di mana mereka mengambil spesialis psikiatri.

Calon psikiater belajar tentang diagnosis dan pengobatan untuk setiap kondisi psikologis, seperti gangguan bipolar dan skizofrenia. Setelah selesai residensi, mereka dapat memilih untuk melanjutkan pelatihan mereka melalui subspesialis.

Beberapa dokter psikiater mengkhususkan diri dalam bidang psikofarmakologi, forensik, geriatri, remaja, neuropsikiatri, dan sebagainya. Mirip dengan dokter lain, mereka dapat menulis resep.

Psikolog

Psikolog bukanlah dokter medis layaknya psikiater. Mereka biasanya mengawali pendidikan dari jenjang sarjana di fakultas psikologi dan memperoleh gelar Doktor, yaitu Doctor of Philosophy (Ph.D) atau Doctor of Psychology (Psy.D).

Seorah Ph.D telah menyelesaikan pendidikan pascasarjana psikolog yang mana berbasis penelitian, dimana ia harus membuat studi penelitian intensif dan makalah atau disertasi. Sedangkan Psy.D adalah gelar klinis yang lebih berfokus pada aspek klinis terapi psikososial. Seorang psikolog juga mungkin mempunyai gelar Master of Science (MS) dan bekerja di bawah pengawasan Ph.D dan Psy.D

2. Perbedaan metode penanganan psikolog dan psikiater

Dokter psikiater dan psikolog juga memiliki perbedaan dari pendekatan dalam memberikan terapi pada pasien. Baik psikiater dan psikolog biasanya dilatih untuk melakukan psikoterapi.

Psikoterapi merupakan jenis terapi cara berbicara dengan pasien tentang masalah yang mereka hadapi. Namun, perbedaan latar belakang pendidikan membuat pendekatan yang berbeda untuk memecahkan masalah kesehatan mental pasien.

Psikiater

Mereka sering merawat orang dengan kondisi kesehatan mental yang memerlukan obat-obatan, seperti:

Psikiater mendiagnosis ini dan kondisi kesehatan mental lainnya menggunakan:

  • Tes psikologis
  • Evaluasi tatap muka secara empat mata
  • Tes laboratorium untuk menyingkirkan penyebab fisik dari gejala gangguan mental

Setelah membuat diagnosis, psikiater dapat merujuk pasien ke psikoterapis untuk terapi atau meresepkan obat. Beberapa obat yang diresepkan oleh psikiater meliputi:

  • Antidepresan
  • Obat antipsikotik
  • Obat agar suasana hati stabil
  • Stimulan
  • Obat penenang

Setelah memberikan resep obat, psikiater akan memonitor pasien untuk melihat tanda-tanda perbaikan dan kemungkinan munculnya efek samping. Berdasarkan informasi ini, mereka mungkin mengubah dosis atau jenis obat.

Psikolog

Psikolog mendiagnosis kondisi pasien menggunakan wawancara, survei, dan pengamatan. Mereka biasanya mengobati orang dengan terapi bicara.

Perawatan ini dilakukan melalui cara duduk dengan psikolog dan membicarakan semua masalah yang dihadapi pasien.

Terapi perilaku kognitif adalah jenis terapi bicara yang sering digunakan psikolog. Ini adalah pendekatan yang berfokus pada membantu orang mengatasi pikiran negatif dan pola berpikir.

Terapi bicara dapat dilakukan dengan beberapa metode, termasuk:

  • Konsultasi empat mata dengan psikolog
  • Terapi keluarga
  • Terapi kelompok

Cara tepat memilih profesi mana yang harus ditemui

Psikiater mungkin merupakan pilihan yang lebih baik jika kamu memiliki masalah kesehatan mental yang lebih kompleks dan memerlukan obat-obatan, seperti:

Namun, jika merasa tengah mengalami masa-masa sulit dan ingin tahu lebih dalam bagaimana memahami pikiran dan perilaku kamu, maka psikolog bisa jadi pilihan terbaik.

Kapan harus konsultasi ke psikolog?

Ada beberapa tanda, gejala, atau kondisi yang menandakan kapan kamu harus pergi ke psikolog untuk konsultasi. Berikut beberapa di antaranya:

1. Mengalami kehilangan

Kematian adalah bagian dari kehidupan yang tak terhindarkan, tapi itu tidak membuatnya lebih mudah untuk ditangani. Setiap orang menangani rasa kehilangan orang yang dicintai baik orang tua atau hewan peliharaan secara berbeda.

Jika kamu merasa begitu kehilangan, seorang psikolog dapat membantu kamu menemukan cara yang tepat untuk mengatasi kematian seseorang yang dekat dengan kamu.

Baca Juga : 5 Tips Mengatasi Duka Mendalam akibat Kematian Pasangan

2. Stres dan anxiety

Saat kamu mengalami stres dan gelisah, ada baiknya pergi ke psikolog dulu untuk konsultasi. Stres dan kecemasan, jika dibiarkan menjadi parah, dapat menyebabkan isolasi sosial, depresi, dan banyak masalah lainnya. 

Seorang psikolog dapat membantu mengelola stres dan kecemasan dengan menemukan sumber atau penyebab masalah kamu, serta cara yang tepat untuk mengatasinya.

3. Depresi

Depresi juga salah satu kondisi di mana kamu harus pergi ke psikolog untuk konsultasi. Jenis gangguan kesehatan mental ini umum terjadi di mana orang kehilangan minat pada hal-hal, mengalami kelelahan, dan sering mengalami kesulitan mengelola emosi mereka.

Psikolog dapat membantu kamu menemukan sumber depresi yang seringkali jadi langkah pertama untuk merasa lebih baik, bersama dengan membantu menghilangkan proses pemikiran negatif.

Baca Juga : 7 Tips Mengatasi Kesepian dan Kesedihan agar Tak Berujung Depresi

4. Fobia

Fobia juga bisa jadi kondisi kapan harus ke psikolog untuk konsultasi. Takut ketinggian dan laba-laba adalah fobia umum , tetapi beberapa ketakutan yang tidak biasa dan tidak berdasar dapat menciptakan masalah besar dalam hidup. Misalnya, sitophobia (takut makan) dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius.

Seorang psikolog yang berpengalaman dapat membantu kamu mulai mengatasi ketakutan sehingga kamu dapat hidup tanpa fobia (takut akan banyak hal).

5. Masalah keluarga dan hubungan

Hubungan, baik keluarga, pribadi, atau terkait pekerjaan, mengalami naik turun. Sementara hubungan bisa menjadi beberapa hal terbaik dalam hidup, mereka juga bisa menjadi sumber stres dan masalah.

Saat konsultasi dengan psikolog, baik secara individu atau dalam kelompok, dapat membantu mengurai keruwetan yang terjadi dalam hubungan terkuat sekali pun.

Kapan harus ke dokter psikiater

Jika kamu mengalami beberapa gejala atau kondisi di bawah ini, sebaiknya kamu pergi ke dokter psikiater, bukan psikolog.

1. Tidak mampu kontrol emosi

Setiap orang memiliki momen ketika mereka merasa sedih, marah, atau mudah tersinggung, dan ini adalah perasaan yang wajar untuk dimiliki dalam hidup.

Namun, ketika seseorang memiliki emosi yang berlebihan yang mereka rasa tidak dapat dikendalikan atau dikelola, ini merupakan indikasi bahwa psikiater mungkin dapat membantu. Belajar mengelola emosi secara efektif dapat membantu mencegah situasi yang tak terkendali.

2. Perubahan pola tidur

Kualitas tidur dapat menunjukkan banyak hal tentang kesehatan mental seseorang. Orang dengan masalah kesehatan mental sering kali sulit tidur. Mereka mungkin kesulitan tidur, mungkin bangun terlalu pagi, atau sering terbangun sepanjang malam.

Mereka juga cenderung menghabiskan lebih sedikit waktu pada tahap tidur nyenyak, yang membuatnya sulit untuk mendapatkan tidur restoratif. Sayangnya, kurang tidur juga membuat lebih sulit untuk mengatasi gejala penyakit mental, jadi ini adalah umpan balik negatif yang konstan.

3. Penggunaan obat-obatan

Jika kamu menggunakan obat-obatan, ada baiknya pergi ke dokter psikiater ya. Orang yang memiliki masalah kesehatan mental biasanya beralih ke alkohol atau obat lain untuk membantu mengatasinya.

Entah untuk membantu bersantai atau mengatasi stres, itu adalah tanda bahaya jika seseorang membutuhkannya secara teratur dan tidak merasa bahagia tanpa bantuan obat-obatan atau alkohol.

4. Perubahan performa di sekolah atau pekerjaan

Salah satu tanda perlu pergi ke dokter psikiater adalah jika seorang remaja tiba-tiba kesulitan secara akademis atau sering absen dari kelas.

Hal ini juga berlaku untuk orang dewasa yang mungkin mulai melewatkan tenggat waktu (deadline) atau merasa sulit untuk berkonsentrasi pada tugas-tugas pekerjaan.

5. Menghindari aktivitas sosial

Tanda bahwa kamu harus pergi ke psikiater adalah saat kamu mulai menghindari aktivitas sosial. Seseorang yang menderita depresi atau kecemasan yang berlebihan dapat menghindari situasi sosial.

Ini bisa jadi karena ketidakmampuan mengendalikan emosi atau kesulitan berhubungan dengan orang lain.

6. Sakit fisik yang tidak diketahui penyebabnya

Kesehatan mental dan fisik saling terkait, dan salah satu tanda bahwa psikiater dapat membantu adalah ketika seseorang mengalami penyakit fisik berulang tanpa sebab tertentu. Gejala khasnya termasuk sakit perut, sakit kepala, dan nyeri samar.

7. Kecemasan, kekhawatiran, atau kesedihan berlebih

Psikiater dapat membantu jika seseorang merasa sangat sedih atau khawatir terus-menerus. Sangat penting juga untuk mencari bantuan ketika seseorang memiliki pikiran untuk bunuh diri.

8. Sering mimpi buruk atau marah-marah (tantrum)

Tanda yang mengatakan bahwa seorang anak mungkin perlu menemui dokter psikiater adalah saat mereka mengalami mimpi buruk atau tidak mampu mengendalikan emosi secara teratur. 

Sangat sulit bagi anak kecil untuk membicarakan emosi, dan mereka sering memerankannya secara perilaku.

 Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Healthline. Diakses pada 17 Juni 2020. Psychologist vs. Psychiatrist: What’s the Difference?

WebMD. Diakses pada 17 Juni 2020. Psychologist or Psychiatrist: Which Is Right for You?

Psychology Today. Diakses pada 17 Juni 2020. Psychiatrist vs. Psychologist

Very Wel Mind. Diakses pada 17 Juni 2020. Differences Between Psychologists and Psychiatrists

Healthline. Diakses pada 8 Oktober 2020. When to Consult a Psychologist

Pyramid Healthcare. Diakses pada 8 Oktober 2020. What Are the Signs That a Person Should See a Psychiatrist?

    register-docotr