Kulit & Perawatan Tubuh

Merusak Sistem Kekebalan Tubuh, Yuk, Kenali Gejala Penyakit Autoimun Kulit

August 8, 2020 | Putri Prima Soraya
no-image

Sistem kekebalan tubuh yang berfungsi melawan virus bisa rusak oleh penyakit tertentu seperti autoimun kulit. Sayangnya, gejala penyakit autoimun kulit ini sulit untuk diketahui.

Pada umumnya, pasien baru mengetahui bahwa ia menderita autoimun kulit setelah menjalani serangkaian pemeriksaan medis.

Apa itu penyakit autoimun kulit?

Dalam kondisi normal, sistem kekebalan tubuh berfungsi melawan organisme asing seperti bakteri dan virus.

Karena kulit adalah organ tubuh terbesar, maka sangat berisiko terkena gangguan autoimun. Ketika seseorang menderita penyakit ini, sistem kekebalan tubuh pada kulit tak lagi bisa membedakan antara organisme asing dan sel tubuh.

Bukannya melindungi dari organisme asing, sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel-sel tubuh. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan penderita rentan terkena penyakit lainnya.

Dalam sistem kekebalan tubuh, terdapat sel darah putih dan antibodi yang berfungsi mencegah infeksi. Jika berfungsi dengan baik, sistem kekebalan tubuh dapat membedakan sel tubuh dengan sel asing.

Gejala penyakit autoimun kulit

Pada umumnya, diagnosis autoimun kulit baru diketahui setelah organ-organ dalam tubuh pasien mengalami gangguan cukup parah. Sebaliknya, autoimun kulit yang baru diderita pasien cenderung tidak menunjukkan gejala serius.

Gejala penyakit autoimun kulit muncul setelah pasien menderitanya selama berbulan-bulan. Setidaknya, ada 5 gejala yang dirasakan banyak pasien.

1. Muncul ruam pada kulit

Kulit adalah indikator pertama yang bisa menunjukkan gejala penyakit autoimun kulit. Kamu akan melihat beberapa ruam di kulit jika menderita penyakit ini.

Ruam yang muncul biasanya berwarna kemerahan dan disertai rasa gatal. Kamu harus mencurigai jika muncul ruam di kulit tanpa sebab. 

Apalagi, jika kamu memang berasal dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit autoimun kulit. Segeralah berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pemeriksaan medis.

2. Mudah merasa lelah

Terkadang, kelelahan sering dianggap sebagai gejala anemia. Padahal, kelelahan juga bisa menunjukkan bahwa kamu sedang mengalami gejala penyakit autoimun kulit.

Merasa lelah baik secara fisik dan mental meski sudah beristirahat lebih dari 8 jam harus dipertanyakan. Jangan dianggap sepele, kelelahan bisa menjadi gejala awal autoimun kulit.

Jika dibiarkan, sering kelelahan dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Kelelahan juga dapat meningkatkan emosi, kecemasan, serta depresi.

3. Berat badan naik-turun

Fluktuasi berat badan atau mudahnya berat badan naik dan turun juga menunjukkan adanya gangguan sistem kekebalan tubuh. Kondisi seperti ini patut dipertanyakan, terutama jika kamu tidak sedang menjalani diet atau menderita penyakit lainnya.

Sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi normal akan mempengaruhi metabolisme. Sehingga banyak penderita autoimun kulit yang juga mengalami fluktuasi berat badan secara drastis.

4. Nyeri otot dan sendi

Nyeri otot dan persendian bisa menjadi indikasi bahwa ada yang salah dengan sistem kekebalan tubuh. 

Jika kamu jarang berolahraga atau menjalani aktivitas berat, seharusnya kamu tidak merasakan gejala ini. Besar kemungkinan kamu mengalami gejala penyakit autoimun kulit jika nyeri otot dan sendi muncul tanpa sebab.

5. Gangguan pencernaan

Rasa tidak nyaman saat buang air besar dan kecil bisa menjadi petanda adanya gangguan dalam saluran pencernaan. Kembung, kram, dan nyeri perut memang tak selalu berkaitan dengan masalah sistem kekebalan tubuh.

Namun, jika kondisi tersebut diikuti gejala lainnya, kamu harus segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Apa yang menyebabkan penyakit autoimun kulit?

Ada beberapa faktor yang dapat memicu seseorang menderita penyakit autoimun kulit. Antara lain, yaitu: 

1. Sistem kekebalan tubuh yang terganggu

Sistem kekebalan tubuh yang terganggu adalah penyebab penyakit autoimun kulit. Namun, hingga saat ini belum dapat diketahui apa yang menyebabkan rusaknya sistem kekebalan tubuh.

2. Gender

Dibandingkan dengan pria, wanita lebih berisiko menderita autoimun kulit. Pada umumnya, penyakit ini muncul di saat masa subur wanita.

3. Faktor genetik

Autoimun kulit adalah termasuk jenis penyakit menular genetik. Seseorang yang berasal dari keluarga dengan riwayat penyakit autoimun kulit memiliki risiko lebih tinggi. 

4. Faktor lingkungan

Sejumlah ahli menyimpulkan bahwa faktor lingkungan juga menjadi penyebab autoimun kulit. Seseorang yang sering terpapar zat kimia lebih berisiko mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh. Maka, risiko terkena autoimun kulit juga semakin meningkat.

Penderita penyakit autoimun, pada umumnya akan mengonsumsi obat yang memiliki efek yang bisa menekan sistem imun penderitanya. Sehingga penderitanya lebih rentan terkena infeksi.

Oleh sebab itu, penting sekali bagi penderita untuk dapat menjaga kesehatan dan mengontrol penyakit.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

Find Me Cure (2019). Diakses pada 04 Agustus 2020. 5 Early Signs Of Autoimmune Disease

Healthline (2019). Diakses pada 04 Agustus 2020. Autoimmune Diseases: Types, Symptoms, Causes, and More

Dermenet (2019). Diakses pada 04 Agustus 2020. Autoimmune diseases in dermatology

    Berita Terkait
    register-docotr